Saham Syariah vs Konvensional: Mana yang Lebih Cocok untuk Investasi Jangka Panjang?
Sarifa•July 20, 2026

Ringkasan
- Saham syariah melalui proses screening ketat oleh OJK emiten harus bebas dari kegiatan usaha yang dilarang dan memenuhi rasio keuangan tertentu, sementara saham konvensional tidak memiliki penyaringan tersebut.
- Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan salah satu jenis saham selalu memberikan return lebih tinggi performa lebih ditentukan oleh kualitas emiten, valuasi, dan kondisi ekonomi.
- Pilihan terbaik bergantung pada tujuan investasi, profil risiko, dan preferensi pribadi bukan sekadar label syariah atau konvensional.
Memilih Saham Syariah atau Konvensional untuk Investasi Jangka Panjang
Akhir-akhir ini, semakin banyak investor Indonesia mulai melirik saham syariah sebagai alternatif selain saham konvensional. Bukan hanya karena faktor kepatuhan terhadap prinsip agama, tapi juga karena pertimbangan kualitas emiten dan pengelolaan risiko yang lebih terukur.
Tapi pertanyaannya: mana yang lebih cocok untuk investasi jangka panjang?
Keduanya memiliki karakteristik, peluang, dan keterbatasan yang berbeda. Pilihan terbaik tidak bisa disamaratakan semuanya bergantung pada tujuan investasi, profil risiko, serta strategi masing-masing investor. Artikel ini akan membantu kamu memahami perbedaan tersebut secara objektif, sehingga kamu bisa menentukan pilihan yang paling sesuai.
Mengapa Perbedaan Saham Syariah dan Konvensional Penting Dipahami Sebelum Berinvestasi?
Memahami perbedaan saham syariah dan konvensional, keduanya bukan sekadar mengetahui label “syariah” atau tidak. Ini berkaitan dengan ruang lingkup investasi, proses seleksi emiten, tingkat diversifikasi, serta strategi membangun portofolio jangka panjang.
Pemahaman ini membantu kamu menghindari kesalahan memilih instrumen yang tidak sesuai dengan tujuan keuangan maupun preferensi investasi. Jangan sampai kamu memilih saham syariah hanya karena tren, atau memilih saham konvensional hanya karena ingin coba-coba tanpa memahami konsekuensinya terhadap portofolio kamu.
Perbandingan Saham Syariah dan Saham Konvensional dalam Satu Tabel
Sebelum masuk ke pembahasan lebih detail, simak dulu perbandingan keduanya dalam tabel berikut:
Perbedaan Utama Saham Syariah dan Konvensional yang Perlu Dipahami Investor
1. Proses Seleksi Emiten dan Kriteria yang Harus Dipenuhi
Ini adalah perbedaan paling mendasar. Saham syariah harus melalui proses screening oleh OJK sebelum masuk ke dalam Daftar Efek Syariah (DES).
- Kegiatan usaha: Emiten tidak boleh terlibat dalam perjudian, jasa keuangan berbasis bunga (riba), jual beli risiko (gharar), serta produksi atau distribusi barang/jasa yang haram atau merusak moral.
- Rasio keuangan: Total utang berbasis bunga dibanding total aset tidak boleh melebihi 45% (akan turun bertahap ke 33% dalam 10 tahun); total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibanding total pendapatan tidak boleh melebihi 5%.
Saham konvensional tidak memiliki proses penyaringan seperti ini. Selama memenuhi aturan pasar modal umum, saham bisa diperdagangkan secara bebas.
2. Pilihan Sektor dan Peluang Diversifikasi Portofolio
Karena proses screening, saham syariah otomatis tidak mencakup sektor-sektor tertentu — seperti perbankan konvensional, perusahaan alkohol, atau industri perjudian. Ini membatasi pilihan sektor yang tersedia.
Akibatnya, potensi diversifikasi saham syariah lebih sempit dibanding saham konvensional yang bisa menjangkau seluruh sektor ekonomi. Jika kamu ingin portofolio yang tersebar luas di berbagai industri, saham konvensional memberikan fleksibilitas lebih besar.
3. Potensi Imbal Hasil dan Risiko dalam Investasi Jangka Panjang
Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan salah satu selalu menghasilkan return lebih tinggi. Performa saham lebih dipengaruhi oleh:
- Kualitas fundamental emiten
- Valuasi saat membeli
- Kondisi ekonomi makro
- Strategi investasi yang diterapkan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa secara statistik, tidak ada perbedaan signifikan antara kinerja reksa dana saham syariah dan konvensional.
Namun, saham syariah cenderung memiliki volatilitas yang lebih rendah karena screening membatasi utang dan aktivitas spekulatif. Ini bisa menjadi nilai tambah bagi investor yang mengutamakan stabilitas jangka panjang.
Di sisi lain, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) pada 2025 mencatatkan pertumbuhan 22,81% year-to-date, melampaui IHSG yang hanya naik 9,32% di periode yang sama. Tapi ingat performa masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.
4. Likuiditas Saham dan Kemudahan Bertransaksi
Likuiditas saham baik syariah maupun konvensional dipengaruhi oleh ukuran emiten, kapitalisasi pasar, dan aktivitas perdagangan.
Ada saham syariah dengan likuiditas sangat tinggi, seperti yang masuk dalam Jakarta Islamic Index (JII) 30 indeks 30 saham syariah paling likuid. Ada juga saham syariah dengan likuiditas rendah. Begitu pula dengan saham konvensional.
Jangan menyamaratakan seluruh saham syariah atau seluruh saham konvensional dalam hal likuiditas. Cek rata-rata volume transaksi harian sebelum membeli.
5. Tata Kelola dan Proses Pengawasan Emiten
Saham syariah melalui evaluasi berkala oleh OJK setiap Mei dan November, DES diperbarui. Jika emiten tidak lagi memenuhi kriteria, sahamnya akan dikeluarkan dari DES.
Saham konvensional mengikuti regulasi pasar modal secara umum tanpa proses screening ulang berbasis syariah. Proses evaluasi berkala ini menjadi salah satu pertimbangan bagi investor yang menginginkan transparansi dan kepastian tambahan dalam portofolionya.
Mana yang Lebih Cocok untuk Investasi Jangka Panjang? Sesuaikan dengan Tujuan Investasimu
Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua investor. Keputusan harus berdasarkan:
1. Jika Mengutamakan Kepatuhan terhadap Prinsip Syariah
Saham syariah adalah pilihan yang wajib jika kamu ingin memastikan seluruh investasi kamu tidak melanggar prinsip syariah. Dengan memilih saham dari DES, kamu sudah memiliki kepastian bahwa emiten telah melalui screening ketat oleh OJK dan DSN-MUI.
2. Jika Mengutamakan Pilihan Emiten yang Lebih Luas
Jika prioritas utama kamu adalah fleksibilitas dan akses ke seluruh sektor ekonomi termasuk perbankan, properti, atau industri lain yang mungkin tidak lolos screening syariah maka saham konvensional memberi kamu ruang gerak lebih besar.
3. Jika Fokus pada Diversifikasi Portofolio Jangka Panjang
Kamu tidak harus memilih salah satu secara eksklusif. Kombinasi saham syariah dan konvensional bisa menjadi strategi yang tepat selama kamu memperhatikan profil risiko dan alokasi aset.
Yang juga penting: evaluasi portofolio secara berkala. Baik saham syariah maupun konvensional, kondisi emiten bisa berubah. Lakukan review minimal setiap 6 bulan untuk memastikan portofolio kamu masih sesuai dengan tujuan investasi.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Memilih Saham Syariah maupun Konvensional
Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
- Menganggap saham syariah pasti lebih aman — Screening memang membatasi utang dan aktivitas spekulatif, tapi saham syariah tetap bisa turun drastis jika fundamental emiten memburuk.
- Menganggap saham konvensional pasti memberikan return lebih tinggi — Tidak ada jaminan. Banyak saham konvensional berkinerja buruk, dan banyak saham syariah berkinerja baik.
- Memilih hanya berdasarkan tren — Jangan ikut-ikutan membeli saham syariah hanya karena sedang populer, tanpa memahami emitennya.
- Mengabaikan fundamental perusahaan — Label syariah atau konvensional tidak menggantikan analisis fundamental. Cek laporan keuangan, pertumbuhan laba, dan prospek bisnis.
- Tidak memperhatikan valuasi — Membeli saham apapun jenisnya di harga yang terlalu mahal tetap berisiko.
- Tidak memiliki target investasi yang jelas — Tanpa tujuan yang jelas, kamu akan kesulitan menentukan strategi dan mengukur keberhasilan.
Mulai Bangun Portofolio Investasi Saham Sesuai Strategimu di Ajaib
Baik saham syariah maupun konvensional memiliki peluang masing-masing — selama kamu memilihnya berdasarkan analisis yang tepat, bukan sekadar tren atau label.
Lewat aplikasi Ajaib, kamu bisa menemukan berbagai pilihan saham syariah dan konvensional, memantau pergerakan pasar, serta mulai investasi saham di Ajaib dengan lebih praktis.
Mulai bangun portofolio jangka panjang yang sesuai dengan tujuan dan preferensimu unduh Ajaib sekarang di Play Store dan App Store!
Disclaimer: Konten ini bersifat edukasi dan informasi, bukan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Investasi saham memiliki risiko tinggi. Pastikan lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan keuangan.
FAQ
1. Apakah saya bisa membeli saham konvensional jika saya punya rekening efek syariah?
Tidak. Rekening efek syariah hanya bisa digunakan untuk transaksi saham yang masuk dalam Daftar Efek Syariah (DES). Jika kamu ingin membeli saham konvensional, kamu perlu membuka rekening efek konvensional.
2. Apakah saham syariah selalu membagikan dividen?
Tidak semua. Pembagian dividen tergantung kebijakan masing-masing emiten, bukan karena status syariahnya. Yang membedakan, dividen saham syariah harus berasal dari sumber yang halal.
3. Bagaimana cara mengecek apakah suatu saham termasuk syariah atau tidak?
Kamu bisa cek Daftar Efek Syariah (DES) terbaru yang diterbitkan OJK secara periodik setiap Mei dan November, atau melalui fitur di aplikasi trading seperti Ajaib yang sudah memisahkan saham syariah dan konvensional.
4. Apakah indeks saham syariah selalu naik lebih tinggi dari IHSG?
Tidak selalu. Pada 2025, ISSI memang tumbuh 22,81% mengalahkan IHSG yang naik 9,32%. Tapi di tahun-tahun lain, performanya bisa berbeda. Tidak ada jaminan konsistensi.
5. Bolehkah saya mencampur saham syariah dan konvensional dalam satu portofolio?
Boleh. Selama kamu menggunakan rekening efek konvensional, kamu bisa membeli keduanya. Pastikan proporsi sesuai dengan profil risiko dan tujuan investasi kamu.
6. Apakah saham syariah lebih tahan terhadap krisis?
Beberapa penelitian menunjukkan saham syariah cenderung lebih stabil karena screening membatasi utang dan aktivitas spekulatif. Namun, tetap ada risiko dan tidak ada jaminan keamanan mutlak.
Artikel Terkait



Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!

