Buyback Diumumkan Triliunan, Realisasinya Bisa Cuma 10%: Pelajaran dari BBRI, UNTR, dan DSSA
Afif Alfaris•September 10, 2026

Key Takeaways
- BBRI baru menyerap sekitar 10,3% dari anggaran buyback Rp500 miliar ketika hampir 20% masa programnya sudah berjalan, menunjukkan jarak lebar antara angka yang diumumkan dan yang benar-benar dieksekusi.
- UNTR menjalankan empat putaran buyback dalam kurang dari setahun dengan serapan yang terus menyusut, dari 99,99% pada putaran pertama menjadi hanya 43% pada putaran ketiga.
- DSSA berada di ujung siklus yang berbeda, yaitu dikejar tenggat POJK 29/2023 untuk mengalihkan 37,91 miliar saham treasuri dengan potensi selisih sekitar 5,9 kali dari harga belinya.
- Arah pasokan saham ternyata tidak menentukan arah harga. DSSA menambah pasokan tetapi harganya naik 17,5%, sementara BBRI mengurangi pasokan dengan realisasi minimal dan harganya naik 19,3%.
Buyback Besar Tidak Selalu Berarti Serapan Saham yang Besar
Pengumuman buyback atau pembelian kembali saham dengan angka triliunan hampir selalu disambut positif oleh pasar. Kesan yang muncul, perseroan sedang menyerap sahamnya sendiri dalam jumlah besar, sehingga pasokan berkurang dan harga terdorong naik. Persoalannya, angka yang diumumkan dan angka yang benar-benar dieksekusi kerap berbeda jauh.
Tiga emiten, yaitu BBRI, UNTR, dan DSSA, memberi gambaran yang cukup lengkap tentang jarak tersebut. Ketiganya kebetulan berada di titik berbeda dalam siklus buyback yang sama pada waktu bersamaan, sehingga bisa dibaca berdampingan untuk memahami apa yang sebenarnya perlu dicermati trader di balik pengumuman aksi korporasi semacam ini.
Tiga Emiten, Tiga Titik Berbeda dalam Satu Siklus yang Sama
Buyback dan pengalihan saham treasuri kerap diberitakan sebagai dua peristiwa terpisah, padahal keduanya adalah dua ujung dari siklus yang sama. Saham treasuri adalah saham hasil pembelian kembali yang untuk sementara disimpan perseroan. POJK 29 Tahun 2023 mewajibkan saham hasil buyback dialihkan paling lambat tiga tahun setelah pembelian selesai, sehingga setiap buyback otomatis punya tanggal kedaluwarsa.
BBRI, UNTR, dan DSSA kebetulan sedang berada di tiga titik berbeda dalam siklus tersebut pada saat yang bersamaan.
Tabel 1. Posisi BBRI, UNTR, dan DSSA dalam siklus buyback
| Emiten | Posisi dalam siklus | Aksi yang berjalan | Periode |
| BBRI | Sedang membeli, sekaligus menumpuk treasuri sejak 2022 | Buyback maksimal Rp500 miliar | 12 Juni sampai 11 September 2026 |
| UNTR | Baru selesai menumpuk lewat empat putaran beruntun | Buyback maksimal Rp2 triliun (putaran IV) | 1 Juli sampai 30 September 2026 |
| DSSA | Dikejar tenggat untuk melepas treasuri | Pengalihan maksimal 9,63 miliar saham | mulai 10 Agustus 2026 |
Ketiganya sama-sama memakai kas internal. Buyback BBRI dan UNTR juga sama-sama bersandar pada POJK 13 Tahun 2023 yang mengizinkan pembelian kembali tanpa persetujuan RUPS saat kondisi pasar berfluktuasi signifikan.
Yang membuat ketiganya layak dibaca berdampingan bukan kebetulan waktunya, melainkan karena masing-masing memperlihatkan satu sisi berbeda dari hal yang sama, yaitu seberapa jauh jarak antara pengumuman aksi korporasi dan realisasinya.
BBRI: Anggaran Rp500 Miliar, Realisasi Baru 10% di Awal Program
Tabel 2. Realisasi buyback BBRI hingga 30 Juni 2026
| Indikator | Angka |
| Anggaran buyback | maksimal Rp500 miliar |
| Periode | 12 Juni sampai 11 September 2026 (91 hari) |
| Realisasi hingga 30 Juni 2026 | 18.000.000 saham |
| Estimasi nilai terserap | ±Rp51 miliar |
| Porsi anggaran terpakai | ±10,3% |
| Porsi waktu yang berjalan | 19,8% |
| Harga saat pengumuman (12 Juni) | Rp2.850 |
| Harga per 2 September 2026 | Rp3.400 |
Realisasi dari keterbukaan informasi BBRI 15 Juli 2026; estimasi nilai dan persentase merupakan perhitungan sendiri.
Dalam 18 hari pertama program, BBRI baru menyerap sekitar seperlima dari kecepatan yang dibutuhkan untuk menghabiskan anggaran. Bila laju ini bertahan, realisasi hingga 11 September berpotensi jauh di bawah Rp500 miliar.
Saham hasil buyback 2026 ditujukan untuk program kepemilikan saham pekerja serta direksi dan dewan komisaris, dengan pengalihan menunggu persetujuan RUPS. Manajemen memastikan total treasuri tidak melebihi 10% dari modal ditempatkan. Berdasarkan proforma per 31 Maret 2026, buyback ini diperkirakan mengurangi total aset dan ekuitas BBRI masing-masing sebesar Rp500 miliar bila terserap penuh, tanpa mengubah laba bersih.
Meski realisasinya minim, harga BBRI justru menguat 19,3% dari Rp2.850 saat pengumuman menjadi Rp3.400 pada 2 September 2026. Ini menunjukkan pergerakan harga tidak semata digerakkan volume pembelian perseroan, melainkan juga faktor lain di luar aksi korporasi itu sendiri.
Ingin memantau apakah realisasi buyback benar-benar terlihat di volume harian? Anda dapat menggunakan fitur Pre-Defined Multi-Orderbook Template di Ajaib Terminal untuk menampilkan banyak orderbook dalam satu layar, sehingga beberapa emiten bisa diamati serentak.
Pantau banyak saham sekaligus di Ajaib Terminal, gunakan fitur Multi-Orderbook.
BBRI Menumpuk Treasuri Empat Tahun Beruntun
Yang jarang dibahas, buyback 2026 bukan yang pertama. BBRI sudah melakukannya empat tahun beruntun, dan mayoritas hasilnya belum dialihkan.
Tabel 3. Riwayat buyback BBRI dan status pengalihannya
| Program buyback | Jumlah dibeli | Sudah dialihkan | Belum dialihkan |
| 2022 | 647.385.900 | 242.298.900 | 405.087.000 |
| 2023 | 293.932.300 | – | 293.932.300 |
| 2025 | 157.793.000 | – | 157.793.000 |
| 2026 (per 30 Juni) | 18.000.000 | – | 18.000.000 |
| Total belum dialihkan | 874.812.300 |
Sumber: keterbukaan informasi BBRI 15 Juli 2026; total merupakan perhitungan sendiri.
Angka ini penting karena buyback 2023 tunduk pada tenggat POJK 29/2023 yang sama seperti yang kini dihadapi DSSA, yaitu wajib dialihkan maksimal tiga tahun setelah pembelian selesai.
Hingga laporan Juli 2026, belum ada pengumuman rencana pengalihan atas saham hasil buyback 2023 tersebut, sehingga ini menjadi hal yang perlu dipantau trader dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, pengalihan saham hasil buyback 2022 sudah berjalan sebagian untuk mendukung program kepemilikan saham pekerja, direksi, dan dewan komisaris.
UNTR: Empat Putaran Buyback dengan Selera yang Terus Menyusut
Tabel 4. Serapan empat putaran buyback UNTR
| Putaran | Periode | Anggaran | Realisasi | Serapan | Saham dibeli | Harga rata-rata* |
| I | 30 Okt 2025 sampai dihentikan 14 Jan 2026 | Rp2 triliun | Rp1,99 triliun | 99,99% | 68.519.800 | ±Rp29.043 |
| II | 22 Jan sampai dihentikan 31 Mar 2026 | Rp2 triliun | ±Rp1 triliun | ±50% | belum tersedia | belum tersedia |
| III | 1 Apr sampai dihentikan 30 Jun 2026 | Rp2 triliun | Rp860,34 miliar | 43,0% | 35.539.100 | ±Rp24.208 |
| IV | 1 Jul sampai 30 Sep 2026 | Rp2 triliun | sedang berjalan | – | – | – |
*Harga rata-rata dan persentase serapan merupakan perhitungan sendiri.
Anggaran selalu dipatok Rp2 triliun, tetapi serapannya menurun tajam dari 99,99% menjadi 43,0%. Pada putaran ketiga, UNTR menyisakan sekitar Rp1,13 triliun yang tidak digunakan dan menghentikan program pada 30 Juni 2026. Harga beli rata-rata juga turun sekitar 16,6%, dari Rp29.043 pada putaran pertama menjadi Rp24.208 pada putaran ketiga. Sebagai pembanding, harga UNTR tercatat Rp30.925 pada 1 April 2026.
Manajemen menyatakan jumlah saham yang dibeli kembali tidak melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor, dengan porsi saham publik dijaga tetap di atas 15%.
Ada konteks penting yang perlu diperhatikan. Buyback ini berjalan saat laba UNTR justru anjlok 79,83% pada kuartal I 2026, dengan laba per saham merosot dari Rp878 menjadi Rp181. Manajemen memperkirakan buyback Rp2 triliun yang terserap penuh hanya mengangkat laba per saham dari Rp4.082 ke Rp4.237, atau sekitar 3,8%. Angka ini menunjukkan bahwa buyback bukan alat yang efektif untuk menutup dampak penurunan laba yang jauh lebih besar.
DSSA: Dikejar Tenggat, dengan Selisih Harga Hampir Enam Kali Lipat
Tabel 5. Profil pengalihan saham treasuri DSSA
| Indikator | Angka |
| Buyback asal | Juni sampai September 2023 |
| Jumlah dibeli | 154.105.327 saham (pra-stock split) |
| Nilai buyback | ±Rp7,4 triliun |
| Setara pasca dua stock split (1:10 tahun 2024, 1:25 tahun 2026) | 38.526.331.750 saham |
| Cost basis per saham | ±Rp192 |
| Sisa treasuri saat ini | 37.905.956.750 saham (19,68% saham beredar) |
| Target pengalihan tahap ini | maksimal 9.631.904.000 saham (5%) |
| Tenggat POJK 29/2023 | sekitar September 2026 |
| Harga per 2 September 2026 | Rp1.140 |
Cost basis merupakan perhitungan sendiri dari nilai buyback dibagi jumlah saham, disesuaikan dua kali stock split.
Potensi ekonominya sangat besar. Cost basis atau harga perolehan DSSA sekitar Rp192 per saham, sementara harga pasar Rp1.140, sehingga selisihnya mencapai sekitar 5,9 kali lipat. Bila seluruh 9,63 miliar saham dialihkan di harga tersebut, nilai brutonya mencapai sekitar Rp10,98 triliun dari modal sekitar Rp1,85 triliun.
Manajemen sudah terbukti memanfaatkan selisih ini. Pada Agustus 2024, DSSA menjual 24,8 juta saham treasuri senilai Rp794 miliar di harga rata-rata sekitar Rp32.000, atau sekitar 6,67 kali di atas modal yang disesuaikan saat itu.
Ada jalur kedua yang belum banyak disorot. DSSA menjadwalkan RUPSLB pada 10 September 2026 dengan agenda pengurangan modal melalui penarikan kembali saham hasil buyback serta penyesuaian anggaran dasar. Bila disetujui, sebagian besar saham treasuri dihapus permanen, bukan dilempar ke pasar. Pengalihan juga tidak seluruhnya melewati pasar reguler, karena tercatat transaksi DSSA senilai Rp1,4 triliun di pasar negosiasi BEI, yang secara mekanis tidak langsung menekan harga di papan reguler.
Hasilnya berlawanan dengan intuisi. Meski pasokan bertambah, harga DSSA justru naik sekitar 17,5% dari Rp970 pada 12 Agustus menjadi Rp1.140 pada 2 September 2026.
Ketika aksi korporasi berjalan dan harga bergerak berlawanan dengan dugaan, kecepatan menyesuaikan posisi ikut menentukan. Anda dapat menggunakan fitur Fast Trade di Ajaib untuk menyatukan order book, panel beli jual, info saldo, trade limit, dan max sell dalam satu layar, sehingga penyesuaian bisa dilakukan tanpa berpindah menu.
Hal yang Perlu Diketahui Trader
Dari ketiga kasus di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa dijadikan pegangan sebelum bereaksi terhadap pengumuman buyback.
- Pengumuman buyback bukan jaminan eksekusi. Buktinya berlapis di ketiga kasus. BBRI baru menyerap 10,3% anggaran di 19,8% masa program, UNTR menyisakan Rp1,13 triliun pada putaran ketiga, dan serapan UNTR terus turun dari 99,99% ke 43,0%. Trader yang membeli semata karena angka anggaran sebenarnya bertaruh pada nilai yang belum tentu direalisasikan.
- Arah pasokan tidak menentukan arah harga. DSSA menambah pasokan tetapi harganya naik 17,5%, sedangkan BBRI mengurangi pasokan dengan realisasi minimal tetapi harganya naik 19,3%. Faktor lain seperti sentimen sektoral, arus dana, dan kondisi pasar secara keseluruhan tetap lebih dominan menggerakkan harga dibanding aksi buyback itu sendiri.
- Setiap buyback punya tanggal kedaluwarsa. POJK 29/2023 mewajibkan pengalihan maksimal tiga tahun setelah pembelian selesai, sehingga saham treasuri yang menumpuk hari ini adalah potensi pasokan di masa depan. BBRI dengan 874,81 juta saham yang belum dialihkan berada dalam posisi yang perlu dipantau, sama seperti DSSA saat ini.
Selain ketiga pelajaran itu, ada satu catatan tambahan. Buyback yang dilakukan saat laba menurun, seperti pada UNTR, hanya memberi dampak terbatas pada laba per saham. Kenaikan sekitar 3,8% dari buyback penuh tidak sebanding dengan penurunan laba bersih 79,83% pada periode yang sama.
Hal yang perlu dipantau berikutnya adalah laporan realisasi bulanan buyback BBRI dan UNTR, hasil RUPSLB DSSA pada 10 September 2026, realisasi akhir buyback BBRI pada 11 September dan UNTR pada 30 September 2026, serta apakah volume transaksi harian benar-benar mencerminkan aktivitas pembelian atau pengalihan yang diumumkan.
Eksekusi Order Lebih Cepat Saat Aksi Korporasi Berlangsung
Buyback dan pengalihan saham treasuri berjalan bertahap sepanjang periode program, sehingga volume dan harga bisa bergerak cepat pada hari-hari realisasi transaksi. Anda dapat menggunakan fitur Fast Trade di Ajaib untuk menampilkan order book, panel beli jual, info cash, trade limit, dan max sell dalam satu panel, sekaligus merevisi dan membatalkan order dengan cepat saat harga bergerak.
Fast Trade juga kompatibel dengan mode Reguler, XTRA Day Trading, XTRA Trade Limit, dan Margin Trading, sehingga dapat menyesuaikan gaya trading Anda.
Eksekusi lebih cepat dengan Fast Trade Ajaib. Download Ajaib sekarang!
Disclaimer: Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Sumber:
- Bisnis.com, “BRI (BBRI) Buyback 18 Juta Saham hingga Juni 2026” (16 Juli 2026)
- IDXChannel/RCTI+, “Akhiri Buyback Saham, UNTR Habiskan Anggaran Rp860 Miliar” (30 Juni 2026)
- Media Asuransi, “United Tractors (UNTR) Rampungkan Buyback Saham Rp2 Triliun, Realisasi Capai 99%” (19 Januari 2026)
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait


Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!
