Ekonomi

Memahami Fenomena Hiperinflasi, Semua Harga Barang Naik!

Sumber: Unsplash

Ajaib.co.id – Pernahkah kamu mendengar tentang inflasi? Yap, secara sederhana inflasi digambarkan sebagai keadaan perekonomian suatu negara yang sedang mengalami kecenderungan kenaikan harga barang dan juga jasa. Hal ini terjadi secara terus menerus dan sangat berkaitan dengan mekanisme pasar. 

Nah, berdasarkan tingkat keparahannya inflasi dibagi menjadi empat, yakni: inflasi ringan, sedang, berat dan juga sangat berat atau hiperinflasi. 

Jika inflasi terjadi cukup ringan, maka kecenderungan kenaikan harga barang dan jasa masih bisa dikendalikan. Hal ini belum sampai mengganggu perekonomian suatu negara

Lantas, bagaimana jika inflasi yang terjadi pada suatu negara adalah inflasi yang sangat berat atau hiperinflasi? Nah, untuk memahami lebih lanjut, yuk kita simak pembahasan hiperinflasi di bawah ini:

Apa itu Hiperinflasi?

Hiperinflasi atau hyperinflation didefinisikan sebagai suatu kondisi inflasi yang tidak dapat terkendali, terjadi kenaikan harga-harga yang begitu cepat tanpa disertai kenaikan pendapatan masyarakat yang menyebabkan nilai uang yang turun drastis. 

Kondisi hyperinflation ini terjadi pada suatu negara apabila tingkat inflasi mencapai 50% sampai 100% dalam sebulan.  Dalam kondisi hiperinflasi, pelaporan tingkat inflasi dilakukan dalam interval yang lebih pendek lho yaitu setiap bulan, sedangkan dalam keadaan normal inflasi dilaporkan setiap tahun saja

Untuk mengatasi keadaan hyperinflation, pihak yang memegang otoritas akan melakukan pemantauan sekaligus menelaah berbagai faktor ekonomi agar mampu menentukan kebijakan ekonomi.

Dampak negatif hiperinflasi pada mata uang menyebabkan nilai mata uang suatu negara yang mengalami kondisi hiperinflasi menjadi turun atau bahkan bisa menjadi tidak berharga sama sekali.

Faktor – Faktor yang Menyebabkan Hiperinflasi

Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab hiperinflasi, diantaranya:

Keadaan Perang

Sebuah negara yang sedang berada dalam kondisi perang, keadaan perekonomiannya pasti berjalan dengan tidak stabil. Berbagai faktor ekonomi yang seharusnya dapat digunakan untuk meningkatkan perkembangan negaranya sudah tidak bisa lagi dimanfaatkan dengan optimal.

Kondisi perang juga memakan banyak dana seperti halnya pendanaan untuk pengadaan senjata atau peralatan perang. Pendapatan nasional juga dipastikan mengalami penurunan akibat tingkat produktivitas yang juga menurun pada sektor riil. Ini disebabkan oleh fokus pemerintah yang terpusat kepada kondisi perang. 

Kondisi Sosial Politik yang Memanas

Salah satu yang dapat menjadi akar permasalahan hyperinflation adalah kondisi sosial politik dalam suatu negara. Mengapa yah? 

Nah, konflik internal mungkin terjadi pada sebuah negara. Konflik ini memiliki potensi yang cukup besar untuk menyebabkan kerusuhan dan kondisi sosial politik yang memanas.  

Hal ini tentunya akan berdampak pada ketidakstabilan ekonomi negara. Konflik yang diikuti dengan kerusuhan selalu beriringan dengan perusakan berbagai fasilitas umum dan juga infrastruktur. 

Keadaan ini tidak akan sampai menyebabkan hyperinflation jika berlangsung dalam waktu yang singkat. 

Namun sebaliknya, jika kondisi ini bertahan lama, hal ini akan menyebabkan laju perekonomian akan terhambat karena banyak pihak yang tidak dapat memaksimalkan kegiatan ekonomi seperti tingkat produksi yang menurun, hal ini juga berdampak besar terhadap penurunan pendapatan nasional. 

Depresi Ekonomi

Pertumbuhan jumlah uang yang beredar dan cenderung berlebihan terkadang tidak sesuai dengan pertumbuhan barang dan jasa menjadi penyebab tingkat inflasi yang tinggi. 

Mengalami hiperinflasi bukan berarti negara tersebut tidak lagi mampu mengatasi dengan berbagai kebijakan moneter, namun bisa juga karena negara sedang mencetak uang sebagai salah satu cara untuk membiayai pengeluaran mereka.

Hiperinflasi mulai terjadi apabila pemerintah mulai mencetak uang untuk membayar biayanya. Defisit anggaran pemerintah yang diatasi dengan mencetak uang yang lebih banyak akan menimbulkan malapetaka ekonomi. 

Dengan mencetak uang, sama artinya pemerintah yang sedang menarik pajak inflasi dari rakyatnya. Harga akan meningkat ketika jumlah uang yang beredar mengalami kenaikan. Maka, peningkatan jumlah uang yang beredar ini menjadi penyebab yang paling utama.

Jumlah uang beredar menyebabkan penurunan nilai mata uang. Pada kondisi ini, banyak masyarakat yang memiliki uang namun daya beli mengalami penurunan karena nilai uang yang dimiliki sudah tidak lagi sesuai dengan tingkat harga komoditas pada negara tersebut. 

Negara – Negara yang Mengalami Hiperinflasi

Banyak negara-negara di dunia pernah mengalami hiperinflasi, lho. Berikut ini adalah beberapa contoh negara yang mengalami inflasi sangat tinggi, yaitu:

  • Zimbabwe

Hiperinflasi pernah dialami oleh negara Zimbabwe pada tahun 2000-an. Hal ini disebabkan oleh sektor produksi pertanian yang menurun drastis dan menyebabkan harga bahan pangan meningkat. 

Selain itu konflik dengan negara Kongo juga menjadi salah satu penyebabnya. Tingkat inflasi negara ini mencapai titik 115 persen dan tertinggi hingga mencapai 79 miliar persen di tahun 2008, lho.

  • Jerman

Hiperinflasi Jerman adalah contoh hiperinflasi paling terkenal. Hal ini terjadi karena pemerintah melakukan pencetakan uang untuk membayar biaya perang Perang Dunia I dan juga menerbitkan obligasi pemerintah. Tingkat inflasi negara ini pernah mencapai 29.500%, lho.

  • Venezuela

Negara ini merupakan salah satu contoh yang mengalami hiperinflasi paling baru. Kenaikan harga yang tinggi pada tahun 2016 sebesar 221% menyebabkan harga yang berlipat ganda setiap 17,8 hari. Tahun 2017, pemerintah meningkatkan jumlah uang beredar sebanyak 14 kali. 

Harga minyak yang anjlok juga menyebabkan pendapatan perusahan minyak milik pemerintah menjadi turun. Sehingga pemerintah membuat kebijakan mencetak uang lebih banyak yaitu uang kertas 500, 1.000, 2.000, 10.000 dan 20.000 bolivar. 

  • Indonesia

Untuk kamu ketahui, Indonesia juga pernah mengalami hiperinflasi, lho. Momen ini terjadi pada masa akhir orde lama di tahun 1963 – 1965. Presiden Soekarno memberikan kebijakan mencetak uang untuk mendanai proyek pembangunan. 

Tingkat inflasi pada saat tersebut mencapai 600% disertai dengan pendapatan per kapita yang mengalami penurunan signifikan. 

Nah, kasus inflasi akan menyebabkan dampak buruk pada ekonomi negara dan juga menyebabkan penderitaan yang dialami oleh masyarakat. 

Nah, untuk bisa melakukan antisipasi dampak inflasi, sebaiknya kita melakukan diversifikasi investasi seperti menyimpan aset riil yang memiliki nilai intrinsik yang besar contohnya deposito, properti, emas dan lain sebagainya. 

Karena jika hiperinflasi terjadi, nilai mata uang kita akan menurun sangat drastis. Namun, jika kamu sudah memiliki aset riil dan ingin melakukan investasi di pasar modal seperti saham ataupun reksa dana, kini kamu bisa berinvestasi lebih mudah dan aman di aplikasi Ajaib.

Aplikasi investasi yang telah terdaftar di OJK dan mudah untuk diakses dimana saja. Yuk, download Ajaib sekarang dan mulai berinvestasi. Tunggu apalagi?

Artikel Terkait