IHSG Akhirnya Rebound Setelah Sempat Turun -2,1%
Ratih Mustikoningsih•September 29, 2026

Key Takeaway:
- IHSG sesi 1 terkoreksi 0,21% ke level 6.135 setelah sebelumnya turun 2,17%.
- Investor asing mencatat net sell Rp365 miliar di seluruh pasar ekuitas pada 29 September.
- Saham batu bara mengalami profit taking setelah aturan baru terkait jasa pertambangan mulai berlaku.
- Indeks sektor energi turun 0,36% pada sesi 1.
- Proyek CA-EDC milik anak usaha TPIA mencapai progres pembangunan 80% dengan nilai investasi USD800 juta.
IHSG Sesi 1 Turun 0,21% ke Level 6.135
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada perdagangan sesi 1, Selasa (29/9/2026). IHSG turun 0,21% atau 12,86 poin ke level 6.135.
Sepanjang perdagangan sesi 1, IHSG bergerak pada level tertinggi 6.150 dan level terendah 6.013. Koreksi ini melanjutkan tekanan pada pasar saham setelah IHSG sebelumnya turun 2,17%.
| Statistik | Sesi 1, 29 September 2026 |
| IHSG | 6.135 |
| Perubahan | -0,21% |
| Perubahan Poin | -12,86 |
| High | 6.150 |
| Low | 6.013 |
| Nilai Transaksi | Rp8,10 triliun |
| Volume Transaksi | 242 juta lot |
| Frekuensi Transaksi | 1,18 juta |
Investor Asing Catat Outflow Rp365 Miliar
Tekanan pada IHSG sesi 1 juga berlangsung di tengah aksi jual investor asing. Pada 29 September 2026, investor asing mencatat net sell di seluruh pasar ekuitas sebesar Rp365 miliar.
Profit taking investor asing pada sejumlah saham blue chip masih menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan pasar.
Di sisi lain, pasar juga menghadapi tekanan dari pergerakan rupiah yang berada di level Rp18.000 per dolar AS. Harga minyak Brent turut menguat 1,63% menjadi USD107 per barel.

Saham Batu Bara Tertekan Usai Aturan Jasa Pertambangan
Saham batu bara mengalami aksi profit taking pada perdagangan sesi 1. Tekanan tersebut muncul setelah pemerintah memberlakukan aturan baru terkait keterlibatan anak perusahaan maupun afiliasi dalam usaha jasa pertambangan.
Melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 365.K/MB.01/MEM.B/2026, pemegang IUP atau IUPK dilarang melibatkan anak perusahaan maupun afiliasi dalam usaha jasa pertambangan tanpa izin Menteri ESDM. Aturan tersebut memiliki pengecualian untuk penugasan strategis tertentu dari pemerintah.
Ketentuan tersebut mulai berlaku sejak 18 September 2026.
Dampak yang tercantum dalam informasi pasar mencakup potensi pengikisan margin konsolidasi grup, peningkatan cash cost akibat kewajiban menggunakan kontraktor lokal pihak ketiga, serta tekanan terhadap efisiensi modal atau return on invested capital (ROIC).
Sejalan dengan tekanan pada sejumlah saham batu bara, indeks sektor energi turun 0,36% pada sesi 1.
Proyek CA-EDC TPIA Capai Progres Pembangunan 80%
Selain saham batu bara, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi salah satu emiten yang menjadi perhatian investor pada perdagangan sesi 1.
Pembangunan fasilitas Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik anak usaha TPIA telah mencapai progres pembangunan 80%.
Proyek tersebut memiliki nilai investasi sekitar USD800 juta atau sekitar Rp14,4 triliun dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS.
Saat ini, pembangunan fasilitas CA-EDC telah memasuki tahap pemasangan peralatan utama. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Level Teknikal TPIA
| Saham | Resistance | Support |
| TPIA | Rp1.765 | Rp1.640 |
Pantau Pergerakan Saham di Ajaib
Pergerakan IHSG, saham sektor energi, serta emiten seperti TPIA menjadi sejumlah hal yang dapat dicermati investor pada perdagangan hari ini.
Investor dapat memantau pergerakan harga saham secara real-time melalui Ajaib untuk mengikuti perubahan sentimen dan dinamika pasar sepanjang sesi perdagangan.
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Profil Penulis

Financial Expert Ajaib
Ratih Mustikoningsih merupakan Financial Expert di Ajaib yang memiliki pengalaman lebih 10 tahun di pasar modal Indonesia, khususnya dalam analisis saham dan strategi investasi. Melalui artikel dan edukasi yang ia sajikan, Ratih membantu investor memahami fundamental perusahaan, dinamika pasar, serta mengambil keputusan investasi saham yang lebih tepat.
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!