Reksa Dana

Pasar Saham Menguat, Reksa Dana Campuran Ikut Terkerek

reksa dana saham terbaik

Ajaib.co.id – Pasar modal sedang berbenah pasca ambruk dihantam pandemi Corona. Terbukti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat dan tumbuh sebesar 0,96% sampai 20Juli 2020. Salah satu yang ikut merasakan efek manisnya adalah reksa dana campuran yang kinerjanya ikut naik 0,51%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 21 Juli 2020 naik 1,26 persen ke level 5.114,71. Berdasarkan data dari berbagai sumber, benchmark obligasi pemerintah tercatat di level 7,1 persen pada 21 Juli 2020.

Tercatat kinerja reksadana berbasis saham merupakan reksa dana dengan kinerja paling baik. Pada peringkat pertama reksa dana saham menjadi reksadana dengan kinerja paling mentereng dengan pertumbuhan sebesar 0,64%. Lalu disusul oleh reksa dana campuran yang juga naik 0,51%.

Sedangkan jenis reksa dana pendapatan tetap yang catatkan pertumbuhan 0,25% berada di peringkat ketiga. Hal ini tidak terlepas dari positifnya kinerja obligasi pemerintah dan obligasi korporasi yang masing-masing tumbuh 0,30% dan 0,15%. Sementara reksa dana pasar uang berada di peringkat terakhir setelah hanya tumbuh sebesar 0,09%.

Data positif ini agaknya memberikan sinyal bahwa kondisi pasar sedang dalam tren meningkat. Rasanya sekarang adalah waktu yang tepat jika kamu ingin mulai untuk berinvestasi reksa dana. Reksa dana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor).

Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen seperti investasi obligasi, investasi saham atau instrumen pasar uang. Kamu bisa memilih jenis reksa dana yang diinginkan sesuai dengan tingkat risiko yang bisa kamu tolerir.

Orang yang memiliki profil risiko tinggi bisa membeli reksa dana saham sedangkan yang memiliki profil moderat bisa menjajal reksa dana campuran. Kemudian yang ingin berinvestasi dalam jangka pendek misalnya 1 tahun bisa mencoba reksa dana pasar uang.

Reksa dana campuran sering juga disebut sebagai hybrid funds. Reksadana campuran terdiri dari gabungan antara ekuitas (saham), surat utang (obligasi), dan pasar uang (deposito). Masing-masing alokasinya merupakan kombinasi antara efek ekuitas (saham), surat utang (obligasi), dan pasar uang (deposito) yang tidak melebihi 79 persen.

Investasi reksa dana campuran relatif lebih aman. Dengan melakukan investasi reksa dana campuran, artinya risiko investasi kita tersebar karena adanya diversifikasi ke berbagai instrumen aset. Saat satu porsi instrumen menghasilkan kerugian, porsi lain bisa saja memberikan keuntungan yang besar.

Reksa dana campuran bisa jadi pilihan bijak di tengah kondisi pasar yang serba tidak pasti seperti saat ini. Kamu bisa menyesuaikan kebijakan investasi yang kamu ambil dengan kondisi pasar terkini dan menyesuaikan komposisi reksa dana yang kamu miliki.

Kamu bisa membeli produk reksa dana campuran di aplikasi Ajaib lho. Investasimu akan dikelola oleh manajer investasi berpengalaman untuk mendapatkan hasil terbaik. Beberapa yang tersedia di Ajaib antara lain Ciptadana Saham & Obligasi Syariah, Trimegah Saham & Obligasi Syariah dan Shinhan Dana Saham & Obligasi.

Sebelum Beli Reksa Dana Campuran Pilihanmu, Cek Tren Kinerja Pasar Sebelumnya

Sepanjang bulan Juni 2020 dana kelolaan industri reksa dana mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari pertumbuhan jumlah unit penyertaan (UP) yang tercatat dan didominasi oleh reksa dana saham.

Mengacu pada pemberitaan bisnis.com, asset under management (AUM) industri reksa dana meningkat 1,68 persen, dari Rp 496,30 triliun di akhir Mei 2020 menjadi Rp 504,617 triliun di akhir Juni 2020.

Adapun peningkatan AUM tertinggi ditempati oleh reksa dana saham yaitu mencapai Rp5,79 triliun. Kemudian reksa dana pasar uang dengan kenaikan AUM 1,24 triliun dan reksa dana campuran dengan kenaikan sekitar Rp270 miliar.

Sementara reksa dana pendapatan tetap membukukan penurunan AUM sekitar Rp370 miliar atau 0,32 persen secara month on month.

Dari sisi kenaikan UP, perolehan tertinggi diraih oleh reksa dana pasar uang yang membukukan UP baru mencapai 350,39 juta unit. Disusul oleh reksa dana saham 239,80 juta unit.

Reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran kompak mengalami penurunan UP masing-masing 486,77 juta unit dan 93,30 juta unit.

Sumber: OJK

Ini Kata Analis Mengenai Data Reksa Dana Juni 2020

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana kepada bisnis.com mengatakan, kinerja industri reksa dana bulan Juni 2020 karena ditopang kinerja positif Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 3,19%.

Menurutnya, nilai aset yang ada terdongkrak oleh harga saham yang naik sepanjang periode tersebut, ditambah meningkatnya jumlah pembelian reksa dana baru oleh investor yang terlihat dari pertumbuhan UP.

“Mungkin investor sudah melihat kalau bulan Juni hampir tiap hari [IHSG] naik jadi semangat untuk invest lagi, plus aset yang sudah ada pun nilainya meningkat,” tambah Wawan.

Sementara untuk reksa dana pendapatan tetap mengalami penurunan, ia mengatakan reksa dana berbasis obligasi akan kembali tumbuh beberapa bulan setelahnya, apalagi dengan adanya potensi pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank indonesia (BI).

Selain itu, credit default swap (CDS) Indonesia periode 5 tahun masih dalam tren turun dari level tertinggi 290,82 yang terjadi pada 23 Maret 2020 menjadi 125,93 pada 10 Juli 2020. Ada pun imbal hasil atau yield yang ditawarkan obligasi negara Indonesia juga dinilai masih cukup menarik.

“Jadi asing masih bakal masuk dan akan membuat harga obligasi jadi menarik,” ungkap Wawan.

Secara umum, Wawan memproyeksikan kinerja reksa dana masih bakal bertumbuh di bulan Juli, seriing dengan IHSG yang masih menunjukkan tren penguatan, inflasi yang rendah, dan rupiah yang terus stabil.

“Tinggal sisi kesehatan sih sekarang, apakah mampu ditangani dan dari sisi bisnis apakah PSBB mampu diangkat. Jadi aktifitas bisnis bisa berjalan lagi meski terbatas, sekarang kan masih banyak stop,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan pembelian reksa dana sepanjang Juni 2020 memang tengah mengalami kenaikan. Dia mencontohkan pada periode tersebut Panin AM mencatatkan net subscription sekitar Rp80 miliar. Dengan kata lain, jumlah pembelian unit reksa dana lebih tinggi dibandingkan penjualan unit. 

Menurut Rudi, hal ini dikarenakan investor mulai bersiap masuk kembali ke reksa dana seiring rencana penerbitan produk-produk baru di paruh kedua tahun ini, terutama produk-produk reksa dana terproteksi.

“Kemarin kan banyak yang ter-pending, nah di Juni sudah mulai banyak penerbitan. Panin AM juga di awal Juli sudah terbitkan reksa dana terproteksi baru,” tuturnya kepada Bisnis, Senin (13/7/2020).

Mengacu pada data Kustodian Sentral Efek Indonesia, sepanjang Juni 2020 setidaknya ada pendaftaran untuk 30 produk reksa dana baru dengan rincian 20 reksa dana terproteksi, 5 reksa dana pasar uang, 3 reksa dana pendapatan tetap, serta masing-masing 1 reksa dana saham dan ETF.

Artikel Terkait