Yearly Recap: S&P 500 Naik 16% Pada Tahun 2025
Sarifa•January 5, 2026

Pasar saham AS bergerak melemah pada perdagangan 1 minggu terakhir (29/12-02/01), dimana indeks AS ditutup melemah. Pasar global menutup 2025 dengan kinerja yang sangat kuat, ditandai oleh reli di pasar saham yang mendorong indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor baru. Penguatan ini terutama ditopang oleh lonjakan saham teknologi dan AI, didukung ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter serta kondisi ekonomi yang relatif resilient meskipun pasar tenaga kerja mulai melunak. Aliran dana investor tetap deras ke aset berisiko sepanjang tahun, mencerminkan kepercayaan terhadap prospek pertumbuhan laba dan stabilitas makro. Memasuki awal 2026, fokus pasar bergeser ke isu valuasi dan keberlanjutan momentum, dengan potensi volatilitas seiring penyesuaian ekspektasi suku bunga dan rilis data ekonomi berikutnya.
Performa Indeks Bursa AS 1W
| S&P 500 | Dow Jones Industrial Average | NASDAQ Composite |
| -1.12% | -0.68% | -1.74% |
Top Gainer 1W
| MOH | +9.38% |
| ASML | +9.15% |
| INTC | +8.87% |
| MU | +8.45% |
| OXY | +6.30% |
Berita Ekonomi & Industri
AS melancarkan serangan militer ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026 meningkatkan risiko geopolitik di pasar energi, namun dampaknya ke harga minyak relatif terbatas dan bergejolak. Produksi minyak Venezuela yang sudah melemah berada di bawah ~1 juta barrel per hari, kurang dari 1% suplai global, sehingga pasar masih menilai perubahan pasokan tidak langsung mengubah keseimbangan supply/demand secara signifikan. Brent crude sempat berfluktuasi di sekitar level US$60–61 per barel setelah aksi tersebut, mencerminkan ketidakpastian tetapi tidak memicu lonjakan tajam karena pasar minyak global masih cukup longgar dan dibantu oleh disiplin output OPEC+.
Harga emas naik lebih dari 1% mendekati level US$4,400 per ounce, melanjutkan penguatan sebelumnya seiring meningkatnya permintaan aset safe haven akibat eskalasi geopolitik setelah AS menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Ketidakpastian arah pemerintahan Venezuela, menyusul pernyataan Presiden Trump bahwa AS akan sementara “mengelola” negara tersebut, mendorong investor mengurangi eksposur risiko dan beralih ke emas. Di sisi makro, pasar juga bersikap hati-hati menjelang rilis sejumlah data penting AS pekan ini seperti ISM Manufacturing, ADP employment, dan tingkat pengangguran, serta komentar pejabat The Fed yang akan mempengaruhi ekspektasi arah suku bunga. Secara struktural, momentum emas tetap kuat setelah menutup tahun sebelumnya dengan kenaikan tahunan terbesar sejak 1979, ditopang oleh pelonggaran moneter AS, pembelian agresif bank sentral, dan arus masuk yang berkelanjutan ke ETF emas.
OPEC dan sekutunya memilih untuk mempertahankan produksi minyak pada level saat ini meskipun terjadi ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan di beberapa negara anggota, menandakan fokus mereka pada stabilitas pasar daripada reaksi emosional terhadap headline risiko, sementara produksi kolektif tetap di kisaran yang telah disepakati dalam kuota kelompok. Keputusan ini datang di tengah volatilitas harga energi akibat eskalasi situasi di Venezuela; namun, karena output Venezuela yang hanya sekitar <1 juta barrel per hari masih kecil dibanding suplai global, kebijakan OPEC+ cenderung menahan fluktuasi harga yang tajam. Implikasi bagi pasar adalah bahwa supply global akan tetap terjaga pada level yang relatif steady dalam jangka pendek, sehingga harga minyak seperti Brent dan WTI diperkirakan bergerak dalam rentang yang moderat kecuali ada pergeseran signifikan dalam permintaan atau gangguan besar lainnya.
Pasar saham Jepang naik pada pembukaan tahun, Nikkei 225 diapresiasi 2.5% ke sekitar 51,600 atau level tertinggi dalam dua bulan, sementara Topix menembus rekor baru di atas 3,460, mencerminkan sentimen bullish yang kembali menguat. Reli dipimpin saham teknologi, di mana Kioxia melonjak lebih dari 8% disusul SoftBank +3.6%, Advantest +5.2%, dan Tokyo Electron +5.6%, seiring ekspektasi bahwa ekosistem teknologi Jepang akan menjadi beneficiary dari ekspansi global AI dan semiconductor cycle. Penguatan juga meluas ke sektor finansial dan industrial dengan Mitsubishi UFJ naik 2%, Sumitomo Mitsui +2.3%, dan Mitsubishi Heavy Industries melonjak 7.1%, menunjukkan breadth pasar yang solid. Dari sisi kebijakan, pasar turut merespons positif sinyal dukungan fiskal dari Perdana Menteri Sanae Takaichi yang mendorong belanja pemerintah, sementara risiko geopolitik global termasuk perkembangan terbaru di Venezuela sejauh ini belum mengganggu risk appetite investor terhadap ekuitas Jepang.
Berita Emiten
BRK.B – Warren Buffett secara terbuka menyampaikan dukungan penuh kepada Greg Abel sebagai CEO Berkshire Hathaway, sebuah pernyataan yang membantu meredakan kekhawatiran pasar terkait kesinambungan kepemimpinan pasca era Buffett. Ia menegaskan bahwa Abel telah lama terlibat dalam pengambilan keputusan utama dan menjalankan bisnis dengan filosofi yang selaras dengan pendekatan disiplin dan jangka panjang Berkshire. Bagi investor, endorsement ini penting karena mengurangi risiko transisi manajemen dan memperjelas arah strategi, khususnya terkait alokasi modal dan pengelolaan portofolio bisnis yang sangat terdiversifikasi. Secara keseluruhan, komentar Buffett memperkuat keyakinan bahwa stabilitas operasional dan budaya investasi Berkshire akan tetap terjaga di bawah kepemimpinan Abel.
MU – Micron sekarang berada di titik inflection yang bisa disebut “moment Nvidia” karena permintaan High Bandwidth Memory (HBM) yang eksplosif untuk AI mempercepat margin dan ekspansi earnings jauh di atas ekspektasi pasar, mencerminkan peran strategisnya dalam rantai nilai AI infrastructure. Dalam Q1 FY 2026, Micron mencatat revenue sekitar US$13.64 billion, tumbuh sekitar 57% YoY dan 21% QoQ, dengan gross margin lebih dari 56% dan EPS non-GAAP sekitar US$4.78 yang mengungguli konsensus, menandakan pricing power dan mix yang sangat kuat dari penjualan HBM dan memory kelas atas. Semua kapasitas HBM untuk 2025–2026 sudah terjual habis di bawah kontrak tetap, memberi visibilitas pendapatan yang kuat, sementara forward P/E di kisaran rendah relatif terhadap pertumbuhan membuat saham ini masih dipandang undervalued dibanding peer seperti Nvidia.
PFE – Kinerja Pfizer terlihat relatif stabil jika dilihat dari adjusted EPS, namun angka tersebut berpotensi menutupi tekanan fundamental yang lebih besar menuju 2026. Penurunan tajam kontribusi vaksin Covid, risiko patent cliff pada beberapa produk utama, serta meningkatnya persaingan membuat pertumbuhan pendapatan inti cenderung terbatas, sementara belanja R&D dan biaya restrukturisasi menekan margin. Jika disesuaikan ke basis GAAP, arah laba tampak lebih lemah dibanding headline earnings, sehingga membuka risiko revisi estimasi ke bawah. Bagi investor, kondisi ini menandakan bahwa valuasi PFE saat ini masih dibayangi tantangan struktural, dan pemulihan earnings akan sangat bergantung pada keberhasilan pipeline serta disiplin biaya dalam beberapa tahun ke depan.
Artikel ini dianalisis dan ditulis oleh Financial Expert Ajaib, Alvin T. Murthi
Baca juga: Cara Memulai Investasi US Stock di Ajaib Alpha
Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!