Meski Selat Hormuz Sempat Ditutup, Harga Minyak Dunia Justru Tertahan di US$90 per Barel
Salsabilla•July 21, 2026

Key Takeaways
- Meski Selat Hormuz (jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia) sempat lumpuh akibat perang AS-Iran, harga Brent hanya sempat menyentuh US$126 per barel dan kini berada di kisaran US$90 per barel, jauh di bawah proyeksi ekstrem US$150–200.
- Setidaknya lima faktor menahan reli harga minyak, mulai dari melemahnya impor China, rekor produksi minyak AS, hingga sinyal diplomasi dari Presiden Donald Trump.
- Risiko kenaikan harga tetap terbuka jika gencatan senjata gagal tercapai dan ancaman Houthi terhadap jalur Laut Merah meningkat.
Harga Minyak Tertahan di Tengah Konflik AS-Iran yang Berlarut
Perang antara Amerika Serikat dan Iran sudah berlangsung hampir lima bulan dan sempat menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ketika konflik ini pecah, sebagian analis memprediksi harga minyak bisa melonjak liar hingga US$150-200 per barel. Namun kenyataannya, Brent crude hanya sempat menyentuh puncak US$126 per barel pada awal konflik (28 Februari-11 Juni), dengan rata-rata sekitar US$100 per barel selama periode tersebut.
Setelah Presiden Trump sempat menghentikan serangan ke Iran pada 11 Juni, pertempuran kembali pecah menyusul gagalnya nota kesepahaman AS-Iran. Meski begitu, Brent hanya bergerak naik ke kisaran US$90 per barel, masih jauh dari skenario terburuk yang sempat dikhawatirkan pasar.
Faktor yang Menahan Lonjakan Harga Minyak
Ada lima faktor utama yang menahan harga minyak agar tidak melonjak sesuai skenario terburuk yang sempat dikhawatirkan pasar. Kombinasi faktor dari sisi permintaan, pasokan, hingga sentimen diplomasi membuat kenaikan harga menjadi lebih terkendali dibanding perkiraan awal.
| Faktor | Penjelasan Singkat |
|---|---|
| Pelemahan impor China | Sebagai importir minyak terbesar dunia, China memangkas impor minyak mentah ke level terendah dalam hampir satu dekade pada Juni, seiring penurunan ekspor bahan bakar dan volume sektor petrokimia. |
| Rekor produksi AS + pelepasan SPR | Produksi minyak AS mencapai rekor 13,93 juta barel per hari pada April, ditambah pelepasan cadangan strategis (SPR) sebanyak 400 juta barel yang dikoordinasikan bersama International Energy Agency (IEA). |
| Sinyal diplomasi Trump | Pernyataan Presiden Trump soal potensi kesepakatan damai dan pemulihan arus pelayaran di Selat Hormuz berulang kali meredam sentimen pasar yang sempat memanas. |
| Peningkatan ekspor Arab Saudi | Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di kawasan Teluk Persia, menambah pengiriman melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk mengimbangi hilangnya pasokan dari Selat Hormuz. |
| Pasokan fisik yang masih melimpah | Pelaku pasar menyebut stok minyak fisik global masih cukup untuk saat ini, sehingga membatasi reaksi harga terhadap eskalasi konflik terbaru. |
Risiko yang Masih Mengintai di Balik Harga yang Tertahan
Meski harga minyak relatif tertahan, risiko kenaikan tetap terbuka dan perlu dicermati. Beberapa perkembangan terbaru menunjukkan situasi geopolitik masih dinamis dan bisa memengaruhi arah harga ke depan.
- Gencatan senjata belum pasti. Mediator dilaporkan tengah mengusulkan gencatan senjata 10 hari disertai kembalinya perundingan, namun belum ada kepastian hasilnya.
- Selat Hormuz nyaris lumpuh. Jalur ini disebut hampir berhenti total, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran menyatakan akan memberlakukan larangan lalu lintas maritim dari Arab Saudi — mengancam sekitar 2,5 juta barel per hari pasokan minyak Saudi.
- Stok minyak di atas kapal jadi penyeimbang. Di sisi lain, rekor stok minyak mentah sebanyak 1,35 miliar barel yang saat ini berada di atas kapal tanker diperkirakan dapat membatasi lonjakan harga lebih lanjut dalam jangka pendek, meski risiko geopolitik meningkat.
Sebagai gambaran pergerakan terkini, kontrak berjangka Nymex crude pengiriman Agustus naik 0,9% ke US$83,23 per barel, sementara Brent pengiriman September naik 1,3% ke US$89,22 per barel, level penutupan tertinggi sejak pertengahan Juni. Di sisi lain, harga gas alam AS (Nymex) justru melemah 1,7% ke US$2,860/MMBtu karena ekspor LNG yang kuat, produksi tinggi, dan stok yang masih sehat turut mengimbangi permintaan pendinginan musim panas.
Apa yang Perlu Diperhatikan Trader Saham?
Fluktuasi harga minyak seperti ini biasanya berdampak langsung pada saham-saham sektor energi, baik produsen minyak dan gas maupun perusahaan yang bergantung pada biaya bahan bakar sebagai komponen operasional. Ketika harga minyak tertahan di kisaran moderat seperti sekarang, saham-saham produsen energi cenderung bergerak lebih stabil dibanding skenario lonjakan ekstrem, sementara emiten yang sensitif terhadap biaya energi (seperti sektor transportasi dan manufaktur) mendapat sedikit ruang bernapas.
Beberapa hal yang bisa jadi pertimbangan saat memantau perkembangan ini:
- Pantau perkembangan gencatan senjata dan situasi Selat Hormuz, karena keduanya menjadi katalis utama yang bisa mengubah arah harga minyak secara cepat.
- Perhatikan laporan produksi dan stok minyak AS, termasuk data mingguan yang biasa memengaruhi sentimen pasar komoditas global.
- Cermati korelasi dengan pasar saham AS, mengingat pergerakan harga minyak dan indeks saham energi di bursa Amerika kerap saling memengaruhi dalam jangka pendek.
Pantau Pergerakan Saham AS di Ajaib!
Perubahan harga minyak dunia seperti ini biasanya dapat berdampak pada pergerakan saham-saham global, termasuk emiten energi dan sektor terkait di bursa Amerika Serikat. Kalau kamu ingin memantau langsung bagaimana sentimen global ini memengaruhi pasar saham AS, kamu bisa mulai analisis saham AS menggunakan berbagai fitur yang tersedia di aplikasi Ajaib. Mulai trading saham AS dan download Ajaib di Play Store & App Store sekarang!
Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.
Sumber: Seeking Alpha, Ajaib Research
Artikel Terkait




Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!