Ajaib
Menu

Saham AS

Menjelang Akhir Tahun, Pasar Saham AS Window Dressing?

SarifaDecember 22, 2025

IPO CDIA: Siap Jadi “The Next CUAN” atau “Next BREN”

Pasar saham AS bergerak melemah pada perdagangan 1 minggu terakhir (15/12-19/12), dimana indeks AS ditutup menurun. Pasar saham AS ditutup menguat tipis pada akhir perdagangan, dengan indeks S&P 500 naik sekitar 0.9% ke kisaran 6,834 poin dan Nasdaq Composite menguat lebih kuat sekitar 1.3%, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah sekitar 0.4% ke level sekitar 48,135 poin, didorong oleh reli saham teknologi khususnya emiten terkait kecerdasan buatan. Penguatan pasar terutama ditopang oleh kenaikan signifikan pada saham berkapitalisasi besar seperti Nvidia dan Oracle, seiring berlanjutnya optimisme terhadap belanja AI korporasi dan prospek pendapatan sektor teknologi. Meski demikian, kenaikan ini tetap terbatas karena investor masih bersikap selektif di tengah ketidakpastian arah suku bunga dan kondisi makro, sehingga pergerakan indeks mencerminkan fase konsolidasi setelah volatilitas tinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Performa Indeks Bursa AS 1W

S&P 500Dow Jones Industrial AverageNASDAQ Composite
-0.37%-0.95%-0.10%

Top Gainer 1W

MRNA+14.73%
CCL+10.91%
TSLA+7.39%
IT+7.31%
ALB+7.19%

Berita Ekonomi & Industri

Laporan tenaga kerja AS November 2025 menunjukkan pasar tenaga kerja terus melambat, dengan penambahan sekitar 64,000 pekerjaan yang memang lebih baik dari ekspektasi, namun masih jauh lebih rendah dibanding tren historis dan terjadi setelah kontraksi besar pada bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran naik ke 4.6%, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, menandakan keseimbangan pasar kerja mulai bergeser ke arah yang lebih longgar. Pertumbuhan upah juga melambat ke kisaran 3.5% YoY, mengindikasikan tekanan inflasi dari sisi tenaga kerja semakin mereda. Dari perspektif equity research, kombinasi perlambatan hiring, naiknya unemployment rate, dan moderasi upah memperkuat narasi cooling labor market yang cenderung mendukung kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Bagi pasar saham, data ini positif untuk ekspektasi suku bunga, namun sekaligus menjadi pengingat bahwa risiko perlambatan konsumsi rumah tangga mulai meningkat ke depan.

2025 merupakan tahun tarif untuk Amerika Serikat yang mencakup lebih dari 70 negara dengan skema reciprocal tariffs, di mana tarif dasar ditetapkan sekitar 10% dan dinaikkan bagi negara dengan defisit perdagangan besar terhadap AS hingga kisaran 15% sampai 50%. Beberapa tarif tertinggi dikenakan pada Brasil sebesar 50%, Kanada sekitar 35% untuk produk di luar USMCA, China sekitar 30%, India 25%, Indonesia 19%, Vietnam 20%, serta Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan masing masing sekitar 15%. Kebijakan ini mencerminkan pergeseran proteksionisme AS yang signifikan dan berpotensi meningkatkan biaya impor, menekan margin perusahaan multinasional, serta mengganggu rantai pasok global, terutama di sektor manufaktur, otomotif, elektronik, dan consumer goods. Dampaknya, perusahaan dengan eksposur impor besar ke AS menghadapi risiko kenaikan harga dan tekanan permintaan, sementara negara eksportir dipaksa mempercepat diversifikasi pasar dan relokasi produksi.

Harga tembaga (Copper) berpotensi tembus level tertinggi di US$ 5.8/pound,  didorong oleh ketatnya pasokan global dan lonjakan permintaan dari transisi energi serta pembangunan pusat data AI yang sangat intensif tembaga. Kenaikan ini juga diperkuat oleh arus besar logam yang mengalir ke Amerika Serikat karena para trader berlomba memasukkan tembaga sebelum potensi penerapan tarif impor, yang membuat stok di luar AS semakin menipis sementara inventaris di gudang AS melonjak tajam. Kondisi tersebut menciptakan distorsi pasar dan tekanan harga yang lebih tinggi di pasar global. Ke depan, analis memperkirakan harga tembaga tetap berada di level tinggi hingga 2026 dengan rata rata tahunan di kisaran US$ 10.000 sampai US$ 11.000 per ton seiring defisit pasokan yang berlanjut dan permintaan struktural yang tetap kuat.

Aksi jual di saham AI infrastructure berlanjut, dengan Broadcom ($AVGO) turun sekitar 10% pasca earnings, Oracle ($ORCL) terkoreksi lebih dari 7%, dan CoreWeave ($CRWV) melemah sekitar 8% karena investor melakukan reset ekspektasi terhadap belanja AI setelah reli kuat sepanjang tahun. Tekanan utama datang dari kekhawatiran bahwa pertumbuhan capex AI akan lebih moderat pada 2026, tercermin dari kenaikan lease commitments Oracle hampir 150% YoY menjadi sekitar US$8.3 miliar yang dipersepsikan pasar berisiko menekan margin jangka pendek. Meski permintaan AI masih solid secara struktural, valuasi saham-saham AI infrastructure telah mendiskon pertumbuhan agresif, sehingga setiap sinyal perlambatan langsung memicu profit taking. Dari perspektif equity research, koreksi ini lebih mencerminkan penyesuaian multiple dibanding pelemahan fundamental, namun volatilitas berpotensi berlanjut sampai pasar mendapat visibilitas lebih jelas terkait trajectory belanja AI dan monetisasi kapasitas data center ke depan.

Persaingan chip AI di China semakin intens dengan munculnya pemain lokal seperti MetaX dan Moore Threads yang diposisikan sebagai alternatif domestik bagi Nvidia di tengah pembatasan ekspor teknologi. MetaX mencatat lonjakan harga saham lebih dari 700% saat debut IPO di Shanghai, sementara Moore Threads sebelumnya juga melonjak ratusan persen, mencerminkan antusiasme investor terhadap tema kemandirian semikonduktor. Meski begitu, secara teknologi dan ekosistem software, pemain lokal masih tertinggal dibanding Nvidia. Valuasi saham chip AI China saat ini lebih mencerminkan ekspektasi jangka panjang dan dukungan kebijakan ketimbang fundamental laba. Bagi Nvidia, perkembangan ini berpotensi membatasi peluang di pasar China, namun posisi dominan secara global tetap relatif aman.

Berita Emiten

SBUX – Starbucks ($SBUX) mengumumkan penunjukan Anand Varadarajan sebagai Chief Technology Officer yang akan mulai menjabat pada 19 Januari 2026, sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi teknologi di seluruh jaringan globalnya di bawah kepemimpinan CEO Brian Niccol. Varadarajan membawa pengalaman hampir 19 tahun di Amazon, termasuk peran terakhirnya dalam memimpin teknologi dan operasi rantai pasok untuk bisnis grocery global seperti Amazon Fresh dan Whole Foods, yang dinilai relevan untuk meningkatkan efisiensi operasional toko, keandalan sistem digital, serta pengalaman pelanggan Starbucks. Langkah ini dilakukan di tengah strategi turnaround perusahaan setelah mencatat pemulihan penjualan sebanding untuk pertama kalinya dalam sekitar 18 bulan, dengan manajemen menargetkan perbaikan alur kerja karyawan, peningkatan produktivitas toko, dan penguatan platform teknologi sebagai pendorong pertumbuhan pendapatan dan margin operasional ke depan.

FFord ($F) melakukan penyesuaian signifikan pada strategi EV seiring melemahnya permintaan, tercermin dari penurunan penjualan EV utama seperti Mustang Mach-E dan F-150 Lightning yang anjlok sekitar 61% YoY menjadi hanya 4,247 unit pada November, sementara total penjualan AS Ford turun sekitar 1% menjadi 164,925 unit. Perusahaan juga membukukan write down besar sekitar US$19.5 miliar yang terkait pembatalan beberapa proyek EV dan restrukturisasi bisnis baterai, menegaskan bahwa ekspektasi pertumbuhan EV sebelumnya terlalu agresif dibanding realisasi pasar. Dalam konteks ini, manajemen mulai mengalihkan fokus ke hybrid dan kendaraan ICE yang lebih profitable dan memiliki permintaan lebih stabil. Bagi saham Ford, kombinasi penurunan volume EV dan biaya penyesuaian strategi menjadi tekanan jangka pendek terhadap sentimen, meski langkah ini dipandang lebih realistis untuk menjaga profitabilitas dan arus kas menuju 2026.

GOOGL – Waymo, unit kendaraan otonom milik Alphabet ($GOOGL), dikabarkan sedang menjajaki pendanaan baru hingga sekitar US$15 miliar untuk memperkuat neraca dan mempercepat ekspansi bisnis robotaxi. Dana ini diproyeksikan akan digunakan untuk menambah armada, memperluas cakupan layanan di kota-kota besar, serta meningkatkan kapabilitas teknologi AI dan sistem self-driving yang menjadi inti model bisnis Waymo. Minat dari investor institusional besar mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap potensi kendaraan otonom, meski monetisasi masih berada di fase awal dan membutuhkan belanja modal yang signifikan. Langkah ini memberi Waymo runway pendanaan yang lebih panjang, namun bagi Alphabet, bisnis ini tetap bersifat capital-intensive dan berisiko tinggi dalam jangka pendek, dengan nilai strategis yang lebih condong ke opsi pertumbuhan jangka panjang ketimbang kontributor laba saat ini.

ORCLOracle ($ORCL) membukukan pendapatan kuartal sekitar US$ 13.3 miliar naik 7% secara tahunan dengan pertumbuhan yang ditopang lonjakan permintaan layanan cloud sementara backlog infrastruktur AI melonjak menjadi lebih dari US$ 80 miliar dan pesanan cloud tumbuh di atas 20% seiring kapasitas data center yang kini melampaui 200 lokasi global dan mayoritas sudah terisi sehingga menegaskan permintaan AI jauh melampaui suplai dan berpotensi mempercepat pertumbuhan pada paruh kedua tahun fiskal. Backlog AI yang sangat besar meningkatkan visibilitas pendapatan jangka menengah dan membuka peluang akselerasi pertumbuhan dua digit jika ekspansi data center terealisasi lebih cepat. Pertumbuhan pesanan cloud yang solid juga memperkuat momentum kompetitif Oracle di pasar infrastruktur AI dan dapat memperluas margin seiring skala penggunaan meningkat. 

TSLASaham Tesla melonjak ke rekor tertinggi baru di kisaran US$ 488 per saham sehingga mendorong kapitalisasi pasar mendekati US$ 1.6 triliun, meskipun penjualan kendaraan listrik di AS justru turun ke level terendah hampir empat tahun pada November. Reli saham ini dipicu optimisme investor terhadap potensi bisnis robotaxi setelah Elon Musk mengkonfirmasi uji coba layanan robotaxi tanpa safety monitor di Austin, Texas, yang menggeser fokus pasar dari pelemahan penjualan EV ke visi jangka panjang otonomi dan AI. Narasi robotaxi dinilai membuka peluang sumber pendapatan baru bernilai besar melalui layanan ride hailing otonom dengan margin tinggi, sehingga pasar saat ini lebih menghargai opsionalitas pertumbuhan jangka panjang dibanding kinerja penjualan kendaraan jangka pendek. Dampaknya, valuasi Tesla semakin didorong oleh ekspektasi eksekusi teknologi autonomous driving, yang sekaligus meningkatkan volatilitas jika realisasi komersial robotaxi tidak berjalan sesuai harapan.

NVDAAlphabet ($GOOGL) dan Nvidia ($NVDA) melalui VC arm masing masing berinvestasi dalam pendanaan Series B Lovable senilai US$330 juta pada valuasi US$6.6 miliar, hampir tiga kali lipat dari valuasi putaran sebelumnya pada Juli 2025, mencerminkan antusiasme investor yang sangat kuat terhadap tren AI driven software development. Putaran ini dipimpin oleh CapitalG dan Menlo Ventures, dengan partisipasi Accel, Khosla Ventures, NVentures, serta sejumlah corporate VC global, sementara total pendanaan Lovable sepanjang 2025 telah melampaui US$500 juta. Dari sisi fundamental, Lovable mencatat annual recurring revenue sekitar US$200 juta per November, melonjak tajam dari US$1 juta kurang dari satu tahun sebelumnya, menandakan product market fit yang kuat baik di segmen enterprise maupun startup. 

NKE – Nike ($NKE) membukukan kinerja 2Q26 dengan revenue sekitar US$12.4 miliar, naik tipis sekitar 1% YoY dan sedikit di atas ekspektasi, namun EPS turun tajam menjadi sekitar US$0.53 atau melemah lebih dari 30% YoY akibat tekanan margin. Penjualan wholesale masih menjadi penopang utama dengan pertumbuhan sekitar 8% YoY, sementara Nike Direct turun sekitar 8% dan digital sales melemah dua digit, mencerminkan proses penyeimbangan ulang channel yang masih berlangsung. Gross margin tertekan sekitar 300 basis points menjadi kisaran 40.6% karena dampak tarif impor, promosi yang lebih agresif, serta biaya logistik yang masih tinggi. Secara regional, pertumbuhan solid di Amerika Utara dan EMEA membantu mengimbangi penurunan signifikan di Greater China yang turun belasan persen YoY. Bagi saham, hasil ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap visibilitas margin dan kecepatan turnaround Nike, sehingga sentimen jangka pendek cenderung negatif meski topline relatif stabil.

Artikel ini dianalisis dan ditulis oleh Financial Expert Ajaib, Alvin T. Murthi

Baca juga: Cara Memulai Investasi US Stock di Ajaib Alpha

Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi  untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi.  Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.

Google Play StoreApple App Store

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!

Menjelang Akhir Tahun, Pasar Saham AS Window Dressing? - Ajaib