Ajaib
Menu

Saham AS

Pasar Saham AS Volatil Karena Perang! Akankah Segera Berakhir?

SarifaMarch 16, 2026

saham ptba

Pasar saham AS bergerak melemah pada perdagangan 1 minggu terakhir (09/03-13/03), dimana indeks AS kompak ditutup melemah. Berbagai sentimen mewarnai pasar saham AS pekan ini, dengan beberapa sentimen positif di awal pekan, seperti pelepasan cadangan minyak sejumlah negara teluk dan AS yang meredam harga minyak mentah WTI turun ke US$ 80/brl. Namun, sayangnya perang yang masih berkelanjutan dan Iran yang terus menutup selat Hormuz serta Trump yang berencana menyerang fasilitas minyak Iran, membuat harga minyak mentah WTI kembali ke US$ 100/brl. Dengan minyak mentah yang tinggi dan perang yang belum terlihat titik terangnya, inflasi diperkirakan akan meningkat dan suku bunga akan higher for longer, yang mana akan menekan pasar saham secara keseluruhan. 

Performa Indeks Bursa AS 1W

S&P 500Dow Jones Industrial AverageNASDAQ Composite
-1.01%-0.95%-0.35%

Top Gainer 1W

SNDK+20.68%
CF+15.69%
MU+12.10%
MOS+10.11%
BG+10.03%

Berita Ekonomi & Industri

Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran bisa berakhir lebih cepat dari perkiraan dan menegaskan pemerintah AS memiliki rencana untuk menstabilkan pasar energi yang melonjak akibat perang. Pernyataan tersebut sempat menenangkan pasar setelah sebelumnya harga minyak melonjak tajam akibat kekhawatiran gangguan suplai dari Timur Tengah. Namun demikian, ketidakpastian tetap tinggi karena konflik militer masih berlangsung dan serangan terhadap infrastruktur energi maupun kapal tanker di kawasan Teluk berpotensi kembali mengganggu arus minyak global. Jika jalur perdagangan energi di Hormuz tetap terganggu, analis memperingatkan dampaknya dapat meluas ke inflasi global, volatilitas pasar finansial, serta risiko perlambatan ekonomi di berbagai negara yang bergantung pada impor energi.

Amerika Serikat berencana melepas sekitar 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) sebagai bagian dari upaya menstabilkan harga energi yang melonjak akibat perang AS-Israel dengan Iran dan gangguan suplai global. Langkah ini merupakan bagian dari pelepasan cadangan strategis terbesar dalam sejarah yang dikoordinasikan oleh International Energy Agency (IEA) sebesar sekitar 400 juta barel, dengan pengiriman dimulai dalam waktu dekat dan berlangsung sekitar 120 hari. Tujuan utama kebijakan ini adalah menekan lonjakan harga minyak yang dipicu oleh terganggunya aliran energi global setelah konflik memicu ancaman terhadap jalur pelayaran di Strait of Hormuz. Kami menilai, pelepasan SPR berpotensi meredam lonjakan harga minyak dalam jangka pendek dan menstabilkan inflasi energi, namun dampaknya kemungkinan bersifat sementara karena gangguan pasokan utama berasal dari risiko geopolitik dan berhentinya pengiriman minyak dari kawasan Teluk.

Mojtaba Khamenei mempertahankan tekanan geopolitik dengan mengancam dan membatasi lalu lintas di Strait of Hormuz, jalur yang menyalurkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia, setelah konflik militer dengan AS dan Israel memicu serangan terhadap kapal tanker dan meningkatnya risiko keamanan di kawasan Teluk. Gangguan terhadap jalur energi tersebut menyebabkan arus tanker turun tajam dan mendorong harga minyak global melonjak hingga sempat menembus US$100 per barel, memicu volatilitas pada pasar saham global serta kekhawatiran lonjakan inflasi energi. Dalam perspektif pasar, ketidakpastian terhadap stabilitas pasokan energi dari Timur Tengah berpotensi mempertahankan premi risiko pada harga minyak, meningkatkan volatilitas aset global, serta mendorong permintaan terhadap aset safe haven dalam jangka pendek.

Surplus perdagangan China melonjak ke level tertinggi dalam sejarah pada dua bulan pertama 2026 dengan surplus mencapai sekitar $213.62 miliar, jauh melampaui ekspektasi pasar sekitar $196.6 miliar, didorong lonjakan ekspor sebesar 21.8% yoy menjadi sekitar $656.58 miliar, sementara impor juga meningkat 19.8% yoy ke sekitar $442.96 miliar seiring pemulihan permintaan domestik dan aktivitas manufaktur. Pertumbuhan ekspor yang jauh di atas konsensus sekitar 7.1% terutama ditopang oleh kuatnya permintaan global untuk produk teknologi seperti semikonduktor, elektronik, kendaraan listrik, sel surya, dan baterai lithium di tengah gelombang investasi AI global, menempatkan ekonomi China pada jalur untuk kembali melampaui rekor surplus perdagangan $1.19 triliun pada 2025 meskipun menghadapi tekanan tarif perdagangan dari Amerika Serikat dan meningkatnya risiko geopolitik yang dapat mengganggu jalur pengiriman energi global.

Berita Emiten

HPE – Hewlett Packard Enterprise ($HPE) menaikkan outlook kinerja 2026 seiring lonjakan permintaan infrastruktur AI, dengan perusahaan menargetkan AI networking orders sekitar US$1.7–1.9 miliar dan meningkatkan proyeksi adjusted EPS menjadi US$2.30–US$2.50. Permintaan untuk solusi networking dan data center meningkat tajam karena ekspansi AI dan cloud, bahkan pesanan di sejumlah segmen tumbuh double digit dan backlog AI perusahaan telah melampaui US$5 miliar, menunjukkan pipeline permintaan yang masih kuat. Di sisi operasional, HPE memprioritaskan pesanan dengan margin lebih tinggi untuk mengimbangi kenaikan biaya komponen seperti DRAM dan NAND yang diperkirakan tetap tinggi hingga 2027. Secara strategis, percepatan adopsi AI infrastructure oleh hyperscalers dan enterprise berpotensi menjadi katalis pertumbuhan jangka menengah bagi HPE, sekaligus memperkuat positioning perusahaan dalam ekosistem AI data center yang bersaing dengan pemain seperti Dell dan Super Micro.

MSFT – Microsoft ($MSFT) mengumumkan dividen tunai kuartalan sebesar $0.91 per saham, yang akan dibayarkan pada 12 Maret 2026 kepada pemegang saham yang tercatat pada 19 Februari 2026, dengan tanggal ex dividend juga ditetapkan pada 19 Februari 2026. Pembayaran ini merupakan bagian dari program pengembalian modal perusahaan yang telah berlangsung lebih dari 20 tahun berturut turut, dengan imbal hasil dividen sekitar 0.75% serta pertumbuhan dividen sekitar 9.6% dalam setahun terakhir. Dengan kapitalisasi pasar sekitar $3.64 triliun dan pendapatan tahunan sekitar $293.81 miliar, Microsoft mempertahankan distribusi dividen stabil sambil terus mengalokasikan investasi besar pada ekspansi AI dan cloud computing sebagai pendorong utama pertumbuhan jangka panjang.

ORCL – Oracle ($ORCL) melaporkan hasil fiscal 3Q26 yang melampaui ekspektasi pasar dengan EPS US$1.79 dan pendapatan sekitar US$17.2 miliar, didorong pertumbuhan kuat pada bisnis cloud dan AI infrastructure. Segmen Oracle Cloud Infrastructure (OCI) menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan sekitar 84% YoY, sementara total backlog kontrak atau remaining performance obligations melonjak menjadi sekitar US$553 miliar, mencerminkan lonjakan permintaan kapasitas AI dari hyperscalers dan enterprise. Perusahaan juga menegaskan rencana ekspansi besar pada data center AI dengan capital expenditure sekitar US$50 miliar, yang sebagian akan didanai melalui kombinasi penerbitan utang dan ekuitas. Manajemen mempertahankan proyeksi pendapatan FY26 sekitar US$67 miliar dan menaikkan outlook FY27 menjadi sekitar US$90 miliar, menandakan keyakinan terhadap pertumbuhan jangka menengah dari adopsi AI dan cloud.

CVX – Chevron ($CVX) dan Shell dilaporkan semakin dekat untuk menandatangani kesepakatan produksi minyak besar pertama di Venezuela sejak penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh AS pada awal 2026, seiring reformasi hukum energi yang memberi perusahaan asing lebih banyak kendali atas proyek eksplorasi dan produksi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya besar untuk memulihkan industri minyak Venezuela yang sempat mengalami penurunan tajam akibat sanksi dan keterbatasan investasi, dengan pemerintah membuka kembali sektor energi bagi perusahaan internasional. Jika terealisasi, ekspansi produksi ini berpotensi meningkatkan suplai minyak global dalam jangka menengah dan sebagian mengimbangi risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah, sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan bagi perusahaan energi internasional yang memiliki eksposur terhadap aset Venezuela.

GOOGL – Alphabet ($GOOGL) melalui Google akuisisi perusahaan cybersecurity cloud Wiz senilai sekitar US$32 miliar, menjadikannya akuisisi terbesar dalam sejarah Google. Wiz akan diintegrasikan ke dalam unit Google Cloud untuk memperkuat kemampuan keamanan cloud, namun platformnya tetap bersifat multicloud dan tetap melayani pelanggan di AWS, Microsoft Azure, dan Oracle Cloud. Akuisisi ini mencerminkan strategi Google untuk memperkuat positioning di pasar cloud dan AI infrastructure yang semakin kompetitif, terutama dalam aspek keamanan data dan aplikasi yang menjadi prioritas bagi perusahaan dan pemerintah. Akuisisi ini menunjukkan komitmen agresif Google untuk memperluas ekosistem AI dan cloud security, yang berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan jangka menengah bagi Google Cloud, namun juga meningkatkan ekspektasi investor terhadap monetisasi teknologi Wiz dan kemampuan Google menutup gap market share terhadap hyperscalers lain di industri cloud global.

ADBE – Adobe ($ADBE) melaporkan hasil fiscal 1Q26 yang melampaui ekspektasi dengan pendapatan sekitar US$6.4 miliar (+12% YoY) dan adjusted EPS US$6.06, didorong pertumbuhan kuat pada bisnis subscription Creative Cloud dan Document Cloud. Namun saham perusahaan justru turun lebih dari 6–7% dalam after-hours trading setelah pengumuman bahwa CEO lama Shantanu Narayen akan mundur setelah sekitar 18 tahun memimpin, meski ia akan tetap menjabat sebagai chairman hingga pengganti ditunjuk. Investor menilai transisi kepemimpinan ini menambah ketidakpastian pada saat industri software sedang mengalami disrupsi dari tools berbasis AI yang berpotensi menekan model bisnis kreatif tradisional Adobe. Ke depan, perusahaan tetap memproyeksikan 2Q26 revenue sekitar US$6.43–US$6.48 miliar dan EPS US$5.80–US$5.85, namun pasar masih menunggu bukti bahwa monetisasi AI seperti Firefly dapat mempercepat kembali pertumbuhan ARR dan memperkuat posisi kompetitif Adobe di era AI software.

ULTA – Ulta Beauty ($ULTA) melaporkan kinerja Q4 2025 dengan pendapatan mencapai $3.9 miliar, naik 11.8% yoy, sementara comparable sales meningkat 5.8% didorong kenaikan average ticket 4.2% dan pertumbuhan transaksi 1.6%; namun laba per saham terdilusi turun menjadi $8.01 dari $8.46 pada periode yang sama tahun sebelumnya seiring tekanan margin operasional yang turun ke 12.2% dari 14.8% akibat kenaikan biaya operasional dan belanja pemasaran. Perusahaan juga memberikan panduan konservatif untuk fiskal 2026 dengan proyeksi pertumbuhan penjualan 6% hingga 7%, comparable sales growth sekitar 2.5% hingga 3.5%, serta EPS $28.05 hingga $28.55, sedikit di bawah ekspektasi analis, mencerminkan sikap hati hati manajemen terhadap potensi pelemahan konsumsi diskresioner di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya persaingan dari pemain ritel seperti Sephora, Walmart, Target, dan Amazon.

Google Play StoreApple App Store

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!