Saham JELI dan JECX Langsung ARA di Hari Pertama Listing! Antrean Beli Tembus 8 Juta Lot
Salsabilla•July 7, 2026

Key Takeaways
- JELI dan JECX sama-sama langsung menyentuh Auto Reject Atas (ARA) pada hari pertama perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
- Antrean beli kedua saham mencapai lebih dari 8 juta lot, menujukkan tingginya minat investor terhadap kedua emiten baru tersebut.
- Setelah saham IPO resmi diperdagangkan, trader sebaiknya tidak hanya berfokus pada harga, tetapi juga memperhatikan aktivitas broker untuk mengidentifikasi momentum entry maupun take profit.
JELI dan JECX Langsung ARA, Antrean Beli Tembus Lebih dari 8 Juta Lot
Dua emiten baru, PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), sukses mencuri perhatian pasar pada hari pertama perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (7/7/2026). Keduanya langsung menyentuh Auto Reject Atas (ARA) sejak awal perdagangan dengan antrean beli yang mencapai jutaan lot, menunjukkan tingginya antusiasme investor terhadap penawaran umum perdana saham (IPO) kedua perusahaan.
Berdasarkan data perdagangan, saham JELI atau naik 25% di level Rp1.125 dari harga IPO Rp900 per saham dengan antrean beli sekitar 2,77 juta lot. Sementara itu, saham JECX juga langsung menyentuh ARA di level Rp1.560, naik 24,8% dari harga IPO Rp1.250 per saham, dengan antrean beli mencapai sekitar 5,39 juta lot. Secara total, antrean beli kedua saham tersebut telah menembus lebih dari 8 juta lot pada hari pertama perdagangan.
Ringkasan Performa JELI dan JECX pada Hari Pertama Listing
| Emiten | Harga IPO | Harga Hari Pertama | Kenaikan | Status | Antrean Beli |
|---|---|---|---|---|---|
| JELI | Rp900 | Rp1.125 | +25,00% | ARA | 2.772.502 lot |
| JECX | Rp1.250 | Rp1.560 | +24,80% | ARA | 5.391.854 lot |
Antrean beli yang besar tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap kedua saham masih jauh lebih tinggi dibandingkan pasokan yang tersedia di pasar reguler. Kondisi ini juga membuat investor yang tidak memperoleh alokasi saat IPO harus bersaing di pasar sekunder untuk mendapatkan saham, sehingga harga langsung bergerak ke batas atas auto reject.
Fenomena saham IPO yang langsung menyentuh ARA memang bukan hal baru di pasar modal. Namun, tingginya antusiasme pada hari pertama perdagangan bukan berarti tren kenaikan akan berlangsung tanpa jeda. Setelah saham resmi diperdagangkan, perhatian pelaku pasar biasanya mulai bergeser dari sekadar melihat kenaikan harga menjadi menganalisis fundamental emiten, prospek bisnis, hingga aktivitas transaksi yang terjadi di pasar.
Apa yang Membuat IPO JELI dan JECX Disambut Positif Pasar?
Keberhasilan JELI dan JECX mencatatkan Auto Reject Atas (ARA) pada hari pertama perdagangan tidak terlepas dari tingginya minat investor sejak masa penawaran umum perdana saham (IPO). Selain didukung sentimen positif terhadap emiten baru, kedua perusahaan juga memiliki karakteristik bisnis yang relatif dikenal pasar serta prospek pertumbuhan yang masih menarik untuk dicermati.
Meski sama-sama mencatatkan debut yang impresif, JELI dan JECX memiliki daya tarik yang berbeda. JELI memperoleh perhatian besar berkat merek INACO yang telah dikenal luas serta tingginya minat investor selama masa IPO. Sementara itu, JECX menjadi sorotan karena bergerak di sektor layanan kesehatan mata yang memiliki rekam jejak operasional lebih dari empat dekade dan terus menunjukkan pertumbuhan bisnis.
JELI Didukung Tingginya Minat Investor dan Rencana Ekspansi Bisnis
PT Niramas Utama Tbk (JELI) menawarkan sebanyak 266 juta saham baru atau setara 21,01% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga Rp900 per saham. Dari aksi korporasi tersebut, perseroan berhasil menghimpun dana sekitar Rp239,4 miliar sebelum dikurangi biaya emisi.
Antusiasme investor terhadap IPO JELI terlihat dari tingkat oversubscribe sebesar 273,37 kali pada porsi pooling dengan partisipasi lebih dari 630 ribu pemesan. Tingginya permintaan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung saham JELI langsung menyentuh ARA pada hari pertama perdagangan.
Sebagian besar dana IPO akan digunakan untuk memperkuat ekspansi bisnis. Sekitar 56,70% dialokasikan sebagai tambahan modal kepada anak usaha PT NPS untuk meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan jelly, yang diharapkan menjadi salah satu motor pertumbuhan baru perseroan. Selain itu, dana IPO juga akan digunakan untuk pembelian mesin produksi, peningkatan kapasitas gudang, pembayaran sebagian utang jangka pendek, serta modal kerja.
Dari sisi fundamental, JELI juga menunjukkan perbaikan profitabilitas. Pada tahun buku 2025, perseroan membukukan penjualan sebesar Rp753,05 miliar. Meskipun pendapatan mengalami penyesuaian dibandingkan tahun sebelumnya, laba perusahaan justru meningkat berkat efisiensi operasional, optimalisasi biaya bahan baku, serta pengembangan produk dengan margin yang lebih tinggi. Selama lebih dari tiga dekade, perusahaan juga terus memperluas pasar ekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan Singapura.
JECX Tawarkan Prospek Pertumbuhan dari Sektor Healthcare
Sementara itu, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) hadir sebagai emiten baru dari sektor healthcare melalui jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics, salah satu penyedia layanan kesehatan mata terbesar di Indonesia yang telah beroperasi selama lebih dari 40 tahun.
Dalam IPO, JECX menawarkan sekitar 487,98 juta saham atau setara 15% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum. Dana yang diperoleh akan digunakan untuk melunasi sebagian pinjaman bank, memperkuat modal kerja anak usaha, memenuhi kebutuhan modal kerja operasional, serta mendukung ekspansi jaringan layanan kesehatan mata.
Hingga saat ini, JECX telah mengoperasikan 5 rumah sakit khusus mata dan 11 klinik mata yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Kinerja keuangan JECX juga menunjukkan pertumbuhan yang positif menjelang IPO. Sepanjang 2025, perseroan membukukan pendapatan Rp926,8 miliar, meningkat sekitar 4,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih naik 16% menjadi Rp72,5 miliar, didorong oleh pertumbuhan layanan spesialis, tindakan refraktif dan vitreoretina, layanan injeksi intravitreal, serta kontribusi bisnis optik.
Kombinasi prospek bisnis, pertumbuhan kinerja, dan rencana ekspansi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa JECX mendapat respons positif dari pasar pada hari pertama perdagangan.
Apa Strategi Trader Setelah Listing?
Setelah hari pertama perdagangan berakhir, fokus analisis sebaiknya tidak lagi hanya tertuju pada kenaikan harga. Melainkan apakah momentum tersebut masih memiliki peluang berlanjut atau justru mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Bagi trader yang menerapkan strategi swing trading, momentum setelah listing justru menjadi periode yang menarik untuk dicermati. Alih-alih mengejar saham yang sudah bergerak tinggi karena fear of missing out (FOMO), trader dapat menunggu konfirmasi apakah tren kenaikan masih didukung oleh permintaan yang kuat maupun aktivitas pelaku pasar.
Sebelum memutuskan untuk masuk ke saham IPO seperti JELI maupun JECX, ada beberapa aspek yang dapat diperhatikan, di antaranya:
- Pergerakan harga, apakah masih mampu mempertahankan tren kenaikan atau mulai kehilangan momentum.
- Volume transaksi, untuk melihat apakah kenaikan harga masih didukung oleh aktivitas perdagangan yang kuat.
- Aktivitas broker, guna mengetahui apakah masih terjadi akumulasi atau mulai muncul distribusi.
- Area support dan resistance, sebagai acuan dalam menentukan level entry maupun target take profit.
Dengan memperhatikan beberapa faktor tersebut, keputusan trading menjadi lebih terukur dibandingkan hanya mengikuti euforia pada hari pertama perdagangan.
Manfaatkan Ajaib Terminal untuk Membaca Momentum Saham IPO
Selain mengamati pergerakan harga, trader juga perlu memahami siapa yang sedang mendominasi transaksi di pasar. Setelah saham IPO resmi diperdagangkan, aktivitas broker sering kali memberikan gambaran tambahan mengenai kekuatan momentum yang tidak selalu terlihat dari grafik harga.
Melalui Ajaib Terminal, kamu dapat memanfaatkan fitur Broker Summary untuk melihat broker mana yang paling aktif melakukan pembelian maupun penjualan suatu saham. Sementara itu, fitur Broker Distribution membantu melihat bagaimana aliran transaksi antarbroker sehingga trader dapat mengidentifikasi apakah broker yang sebelumnya aktif mengakumulasi saham masih mempertahankan posisinya atau justru mulai melakukan distribusi.
Meski demikian, data broker sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Tetap kombinasikan dengan analisis teknikal, seperti price action, volume transaksi, serta level support dan resistance agar strategi trading menjadi lebih terukur. Mulai trading saham dan download aplikasi Ajaib di Play Store & App Store sekarang!
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko. Pastikan Anda melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
Sumber: CNBC Indonesia, Bisnis, Kontan, Ajaib Research
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!