Value Investing: Strategi Investasi Jangka Panjang untuk Mencari Saham Undervalued
Sarifa•May 26, 2026

Di tengah volatilitas pasar saham, banyak investor mulai mencari strategi investasi yang lebih stabil. Value investing adalah pendekatan yang terbukti berhasil digunakan oleh investor besar untuk membangun kekayaan jangka panjang. Strategi ini tidak sekadar mencari saham murah, melainkan saham yang harganya lebih rendah dari nilai sebenarnya. Yuk, pahami lebih dalam bagaimana menerapkan strategi ini!
Apa Itu Value Investing?
Value investing adalah strategi investasi yang diperkenalkan oleh Benjamin Graham dan dianut oleh investor legendaris seperti Warren Buffett serta Lo Kheng Hong. Konsep utamanya sederhana: kamu mencari saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya—dengan kata lain, saham yang “salah harga”. Tujuannya adalah membeli saham berkualitas ketika harganya sedang diskon, lalu menunggu hingga pasar menyadari nilai sebenarnya.
Berbeda dengan trading jangka pendek yang fokus pada fluktuasi harga harian, value investing mengutamakan analisis fundamental dan horizon investasi jangka panjang. Ini bukan strategi untuk mencari keuntungan instan, melainkan membangun kekayaan secara bertahap dan berkelanjutan.
Mengapa Strategi Value Investing Banyak Digunakan Investor Besar?
1. Fokus pada Fundamental Perusahaan
Dalam value investing, yang terpenting adalah kinerja bisnis, bukan pergerakan harga sesaat. Beberapa indikator yang umum diperhatikan antara lain pertumbuhan laba bersih, pendapatan konsisten, arus kas operasional positif, rasio utang yang sehat, serta Return on Equity (ROE). ROE mengukur seberapa efisien perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham—semakin tinggi ROE, semakin baik. Dengan memahami laporan keuangan, kamu bisa menilai apakah perusahaan benar-benar berkualitas dan memiliki prospek cerah di masa depan.
2. Memahami Konsep Intrinsic Value dan Margin of Safety
Nilai intrinsik adalah estimasi nilai wajar perusahaan berdasarkan kinerja bisnisnya, bukan harga pasar saat ini. Margin of safety adalah “batas aman” yang mengurangi risiko jika ternyata perhitungan nilai intrinsikmu keliru.
Contoh sederhana: Jika hasil analisis menunjukkan nilai intrinsik sebuah saham adalah Rp1.000, tetapi harga pasarnya saat ini hanya Rp700, maka margin of safety-nya adalah 30%. Semakin besar diskonnya, semakin rendah risiko investasi kamu.
3. Menggunakan Rasio Valuasi Saham
Rasio valuasi membantu kamu membandingkan harga saham dengan kinerja fundamentalnya. Beberapa rasio yang umum digunakan:
- Price to Earnings Ratio (PER): Membandingkan harga saham dengan laba per saham (EPS). PER rendah bisa menandakan saham undervalued, asalkan prospek laba perusahaan tetap sehat.
- Price to Book Value (PBV): Membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham. PBV di bawah 1 sering menunjukkan saham undervalued.
- Dividend Yield: Membandingkan dividen dengan harga saham. Yield yang tinggi bisa menjadi sinyal tambahan, tapi pastikan dividen tersebut berkelanjutan.
Ingat: rasio yang rendah tidak selalu berarti saham bagus. Kamu harus selalu membandingkan dengan rata-rata industri dan memeriksa fundamentalnya terlebih dahulu.
4. Memilih Perusahaan dengan Bisnis yang Mudah Dipahami
Investor value investing cenderung menghindari perusahaan dengan model bisnis terlalu rumit atau sulit diproyeksikan. Kamu harus benar-benar memahami dari mana pendapatan perusahaan berasal, apa risiko bisnisnya, dan bagaimana prospek industrinya. Jika kamu kesulitan memahami bagaimana perusahaan menghasilkan uang, lebih baik tinggalkan.
5. Memiliki Horizon Investasi Jangka Panjang
Value investing adalah maraton, bukan lari cepat. Harga saham bisa butuh waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk kembali ke nilai wajarnya. Banyak investor gagal bukan karena memilih saham yang salah, melainkan karena terlalu cepat menjual hanya karena harga jangka pendek tidak sesuai harapan. Kesabaran adalah kunci.
Cara Menentukan Saham Undervalued untuk Value Investing
Setelah paham konsepnya, berikut langkah praktis yang bisa kamu lakukan:
1. Analisis Kinerja Keuangan Beberapa Tahun Terakhir
Jangan hanya lihat satu kuartal. Periksa tren pendapatan, laba bersih, dan arus kas operasional setidaknya 3–5 tahun terakhir. Perusahaan dengan kinerja stabil, pertumbuhan laba konsisten, dan arus kas positif adalah kandidat kuat.
2. Bandingkan Valuasi dengan Rata-Rata Industri
PER dan PBV harus dibandingkan dengan emiten sejenis. Sektor perbankan punya karakter valuasi berbeda dengan sektor teknologi, jadi jangan asal membandingkan.
3. Perhatikan Kondisi Industri dan Prospek Bisnis
Saham bisa undervalued karena sentimen sementara (pasar overreact terhadap berita negatif) atau memang bisnisnya sedang menurun permanen. Kamu perlu memahami prospek industri, regulasi pemerintah, daya beli masyarakat, hingga tren ekonomi makro.
4. Cek Konsistensi Pembagian Dividen
Bagi sebagian investor value investing, dividen bukan faktor utama, tetapi bisa menjadi sinyal kesehatan bisnis dan arus kas perusahaan. Emiten yang konsisten membagikan dividen cenderung memiliki fundamental yang solid.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Investor Saat Menerapkan Value Investing
1. Menganggap Semua Saham Murah adalah Undervalued
Inilah yang disebut value trap jebakan di mana saham terlihat murah secara valuasi, tetapi fundamental bisnisnya sebenarnya buruk. Perusahaan yang terus merugi tidak menarik bagi investor jangka panjang. Selalu cek kualitas bisnisnya, jangan hanya tergoda harga murah.
2. Terlalu Fokus pada Harga Jangka Pendek
Saat harga saham turun, investor value investing seharusnya melihatnya sebagai peluang, bukan alasan panik. Jual karena takut harga turun lebih dalam justru bisa membuatmu kehilangan potensi keuntungan jangka panjang.
3. Tidak Memiliki Diversifikasi Portofolio
Meskipun yakin dengan satu saham, jangan menaruh semua dana di situ atau di satu sektor saja. Diversifikasi adalah strategi manajemen risiko dengan menyebarkan investasi ke berbagai aset berbeda sehingga kerugian satu aset tidak berdampak fatal. Dengan memiliki berbagai jenis saham dari sektor berbeda, risiko investasi bisa lebih terkendali.
Apakah Value Investing Cocok untuk Investor Pemula?
Cocok, asalkan kamu memiliki karakteristik berikut:
- Ingin membangun portofolio jangka panjang secara terukur.
- Tidak mencari keuntungan instan.
- Rela meluangkan waktu untuk belajar analisis fundamental.
Tantangannya memang ada: kamu perlu disiplin membaca laporan keuangan, sabar menunggu valuasi terealisasi, dan tidak mudah terpengaruh fluktuasi pasar jangka pendek. Namun bagi pemula yang tekun belajar, value investing bisa menjadi fondasi investasi yang kokoh.
Keunggulan Menggunakan Aplikasi Ajaib untuk Menerapkan Strategi Value Investing
Menerapkan value investing menjadi lebih praktis dengan Ajaib. Kamu bisa mengakses data fundamental emiten lengkap, membuat watchlist saham favorit, mendapatkan notifikasi pergerakan harga real-time, serta memanfaatkan fitur edukasi Ajaib School untuk terus belajar. Semua kebutuhan riset dan transaksi ada dalam satu aplikasi.
Mulai bangun portofolio investasi jangka panjangmu sekarang dengan strategi value investing yang lebih terukur. Unduh aplikasi Ajaib dan ambil langkah pertamamu menuju kebebasan finansial!
Artikel Terkait




Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!
