5 Pilihan ETF Global yang Menarik Saat Market Koreksi
Mikirduit•September 29, 2026

Key Takeaway:
- Inflasi AS, defisit fiskal, dan utang pemerintah masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor di tengah suku bunga tinggi.
- Yield US10Y sempat menembus 5%, menunjukkan adanya tekanan di pasar obligasi yang perlu dicermati investor.
- Kondisi pasar yang penuh ketidakpastian membuat diversifikasi exposure menjadi salah satu hal yang dapat dipertimbangkan.
- ETF dapat memberikan exposure ke pasar, sektor, atau tema tertentu tanpa perlu memilih saham satu per satu.
- Lima ETF global yang dapat dicermati mencakup ACWI untuk exposure global, VTI untuk pasar saham AS secara luas, QQQ untuk teknologi dan growth, serta GDX dan GLD untuk exposure terhadap tema emas.
Inflasi, Defisit, dan Utang AS Masih Jadi Perhatian Investor
Kenaikan suku bunga The Fed kembali menunjukkan bahwa inflasi AS masih menjadi persoalan, sementara ekonomi Negeri Paman Sam juga belum menunjukkan tanda-tanda melemah secara signifikan.
Di kondisi seperti ini, investor mungkin perlu mulai memperluas cara melihat peluang. Bukan cuma mencari satu saham yang berpotensi naik paling tinggi, tapi juga melihat pasar, sektor, atau tema apa yang masih punya prospek ke depan.
Salah satu instrumen yang menarik untuk dilirik adalah ETF global. Sederhananya, ETF memungkinkan kita membeli exposure ke sekumpulan saham atau aset sekaligus. Jadi, kita bisa ikut menikmati pertumbuhan suatu sektor atau pasar tanpa harus menebak saham mana yang bakal menjadi pemenangnya.
Tapi sebelum masuk ke pilihan ETF, ada beberapa kondisi global yang perlu diperhatikan.
Inflasi AS + Defisit Fiskal Masih Jadi Masalah
Salah satu alasan The Fed masih berhati-hati adalah inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.
Masalahnya, tekanan inflasi kali ini bukan cuma soal harga minyak. Konsumsi masyarakat AS masih cukup kuat dan kondisi pasar tenaga kerja juga relatif solid. Selama daya beli masih bertahan, permintaan bisa tetap tinggi dan membuat inflasi lebih sulit turun.
Di saat yang sama, pemerintah AS masih mendorong ekonomi melalui kebijakan fiskal. Ini memang membantu menjaga pertumbuhan, tetapi juga bisa membuat tekanan permintaan bertahan lebih lama.
Karena itu, skenario suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama masih perlu diperhitungkan oleh investor.
Persoalannya tidak berhenti di inflasi.
Defisit dan utang pemerintah AS yang terus membesar menjadi semakin penting ketika suku bunga berada di level tinggi. Semakin banyak utang yang harus diperpanjang atau diterbitkan kembali, semakin besar pula biaya bunga yang harus dibayar pemerintah.
Baru-baru ini sebelum the Fed menaikkan suku bunga, yield acuan obligasi AS tenor 10 tahun (US10Y) sempat menembus 5 persen, menyentuh rekor tertinggi sejak 2007.

Kondisi ini menjadi alarm dini peringatan adanya koreksi tajam di pasar saham. Ini sudah terbukti waktu US10Y mencapai 5 persen lebih pada 2007, kemudian terjadi krisis pada 2008. Lalu, terjadi lagi pada Oktober 2023, yang diikuti koreksi signifikan S&P 500 setelah menyentuh rekornya.
Namun, perlu dicatat kondisi ini belum langsung berubah menjadi krisis. Meski begitu, kombinasi utang tinggi, defisit besar dan bunga tinggi tetap menjadi risiko yang bisa memicu tekanan di pasar jika berlangsung terlalu lama.
Artinya, perjalanan market menuju fase yang lebih bullish mungkin masih membutuhkan waktu, alias risiko koresi masih menjadi perhatian saat ini.
Saatnya Mulai Lihat Peluang Global
Dalam kondisi seperti ini, bukan berarti investor harus keluar dari market. Justru yang menjadi penting adalah lebih selektif dan tidak menaruh seluruh taruhan pada satu saham atau satu sektor.
Di sinilah ETF bisa menjadi menarik. Kita bisa memilih exposure berdasarkan pandangan terhadap suatu pasar atau tema, misalnya saham AS secara keseluruhan, teknologi, energi, komoditas, hingga pasar negara tertentu.
Jadi, ketika market kembali mengalami koreksi, investor tidak hanya punya pilihan untuk menunggu. Ada berbagai exposure global yang bisa dicermati sesuai dengan kondisi ekonomi dan tema yang sedang berkembang.
ETF Jadi Alternatif untuk Mendapatkan Exposure ke Pasar Global
Berikut 5 ETF global yang menarik untuk dicermati.

1. ACWI: Exposure ke Pasar Saham Global dalam Satu ETF
iShares MSCI ACWI ETF (ACWI) bisa dibilang sebagai ETF global yang praktis untuk dijadikan fondasi portfolio. ETF dari BlackRock ini memegang lebih dari 2.300 saham di 47 negara, mencakup pasar maju hingga berkembang.
Karena menggunakan bobot berdasarkan kapitalisasi pasar, porsi saham AS dan perusahaan teknologi masih cukup dominan sampai 60 persen. Expense ratio-nya sebesar 0,32 persen per tahun.
ACWI cocok untuk investor yang ingin mendapatkan exposure ke pertumbuhan ekonomi global tanpa harus repot memilih saham satu per satu.
Dengan DCA secara rutin, investor juga tidak perlu sering melakukan rebalancing karena komposisi ETF akan menyesuaikan mengikuti perubahan pasar.
VTI: Exposure Luas ke Pasar Saham Amerika Serikat
Vanguard Total Stock Market Index Fund ETF (VTI) cocok untuk investor yang ingin mendapatkan exposure ke hampir seluruh pasar saham Amerika Serikat dalam satu ETF.
Berbeda dengan S&P 500 yang fokus pada perusahaan berkapitalisasi besar, VTI mencakup lebih dari 3.700 saham, mulai dari perusahaan besar hingga small cap, dengan sektor yang beragam seperti teknologi, keuangan, kesehatan, industri, dan konsumer. ETF yang diterbitkan Vanguard ini mengikuti CRSP US Total Market Index dan memiliki expense ratio hanya 0,03 persen per tahun.
Karena diversifikasinya luas dan biayanya rendah, VTI lebih cocok dijadikan fondasi portfolio jangka panjang. Namun, karena seluruh exposure-nya berada di AS, kinerjanya tetap sangat bergantung pada kondisi ekonomi dan pasar saham Amerika.
QQQ: Exposure Lebih Besar ke Teknologi dan Saham Growth
Berikutnya ada Invesco QQQ Trust Series 1 (QQQ), yang menawarkan exposure yang lebih spesifik ke saham-saham perusahaan besar non-keuangan di Nasdaq melalui indeks Nasdaq-100.
Isinya sekitar 100 perusahaan dengan bobot besar pada sektor teknologi dan perusahaan growth seperti NVIDIA, Apple, Microsoft, Amazon, Meta, dan Alphabet.
Dengan karakter tersebut, QQQ punya potensi pertumbuhan yang lebih tinggi ketika saham teknologi dan growth sedang kuat, tetapi volatilitasnya juga cenderung lebih besar ketika pasar terkoreksi atau suku bunga meningkat.
Expense ratio QQQ berada di 0,20 persen per tahun. Jadi, jika VTI lebih cocok untuk exposure luas ke pasar AS, QQQ lebih menarik bagi investor yang ingin mengambil exposure lebih besar pada sektor teknologi dan pertumbuhan.
GDX: Exposure ke Saham Perusahaan Tambang Emas
VanEck Gold Miners ETF (GDX) bisa jadi pilihan buat investor yang ingin mendapatkan exposure ke saham-saham perusahaan tambang emas tanpa harus memilih emiten satu per satu. ETF dari VanEck ini berisi perusahaan tambang emas dan perak besar dari berbagai negara, sehingga pergerakannya cukup sensitif terhadap harga emas.
Saat ini, harga emas sedang rawan terkoreksi akibat suku bunga the Fed naik, momentum ini justru membuka peluang untuk mengakumulasi lagi secara bertahap supaya dapat posisi yang lebih best price.
Pasalnya, ketika harga emas kembali naik, kenaikan harga jual emas dapat meningkatkan margin dan laba perusahaan tambang, sementara biaya produksinya tidak selalu naik sebesar harga emas. Karena itu, saham perusahaan tambang emas seperti yang ada di GDX berpotensi bergerak lebih agresif dibanding harga emas.
Meski begitu, GDX juga memiliki risiko yang lebih tinggi karena kinerjanya tidak hanya bergantung pada harga emas, tetapi juga biaya produksi, kondisi operasional tambang, dan kinerja masing-masing perusahaan. Jadi, GDX lebih cocok untuk investor yang ingin mengambil exposure pada tema emas dan gold miners, terutama saat melihat peluang kenaikan harga emas ke depan.
GLD: Exposure Langsung ke Pergerakan Harga Emas
Terakhir ada SPDR Gold Trust (GLD), cocok buat investor yang ingin mendapatkan exposure langsung ke harga emas tanpa perlu membeli dan menyimpan emas fisik.
ETF yang diluncurkan pada 2004 ini didukung oleh emas fisik dan diperdagangkan di bursa seperti saham biasa, sehingga lebih praktis untuk mendapatkan exposure terhadap pergerakan harga emas.
Berbeda dengan GDX yang berisi saham perusahaan tambang emas, pergerakan GLD lebih langsung mengikuti harga emas. Jadi, ketika emas terkoreksi karena kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS, GLD juga akan ikut tertekan.
Namun, koreksi tersebut bisa menjadi momentum untuk melakukan akumulasi secara bertahap jika melihat emas masih punya prospek sebagai aset lindung nilai dalam jangka panjang.
Karena tidak bergantung pada kinerja operasional perusahaan tambang, GLD juga memiliki risiko yang berbeda dengan GDX. Instrumen ini lebih cocok untuk investor yang ingin mendapatkan exposure langsung ke harga emas, sekaligus menjadi diversifikasi portfolio ketika kondisi pasar global masih penuh ketidakpastian.
Pantau Saham AS dan ETF di Ajaib
Temukan berbagai saham AS dan ETF potensial untuk mendapatkan exposure ke pasar global sesuai dengan strategi investasi kamu. Pantau pergerakan harga dan peluang di pasar AS, lalu lakukan transaksi sesuai dengan analisis dan keputusan investasi masing-masing melalui Ajaib.
Trading saham AS dan ETF mulai dari $1 di Ajaib.
Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait




Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!
