Ajaib
Menu

Saham

Daftar Sektor Saham yang Berpotensi Naik Menjelang Lebaran

SarifaJanuary 15, 2026

Ilustrasi diagram yang menunjukkan saham yang berpotensial.

Sektor saham yang naik menjelang Lebaran kerap menjadi perhatian investor karena berkaitan langsung dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia. Lebaran merupakan momen tahunan yang mendorong peningkatan belanja, mobilitas, dan aktivitas ekonomi domestik dalam waktu relatif singkat.

Menjelang Hari Raya, pencairan THR dan arus mudik akan membentuk siklus musiman yang berulang hampir setiap tahun. Secara umum akan terjadi lonjakan kebutuhan pangan, sandang, dan transportasi.

Pola ini tercermin pada peningkatan aktivitas sektor riil, yang kemudian memengaruhi kinerja emiten dan pergerakan saham di sektor tertentu. Karena itu, penting memahami sektor saham yang secara historis dan fundamental berpeluang mendapat sentimen positif menjelang Lebaran 2026. 

Artikel ini mengulas pola konsumsi, mekanisme pengaruhnya ke pasar saham, serta sektor-sektor yang patut dicermati investor dalam momentum musiman ini.

Fenomena Kenaikan Konsumsi Menjelang Lebaran

Kenaikan konsumsi ekonomi menjelang Lebaran tercermin jelas dari lonjakan mobilitas dan kebutuhan energi nasional. Pada periode mudik Lebaran 2024, konsumsi BBM Pertamina jenis Pertamax Turbo meningkat sekitar 90,7%, sementara Pertamax naik 24,8% dibandingkan hari normal. 

Pola serupa terlihat pada sektor transportasi dan logistik. Arus mudik Lebaran 2024 melibatkan lebih dari 190 juta pergerakan orang. Artinya, kebutuhan jasa transportasi, distribusi barang, dan layanan pendukung lainnya relatif meningkat. Lonjakan mobilitas ini biasanya berlangsung sejak dua hingga tiga pekan sebelum Hari Raya, bersamaan dengan puncak belanja masyarakat.

Dari sisi konsumsi rumah tangga, pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi pemicu utama perputaran uang. Bank Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mencatat kenaikan uang beredar musiman menjelang Lebaran, seiring meningkatnya transaksi ritel, pembelian bahan pangan, pakaian, serta kebutuhan mudik. 

Bagi pasar modal, tren konsumsi tersebut menjadi sinyal awal potensi peningkatan pendapatan emiten di sektor tertentu. Ketika aktivitas ekonomi riil bergerak lebih cepat, ekspektasi terhadap kinerja kuartalan perusahaan ikut terbentuk. Inilah alasan mengapa investor mulai mencermati sektor saham yang berpotensi naik menjelang Lebaran, bahkan sebelum laporan keuangan dirilis.

Mengapa momentum lebaran memengaruhi harga saham? Ketika investor memperkirakan penjualan dan pendapatan emiten akan meningkat selama Ramadan dan Lebaran, minat terhadap saham sektor terkait biasanya ikut meningkat.

Ekspektasi tersebut membentuk sentimen positif yang mendorong volume transaksi dan volatilitas harga. Fenomena ini sering disebut sebagai seasonal effect, di mana periode tertentu dalam setahun memicu pergerakan saham yang lebih aktif.

Namun, penting dipahami bahwa kenaikan harga tidak selalu terjadi merata. Saham yang naik saat bulan puasa umumnya berasal dari sektor yang memiliki keterkaitan langsung dengan konsumsi dan mobilitas masyarakat.

5 Sektor Saham yang Berpotensi Naik Menjelang Lebaran

Tidak semua sektor mendapatkan dampak yang sama dari momentum Lebaran. Berikut sektor saham yang secara historis paling sering dikaitkan dengan peningkatan aktivitas ekonomi jelang Hari Raya.

Sektor Konsumer Primer (Consumer Staples)

Sektor konsumer primer mencakup emiten consumer goods yang memproduksi kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, dan produk rumah tangga. Permintaan terhadap produk ini cenderung meningkat selama Ramadan dan Lebaran karena kebutuhan berbuka, sahur, serta persiapan jamuan dan parsel.

Emiten seperti UNVR (Unilever Indonesia), ICBP (Indofood CBP), dan MYOR (Mayora Indah) secara struktur bisnis memiliki eksposur langsung terhadap konsumsi harian masyarakat. Dalam laporan keuangan tahunan, sektor ini cenderung konsisten mencatat kontribusi pendapatan terbesar dari pasar domestik.

Karakteristik permintaan yang relatif stabil membuat sektor konsumer primer sering dianggap defensif. Inilah alasan sektor ini kerap masuk radar investor saat membahas sektor saham yang naik menjelang Lebaran.

Sektor Konsumer Non-Primer (Consumer Discretionary)

Sektor konsumer non-primer mencakup produk gaya hidup seperti pakaian, alas kaki, dan barang fesyen. Menjelang Lebaran, belanja masyarakat pada kategori ini biasanya meningkat seiring tradisi membeli baju baru.

Emiten ritel fesyen seperti MAPI (Map Aktif Adiperkasa) dan LPPF (Matahari Department Store) memiliki keterkaitan langsung dengan belanja musiman. Aktivitas pusat perbelanjaan yang meningkat menjelang Lebaran turut mendorong ekspektasi pasar terhadap kinerja sektor ini.

Namun, sektor ini juga lebih sensitif terhadap daya beli masyarakat. Karena itu, peluang dan risikonya berjalan beriringan, terutama dalam kondisi ekonomi yang menantang.

Sektor Transportasi dan Logistik

Mudik Lebaran menjadi katalis utama sektor transportasi dan logistik. Data Pertamina Patra Niaga menunjukkan konsumsi BBM saat mudik Lebaran 2024 melonjak signifikan, dengan Pertamax Turbo naik 90,7% dan Pertamax naik 24,8% dibanding hari normal. 

Emiten transportasi antara lain BIRD (Blue Bird), WEHA (Weha Transportasi Indonesia), serta ekosistem ride-hailing seperti GOTO (GoTo Gojek Tokopedia). Emiten tersebut  memiliki eksposur terhadap peningkatan pergerakan masyarakat dan distribusi barang.

Analis pasar modal juga menilai momentum Ramadan dan Lebaran sebagai katalis positif bagi sektor ini, meskipun tetap menghadapi tantangan biaya operasional dan persaingan yang ketat.

Sektor Perbankan dan Keuangan

Sektor perbankan berperan penting dalam perputaran dana menjelang Lebaran. Transaksi transfer, pembayaran digital, pembelian online, dan penyaluran kredit konsumsi meningkat seiring pencairan THR.

Bank-bank besar seperti BBCA, BMRI, dan BBNI memiliki basis transaksi ritel yang luas. Peningkatan volume transaksi selama Ramadan dan Lebaran berpotensi mendukung pendapatan berbasis komisi dan layanan.

Meski demikian, kinerja sektor ini tetap dipengaruhi kondisi makro seperti suku bunga dan kualitas kredit, sehingga sentimen positif bersifat selektif.

Sektor Ritel 

Sektor ritel menjadi salah satu wajah langsung konsumsi masyarakat menjelang Lebaran. Minimarket, supermarket, dan pusat perbelanjaan umumnya mengalami peningkatan kunjungan serta transaksi seiring kebutuhan bahan pokok, parsel, dan kebutuhan Lebaran lainnya.

Emiten ritel seperti AMRT (Sumber Alfaria Trijaya), MIDI (Midi Utama Indonesia), dan ACES (Ace Hardware Indonesia) memiliki eksposur langsung terhadap belanja musiman tersebut. Aktivitas promosi Ramadan yang rutin digelar ritel modern menjadikan sektor ini tetap relevan dalam pembahasan sektor saham yang berpotensi naik menjelang Lebaran.

Hal yang Perlu Diperhatikan Investor

Momentum Lebaran kerap menciptakan optimisme di pasar saham, namun efeknya tidak selalu seragam dan berkelanjutan. Investor perlu memahami bahwa sentimen musiman harus dibaca bersama kondisi ekonomi dan pasar yang lebih luas.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Daya Beli Masyarakat Masih Tertekan

Konsumsi menjelang Lebaran memang meningkat, tetapi kekuatannya tidak selalu setara dengan tahun-tahun sebelumnya. CELIOS mencatat kontribusi belanja Ramadan–Lebaran terhadap pertumbuhan ekonomi 2025 lebih moderat, mencerminkan daya beli yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat lonjakan kinerja emiten berpotensi terbatas.

2. Kenaikan Saham Bersifat Musiman

Pergerakan saham menjelang Lebaran umumnya dipicu ekspektasi pasar, bukan perubahan fundamental jangka panjang. Hal ini menyebabkan valuasi saham cenderung lebih mahal. 

Setelah momen berlalu, harga saham kerap bergerak normal kembali mengikuti kinerja keuangan dan fundamental perusahaan. Investor perlu mewaspadai potensi koreksi pasca-Lebaran.

3. Sentimen Global Tetap Berpengaruh

Katalis domestik seperti Lebaran tidak sepenuhnya mampu menahan dampak sentimen global. Arah suku bunga global dan arus dana asing masih menjadi faktor utama pergerakan IHSG. Data BEI menunjukkan volatilitas tetap tinggi meski ada sentimen musiman positif.

4. Tidak Semua Emiten Mendapat Dampak Positif

Berada di sektor yang sama tidak menjamin seluruh emiten diuntungkan. Perbedaan model bisnis, efisiensi operasional, dan struktur pendapatan membuat respons saham bisa berbeda. Seleksi saham tetap diperlukan agar investor tidak terjebak euforia sektoral.

5. Timing dan Manajemen Risiko Penting

Investor umumnya mulai melirik saham terkait Lebaran beberapa minggu hingga satu bulan sebelumnya saat ekspektasi pasar terbentuk. Namun waktu masuk dan keluar tetap bergantung pada kondisi pasar saat itu. Pendekatan bertahap dan disiplin risiko membantu menjaga portofolio tetap terkendali.

Kesimpulan

Lebaran tetap menjadi momentum penting dalam dinamika pasar saham Indonesia. Sektor konsumer primer, konsumer non-primer, transportasi dan logistik, perbankan, serta ritel merupakan sektor saham yang berpotensi naik menjelang Lebaran karena keterkaitannya dengan konsumsi dan mobilitas masyarakat.

Namun, peluang tersebut perlu dibaca secara kontekstual dengan kondisi ekonomi dan pasar terkini. Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan literasi investasi. Seluruh pembahasan bukan merupakan ajakan, rekomendasi beli, maupun jual saham.

Sambut Lebaran dengan Ajaib!

Melalui Ajaib, investor dapat memantau saham dengan mudah, transparan, dan berbasis data. Dengan fitur lengkap dan tampilan ramah pengguna, Ajaib membantu mengambil keputusan investasi saham secara lebih terukur dan percaya diri.

Google Play StoreApple App Store

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!

Daftar Sektor Saham yang Berpotensi Naik Menjelang Lebaran - Ajaib