Ajaib
Menu

Kripto

ARB vs OP: Token Layer-2 Mana yang Punya Peluang Trading Lebih Menarik?

SalsabillaAugust 12, 2026

ARB vs OP: Token Layer-2 Mana yang Punya Peluang Trading Lebih Menarik?

Key Takeaways

  • ARB lebih likuid dan lebih besar dalam kapitalisasi. Per awal Agustus 2026, volume perdagangan harian ARB sekitar $41,6 juta dengan market cap ~$530 juta, sementara OP hanya sekitar $21-28 juta volume dengan market cap ~$200 juta. Untuk mengeksekusi posisi berukuran besar tanpa slippage berlebih, ARB cenderung lebih mulus.
  • OP bergerak lebih tipis dan lebih sensitif terhadap sentimen. Volatilitas 30-hari OP sekitar 6,6% dengan struktur harga yang lebih bearish (di bawah moving average 50 dan 200 hari, RSI ~38), sedangkan ARB relatif lebih tenang (volatilitas ~3,8-6,6%, RSI ~47). Swing OP bisa lebih lebar, tapi likuiditasnya lebih dangkal saat pasar bergerak cepat.
  • Keduanya sama-sama diperdagangkan dekat harga terendah sepanjang masa, dan sama-sama token governance. Namun keduanya kini punya katalis value-accrual baru: ARB lewat fee-sharing 8% dari chain Orbit (termasuk Robinhood Chain), OP lewat program buyback 50% pendapatan sequencer Superchain. Sama-sama masih menghadapi tekanan unlock dan sentimen pasar yang lemah.

ARB vs OP: Mana yang Lebih Menarik untuk Trading Kripto?

Membandingkan Arbitrum (ARB) dan Optimism (OP) berarti melihat dua token Layer-2 yang sama-sama dibangun di atas Ethereum dan menggunakan teknologi optimistic rollup untuk membuat transaksi lebih cepat dan murah. Meski punya tujuan serupa, keduanya memiliki karakter harga, ukuran pasar, dan katalis yang berbeda.

ARB merupakan token governance Arbitrum, salah satu jaringan Layer-2 terbesar berdasarkan TVL. Sementara itu, OP adalah token governance Optimism yang mengembangkan OP Stack dan ekosistem Superchain. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi likuiditas, volatilitas, hingga respons harga terhadap sentimen pasar.

Perbandingan ini bukan untuk menentukan token mana yang lebih berpotensi naik, melainkan membantu trader memahami karakter ARB dan OP serta memilih aset yang paling sesuai dengan setup trading dan toleransi risiko.

Kenapa ARB dan OP Layak Dibandingkan di Tengah Persaingan Layer-2 Saat Ini

Persaingan di sektor Layer-2 Ethereum semakin ketat. Belasan rollup kini bersaing memperebutkan likuiditas, developer, dan pengguna. Arbitrum (ARB) dan Optimism (OP) menjadi dua pemain utama yang sudah lebih dulu membangun ekosistem besar, tetapi keduanya juga menghadapi tantangan tokenomics yang serupa.

Apa Itu Arbitrum Kripto?

Arbitrum adalah jaringan Layer-2 yang dikembangkan Offchain Labs untuk membuat transaksi Ethereum lebih murah dan efisien. Pada 2026, Arbitrum tidak lagi sekadar satu chain. Melalui Orbit, lebih dari 100 chain L2/L3 telah dibangun menggunakan teknologinya, termasuk Robinhood Chain.

ARB merupakan token governance yang digunakan untuk berpartisipasi dalam keputusan DAO dan alokasi treasury. Namun, ARB bukan token gas karena biaya transaksi di jaringan Arbitrum tetap dibayar menggunakan ETH.

Apa Itu Optimism Kripto?

Optimism merupakan jaringan Layer-2 yang mengembangkan OP Stack, framework open-source yang digunakan berbagai chain untuk membangun rollup, termasuk Base dan World Chain. Kumpulan chain tersebut dikenal sebagai Superchain.

OP berfungsi sebagai token governance dengan struktur dua kamar, yaitu Token House dan Citizens’ House. Sama seperti Arbitrum, biaya transaksi di jaringan Optimism dibayar menggunakan ETH, bukan OP.

Bagi trader, memahami likuiditas dan volatilitas ARB maupun OP penting sebelum menentukan entry atau exit. Likuiditas yang lebih tipis dapat membuat eksekusi order kurang optimal, sementara volatilitas tinggi berarti harga bisa bergerak lebih cepat dan lebih jauh dari perkiraan.

Volatilitas ARB vs OP: Mana yang Lebih Memberikan Ruang Gerak?

Volatilitas adalah pedang bermata dua. Semakin lebar pergerakan, semakin besar peluang profit, tapi juga semakin besar risiko stop-out.

Berdasarkan data akhir Juli-awal Agustus 2026, OP cenderung menunjukkan volatilitas relatif yang sedikit lebih tinggi, dengan volatilitas harga 30 hari sekitar 6,6% dan hanya sekitar 40% hari hijau dalam sebulan terakhir. Struktur trennya juga lebih lemah: harga berada di bawah moving average 50 dan 200 hari, dengan RSI di kisaran 38 (netral cenderung tertekan). OP diperdagangkan di sekitar $0,087 dan sempat menyentuh titik terendah sepanjang masa di area $0,082-0,089 pada pertengahan 2026.

ARB relatif lebih tenang, dengan volatilitas 30-hari yang bervariasi antara ~3,8% hingga ~6,6% tergantung sumber, dan RSI di kisaran 47. ARB bergerak di sekitar $0,081, terjebak dalam pola descending channel, menguji resisten di kisaran $0,080 dengan support terdekat di sekitar $0,075.

Karena OP lebih kecil kapitalisasinya dan lebih tipis likuiditasnya, pergerakan harganya bisa lebih liar saat ada katalis atau tekanan jual, sehingga ruang gerak lebih besar, tapi juga lebih mudah whipsaw. ARB dengan pasar yang lebih dalam cenderung bergerak lebih terkendali, cocok untuk entry yang lebih presisi. Perhatikan bahwa selisih volatilitas keduanya tidak besar dan bisa berubah cepat, jadi jangan hanya mengandalkan satu angka. Cek kondisi terkini sebelum entry.

Likuiditas ARB vs OP: Seberapa Mudah Posisi Dieksekusi?

Likuiditas menentukan seberapa mudah kamu masuk dan keluar dari posisi tanpa membuat harga bergerak melawanmu.

1. Volume Perdagangan dan Aktivitas Pasar

ARB unggul cukup jelas dalam hal volume. Per awal Agustus 2026, volume perdagangan harian ARB berada di kisaran $41,6 juta, sementara OP mencatat volume harian sekitar $21-28 juta

Volume yang lebih tinggi menandakan order book yang lebih ramai, dengan lebih banyak pembeli dan penjual yang bertemu di satu waktu, sehingga posisi lebih mudah dieksekusi.

2. Spread, Market Depth, dan Slippage

Dengan volume lebih besar, ARB cenderung memiliki spread yang lebih ketat dan market depth yang lebih dalam. Ini penting jika kamu menggunakan market order atau membuka posisi berukuran besar. Slippage, yaitu selisih antara harga yang kamu inginkan dan harga eksekusi, cenderung lebih kecil pada aset dengan likuiditas tinggi. Pada OP yang lebih tipis, order besar berpotensi menggerakkan harga lebih jauh dari yang diharapkan.

3. Likuiditas Saat Volatilitas Meningkat

Yang perlu diwaspadai trader adalah saat harga bergerak tajam, likuiditas bisa menyusut di kedua token. Spread melebar dan slippage membesar di momen-momen ekstrem. Secara umum, ARB dengan volume lebih besar lebih tahan terhadap guncangan likuiditas dibanding OP, tapi keduanya tetap tergolong altcoin berkapitalisasi kecil yang rentan pada gejolak pasar kripto secara luas.

Katalis ARB dan OP: Apa yang Bisa Mengubah Momentum Harga?

Katalis ARB (fakta yang sudah terjadi):

  • Robinhood Chain live (awal Juli 2026): diluncurkan memakai teknologi Arbitrum lewat framework Orbit, sempat mencatat puncak volume perdagangan harian ~$500 juta dan 17 juta transaksi di minggu pertama.
  • Model fee-sharing Orbit (8-9 Juli 2026): 10% pendapatan protokol dari Robinhood Chain dan chain Orbit lain mengalir ke ekosistem Arbitrum: 8% ke treasury yang dikendalikan pemegang ARB, 2% untuk pengembangan. Ini mekanisme pertama yang menautkan pertumbuhan Orbit langsung ke nilai ARB.
  • Skala ekosistem: 100+ chain Orbit aktif, plus model usage-based pricing baru dan upgrade ArbOS 51 “Dia” (Januari 2026). Materi Foundation menyebut mitra seperti BlackRock, Franklin Templeton, Circle, Securitize, dan Paxos.

Katalis OP (fakta yang sudah terjadi):

  • Program buyback Superchain (disetujui 28 Januari 2026 dengan dukungan 84,4%, aktif sejak Februari 2026): 50% pendapatan bersih sequencer dari chain OP Stack dialokasikan untuk membeli kembali token OP setiap bulan selama pilot 12 bulan, dengan estimasi tekanan beli sekitar $8 juta per tahun. Ini mengubah OP dari token governance murni menjadi token dengan mekanisme value-accrual.
  • Base keluar dari OP Stack (diumumkan pada Februari 2026): pukulan struktural bagi narasi Superchain, karena memangkas salah satu sumber pendapatan terbesar (kontribusi Base sebelumnya sekitar $1,4 juta per kuartal). Banyak pelaku pasar menyebut ini sebagai momen paling berat bagi OP.
  • Season 8 governance changes (efektif 1 Agustus 2026), plus peluncuran GIWA Chain dan migrasi ether.fi ke OP Mainnet. Superchain kini memproses 16 juta+ transaksi harian di belasan chain (World Chain, Zora, Unichain, Soneium, Ink, dan lainnya).

*Dampak katalis ke harga aset kripto tidak selalu berarti positif. Baik ARB maupun OP masih diperdagangkan dekat titik terendah sepanjang masa meskipun ada perkembangan fundamental ini, karena tekanan unlock, sentimen bearish, dan skeptisisme pasar terhadap value-accrual yang belum sepenuhnya terbukti.

ARB vs OP: Mana yang Lebih Kuat?

Berdasarkan data awal Agustus 2026:

MetrikARBOP
Harga~$0,081~$0,087
Market cap~$530 juta~$200 juta
Volume 24 jam~$41,6 juta~$21-28 juta
Supply beredar~6,6 miliar (dari total 10 M)~2,3 miliar (dari total 4,29 M)
Volatilitas 30-hari~3,8-6,6%~6,6%
RSI~47 (netral)~38 (netral, condong lemah)
Struktur trenDescending channel, uji resisten ~$0,080Di bawah MA 50 & 200, dekat ATL

Secara likuiditas dan ukuran pasar, ARB lebih kuat: volume dan market cap-nya lebih besar, dengan katalis Robinhood Chain dan fee-sharing yang memberi cerita fundamental lebih segar. OP punya program buyback sebagai penopang, tetapi bayang-bayang keluarnya Base membuat struktur harganya lebih rapuh dalam jangka pendek.

ARB vs OP untuk Trading: Apa yang Perlu Dipantau Sebelum Entry?

1. Konfirmasi Momentum dengan Volume

Kenaikan harga yang disertai peningkatan volume adalah sinyal lebih valid daripada kenaikan dengan volume menipis. Karena keduanya berada di area harga rendah dengan likuiditas terbatas, false breakout mudah terjadi, jadi tunggu konfirmasi volume sebelum mengejar pergerakan.

2. Sesuaikan Entry dengan Kondisi Volatilitas

OP yang lebih tipis bisa memberi swing lebih lebar; beri ruang stop loss yang cukup agar tidak terkena noise. ARB yang lebih terkendali memungkinkan entry dan stop loss lebih presisi. Sesuaikan position sizing dengan karakter masing-masing.

3. Perhatikan ETH dan BTC

ARB dan OP adalah token Layer-2 Ethereum, sehingga pergerakannya sangat dipengaruhi oleh arah ETH dan kondisi pasar BTC secara luas. Keduanya cenderung bergerak sebagai high-beta proxy Ethereum: naik lebih kencang saat ETH menguat, turun lebih dalam saat ETH melemah. Pantau relative strength masing-masing terhadap ETH.

4. Cek Funding Rate dan Open Interest Jika Trading Futures

Jika kamu trading futures, cek funding rate, open interest, dan rasio posisi long/short secara real-time sebelum entry, karena angka ini berubah setiap beberapa jam dan paling akurat langsung dari platform trading. Funding rate yang terlalu ekstrem sering menandakan pasar yang crowded di satu sisi dan rawan squeeze.

Strategi Trading Aset Kripto

1. Untuk Trader yang Mengutamakan Eksekusi dan Likuiditas

ARB lebih cocok. Volume ~$41 juta sehari menawarkan spread lebih ketat dan slippage lebih kecil dibandingkan dengan OP, yang penting untuk posisi berukuran besar atau strategi yang butuh keluar-masuk cepat.

2. Untuk Trader yang Mencari Swing Lebih Lebar

OP yang lebih kecil dan lebih volatil bisa memberi ruang pergerakan lebih besar per sesi, tapi hanya untuk trader yang siap mengelola risiko likuiditas tipis dan sudah menyiapkan stop loss yang disiplin.

3. Untuk Swing Trading Berbasis Katalis

Perhatikan siapa yang punya newsflow lebih kuat menjelang entry. ARB terikat pada perkembangan Orbit dan Robinhood Chain; OP terikat pada realisasi buyback Superchain dan dinamika pasca-Base. Katalis yang terkonfirmasi + volume adalah kombinasi yang lebih meyakinkan daripada satu berita saja.

4. Untuk Trading Saat Market Berubah Cepat

Pantau perubahan volatility regime, volume, dan tren ETH/BTC sebelum entry. Jangan terburu masuk hanya karena satu metrik terlihat bagus.

Risiko yang Tetap Perlu Diperhitungkan pada ARB dan OP

  • Tekanan unlock: ARB masih menghadapi unlock sekitar 1,1% supply per bulan (~$7,6 juta) hingga Maret 2027, menambah tekanan jual struktural. OP juga memiliki jadwal unlock yang perlu dipantau.
  • Value-accrual yang belum terbukti: Fee-sharing ARB ke pemegang token belum berjalan otomatis dan masih perlu keputusan DAO terpisah. Program buyback OP masih berstatus pilot dan bergantung pada pendapatan Superchain yang ikut terpukul setelah Base keluar.
  • Likuiditas menipis saat market stress: Spread dan slippage bisa membesar tajam, terutama pada OP.
  • Leverage: Penggunaan futures dengan leverage tinggi memperbesar risiko likuidasi di kedua token.
  • Korelasi ke Ethereum: Keduanya bergerak mengikuti sentimen ETH; kondisi makro kripto bisa menenggelamkan katalis spesifik proyek.

ARB vs OP: Jadi, Mana yang Lebih Menarik untuk Trading?

Tidak ada jawaban absolut. Pilihan tergantung pada setup trading, ukuran posisi, timeframe, dan kondisi pasar saat entry.

Checklist sebelum entry:

  • Apakah tren sedang mendukung (higher highs/higher lows)?
  • Apakah volume mengonfirmasi pergerakan harga?
  • Apakah volatilitas saat ini sesuai dengan toleransi risiko?
  • Bagaimana arah ETH dan BTC, sedang tren atau sideways?
  • Untuk futures: bagaimana funding rate dan open interest?

Jika kamu mengutamakan likuiditas dan eksekusi yang lebih mulus, ARB cenderung lebih menarik saat ini. Jika kamu mencari swing lebih lebar dan siap mengelola risiko likuiditas tipis, OP bisa jadi pilihan, dengan catatan menunggu konfirmasi volume dan memantau kelanjutan program buyback-nya.

Mulai Trading Kripto di Ajaib

Memahami perbandingan ARB dan OP hanyalah langkah awal. Untuk benar-benar mengeksekusi strategi trading kripto, kamu perlu platform dengan data real-time dan fitur yang lengkap.

Ajaib Kripto menyediakan berbagai fitur untuk membantu kamu memantau market dan mengeksekusi strategi: spot, futures, watchlist, price alert, data trading, coin screener, serta fitur Pro seperti take profit/stop loss dan advanced order. Download aplikasi Ajaib Kripto sekarang dan mulai trading dengan lebih percaya diri.

Profil Penulis

Salsabilla
Salsabilla

SEO Writer

Salsabilla Putri merupakan SEO Writer di Ajaib yang berfokus pada penyusunan konten edukasi investasi saham, reksa dana, kripto, serta saham AS dan keuangan secara general. Ia menghadirkan artikel informatif yang membantu pembaca memahami berbagai produk investasi dan tren pasar.

Google Play StoreApple App Store

Disclaimer: Transaksi Aset Kripto mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Informasi yang terkandung dalam tulisan ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset dan analisis internal perusahaan secara seksama dengan sumber terpercaya dan tidak dipengaruhi dari pihak manapun. Tulisan ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi. Pengambilan keputusan dalam melakukan transaksi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi Pengguna. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!