Pasar AS Kembali Terkoreksi! Apakah Waktunya Beli?
Sarifa•August 3, 2026

Pasar saham AS bergerak melemah pada perdagangan 1 minggu terakhir (23/03-27/03), dimana indeks AS kompak ditutup melemah. Pasar saham AS kembali terkoreksi signifikan pada perdagangan tekan lalu akibat tensi geopolitik yang terus meningkat. Kabar baik bahwa Trump akan segera negosiasi dengan Iran pun ditepis oleh pihak Tehran yang menyebabkan kebingungan di pasar. Harga minyak mentah global yang sebelumnya sudah turun ke level US$ 87/brl saat ini sudah bergerak naik menembus level US$ 101/brl. Intensitas serangan kedua pihak juga meningkat, yang mendorong harapan gencatan senjata jangka pendek semakin menurun. Investor cenderung akan risk-off dan menjual aset seperti saham, cryptocurrencies, dan obligasi jangka panjang.
Performa Indeks Bursa AS 1W
| S&P 500 | Dow Jones Industrial Average | NASDAQ Composite |
| -3.13% | -1.39% | -4.76% |
Top Gainer 1W
| APA | +15.78% |
| SLB | +11.44% |
| ALB | +9.76% |
| OXY | +9.45% |
| CF | +8.68% |
Berita Ekonomi & Industri
Akhir Pekan Lalu Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan serangan militer terhadap Iran secara signifikan dalam 2–3 minggu ke depan, meskipun negosiasi masih berlangsung, dengan tujuan utama mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Dalam pernyataannya, Trump bahkan mengancam akan menyerang infrastruktur vital seperti pembangkit listrik Iran jika tidak tercapai kesepakatan, serta mengklaim bahwa sebagian besar target militer AS hampir tercapai. Pernyataan ini menandai potensi eskalasi jangka pendek sebelum kemungkinan de-eskalasi, sekaligus meningkatkan ketidakpastian geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah yang sudah mengalami gangguan serius terhadap jalur energi seperti Strait of Hormuz. Bagi pasar keuangan, perkembangan ini menjadi sinyal campuran: di satu sisi membuka peluang berakhirnya konflik, namun di sisi lain meningkatkan risiko volatilitas jangka pendek akibat potensi eskalasi militer yang lebih agresif sebelum tercapainya resolusi.
Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, dilaporkan telah secara confidential mengajukan IPO ke U.S. Securities and Exchange Commission, menandai langkah awal menuju salah satu penawaran saham terbesar dalam sejarah. Berdasarkan laporan Reuters, SpaceX menargetkan valuasi lebih dari $1.75 triliun dengan potensi penggalangan dana hingga $50–75 miliar, yang berpotensi melampaui rekor IPO global sebelumnya. Langkah ini didorong oleh kekuatan bisnis utama seperti layanan internet satelit Starlink, kontrak pemerintah (NASA dan pertahanan), serta ekspansi ke infrastruktur AI dan data berbasis satelit, menjadikan SpaceX sebagai pemain kunci dalam emerging theme space economy + AI infrastructure. Jika terealisasi, IPO ini tidak hanya akan langsung menempatkan SpaceX di jajaran perusahaan terbesar dunia, tetapi juga berpotensi menjadi katalis kebangkitan pasar IPO global di tengah meningkatnya minat terhadap teknologi frontier.
Akhir pekan kemarin harga minyak global melonjak tajam akibat eskalasi tensi geopolitik AS–Iran setelah Presiden AS mengisyaratkan potensi serangan dalam beberapa minggu ke depan, memicu kekhawatiran gangguan suplai terutama di jalur strategis Strait of Hormuz yang mengalirkan sekitar 20% pasokan energi dunia. Minyak WTI naik sekitar +11% ke $111.54 per barel dan Brent menguat hampir +8% ke sekitar $109, menjadi salah satu lonjakan harian terbesar sejak 2020. Perubahan sentimen dari harapan de-eskalasi menjadi kembali risk-off turut mendorong kenaikan harga 5–11% dalam sehari serta meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Bahkan, WTI sempat diperdagangkan di atas Brent—fenomena langka yang mencerminkan kondisi supply yang sangat ketat di pasar energi global.
Berita Emiten
(UL – MKC) – Mega deal di sektor consumer goods di mana Unilever (UL) mengumumkan penggabungan bisnis makanan (food division)-nya dengan McCormick (MKC) dalam transaksi bernilai sekitar $60 miliar, menciptakan entitas baru yang berpotensi menjadi salah satu pemain terbesar di industri makanan global dengan portofolio brand kuat seperti Knorr, Hellmann’s, dan Old Bay. Namun berbeda dari ekspektasi umum bahwa akuisisi besar akan disambut positif, reaksi pasar justru negatif dengan saham MKC turun sekitar (±) -6,11% dan UL ikut melemah, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kompleksitas struktur deal, risiko integrasi, serta potensi hilangnya kontrol Unilever atas bisnis yang selama ini stabil dan profitable. Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa di Wall Street, ukuran transaksi bukanlah faktor utama—melainkan bagaimana kualitas eksekusi, valuasi, dan dampak jangka panjang terhadap profitabilitas perusahaan, yang pada akhirnya menentukan apakah sebuah deal benar-benar menciptakan value atau justru sebaliknya.
INTC – Saham Intel ($INTC) melonjak hampir 9% setelah perusahaan mengumumkan aksi korporasi strategis berupa pembelian kembali 49% saham pabrik chip Fab 34 di Irlandia senilai sekitar $14.2 miliar dari Apollo Global Management, menandai langkah untuk mengembalikan kontrol penuh atas aset manufaktur kunci. Manajemen menyebut keputusan ini didukung oleh kondisi neraca yang semakin kuat serta menjadi bagian dari strategi turnaround jangka panjang, dengan pendanaan berasal dari kas internal dan tambahan utang sekitar $6.5 miliar. Intel memperkirakan transaksi ini mulai memberikan dampak positif terhadap laba pada 2027, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap roadmap ekspansi foundry dan positioning di tengah siklus AI semiconductor yang semakin kompetitif. 
TJX – Saham TJX Companies ($TJX) menguat setelah perusahaan melaporkan kinerja solid dengan pertumbuhan comparable sales sekitar 5% serta mengumumkan kenaikan dividen sebesar 13% dan program buyback senilai $2.5–$2.75 miliar, mencerminkan arus kas yang kuat di tengah ketidakpastian makro. Model bisnis off-price dinilai diuntungkan dari tekanan pada retailer konvensional, terutama saat biaya logistik dan inventory meningkat akibat tensi geopolitik, sehingga TJX berpotensi mendapatkan lebih banyak pasokan barang diskon. Dengan fundamental yang tetap kuat dan momentum teknikal positif, saham ini dipandang sebagai defensive play yang menarik di tengah volatilitas pasar global. 
NKE – Saham Nike ($NKE) anjlok lebih dari 9–11% setelah perusahaan memberikan guidance penjualan yang lemah, terutama akibat perlambatan signifikan di pasar China serta tantangan dalam proses normalisasi inventory global. Tekanan ini mencerminkan masih beratnya fase turnaround bisnis Nike, di tengah melemahnya permintaan konsumen dan meningkatnya kompetisi di segmen apparel. Outlook yang lebih konservatif ini memicu kekhawatiran investor terhadap recovery jangka pendek, sekaligus menjadi indikator awal pelemahan sektor discretionary secara lebih luas. 
CVS – CVS Health ($CVS) mengumumkan rencana ekspansi dengan membuka sekitar 60 gerai baru pada 2026, menandai perubahan strategi dari sebelumnya agresif melakukan penutupan toko menjadi fase pertumbuhan selektif. Ekspansi ini akan difokuskan pada format yang lebih kecil dan efisien, termasuk pharmacy-only stores dan lokasi dalam jaringan retail seperti Target, sebagai upaya memperkuat positioning di layanan kesehatan ketimbang retail tradisional. Langkah ini mencerminkan bahwa restrukturisasi multi-tahun CVS mulai menunjukkan hasil, dengan model bisnis yang lebih lean dan berorientasi pada layanan kesehatan jangka panjang.
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!