Reksa Dana

Investasi Reksadana untuk Dana Darurat? Ikuti 4 Langkah Ini

investasi reksadana

Ajaib.co.id – Setiap individu wajib memiliki dana darurat. Untuk mempersiapkan dana ini, kamu bisa melakukan investasi reksadana.

Pada dasarnya, dana darurat wajib disediakan ketika kamu telah memiliki penghasilan. Dana darurat merupakan uang yang akan digunakan ketika kamu dalam situasi sulit. Misalnya kehilangan pekerjaan atau krisis ekonomi yang menyebabkan penghasilan berkurang.

Mempersiapkan dana darurat tak bisa dalam sekejap. Karena kamu harus menghitungnya dengan tepat. Jumlah dana darurat tergantung pengeluaran setiap bulan.

Karena bersifat darurat, sebaiknya sediakan enam bulan dana darurat. Jika telah menikah dan/atau memiliki anak, dana darurat yang tersedia bisa sampai 12 bulan.

Misal kamu adalah lajang yang mengeluarkan biaya kebutuhan setiap bulan Rp5 juta, sedangkan gaji Rp7 juta. Jadi dana darurat yang harus disiapkan adalah Rp5 juta x 6 bulan = Rp30 juta.

Jika kamu bisa menyediakan lebih dari itu, lebih baik lagi. Jika sudah menikah tetapi belum punya anak, minimal kamu punya Rp5 juta x 9 bulan = Rp45 juta. Bila sudah menikah dan segera punya anak atau telah memiliki satu anak, tambah dana darurat untuk 12 bulan. Untuk hal ini, kebutuhan per bulan akan menyesuaikan.

Alokasi Dana Darurat

Dengan perhitungan di atas, kamu memerlukan waktu untuk mengumpulkan dana darurat. Caranya, alokasikan 10-20 persen dari gaji untuk dana darurat atau 10 persen untuk dana darurat dan 10 persen untuk investasi jangka panjang.

Kamu bisa menyimpan dana darurat di rekening tabungan atau instrumen investasi. Bedakan dengan investasi jangka panjang. Untuk menyimpan dana darurat, sebaiknya pilih investasi yang memiliki karakteristik likuid, risiko minim, imbal hasil stabil, dan aman. Sehingga dana tersebut mudah dicairkan bila ada kebutuhan mendesak.

Salah satu tempat aman untuk membuat dana darurat adalah investasi reksadana. Berdasarkan likuiditas dan risikonya, pilih yang berjenis pasar uang. Investasi reksadana pasar uang merupakan kegiatan menanamkan modal yang mengalokasikan dana pada deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU).

Investasi Reksadana

Untuk memulai investasi reksadana, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan.

Pertama, memilih MI terpercaya. Manajer Investasi (MI) merupakan perusahaan yang menyediakan sekaligus mengelola produk reksadana. Karena perannya sangat penting dalam mengelola aset investor, pilih MI terpercaya. Pastikan ia terdaftar dan berizin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kedua, tempat membeli reksadana. Untuk membeli reksadana, kamu bisa melalui MI, bank yang menyediakan produk reksadana, marketplace, serta aplikasi reksadana. Namun sebelumnya, daftar dan isi formulir sesuai data diri untuk membuat rekening reksadana.

Bila kamu tak memiliki waktu mendatangi kantor MI atau bank, buka rekening melalui marketplace atau aplikasi. Dengan cara tersebut, tak hanya membuat rekening tetapi kamu bisa bertransaksi (beli dan jual) daring. Tempat membeli reksadana, apapun platform-nya, seperti MI, yaitu harus memiliki izin OJK.

Ketiga, memilih produk reksadana pasar uang. Saat rekening dinyatakan aktif, saatnya kamu memilih produk reksadana pasar uang. Tiga produk unggulannya adalah Capital Dana Kas, Syailendra Dana Kas, dan Kresna Dana Kas. Semua produk tersebut dapat ditemukan di Ajaib.

Ilustrasi dana darurat dengan investasi reksadana pasar uang:

  • Heru, lajang, baru saja bekerja. Ia menerima gaji Rp7 juta per bulan. Biaya semua kebutuhan per bulan Rp5 juta.
  • Ia membutuhkan dana darurat sebesar Rp30 juta untuk enam bulan.
  • Untuk itu, ia mengalokasikan dana sebesar 20 persen dari gaji (Rp1,4 juta) yang akan dialokasikan ke reksadana pasar uang.
  • Ia membutuhkan waktu, setidaknya 22 bulan untuk mencapai target. Rp1,4 juta x 22 bulan = Rp30,8 juta.
  • Berdasarkan kalkulator return di Ajaib, jika Heru menginvestasikan Rp1,4 juta ke reksadana pasar uang selama 24 bulan, maka imbal hasil yang akan diperoleh sekitar Rp36 juta. Imbal hasil reksadana ini sekitar enam-delapan persen per tahun, tergantung kinerjanya.
  • Setelah target dana darurat terpenuhi, ia dapat mengalokasikan Rp1,4 juta ke investasi lain yang bersifat jangka panjang. Misal saham, reksadana saham, dan logam mulia.

Keempat, disiplin. Apabila kamu telah berkomitmen menyediakan dana darurat, lakukan secara disiplin. Alokasikan dana setiap bulan ke reksadana. Jangan sekali-kali mencairkannya dengan alasan “hanya menjual beberapa ratus ribu”. Jika hal itu terjadi, kamu membutuhkan waktu lebih lama untuk mengumpulkan dana sesuai target.

Usahakan tidak mencampuradukan dana darurat dan investasi. Karena tujuannya berbeda-beda. Dengan memisahkan dana darurat dan investasi, kamu akan memiliki dua aset yang artinya kamu telah mendiversifikasikan investasi. Tujuannya menghindari kerugian sekaligus membidik keuntungan potensial.

Dana Darurat Ketika Pandemi Covid-19

Pandemi virus korona (covid-19) yang melanda Indonesia membuat kegiatan ekonomi tersendat. Pasalnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus mata rantai covid-19.

Alhasil banyak perusahaan yang mengeluarkan peraturan kepada karyawannya untuk bekerja di rumah. Toko, gerai, dan mal tutup atau dibatasi waktu operasionalnya. Di sisi lain, ada terdapat sektor industri yang pendapatannya turun akibat covid-19. Bahkan ada yang terpaksa memutuskan hubungan kerja (PHK) para karyawannya.

Bila kamu masih bekerja, meski bekerja di rumah, bersyukurlah. Jika waktu operasional kerjamu dikurangi, hal itu berakibat gaji berkurang. Dalam situasi seperti ini, yang kamu butuhkan hanyalah bertahan.

Namun jika kamu terkena PHK, gunakan uang pesangon sebaik-baiknya. Dana darurat bisa digunakan setelah pesangon habis. Namun sebelum pesangon habis, kamu segera menemukan pekerjaan baru atau peluang usaha yang sesuai kemampuanmu. Dan percayalah, situasi sulit ini akan segera berakhir.

Artikel Terkait