Ajaib
Menu

Saham AS

Wall Street Melemah, Dow Jones Dihantam Lonjakan Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah

Miftahul KhaerJuly 24, 2026

Bursa AS Ditutup Melemah, Dow Jones dan Nasdaq Tertekan Kebijakan Tarif Terbaru Trump

Key Takeaways

  • Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq kompak ditutup melemah pada Kamis (23/07), dengan Dow Jones anjlok 506,93 poin (-0,97%) ke level 51.711,65, melanjutkan pelemahan dua hari beruntun.
  • Harga minyak dunia melonjak tajam usai eskalasi konflik di Timur Tengah, sementara laporan kinerja Alphabet dan Tesla yang mengecewakan turut menyeret Nasdaq.
  • Pemerintah AS juga resmi memberlakukan tarif baru 10%-12,5% terhadap 60 mitra dagang mulai Jumat dini hari, meski di sisi lain saham Oracle justru melesat berkat kontrak jumbo dari Pentagon.

Wall Street Melemah, Tekanan Datang dari Berbagai Arah

Bursa saham Amerika Serikat ditutup ambruk pada perdagangan Kamis (23/07), melanjutkan tren pelemahan selama dua hari beruntun. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJI) turun 506,93 poin atau 0,97% ke level 51.711,65, sementara S&P 500 melemah 1,21% atau turun 90,66 poin ke posisi 7.408,30. Adapun Nasdaq Composite menjadi indeks yang paling tertekan dengan penurunan 2,57%, ditutup di level 25.137,69.

Pelemahan kali ini dipicu kombinasi dari beberapa sentimen negatif sekaligus, mulai dari lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik di Timur Tengah, laporan kinerja keuangan dua raksasa teknologi yang mengecewakan pasar, hingga kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed. Volume perdagangan tercatat mencapai 16,21 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir sebesar 18,51 miliar saham, mengindikasikan aksi jual yang cukup meluas meski tidak disertai lonjakan volume ekstrem.

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak dan Yield Obligasi Melonjak

Sentimen negatif terbesar datang dari pasar energi. Harga minyak Brent melonjak 7% dan ditutup di US$100,69 per barel, menembus level psikologis US$100 untuk pertama kalinya sejak akhir Mei, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 6% menjadi US$92,19 per barel. Kenaikan tajam ini dipicu klaim kelompok Houthi yang didukung Iran atas serangan terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah, ditambah laporan bahwa militer AS telah melancarkan serangan udara putaran kedua terhadap Iran, sementara Iran membalas dengan menembaki pangkalan-pangkalan AS di negara tetangga.

Situasi semakin memanas setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur Iran apabila terjadi serangan terhadap kapal di Selat Hormuz, bahkan bersumpah memberikan “hukuman militer besar” kepada Iran dan Houthi. Laporan Axios turut menyebut Trump sedang mempertimbangkan serangan militer berskala besar terhadap Iran meski belum menetapkan waktu pelaksanaannya. Berikut dampak lanjutan dari eskalasi ini terhadap pasar keuangan AS:

  • Imbal hasil (yield) Treasury 10 tahun sempat menembus 4,7%, level tertinggi sejak Januari 2025, seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak.
  • Yield obligasi 2 tahun naik hingga 4,37%, menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga jangka pendek.
  • Peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September kini mencapai lebih dari 80%, melonjak tajam dibanding sekitar 52% pada sepekan sebelumnya.
  • Lonjakan harga minyak turut memicu kekhawatiran inflasi hanya beberapa hari menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve berikutnya.

Laporan Kinerja Alphabet dan Tesla Mengecewakan, Saham Pertahanan Jadi Penopang

Tekanan besar pada Nasdaq datang dari dua nama besar teknologi yang menjadi perusahaan pertama dari kelompok “Magnificent Seven” melapor kinerja kuartal II tahun ini. Saham Alphabet merosot sekitar 7% setelah induk Google tersebut menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure) 2026 menjadi US$195 miliar hingga US$205 miliar, naik dari proyeksi sebelumnya US$180 miliar-US$190 miliar, sekaligus melaporkan kerugian kas. Sementara itu, saham Tesla turun lebih dalam hingga 14% usai hasil kuartal keduanya juga mengecewakan ekspektasi pasar. Pelemahan Alphabet menyeret indeks sektor layanan komunikasi turun 5,20%, menjadikannya sektor terlemah dari 11 sektor acuan S&P 500.

Di tengah tekanan tersebut, sektor pertahanan justru tampil sebagai penopang utama. Sektor industri menjadi satu-satunya dari hanya empat sektor S&P 500 yang ditutup menguat signifikan, naik 1,77% didorong oleh saham Lockheed Martin yang melonjak 10,5% dan RTX yang naik 7,3%, setelah keduanya menaikkan perkiraan penjualan dan laba tahun 2026 seiring tingginya permintaan perawatan pesawat komersial dan sistem militer. Kontras kinerja antar sektor ini menegaskan bahwa pelemahan pasar kali ini lebih bersifat selektif ketimbang penurunan menyeluruh di semua lini saham.

Tarif Baru Trump ke 60 Negara Turut Bebani Sentimen, Meski Oracle Bawa Kabar Positif

Di luar gejolak geopolitik dan laporan kinerja korporasi, pasar juga mencerna kebijakan tarif terbaru pemerintahan Trump. Pemerintah AS akan memberlakukan tarif impor baru sebesar 10% hingga 12,5% terhadap 60 mitra dagang mulai pukul 00.01 waktu setempat pada Jumat, menggantikan tarif global sementara 10% yang sebelumnya berlaku. Tarif ini mencakup sekitar 99,4% dari total perdagangan AS dengan negara-negara sasaran, dengan alasan resmi berupa dugaan pelanggaran praktik kerja paksa (forced labor), dan tidak akan ditambahkan di atas tarif Section 232 yang sudah berlaku pada produk baja dan aluminium. Kebijakan ini menyusul tarif 25% terhadap sebagian besar impor dari Brasil serta rencana tarif 50% atas sejumlah produk asal Kanada bulan depan.

Di sisi lain, kabar positif datang dari Oracle, yang memperoleh kontrak strategis senilai hingga US$7 miliar dari Pentagon untuk memasok perangkat lunak selama 10 tahun ke berbagai cabang militer AS, komunitas intelijen, hingga Coast Guard. Kabar ini mendorong saham Oracle naik sekitar 3% pada perdagangan setelah jam bursa, meski performanya sepanjang tahun berjalan masih tertekan turun sekitar 38% akibat kekhawatiran investor terhadap ekspansi besar-besaran ke infrastruktur AI dan akumulasi utang perusahaan.

Apa yang Perlu Dicermati Trader Saham AS?

Sentimen pasar saat ini tergolong risk-off dan dipengaruhi oleh banyak variabel sekaligus, mulai dari geopolitik, arah suku bunga, hingga musim laporan keuangan. Bagi kamu yang aktif memantau pergerakan bursa AS, momen ini menunjukkan pentingnya membedakan sumber tekanan pasar: pelemahan akibat sentimen makro seperti kenaikan harga minyak dan potensi kenaikan suku bunga The Fed cenderung memengaruhi pasar secara luas, sementara koreksi tajam pada saham seperti Alphabet dan Tesla lebih terkait ekspektasi kinerja spesifik perusahaan. Sebaliknya, penguatan saham-saham pertahanan seperti Lockheed Martin dan RTX menunjukkan bahwa peluang tetap terbuka di tengah pasar yang bergejolak, asalkan kamu jeli membaca sektor mana yang justru diuntungkan oleh kondisi terkini.

Musim laporan keuangan kuartal II yang baru dimulai dari kelompok “Magnificent Seven” juga layak menjadi perhatian dalam beberapa pekan ke depan, mengingat performa Alphabet dan Tesla berpotensi menjadi indikator awal bagaimana pasar akan merespons laporan dari perusahaan teknologi besar lainnya. Selain itu, perkembangan konflik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak layak terus dipantau, karena keduanya kini menjadi salah satu variabel utama yang memengaruhi ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Pantau Pergerakan Wall Street dan Mulai Trading Saham AS di Ajaib

Volatilitas Wall Street belakangan ini menunjukkan betapa cepatnya sentimen pasar global bisa berubah arah akibat kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, dan kinerja korporasi. Memantau informasi terkini secara konsisten menjadi kunci sebelum mengambil keputusan. Melalui aplikasi Ajaib, kamu bisa mendapatkan informasi terupdate dan maksimalkan peluang trading menggunakan berbagai fitur terbaik. Mulai trading saham AS lebih presisi dan download Ajaib di Play Store & App Store sekarang!

Google Play StoreApple App Store

Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi  untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi.  Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.

Sumber: CNBC, Kontan, Investor.id, Ajaib Research

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!