Bank DBS Bantah Merger dengan $BBCA
Maulida•October 29, 2026

Key Takeaways:
- PT Bank DBS Indonesia dan DBS Group membantah rumor merger dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang ramai beredar di media sosial.
- Saham BBCA melonjak 7,65% pada perdagangan 28 Oktober 2026, tetapi berbalik melemah 4,27% ke Rp5.050 pada perdagangan 29 Oktober 2026.
- Di tengah volatilitas sahamnya, fundamental BBCA tetap mencatatkan pertumbuhan dengan laba bersih Rp45,2 triliun hingga September 2026, naik 4,2% secara tahunan (YoY).
PT Bank DBS Indonesia membantah kabar mengenai rencana penggabungan usaha atau merger dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Isu tersebut sebelumnya ramai diperbincangkan di media sosial dan menjadi sorotan pelaku pasar, terutama setelah saham BBCA mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan Rabu (28/10/2026).
Head of Group Marketing & Communications Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menegaskan bahwa informasi mengenai rencana merger kedua bank tersebut tidak benar.
“Isu tersebut tidak benar adanya,” ujar Mona kepada CNBC Indonesia pada Kamis (29/10/2026).
Bantahan serupa juga disampaikan oleh DBS Group yang berbasis di Singapura. Juru bicara grup perbankan tersebut menepis spekulasi pasar terkait kemungkinan penggabungan Bank DBS Indonesia ke dalam BCA.
Rumor Merger DBS dan BBCA Beredar di Media Sosial
Isu merger antara DBS dan BBCA mencuat pada Rabu (28/10/2026), setelah sejumlah unggahan di media sosial X dan Threads membahas potensi aksi korporasi kedua bank.
Dalam rumor yang beredar, Bank DBS Indonesia disebut berpotensi digabungkan ke dalam BCA melalui mekanisme inbreng, yakni penyetoran modal dalam bentuk aset non-tunai.
Melalui skenario tersebut, BCA dikabarkan akan menjadi entitas yang tetap bertahan (surviving entity), sementara pemegang saham DBS Indonesia akan menerima saham baru BBCA sebagai kompensasi.
Rumor tersebut turut menjadi perhatian lantaran DBS Bank Ltd. saat ini menguasai sekitar 99% saham Bank DBS Indonesia, sementara 1% sisanya dimiliki oleh BCA.
Meski demikian, skema merger tersebut hanya merupakan spekulasi yang beredar di pasar dan bukan rencana aksi korporasi yang telah diumumkan secara resmi. Dengan adanya bantahan dari DBS, investor perlu berhati-hati dalam menyikapi informasi yang belum terverifikasi.
Isu rumor merger ini berpotensi memicu lonjakan volatilitas serta pergerakan arus modal yang signifikan pada saham BBCA di pasar sekunder. Untuk memantau akumulasi maupun distribusi saham secara real-time, Kamu dapat memanfaatkan fitur Broker Flow di Ajaib Terminal. Nikmati Broker Fee Rp 0 dengan Transaksi di Ajaib Terminal.
Saham BBCA Berbalik Melemah Setelah Sempat Melonjak 7%
Di tengah beredarnya rumor merger, saham BBCA mencatatkan kenaikan tajam sebesar 7,65% pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Penguatan tersebut melampaui kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 0,31% pada hari yang sama.
Namun, pergerakan saham BBCA berbalik arah pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Berdasarkan data Ajaib pukul 13.34 WIB, saham BBCA berada di level Rp5.050 per saham, turun 4,27% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Fluktuasi harga dalam dua hari perdagangan tersebut menunjukkan besarnya perhatian pasar terhadap informasi terkait aksi korporasi BBCA. Meski demikian, pergerakan harga saham tidak dapat dikaitkan dengan satu sentimen saja karena turut dipengaruhi aktivitas transaksi, kondisi pasar, dan ekspektasi investor.
Bagi investor yang mengikuti perkembangan ini, perubahan harga saham BBCA menjadi pengingat pentingnya memantau pergerakan pasar sekaligus mencermati informasi resmi perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.
Fundamental BBCA Tetap Tumbuh hingga Kuartal III-2026
Terlepas dari isu merger dengan DBS, BBCA masih membukukan pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Berdasarkan laporan kinerja yang diumumkan pada 27 Oktober 2026, BCA dan entitas anak mencatatkan laba bersih sebesar Rp45,2 triliun hingga September 2026, tumbuh 4,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi pembiayaan, penyaluran kredit meningkat 12,6% YoY menjadi Rp1.063 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekspansi kredit produktif, khususnya pada segmen korporasi, komersial, dan usaha kecil menengah (UKM).
Berikut ringkasan kinerja keuangan BBCA hingga September 2026:
| Indikator | Capaian 9M2026 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Laba bersih | Rp45,2 triliun | +4,2% |
| Total kredit | Rp1.063 triliun | +12,6% |
| Kredit produktif | Rp831 triliun | +17,2% |
| Dana pihak ketiga (DPK) | Rp1.301 triliun | +8,0% |
| Giro dan tabungan (CASA) | Rp1.103 triliun | +10,4% |
Sumber: Laporan Kinerja BCA, Oktober 2026.
Kualitas aset BCA juga tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 1,8% serta rasio loan at risk (LAR) di level 4,6%.
Kinerja tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi investor untuk mengevaluasi fundamental saham BBCA di tengah perubahan sentimen pasar.
Bagaimana Prospek Saham BBCA Setelah Bantahan DBS?
Bantahan DBS terhadap rumor merger membuat investor perlu kembali mencermati faktor fundamental yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham BBCA.
Pertumbuhan penyaluran kredit, peningkatan dana pihak ketiga, serta kemampuan BCA menjaga kualitas aset dapat menjadi faktor pendukung kinerja perseroan ke depan.
Di sisi lain, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan suku bunga, kondisi likuiditas perbankan, pergerakan dana investor asing, hingga valuasi saham BBCA setelah mengalami volatilitas harga yang cukup tinggi.
Mulai Trading Saham di Ajaib
Pantau pergerakan saham dan mulai trading saham potensial di Ajaib. Manfaatkan Ajaib Terminal untuk mengamati grafik harga, indikator teknikal, dan aktivitas transaksi agar keputusan trading menjadi lebih terukur.
Sumber: CNBC Indonesia
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini berdasarkan riset internal dan tidak dipengaruhi pihak mana pun. Informasi ini bukan merupakan ajakan atau paksaan untuk membeli atau menjual Efek tertentu. Harga saham dapat berubah secara real-time; berinvestasilah sesuai analisis dan keputusan pribadi.
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!