Ajaib
Menu

Saham AS

Nvidia Nyalakan Lagi Rally AI, Tapi Fed Hawkish Siap Menguji Wall Street

Miftahul KhaerSeptember 2, 2026

NVIDIA (NVDA)

Key Takeaway

  • Nvidia (NVDA) menjadi katalis utama Wall Street setelah revenue Q2 FY2027 mencapai US$96,2 miliar, naik 106% YoY.
  • Dow Jones naik 1,50%, S&P 500 menguat 0,60%, dan Nasdaq naik 0,25% dalam sepekan.
  • Pidato perdana Fed Chair Kevin Warsh di Jackson Hole membawa nada hawkish di tengah inflasi PCE yang masih berada di 3,7% YoY.
  • Investor mulai semakin selektif terhadap saham yang diuntungkan AI, terutama di tengah memory shortage dan kenaikan biaya komponen.
  • Sejumlah saham mencatat kenaikan signifikan dalam sepekan, seperti CRM +24,53%, CRWD +14,38%, dan NOW +11,07%.

Wall Street kembali mendapat bahan bakar dari Nvidia. Laporan earnings Q2 FY2027 perusahaan membuktikan boom artificial intelligence masih jauh dari kehilangan momentum.

Nvidia mencatat revenue US$96,2 miliar, melonjak 106% YoY. Data Center revenue mencapai US$89 miliar, dan guidance kuartal berikutnya sebesar US$108 miliar kembali melampaui ekspektasi pasar. Yang lebih penting, hyperscaler seperti Amazon masih agresif membeli GPU Nvidia — memperkuat keyakinan bahwa belanja AI belum memasuki fase perlambatan.

Saham NVDA melonjak 8,7% dan menyeret saham semikonduktor lainnya, mengangkat Nasdaq ke rekor baru. Ini penting karena beberapa earnings Nvidia sebelumnya justru berakhir dengan sell-the-news. Respons positif kali ini menunjukkan pasar kembali bersedia memberi premium terhadap perusahaan yang mampu membuktikan bahwa AI capex benar-benar berubah menjadi pertumbuhan revenue.

Masalahnya, optimisme AI ini berhadapan dengan makro yang makin rumit. Data PCE Juli menunjukkan headline inflation masih 3,7% YoY, sementara core PCE bertahan di 3,3% — tanda proses disinflasi mulai kehilangan momentum.

Kondisi ini diperkuat pidato perdana Fed Chair Kevin Warsh di Jackson Hole. Nadanya lebih hawkish: Warsh menegaskan perbaikan inflasi beberapa bulan terakhir belum cukup untuk memastikan tren inflasi benar-benar kembali menuju target. Ia bahkan menolak memberi forward guidance yang jelas, membuka kemungkinan Fed akan kembali menaikkan suku bunga bila inflasi kembali membandel.

Di saat yang sama, yield Treasury 30 tahun masih di sekitar 5,2% — setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 2007 — sementara utang publik AS telah menembus US$40 triliun. Artinya, AI rally memang kembali kuat, tapi biaya modal dan risiko fiskal AS jadi headwind yang makin sulit diabaikan investor.

Pergerakan saham pekan ini juga menunjukkan investor semakin selektif soal siapa yang benar-benar diuntungkan dari AI boom. Nvidia dan perusahaan semikonduktor dengan exposure langsung ke AI infrastructure masih jadi favorit, tapi memory shortage mulai menciptakan pemenang dan korban sekaligus:

  • Nvidia sendiri memperingatkan gross margin bisa tertekan akibat kelangkaan memory — yang ironisnya sebagian dipicu oleh AI buildout itu sendiri.
  • Dell dan HP menghadapi risiko margin karena kenaikan biaya komponen.
  • Marvell kembali dihukum pasar meski fundamentalnya kuat, karena ekspektasi investor sudah terlalu tinggi.
  • Di sektor consumer, Dollar General menguat sementara Dollar Tree mengecewakan — memperjelas fenomena K-shaped consumer.

Wall Street pun memasuki pekan berikutnya dengan pertanyaan yang lebih rumit dari sekadar “seberapa besar AI akan tumbuh?” — tapi juga “berapa lama valuasi AI mampu bertahan ketika suku bunga, yield, inflasi, dan biaya input terus meningkat?”

Performa Indeks Bursa AS Weekly

S&P 500Dow Jones Industrial AverageNASDAQ Composite
+0,60%+1,50%+0,25%

Top Gainer 1W

SahamPerubahan
CRM+24,53%
CRWD+14,38%
NOW+11,07%
SNPS+10,47%
FTNT+9,28%

Ingin memantau saham AI seperti Nvidia dan saham AS lainnya? Pantau pergerakan harga dan analisis saham AS melalui Ajaib.

Berita Ekonomi & Industri

Earnings Nvidia jadi catalyst tunggal paling powerful minggu ini. Dirilis Rabu (26/8) setelah market tutup, hasilnya berhasil membalikkan sentimen negatif yang sempat terbentuk dari sell-off bond market minggu sebelumnya.

Nvidia melaporkan EPS US$2,22 — lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu — dengan revenue tembus US$96,2 miliar (naik 106% YoY), jauh di atas guidance perusahaan sendiri di kisaran US$91 miliar. Yang paling bikin market excited justru guidance ke depan: CFO Colette Kress menyebut proyeksi pertumbuhan revenue fiskal 2028 di angka 70%, jauh melampaui ekspektasi analis LSEG yang cuma 44%.

Saham NVDA langsung melonjak 8,7% keesokan harinya — kenaikan satu hari terbesar sejak April 2025 — sekaligus menyeret rally luas di sektor semikonduktor (Marvell +5,8%, Micron +4,5%, VanEck Semiconductor ETF +3,5%) dan mendorong Nasdaq naik 1,57% ke rekor 26.541. Reaksi ini menarik karena sepanjang tahun ini NVDA justru sering turun pasca-earnings meski hasilnya kuat. Jadi, lonjakan kali ini jadi sinyal penting bahwa narasi AI capex masih dipercaya market — setidaknya untuk sekarang.

Pidato perdana Jackson Hole dari Fed Chair Kevin Warsh, Jumat (28/8), jadi catalyst kebijakan moneter paling ditunggu sepanjang bulan. Hasilnya condong hawkish, meski dengan gaya komunikasi yang jauh berbeda dari pendahulunya.

Warsh menyatakan bahwa meski data inflasi musim panas ini “lebih baik dari ekspektasi,” itu tidak berarti tren inflasi yang mendasar sudah membaik secara meaningful. Ia menegaskan diri “committed to a discipline, not to a decision” — kalimat yang ditafsirkan sebagai kesiapannya untuk menaikkan suku bunga lagi jika progres penurunan inflasi mandek.

Yang unik, Warsh sengaja menghindari memberi forward guidance atau reaction function eksplisit. Ia bahkan menyebut ingin bank sentral yang “lebih tenang,” karena “kita seharusnya tidak memanjakan rezim di mana pelaku pasar cuma melihat ke Fed untuk trade berikutnya” — pendekatan yang kontras jauh dari gaya Powell tahun lalu yang langsung memicu rally agresif saat sinyal rate cut disampaikan.

Reaksi pasar saham relatif tenang (sesuai pola historis Jackson Hole yang menurut data Bloomberg sejak 2000 rata-rata cuma naik 0,4% seminggu setelahnya). Tapi pasar obligasi langsung membangun ekspektasi hike, dengan beberapa bank besar dilaporkan memajukan timeline proyeksi kenaikan suku bunga mereka pasca-pidato ini.

Data GDP Q2 dan PCE Juli, dirilis bersamaan Rabu (26/8) pagi — beberapa jam sebelum earnings Nvidia — mengonfirmasi ekonomi AS masih tumbuh lambat dengan inflasi yang stuck di atas target.

GDP Q2 second estimate dikonfirmasi tumbuh 1,5% annualized, sama dengan advance estimate, didorong kenaikan belanja konsumen, investasi, dan ekspor yang sebagian ditahan oleh penurunan belanja pemerintah.

Untuk PCE, personal income Juli naik solid 0,4% (dipicu kenaikan upah dan government benefit payment), tapi real spending nyaris flat, hanya naik kurang dari 0,1% — jauh melambat dari 0,4% di Juni. Core PCE Juli tercatat 3,3% YoY, stuck di level yang sama dengan bulan sebelumnya, sementara headline PCE naik ke 3,7% YoY.

Data ini memperjelas gap antara tekanan dari pemerintahan Trump/Treasury yang mendorong Fed memangkas suku bunga di September demi menurunkan biaya pinjaman negara, versus posisi Fed yang jelas condong menahan diri karena inflasi belum benar-benar terkendali — gap yang makin terlihat menjelang keputusan FOMC 15-16 September mendatang.

Meta didenda minimal US$525 juta oleh negara bagian New Jersey terkait keamanan remaja di Instagram, diumumkan Kamis (27/8). Ini jadi catalyst regulasi yang menambah tekanan legal-risk ke salah satu Magnificent 7, di tengah momentum rally AI.

Penyelesaian ini mengharuskan Meta merombak cara kerja fitur Instagram untuk pengguna remaja — bagian dari tren pengawasan regulator negara bagian AS yang makin agresif terhadap platform media sosial besar soal perlindungan anak di bawah umur. Dampaknya ke harga saham Meta relatif minor dibanding skala market cap perusahaan, tapi ini menambah daftar panjang regulatory overhang yang membayangi big tech tahun ini. Konteksnya penting: performa saham Meta sempat jadi yang paling underperform di antara Magnificent 7 pada earnings Q2 lalu, karena skeptisisme investor soal ROI capex AI mereka.

Jackson Hole — Warsh Buka Pintu Rate Hike. Ketua Fed Kevin Warsh menyampaikan pidato perdananya di Jackson Hole Symposium pada 28 Agustus dengan nada jauh lebih hawkish dari yang diharapkan pasar. Ia menyatakan inflasi masih terlalu tinggi: “summer readings were better than expected, they do not tell me that underlying trends have meaningfully improved” — kalimat yang langsung memicu beberapa bank besar, termasuk Goldman Sachs dan JPMorgan, untuk memajukan proyeksi timing rate hike mereka.

Warsh juga menolak memberi “forward guidance” eksplisit dan menyerukan Fed yang “lebih diam,” dengan mengatakan investor tidak seharusnya “looking primarily to the Fed for their next trade” — pergeseran filosofis besar dari era Powell yang justru mengakhiri era transparansi verbal Fed. Ini membuat pasar semakin sulit mengantisipasi pergerakan kebijakan moneter ke depan. Mayoritas investor kini memperkirakan rate hike tidak akan datang di September, namun hampir pasti di Oktober atau Desember 2026 berdasarkan futures market pasca pidato ini.

Utang Publik AS Tembus US$40 Triliun. Departemen Keuangan AS mengonfirmasi pada 19 Agustus bahwa outstanding public debt telah menembus US$40 triliun untuk pertama kali dalam sejarah — bersamaan dengan yield obligasi 30 tahun yang menyentuh 5,26%, level tertinggi sejak 2007.

Ray Dalio memperingatkan pada 21 Agustus bahwa langkah Bessent melipatduakan buyback obligasi adalah “tanda krisis utang semakin dekat,” bukan solusi struktural. Ia merekomendasikan alokasi lebih besar ke emas dan bitcoin sebagai hedge terhadap debasement dolar AS yang menurutnya tidak bisa dihindari dalam jangka menengah. Sejalan dengan itu, gold futures menyentuh US$4.569 per ounce pada 21 Agustus — tertinggi tiga bulan — seiring dolar yang melemah akibat ketidakpastian kebijakan moneter dan fiskal yang mencapai puncaknya pekan ini.

Berita Emiten

1. Nvidia ($NVDA)

Nvidia membukukan Q2 FY2027 dengan revenue record US$96,2 miliar, naik lebih dari dua kali lipat YoY dan melampaui konsensus US$92,2 miliar. Data center revenue melonjak 117% ke US$89 miliar, melampaui estimasi US$85 miliar, dengan adjusted EPS US$2,22 versus ekspektasi US$2,10.

Nvidia sekaligus mengumumkan AWS akan membeli 2 juta GPU Nvidia dan menggunakan CPU baru Vera — deal yang membuktikan hyperscaler belum mengurangi belanja AI seperti yang ditakutkan pasar. Guidance Q3 dipatok di US$108 miliar, jauh di atas konsensus US$104,2 miliar. CEO Jensen Huang menyebut “AI has reached its inflection point – compute is revenue, and demand is accelerating,” dan menegaskan bahwa tahun lalu hanya satu lab yang mendorong buildout, sementara kini ada “multiple frontier labs scaling in parallel.”

Namun saham NVDA tetap turun 1,8% di after-hours karena satu kekhawatiran besar: gross margin dipandu akan turun ke 71–72% pada fiscal Q4 dari 75% saat ini, akibat kelangkaan memory yang ironisnya sebagian disebabkan oleh pelanggan Nvidia sendiri yang memborong memori untuk AI. CFO Colette Kress menyebut “memory scarcity today is being driven in large part by the AI buildout itself.”

Nvidia juga mengumumkan investasi baru senilai US$20 miliar dalam kemitraan dengan Taiwan dan India — disebut analis sebagai “surprise terbesar” dari seluruh earnings call, mengingat ini komitmen keuangan terbesar Nvidia di luar Amerika Serikat yang pernah diumumkan secara publik.

Lebih mengejutkan lagi, forward financial commitments Nvidia kini telah melampaui US$279 miliar — lebih dari dua kali lipat angka kuartal sebelumnya. Angka ini mengkonsentrasikan risiko dalam skala yang belum pernah terlihat sebelumnya di industri semikonduktor, dan memunculkan pertanyaan baru: apakah exposure supply chain yang makin besar ini justru jadi potensi kerentanan sistemik bagi perusahaan?

PCE Juli 2026 — Inflasi Stagnan di 3,7%. Data Personal Consumption Expenditures Juli 2026, dirilis Bureau of Economic Analysis pada 26 Agustus, menunjukkan headline PCE tetap stagnan di 3,7% YoY — lebih tinggi dari ekspektasi konsensus FactSet di 3,6%. Core PCE (di luar pangan dan energi) juga bertahan di 3,3% untuk keempat bulan berturut-turut, tanpa perbaikan berarti.

Data ini jadi konfirmasi paling konkret bahwa inflasi AS memasuki fase “plateau” yang berbahaya: lonjakan akibat perang Iran sudah berhenti memburuk, tapi retreat menuju target 2% The Fed juga sepenuhnya terhenti. Consumer spending riil hampir flat, hanya naik kurang dari 0,1%, dan saving rate cuma 3,0% — menandakan konsumen AS makin terjepit antara inflasi yang masih tinggi dan pendapatan yang tak cukup mengimbanginya.

DELL – Dell Technologies dijadwalkan melaporkan Q2 FY2027 pada 1 September, dengan saham sudah di US$472,26 atau naik 261% dari harga setahun lalu. Perusahaan memasuki earnings dengan backlog AI server record US$43 miliar dan guidance full-year AI revenue di US$60 miliar — hampir 100% YoY growth.

Investor akan sangat fokus pada satu pertanyaan kritis: apakah kenaikan harga memory Nvidia sebesar 15% yang baru diumumkan pasca-earnings akan memangkas margin AI server Dell yang sudah tipis? Backlog senilai US$43 miliar itu ditetapkan pada harga sebelum lonjakan memory — menciptakan potensi squeeze margin yang bisa jadi kejutan negatif terbesar dari seluruh earnings AI hardware cycle pekan depan.

Bitcoin — Clarity Act Rally Berlanjut. Bitcoin memperpanjang kenaikan mingguannya di atas 20% dan menyentuh US$79.300 pada 29 Agustus, setelah Presiden Trump secara personal melobi pemimpin Kongres untuk mendorong pengesahan Clarity Act sebelum recess musim gugur. Investor kripto menilai legislasi ini sebagai “institutional green light” paling signifikan dalam sejarah aset digital AS — akan memberikan kepastian hukum penuh bagi exchange, stablecoin, dan DeFi protocols untuk pertama kalinya.

Strategy, perusahaan milik Michael Saylor yang memiliki 700.000 bitcoin di neracanya, naik lebih dari 15% dalam sepekan. Coinbase menguat 12% seiring volume perdagangan melonjak ke level tertinggi sejak Maret 2024.

MRVL – Marvell Technology melaporkan Q2 FY2027 dengan revenue record melampaui konsensus US$2,71 miliar. Data center revenue kembali mencetak rekor baru, dan guidance Q3 serta full-year FY2027 dan FY2028 semuanya dinaikkan.

Meski begitu, saham MRVL anjlok lebih dari 7% di after-hours 27 Agustus — contoh klasik “sell the news” yang dipicu dua faktor. Pertama, saham sudah naik 179% YTD memasuki earnings, sehingga valuasi 58 kali forward P/E tidak memberi ruang untuk apapun selain beat sempurna. Kedua, pasar kecewa dengan timeline revenue dari kemitraan Google yang ternyata lebih lambat dari yang diantisipasi — investor kini perlu menunggu setidaknya dua kuartal lagi sebelum Google custom XPU revenue mulai masuk secara material ke laporan keuangan Marvell.

HPQ – HP Inc turun 4% meski membukukan revenue fiscal Q3 yang melampaui konsensus dan full-year earnings guidance di atas ekspektasi. Analis StreetAccount mencatat “kekhawatiran yang meluas atas peningkatan biaya memory chip, pertanyaan soal demand ketika harga produk naik, dan tekanan margin yang berlanjut” sebagai alasan pasar menghukum saham meski numbers headline terlihat baik.

Ironisnya, penurunan HP ini terjadi di hari yang sama Nvidia mencetak earnings historis — sinyal bahwa pasar sudah paham betul: memory shortage yang menguntungkan Nvidia dan Micron justru jadi kerugian struktural bagi produsen PC dan consumer hardware yang tak punya pricing power untuk meneruskan kenaikan biaya ke konsumen akhir.

DG – Dollar General mencetak kejutan besar pada 27 Agustus dengan EPS Q2 sebesar US$2,48, melampaui ekspektasi US$2,00. Margin 24% — hampir US$0,25 per saham — dikontribusikan oleh tariff refunds, sementara revenue US$11,3 miliar naik 5,2% YoY, dengan same-store sales naik 3,5% dan operating profit melonjak 29,2%. Angka ini memicu kenaikan saham DG lebih dari 13% pada hari pengumuman.

Hasil ini bertolak belakang langsung dengan crash Walmart seminggu sebelumnya — mempertegas tema K-shaped consumer spending, di mana retailer segmen bawah justru diuntungkan ketika konsumen kelas menengah mulai turun kelas akibat tekanan inflasi dan biaya bahan bakar yang masih tinggi.

DLTR – Dollar Tree sebaliknya mengecewakan investor pada 27 Agustus dengan guidance jauh di bawah ekspektasi — kontras tajam dengan Dollar General yang melompat di hari yang sama. Analis menilai perbedaan ini mencerminkan eksekusi manajemen dan positioning produk yang sangat berbeda antara dua discount retailer besar ini. Dollar Tree, yang sedang dalam proses transformasi strategi pasca-spin-off Family Dollar, menghadapi tantangan tambahan dari tariff refund yang lebih kecil dan basis pelanggan yang berbeda dari Dollar General.

NOW / WDAY – Saham ServiceNow melonjak 10% dan Workday naik 1,5% pada 27 Agustus, sebagai efek simpati langsung dari hasil luar biasa Salesforce. Ini mencerminkan rotasi besar investor kembali ke enterprise software, setelah sebelumnya melarikan diri akibat kekhawatiran AI disruption pasca-downgrade Goldman pada Intuit di bulan Juni.

Analis menyebut momen ini sebagai “bottom confirmation” untuk seluruh sektor SaaS. Salesforce membuktikan bahwa AI bukan hanya tidak mengancam software enterprise, tapi justru mendorong upgrade cycle baru lewat Agentforce dan kini Claudeforce — memaksa pasar merevaluasi thesis bearish yang sudah menekan valuasi software selama hampir dua bulan.

INTU — Semiconductor Tariff Risk. Kekhawatiran baru muncul pada 25 Agustus, setelah laporan bahwa administrasi Trump sedang mempertimbangkan putaran baru tarif semikonduktor yang lebih luas. Cakupannya berpotensi meluas dari chip itu sendiri ke produk-produk yang mengandung chip, seperti laptop, konsol gaming, dan server data center.

Jika terkonfirmasi, eskalasi ini akan menambah lapisan biaya baru di atas krisis memory yang sudah berlangsung, dan berpotensi memukul margin Dell, HP, dan Super Micro secara bersamaan menjelang earnings cycle Q3. Berita ini langsung menekan SOXX ETF turun 3% dalam satu sesi pada 24 Agustus, di tengah rotasi positioning menjelang Nvidia earnings.

Investasi Saham AS di Ajaib

Investasi saham AS jadi lebih mudah di Ajaib. Pantau Nvidia, Tesla, hingga berbagai saham perusahaan global dan mulai trading saham AS dalam satu aplikasi.

Google Play StoreApple App Store

Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.

Profil Penulis

Miftahul Khaer
Miftahul Khaer

Financial Expert Ajaib

Miftahul Khaer merupakan Financial Expert di Ajaib yang memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam mengikuti perkembangan pasar saham Amerika Serikat. Ia menyajikan analisis dan edukasi mengenai saham AS, kondisi ekonomi global, serta strategi investasi yang membantu investor memahami peluang di pasar internasional.

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!