Siapa Tokoh Penting di Balik Pesta IPO Juni–Juli 2026?
Tika•July 1, 2026

Key Takeaways:
- Empat IPO besar Juni–Juli 2026 (JECX, BACH, RANS, PRDL) dikendalikan atau terafiliasi dengan kelompok usaha besar seperti Emtek, Salim, Djarum, dan lingkaran Danantara/pejabat publik.
- Nama besar di cap table bisa jadi sinyal positif (kredibilitas, akses modal, jaringan bisnis), tapi bukan jaminan performa saham, investor tetap perlu mengecek fundamental, valuasi, dan risiko masing-masing emiten secara mandiri.
Siapa di Balik Pesta IPO Juni–Juli 2026? Ini 4 Nama Besar yang Wajib Investor Tahu
Musim IPO Juni–Juli 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI) terasa berbeda. Bukan cuma soal jumlah emiten baru yang melantai, tapi juga soal siapa yang berdiri di belakang mereka. Dari taipan senior seperti Anthoni Salim dan Eddy Sariaatmadja, konglomerat petrokimia Prajogo Pangestu, keluarga Hartono pewaris Djarum Group, hingga sosok pejabat publik seperti COO Danantara Dony Oskaria — semuanya muncul di prospektus IPO yang beredar dalam beberapa pekan terakhir.
Fenomena ini penting untuk dicermati investor ritel. Struktur kepemilikan yang berlapis kerap membuat keterlibatan tokoh besar tidak langsung terlihat di headline, padahal informasi ini bisa jadi salah satu pertimbangan sebelum memutuskan ikut serta dalam penawaran umum perdana saham. Berikut empat sorotan utama.
1. JECX (Jakarta Eye Center): Ada Emtek dan Salim Group
PT Nitrasanata Dharma Tbk, operator jaringan rumah sakit dan klinik mata Jakarta Eye Center (JEC), resmi mencatatkan sahamnya di BEI dengan kode JECX pada 7 Juli 2026. Perusahaan melepas sekitar 487,98 juta saham (15% dari modal disetor pasca-IPO), dengan harga penawaran Rp1.200–Rp1.400 per saham, berpotensi meraup dana hingga Rp683 miliar — menjadikannya salah satu IPO healthcare terbesar tahun ini.
Yang menarik, dua nama besar konglomerasi Indonesia berdiri di baliknya lewat jalur kepemilikan yang sama:
- Eddy Sariaatmadja, pendiri dan pengendali Emtek Group, memegang kepemilikan di JECX (via PT Sarana Meditama Metropolitan/SAME) dari 28% menjadi 25,2% pasca-IPO.
- Anthoni Salim, pengendali Salim Group, memegang porsi yang sama persis: 28% menjadi 25,2%.
Keduanya masuk lewat jalur yang identik, EMTK (Emtek Group) menguasai 84,8% saham SAME, sementara Eddy Sariaatmadja memegang 21,8% saham EMTK dan Anthoni Salim memegang 8,9% saham EMTK.
Artinya, satu emiten kesehatan ini secara tidak langsung didukung oleh dua konglomerat besar sekaligus. Dari sisi valuasi, JECX juga tercatat sebagai salah satu yang termahal di gelombang IPO Juli 2026, dengan PER di kisaran 53–62 kali, jauh di atas rata-rata sektor kesehatan.
2. PRDL (Prodia Diagnostic Line): Koneksi Tak Langsung ke Prajogo Pangestu
PT Prodia Diagnostic Line Tbk, produsen alat kesehatan diagnostik (in vitro diagnostics) di bawah payung Prodia Group, dijadwalkan melantai di BEI dengan kode PRDL pada 9 Juli 2026. Perseroan melepas maksimal 522,9 juta saham baru (30% dari modal pasca-IPO) dengan harga Rp100–Rp120 per saham, membidik dana segar hingga Rp62,74 miliar.
Nama Prajogo Pangestu, pendiri Barito Pacific Group, ikut disorot karena PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) — salah satu perusahaan andalan Prajogo, tercatat memegang 1,48% saham PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), yang merupakan entitas asosiasi dari PRDL.
Perlu digarisbawahi, manajemen TPIA sendiri sudah menegaskan bahwa kepemilikan ini murni bagian dari pengelolaan portofolio investasi keuangan yang bersifat non-strategis, bukan langkah ekspansi bisnis ke sektor kesehatan.
Dengan kata lain, koneksi ke Prajogo memang ada, tapi sifatnya tidak langsung dan minoritas. Pengendali utama PRDL tetap PT Prodia Utama, yang kepemilikannya turun dari 51% menjadi sekitar 35,7% pasca-IPO.
3. RANS (Rans Entertainment): Dari Raffi Ahmad hingga Bos Danantara
PT Rans Entertainment Indonesia Tbk dijadwalkan melantai di BEI dengan kode RANS pada 10 Juli 2026, melepas sekitar 2,52 miliar saham baru (20,02% dari modal disetor) dengan harga Rp135–Rp170 per saham, membidik dana hingga Rp429 miliar.
Pengendali utama tetap Raffi Ahmad, dengan kepemilikan yang terdilusi dari 78,68% menjadi sekitar 62,93% pasca-IPO.
Namun yang menarik perhatian publik adalah keberadaan Dony Oskaria, yang menjabat Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, dengan kepemilikan langsung di RANS yang turun dari 3,42% menjadi 2,74% pasca-IPO — tanpa struktur holding, alias kepemilikan pribadi murni.
Selain Dony Oskaria, daftar pemegang saham RANS juga mencantumkan nama publik lain seperti Kaesang Pangarep (Ketua Umum PSI) dan Sutanto Hartono (Direktur Utama SCMA/CEO Vidio).
Porsinya masing-masing memang kecil, tapi kehadiran pejabat publik di cap table sebuah emiten yang baru IPO tetap jadi catatan penting bagi investor yang memperhatikan aspek tata kelola dan potensi transaksi afiliasi — apalagi sebagian dana IPO RANS turut dialokasikan untuk akuisisi PT Rans Kosmetika Indonesia yang terafiliasi dengan Nagita Slavina.
4. BACH (Bach Multi Global): Konsolidasi Djarum Group
PT Bach Multi Global Tbk, penyedia genset dan infrastruktur telekomunikasi, dijadwalkan melantai di BEI dengan kode BACH pada 7 Juli 2026. Perseroan menawarkan 615 juta saham baru (15,06% dari modal pasca-IPO) dengan harga Rp400–Rp500 per saham, membidik dana hingga Rp307,5 miliar.
Berbeda dari tiga emiten lain, kepemilikan Djarum Group di BACH justru bertambah pasca-IPO — dari 30% menjadi 51% — melalui PT Global Telekomunikasi Prima (GTP), anak usaha PT iForte Solusi Infotek yang berafiliasi dengan Djarum. Langkah ini terjadi lewat perjanjian opsi antara GTP dan pemegang saham lama, PT Bach Multi Sukses Investama, yang ditandatangani awal 2026 dan dieksekusi tak lama setelah listing.
Pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dari struktur ini adalah Martin Basuki Hartono dan Victor Rachmat Hartono — generasi ketiga keluarga Hartono, putra dari Budi Hartono, pendiri Djarum Group.
Menariknya, alih-alih sekadar melepas saham dan mengurangi porsi seperti pola umum IPO, Djarum justru menambah kendali menjadi mayoritas — sinyal bahwa BACH dipandang sebagai kendaraan strategis jangka panjang, khususnya untuk memperluas bisnis kelistrikan menara bersama PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), yang juga satu ekosistem dengan Djarum.
Kenapa Penting Buat Investor?
Empat pola di atas menunjukkan hal yang sama: di balik kode ticker yang mungkin masih asing di telinga investor ritel, ada nama-nama besar dengan rekam jejak bisnis panjang dan akses modal yang kuat. Ini bisa menjadi salah satu indikator kredibilitas dan potensi dukungan jangka panjang terhadap emiten.
Namun, nama besar di cap table bukan segalanya. Sebagai contoh, JECX yang punya backing dua konglomerat sekaligus justru tercatat sebagai salah satu IPO dengan valuasi termahal (PER 53–62x) di gelombang Juli 2026, sementara BACH dengan struktur kepemilikan yang lebih sederhana justru menawarkan valuasi yang jauh lebih murah (PER sekitar 10,5–13,1x).
Artinya, keputusan investasi tetap harus berpijak pada analisis fundamental, prospek bisnis, dan valuasi masing-masing perusahaan — bukan semata-mata karena nama besar di baliknya.
Pesan Saat IPO, Trading Setelah Listing
Pesan saham IPO dengan mudah melalui aplikasi Ajaib. Setelah saham resmi diperdagangkan di BEI, lanjutkan pengalaman investasimu menggunakan Ajaib Terminal untuk memantau harga secara real-time, menganalisis pergerakan saham dengan tampilan desktop yang lebih lengkap, dan melakukan trading dengan lebih nyaman.
Sebagai pengguna baru Ajaib Terminal, kamu juga bisa menikmati promo diskon biaya transaksi. Jadi, mulai dari masa penawaran IPO hingga saham mulai diperdagangkan di pasar reguler, semua kebutuhan investasimu tersedia dalam satu ekosistem Ajaib.
Artikel Terkait




Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!
