Investasi, Investor Pemula

Pentingnya Memahami Manajemen Risiko Investasi

Ajaib.co.id – Investasi selalu mengandung risiko tertentu, baik itu investasi saham, investasi emas, investasi properti, ataupun jenis investasi lain. Oleh karena itu, semua orang yang berkecimpung dalam dunia investasi perlu memahami manajemen risiko investasi.

Salah satu kunci dari investor sukses dalam berinvestasi ialah mampu menerapkan manajemen risiko investasi yang baik.

Pentingnya Manajemen Risiko Investasi

Manajemen risiko investasi adalah proses mengenal risiko apa saja yang terkandung dalam suatu aset investasi dan mengontrolnya dengan cara terbaik. Tujuan akhirnya agar investor dapat membedakan risiko mana yang dapat dikendalikan dan mana yang tidak dapat dikendalikan, kemudian meminimalkan potensi risiko-risiko tersebut dalam portofolio aset.

Jadi, manajemen risiko investasi setidaknya terdiri atas empat (4) langkah:

  1. Mengenal risiko apa saja yang terkandung dalam suatu aset investasi.
  2. Mencari tahu alternatif apa saja yang dapat diambil untuk mengendalikan risiko-risiko tersebut.
  3. Menyusun rencana pengendalian risiko.
  4. Menerapkan rencana kontrol risiko tersebut selama kita berinvestasi dalam aset-aset pilihan.

Gambarannya seperti jika kamu akan bepergian ke luar negeri. Kalau asal beli tiket lalu pergi begitu saja tanpa mengurus paspor, visa, asuransi, dan lain-lain, kamu pasti akan menghadapi banyak masalah di negara tujuan. Salah-salah, kamu akan dicekal karena dianggap imigran ilegal. Perjalananmu di mancanegara akan lebih lancar kalau kamu sudah menyelidiki destinasi, menyusun itinerary, serta menyiapkan semua dokumen yang diperlukan. Masalah tak terduga mungkin masih akan terjadi, tetapi probabilitas kejadiannya lebih kecil.

Ada banyak cara untuk mengontrol risiko investasi. Teknik manajemen risiko investasi paling terkenal antara lain mempelajari seluk-beluk aset sebelum berinvestasi, diversifikasi portofolio, serta dollar-cost averaging (DCA). Berikut ini penjelasan selengkapnya untuk ketiga teknik manajemen risiko investasi tersebut.

Manajemen Risiko dengan Mempelajari Ragam Investasi

Warren Buffett sang Oracle dari Omaha pernah mengatakan, “risk comes from not knowing what you’re doing” (risiko datang dari tidak mengetahui apa yang kamu lakukan) dan “never invest in a business you cannot understand” (jangan berinvestasi pada bisnis yang tidak bisa kamu pahami). Intinya, seorang investor harus selalu mempelajari investasi yang dihadapinya terlebih dahulu sebelum membuat keputusan.

Umpamanya kamu ingin berinvestasi saham, pelajarilah apa itu saham dan bagaimana cara jual-beli saham. Kamu juga perlu menganalisis emiten saham yang ingin kamu beli. Jangan sampai kelak kamu beli saham seperti “beli kucing dalam karung”.

Bagaimana kalau kamu tidak punya waktu untuk menganalisis sendiri? Ya, pilihlah investasi lain yang tidak membutuhkan analisis. Investasi yang tidak membutuhkan analisis menyita waktu antara lain obligasi dan reksa dana. Kamu cukup memahami seluk-beluk obligasi dari reksa dana secara umum saja, tanpa perlu pusing analisis fundamental maupun teknikal.

Manajemen Risiko dengan Diversifikasi Portofolio

Tahukah kamu, kandungan risiko investasi untuk setiap jenis aset itu berbeda-beda. Contohnya saham termasuk aset investasi berisiko tinggi, sedangkan obligasi termasuk aset investasi berisiko rendah. Dengan demikian, kamu dapat melakukan manajemen risiko investasi dengan mengoleksi banyak jenis aset dalam satu portofolio.

Salah satu teknik diversifikasi paling sederhana bernama strategi investasi berimbang (balanced investment strategy) melibatkan saham dan obligasi. Pertama-tama, kamu perlu membagi anggaran investasi menjadi dua. Kemudian alokasikan sebagian untuk dibelikan saham blue chip, sedangkan sebagian lagi dibelikan obligasi ritel pemerintah.

Pertumbuhan cuan dari obligasi relatif stabil dan terjamin oleh pemerintah, sehingga menjadi garansi untuk melindungi portofoliomu dari gejolak pasar. Tapi pertumbuhan cuan lebih lamban dibanding saham. Oleh karena itu, sebagian anggaran investasi perlu dibelikan saham juga demi mengejar cuan lebih besar.

Strategi investasi berimbang cocok untuk investor dengan profil risiko moderat. Investor konservatif dapat mengalokasikan persentase anggaran investasi lebih banyak untuk aset obligasi. Sedangkan investor agresif bisa menyisihkan lebih banyak anggaran untuk aset berupa saham.

Manajemen Risiko dengan Dollar-cost Averaging (DCA)

Di Indonesia, investasi ala dollar-cost averaging (DCA) juga sering disebut dengan istilah “nabung saham”. Investor berkomitmen untuk berinvestasi dalam nominal tertentu secara rutin dengan tujuan mengoleksi saham dengan harga rata-rata terbaik dalam jangka panjang.

Contohnya investor A berkomitmen untuk menyisihkan gaji sebesar Rp1.000.000 per bulan untuk nabung saham. Ia memilih untuk mengoleksi saham bank BRI (BBRI) dan Mayora (MYOR). Setiap awal bulan, ia akan menyetorkan Rp1.000.000 ke rekening dana nasabah (RDN). Kemudian ia akan membeli kedua saham tadi pada harga berapapun yang sedang berlaku pada saat itu, sebanyak lot yang sesuai dengan dana dalam RDN.

Harga saham BBRI dan MYOR akan naik-turun dari waktu ke waktu, tetapi kecenderungan jangka panjangnya terus meningkat. Investor A mungkin mendapatkan harga rendah bulan ini, harga tinggi bulan depan, atau mungkin harga turun lagi bulan berikutnya, dan seterusnya. Hasil akumulasi rata-rata harga saham dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan akan mencapai level optimal.

Strategi DCA meminimalkan risiko investasi yang bersumber dari pergolakan harga saham jangka pendek. Kedua saham ini juga terkenal rajin bagi-bagi dividen tiap tahun. Dengan demikian, investor A kelak akan memperoleh laba dalam bentuk capital gain plus dividen.

Strategi DCA memungkinkan investor untuk mengelola risiko tanpa perlu melakukan analisis pasar yang kompleks. Kunci suksesnya hanyalah memilih saham-saham perusahaan unggulan yang memiliki bisnis mapan dan prospek cemerlang.

Artikel Terkait