Yield Treasury Melonjak, Rally Wall Street Tertahan, Nvidia dan Fed Jadi Ujian Berikutnya
Miftahul Khaer•August 24, 2026

Wall Street akhirnya mengakhiri rangkaian penguatan beberapa pekan terakhir setelah kenaikan yield Treasury jangka panjang kembali menjadi tekanan utama bagi pasar saham. S&P 500 turun 1,44% secara mingguan, Nasdaq Composite melemah 2,21%, sementara Dow Jones turun 1,32%, dengan yield Treasury 30 tahun sempat menembus 5,3%, level tertinggi sejak 2007. Lonjakan yield dipicu kombinasi kekhawatiran defisit fiskal AS, penerbitan utang pemerintah yang besar, serta inflasi yang masih berada di atas target The Fed. Upaya Treasury memperbesar program buyback obligasi jangka panjang memang sempat menekan yield, tetapi efeknya hanya sementara, menunjukkan bahwa tekanan struktural dari utang pemerintah AS yang telah menembus US$40 triliun masih menjadi persoalan besar bagi pasar. Di saat yang sama, ketidakpastian geopolitik kembali meningkat setelah negosiasi AS-Iran menghadapi hambatan baru, menambah tekanan terhadap aset berisiko.
Di sisi moneter, FOMC Minutes mengonfirmasi bahwa perpecahan di internal The Fed jauh lebih dalam daripada yang terlihat dari voting 9-3 pada pertemuan Juli. Sejumlah pejabat bahkan mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin diperlukan jika inflasi tidak kembali turun. Namun, karena minutes tersebut merefleksikan kondisi sebelum data ekonomi terbaru, investor kini lebih menantikan pidato Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole daripada membaca ulang keputusan Juli. Di pasar saham, laporan keuangan perusahaan ritel juga mulai memberikan sinyal bahwa konsumen AS semakin sensitif terhadap harga, terutama setelah Walmart mengalami penurunan saham hampir 10% meski revenue dan EPS mengalahkan ekspektasi. Sebaliknya, sektor healthcare mendapat katalis positif dari keberhasilan uji klinis Moderna-Merck, sementara Bitcoin melonjak sekitar 20% setelah meningkatnya ekspektasi terhadap regulasi kripto yang lebih ramah di AS.
Namun, ujian terbesar bagi pasar akan datang pekan depan. Investor akan menghadapi tiga catalyst sekaligus: data PCE Juli, earnings Nvidia, dan pidato Warsh di Jackson Hole. Nvidia akan menjadi ujian utama bagi keberlanjutan AI rally setelah investor mulai semakin sensitif terhadap valuasi dan return on investment dari belanja AI yang masif. Jika Nvidia kembali memberikan pertumbuhan yang kuat sekaligus outlook yang meyakinkan, rally teknologi berpotensi mendapatkan bahan bakar baru. Sebaliknya, apabila earnings tidak mampu memenuhi ekspektasi yang sudah sangat tinggi, kombinasi valuasi mahal + yield tinggi + ketidakpastian Fed dapat memperbesar koreksi di sektor teknologi. Dengan demikian, pasar kini memasuki fase di mana pertumbuhan earnings saja tidak lagi cukup, investor juga membutuhkan bukti bahwa pertumbuhan tersebut mampu mengalahkan biaya modal yang semakin tinggi.
Performa Indeks Bursa AS Weekly
| S&P 500 | Dow Jones Industrial Average | NASDAQ Composite |
|---|---|---|
| -1.69% | -2.85% | -1.05% |
Top Gainer 1W
Berita Ekonomi & Industri
Pasar – Indeks Melemah Sepekan, S&P 500 Catat Weekly Loss Pertama Sejak Juli – Indeks saham AS mencatat weekly decline pertama sejak akhir Juli pada pekan ini, dengan Dow Jones kehilangan 703 poin atau 1,32 persen ke 52.759 pada Kamis 20 Agustus, S&P 500 turun 1,44 persen, dan Nasdaq Composite melemah 2,21 persen, didorong oleh kombinasi yield obligasi 30 tahun yang menyentuh tertinggi 19 tahun, ketidakpastian baru soal Iran setelah Trump menyatakan tidak akan memperbarui gencatan senjata yang sudah hampir habis masa berlakunya, serta kekhawatiran consumer spending yang menguat pasca crash Walmart. Pasar kini menantikan tiga event penentu pekan depan yang berpotensi menjadi paling penting di sepanjang sisa 2026: PCE Juli pada 27 Agustus, earnings Nvidia pada 27 Agustus, dan pidato Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole Symposium pada 29 Agustus.
Lonjakan yield Treasury 30-tahun ke level tertinggi sejak 2007 jadi catalyst paling dominan minggu ini dan langsung menekan sentimen risk-on di pasar saham. Senin (17/8), yield 30-tahun menembus 5.29-5.31%, level tertinggi hampir dua dekade, dipicu kombinasi kekhawatiran defisit fiskal AS yang membengkak, gelombang penerbitan utang jangka panjang, dan inflasi yang masih stuck di atas target Fed selama lima tahun terakhir. Selasa (18/8), tekanan makin parah setelah negosiasi damai AS-Iran mandek lagi, yield 10-tahun ikut naik ke 4.7478% (tertinggi sejak Januari 2025), yang bikin Nasdaq anjlok 1.05% dengan saham chip jadi korban terbesar (Micron -7.58%, SanDisk -9.19%), sementara trader mulai price-in probabilitas hike Desember sampai 68%. Situasi baru mereda sedikit Rabu (19-20/8) setelah Treasury Department mengumumkan bakal melipatgandakan buyback obligasi tenor panjang untuk jaga likuiditas pasar, yang berhasil menurunkan yield 30-tahun sekitar 9bps ke 5.19%, tapi analis seperti Barclays tetap skeptis rally di long-end bond bakal reverse tanpa ada sinyal fiskal yang lebih konkret.
Rilis FOMC minutes pertemuan Juli hari Rabu (19/8) mengungkap perpecahan internal Fed yang jauh lebih dalam dari yang market kira, meski dampaknya ke market relatif terbatas karena sifatnya backward-looking.Minutes mengonfirmasi voting 9-3 untuk hold rate di 3.50-3.75%, tapi menunjukkan sentimen hawkish sebenarnya meluas jauh melampaui tiga dissenter (Hammack, Kashkari, Logan), banyak partisipan lain menilai “policy tightening would likely be necessary if inflation did not decline.” Menariknya, dua presiden regional Fed yang nggak punya hak suara tahun ini (Schmid dari Kansas City dan Musalem dari St. Louis) juga mengindikasikan bakal ikut dissent kalau mereka voting member. Chair Warsh sendiri turut memunculkan diskusi soal kemungkinan mengurangi jumlah pertemuan FOMC ke depan. Karena data yang dirilis sejak pertemuan Juli (NFP negatif, core inflation yang mereda) udah banyak mengubah landscape, pasar cenderung “look through” minutes ini dan lebih fokus ke pidato Jackson Hole Warsh yang dijadwalkan 27-29 Agustus sebagai penentu arah kebijakan sesungguhnya.
Musim earnings raksasa ritel yang padat sepanjang minggu (Home Depot, Target, Lowe’s, Walmart) jadi barometer kesehatan konsumen AS di tengah data ekonomi yang makin mixed. Laporan-laporan ini jadi ujian penting setelah retail sales Juli mengecewakan minggu sebelumnya—analis RBC sendiri menegaskan tekanan di kalangan konsumen berpenghasilan rendah masih terus berlanjut akibat harga gas yang tinggi dan pemotongan alokasi SNAP dibanding tahun lalu, meski belum tentu memburuk secara quarter-over-quarter. Meski demikian, Wall Street secara umum cenderung downplay risiko konsumen ini, dan indeks S&P 500 tetap sempat mencetak rekor baru di tengah minggu meski sedang berada di periode musim panas yang biasanya “sepi.” Perhatian pelaku pasar sekarang bergeser ke earnings Nvidia dan Jackson Hole minggu depan sebagai dua test besar berikutnya buat validitas rally AI dan arah kebijakan moneter.
Positive breakthrough di uji klinis mRNA Moderna-Merck yang diumumkan Rabu (19/8) jadi catalyst sektoral yang mendorong sektor healthcare rally paling kuat sejak akhir Juni, sekaligus jadi penyeimbang sentimen negatif dari sektor tech dan bond market minggu ini. Kedua perusahaan melaporkan hasil sukses di late-stage clinical trial untuk treatment berbasis mRNA mereka, yang langsung memicu rally luas di saham-saham healthcare dan biotech sepanjang minggu. Momentum sektor ini membantu Dow Jones Industrial Average ditutup naik 517.80 poin (+0.98%) ke 53,277.01 di hari Jumat (21/8), sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 0.43% meski yield Treasury yang lebih tinggi terus jadi headwind sepanjang minggu. Meski begitu, secara keseluruhan minggu ini indeks utama tetap ditutup melemah untuk pertama kalinya sejak akhir Juli, mencerminkan bahwa tekanan dari sisi bond market dan ketidakpastian geopolitik masih lebih dominan ketimbang sentimen positif dari sektor kesehatan maupun laporan earnings ritel yang relatif solid.
Bond Market – Bessent Double Down Buyback – Treasury Secretary Scott Bessent mengejutkan pasar obligasi pada 19 Agustus dengan mengumumkan peningkatan drastis operasi buyback obligasi pemerintah jangka panjang menjadi “setidaknya dua kali lipat” dari US 2 miliar menjadi minimal US 4 miliar per operasi, efektif mulai 9 September sampai 4 November, sebagai respons darurat terhadap yield obligasi 30 tahun yang menyentuh 5,26 persen – level tertinggi sejak 2007 atau hampir 19 tahun. Yield 30 tahun langsung anjlok 9 basis poin ke 5,196 persen setelah pengumuman dan S&P 500 sempat naik, namun keesokan harinya yield kembali melonjak ke 5,25 persen – menghapus seluruh efek intervensi hanya dalam 24 jam, membuktikan bahwa tekanan struktural dari utang publik AS yang kini menembus US 40 triliun untuk pertama kalinya dalam sejarah terlalu besar untuk diatasi oleh operasi buyback semata.
Berita Emiten
WMT – Walmart melaporkan Q2 FY2027 pada 20 Agustus dengan revenue US 187,9 miliar naik 5,9 persen YoY melampaui ekspektasi US 186,8 miliar dan adjusted EPS US 0,81 naik 19,1 persen melampaui estimasi US 0,74, didukung kekuatan e-commerce, advertising, dan keanggotaan Walmart Plus. Namun saham WMT langsung anjlok hampir 10 persen karena full-year adjusted EPS guidance US 2,80 sampai 2,87 jatuh di bawah konsensus US 2,90, sementara US comparable sales yang melambat ke 2,6 persen dari ekspektasi 3,5 persen memunculkan kekhawatiran bahwa konsumen Amerika sudah semakin tertekan oleh harga bahan bakar yang masih tinggi dan inflasi pangan. CFO John David Rainey mengungkap perusahaan memiliki sisa tariff refund hampir US 2,9 miliar yang akan dialokasikan untuk menurunkan harga konsumen di Q3, bukan untuk mendongkrak profitabilitas.
OpenAI vs Anthropic – Persaingan Revenue Membalik – Anthropic untuk pertama kalinya melampaui OpenAI dalam revenue Q2 2026, dengan Anthropic mencetak US 11,6 miliar atau lebih dari dua kali lipat YoY sekaligus membukukan small adjusted operating profit sebesar US 559 juta, sementara OpenAI hanya membukukan US 6,7 miliar naik 18 persen secara kuartalan dari US 5,7 miliar di Q1 – angka yang mengecewakan investor yang berharap ChatGPT bisa mengejar rivalnya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah operating loss OpenAI yang melebar ke US 12,3 miliar dari US 9,3 miliar di Q1, artinya kerugian tumbuh tiga kali lebih cepat dari revenue, mendorong proyeksi cumulative losses 2023 sampai 2028 ke US 44 miliar sebelum perusahaan diperkirakan balik untung pada 2029. Dominasi Anthropic ini dikaitkan langsung dengan pertumbuhan eksplosif Claude Code di kalangan developer yang kini menjadi driver utama gap revenue antara dua pemain AI terbesar di dunia.
Anthropic IPO – Anthropic mengungkap rencana IPO-nya semakin konkret pada 21 Agustus, dengan sumber CNBC mengonfirmasi perusahaan sedang menjalankan preliminary “test-the-water” meetings dengan banker dan investor di San Francisco di mana CFO Krishna Rao menerima pertanyaan soal kompetisi, tekanan margin dari open-source models, dan dampak perlambatan pembangunan data center. Yang menjadi perhatian besar adalah prospektus IPO akan secara eksplisit mencantumkan AI backlash sebagai key risk factor, mengacu pada survei Gallup Mei 2026 yang menemukan 7 dari 10 warga Amerika menolak pembangunan data center AI di area mereka. Anthropic yang memiliki private valuation hampir US 1 triliun menargetkan valuasi IPO di sekitar US 2 triliun, yang jika tercapai akan menjadikannya tantangan langsung terhadap rekor SpaceX sebagai IPO terbesar dalam sejarah, dengan filing konfidensial diperkirakan masuk ke SEC dalam beberapa pekan ke depan dan debut pasar ditargetkan Oktober 2026.
SK HYIX – Buyback Historis – SK Hynix mengumumkan pada 20 Agustus bahwa perusahaan akan mengalokasikan setidaknya 50 persen free cash flow periode 2025 sampai 2027 untuk shareholder returns, termasuk rencana buyback dan cancellation saham senilai 40 triliun won atau setara US 28,6 miliar, menjadikannya program buyback terbesar dalam sejarah perusahaan Korea. Langkah ini terjadi hanya enam pekan setelah IPO ADR bersejarah di Nasdaq yang mengumpulkan US 26,5 miliar, dan dinilai analis sebagai sinyal keyakinan manajemen bahwa dominasi SK Hynix di pasar HBM memory akan menghasilkan free cash flow yang sangat besar seiring shortage memory global yang diperkirakan berlanjut hingga 2027.
TGT – Target melaporkan Q2 2026 pada 20 Agustus dengan kinerja yang melampaui ekspektasi di top dan bottom line, didukung tariff refunds yang mendongkrak profitabilitas, dan menaikkan guidance full-year yang menunjukkan turnaround strategy perusahaan mulai membuahkan hasil nyata. Analis Truist Scot Ciccarelli menyebut “perubahan yang dilakukan Target selama 6 sampai 9 bulan terakhir, termasuk investasi di harga, tenaga kerja, standar toko, dan merchandising, jelas beresonansi dengan pelanggan” dengan comparable sales dan jumlah transaksi yang terus membaik. Namun saham TGT tetap sedikit melemah di pre-market karena pasar membandingkan hasil ini dengan crash Walmart yang terjadi di hari yang sama, menunjukkan sensitivitas investor terhadap tema consumer spending yang semakin lemah.
Bitcoin – Surge 20 Persen Sepekan – Bitcoin mencetak kenaikan sekitar 20 persen dalam sepekan dan menyentuh US 75.343 pada 21 Agustus, mendorong seluruh ekosistem aset kripto dengan Coinbase dan Mara Holding masing-masing naik 6 persen, Strategy melonjak sekitar 10 persen, Circle Internet naik 5 persen, dan American Bitcoin menguat hampir 7 persen. Katalis utama adalah dorongan aktif White House kepada Kongres untuk mengesahkan Clarity Act – regulasi crypto-friendly komprehensif pertama AS – dalam beberapa pekan ke depan, dengan investor memandang legislasi ini sebagai “institutional green light” terbesar bagi aset digital dalam sejarah regulasi keuangan Amerika.
Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.
Profil Penulis

Financial Expert Ajaib
Miftahul Khaer merupakan Financial Expert di Ajaib yang memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam mengikuti perkembangan pasar saham Amerika Serikat. Ia menyajikan analisis dan edukasi mengenai saham AS, kondisi ekonomi global, serta strategi investasi yang membantu investor memahami peluang di pasar internasional.
Artikel Terkait




Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!
