Ajaib
Menu

Saham

INET Akuisisi SGI Senilai Rp280,4 Miliar, 6,7% di Atas Nilai Wajar

Afif Alfaris•September 29, 2026

Premi 6,7% di Atas Nilai Wajar, Bagaimana INET Menilai SGI Senilai Rp280,4 Miliar

Key Takeaways

  • INET menyetor Rp280,4 miliar untuk 180.000 saham baru SGI, atau Rp1.557.799 per saham, sehingga preminya 6,70% di atas nilai wajar KJPP Rp1.459.957 per saham, masih dalam batas kewajaran ±7,5%.
  • Nilai wajar Rp175,2 miliar sudah dipotong diskon likuiditas (DLOM) 30%. Tanpa potongan itu, nilai SGI sekitar Rp2,09 juta per saham, dan harga transaksi justru 25% lebih rendah.
  • Akuisisi dibiayai fasilitas kredit Bank JTrust sebesar Rp350 miliar, bukan dana rights issue.
  • Laporan keuangan SGI 2025 beropini wajar dengan pengecualian, dan proyeksi manajemen memperkirakan laba tingkat induk menurun sampai 2030.

Membaca Angka di Balik Akuisisi INET atas SGI

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) resmi menguasai 60% saham PT Sarana Global Indonesia (SGI), emiten tertutup di bidang kabel bawah laut, dengan nilai Rp280,4 miliar. Angka yang paling banyak disorot pasar adalah premi 6,7% di atas nilai wajar hasil penilaian Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP).

Namun premi itu tidak bisa langsung dibaca sebagai mahal atau murah, karena besarnya bergantung pada skema transaksi, lapisan metode penilaian, dan satu asumsi diskon yang cukup besar. Memahami ketiganya membantu trader memisahkan narasi akuisisi dari dampak nyatanya terhadap kinerja INET.

Anatomi Transaksi, dari Setoran Modal hingga Sumber Dana

Sebelum menilai mahal atau murahnya harga, bentuk transaksinya perlu dilihat lebih dulu, karena skema primary shares mengubah cara premi dibaca.

Tabel 1. Ringkasan transaksi akuisisi SGI oleh INET

KeteranganData
Saham baru SGI yang diambil INET180.000 lembar (60%)
Harga per sahamRp1.557.799
Nilai transaksiRp280.403.820.000
Sumber danaFasilitas kredit Bank JTrust Rp350 miliar
Status (April 2026)Transaksi material, 65,33% ekuitas INET per 31 Desember 2025
Status (September 2026)7,35% ekuitas INET per 30 Juni 2026
Afiliasi atau benturan kepentinganTidak ada

Sumber: Keterbukaan Informasi INET 10 April 2026, Laporan Pendapat Kewajaran KJPP Iwan Bachron & Rekan 12 Mei 2026, dan pemberitaan 17 September 2026.

INET tidak membeli saham dari pemegang saham lama. INET menyetor modal untuk 180.000 saham baru bernilai nominal Rp100.000 per saham, sehingga modal disetor SGI naik dari Rp12 miliar menjadi Rp30 miliar dan sisanya dicatat sebagai agio. Transaksi ini rampung pada 15 September 2026.

Konsekuensinya, uang Rp280,4 miliar masuk ke kas SGI, bukan ke penjual, sementara pemilik lama terdilusi dari 100% menjadi 40% dan tetap bertahan sebagai pemegang saham minoritas.

Dananya berasal dari fasilitas kredit PT Bank JTrust Indonesia Tbk sebesar Rp350 miliar dengan bunga giro 0% ditambah spread 0,5% per tahun, sehingga dana rights issue Rp3,2 triliun tetap utuh untuk GPI (FTTH), pelunasan IRU, dan modal kerja.

Pada April 2026, transaksi ini setara 65,33% ekuitas INET sehingga wajib disetujui RUPS pada 19 Mei 2026. Setelah rights issue Januari 2026 mengangkat ekuitas INET menjadi sekitar Rp3,81 triliun, porsinya tinggal 7,35%. SGI juga menjadi akuisisi ketiga INET tahun ini, sehingga lonjakan kinerja INET ke depan banyak dipengaruhi konsolidasi, bukan semata pertumbuhan organik.

Membedah Nilai Wajar KJPP dan Premi 6,7%

Angka Rp175,2 miliar lahir dari beberapa lapis perhitungan, dan setiap lapis ikut menentukan seberapa besar premi yang terlihat.

Dari Rp479 Miliar Menjadi Rp175,2 Miliar

KJPP menilai SGI dengan metode sum of the parts. Entitas induk dinilai dengan discounted cash flow (DCF) berbobot 90% dan pembanding perusahaan tercatat (GPTC) berbobot 10%, menghasilkan Rp479,1 miliar. Anak usaha pemilik kapal, JNM, justru bernilai negatif Rp231,1 miliar karena utangnya kepada pihak berelasi mencapai Rp502,6 miliar.

Tabel 2. Jembatan valuasi SGI per 31 Desember 2025

KomponenNilai
Nilai DCF entitas indukRp493,8 miliar
Nilai GPTC entitas induk (termasuk premi kendali 50%)Rp346,6 miliar
Nilai tertimbang induk (90:10)Rp479,1 miliar
Nilai JNM, 99% (penyesuaian aset bersih)(Rp228,8 miliar)
Nilai 100% sebelum DLOMRp250,3 miliar
DLOM 30%(Rp75,1 miliar)
Nilai pasar 100% SGIRp175,2 miliar (Rp1.459.957 per saham)

Sumber: Laporan Penilaian 100% Saham SGI No. 00069/2.0047-05/BS/06/0465/1/IV/2026, KJPP Iwan Bachron & Rekan.

Gabungan keduanya Rp250,3 miliar, lalu dipotong discount for lack of marketability (DLOM) 30% karena saham SGI tidak diperdagangkan di bursa. DCF memakai WACC 11,19% dan pertumbuhan jangka panjang 2,61%, dengan sekitar 70,6% nilai induk berasal dari terminal value, sehingga valuasinya sangat bergantung pada asumsi jangka panjang.

Tiga Cara Membaca Premi

Premi yang sama bisa menghasilkan kesimpulan berbeda. Berikut tiga cara membacanya.

  • Premi per saham di atas kertas
    Selisih harga transaksi dan nilai wajar sebesar Rp97.842 per saham, setara sekitar Rp17,6 miliar untuk 180.000 saham. Penilai menyatakan transaksi wajar karena masih di dalam batas ±7,5%, dengan harga maksimal yang masih diterima sekitar Rp1.569.454 per saham.
  • Premi ekonomis setelah dana kembali ke SGI
    Karena setoran masuk ke kas SGI, nilai SGI setelah suntikan dana menjadi Rp455,6 miliar dan porsi INET bernilai Rp273,4 miliar. Nilai yang secara efektif berpindah ke pemegang saham minoritas hanya sekitar Rp7 miliar atau 2,5% dari nilai transaksi.
  • Sensitivitas terhadap DLOM
    Tanpa potongan 30%, nilai SGI sekitar Rp2,09 juta per saham, sehingga harga transaksi justru 25% di bawahnya. Kesan mahal atau murah pada transaksi ini sangat bergantung pada asumsi diskon likuiditas.

Tabel 3. Multiple implisit SGI

UkuranNilai wajar KJPPHarga transaksi
Valuasi sebelum suntikan dana (pre-money)Rp175,2 miliarRp186,9 miliar
PER (laba 2025 Rp44,04 miliar)3,98 kali4,24 kali
PBV (ekuitas 2025 Rp150,2 miliar)1,17 kali1,24 kali
Valuasi setelah suntikan dana (post-money)Rp455,6 miliarRp467,3 miliar

Perhitungan Ajaib berdasarkan keterbukaan informasi dan laporan keuangan audit SGI 2025 (konsolidasian). Rasio adalah angka turunan, bukan angka yang diungkapkan perusahaan.

PER 4 Kali Belum Tentu Murah

PER sekitar 4 kali baru bermakna bila laba SGI bisa dipertahankan. Pendapatan induknya naik turun tajam, dari Rp517,5 miliar (2022) ke Rp120,3 miliar (2024) lalu Rp291,1 miliar (2025), pola lazim kontraktor EPC berbasis proyek. Laba konsolidasi 2025 sebesar Rp44,04 miliar pun baru berbalik dari rugi Rp19,73 miliar setahun sebelumnya.

Proyeksi manajemen justru memperkirakan laba bersih induk turun dari Rp68,6 miliar (2026) menjadi Rp20,3 miliar (2030) karena depresiasi belanja modal kapal Rp274 miliar. Sinergi yang dikejar adalah integrasi vertikal kabel laut lewat dua kapal SGI, tetapi opini audit wajar dengan pengecualian dan rasio liabilitas terhadap ekuitas sekitar 1,8 kali tetap menjadi catatan risiko.

Respons Harga INET dan Hal yang Perlu Diperhatikan Trader

Pasar sudah bereaksi, tetapi belum tentu didukung partisipasi yang cukup untuk dianggap sinyal.

Tabel 5. Pergerakan INET di sekitar pengumuman

TanggalPenutupanPerubahanVolume
15 September 2026Rp322-3,01%214,2 juta
16 September 2026 (keterbukaan informasi)Rp316-1,86%264,0 juta
17 September 2026Rp338+6,96%±477,5 juta
18 September 2026Rp332-1,78%±399,1 juta

Sumber: data perdagangan INET; data 17 dan 18 September perlu diverifikasi ulang melalui chart di aplikasi Ajaib sebelum terbit.

Berikut acuan untuk membaca reaksi tersebut.

  • Volume belum mengonfirmasi akumulasi
    Rata-rata volume harian 1 hingga 15 September sekitar 600 juta saham. Kenaikan 6,96% pada 17 September terjadi dengan volume di bawah rata-rata itu, sehingga belum dapat dibaca sebagai akumulasi yang kuat.
  • Skala transaksi relatif kecil terhadap INET
    Nilai transaksi hanya sekitar 3,8% dari kapitalisasi pasar INET sekitar Rp7,43 triliun. Dengan PER disetahunkan di atas 100 kali, harga cenderung lebih digerakkan narasi ketimbang kontribusi laba jangka pendek.
  • Katalis berikutnya sudah terjadwal
    Laporan kuartal III 2026 menjadi konsolidasi pertama SGI selama sekitar 3,5 bulan, disusul realisasi proyek kabel laut baru dan penggunaan kredit JTrust dalam laporan utang INET.
  • Level acuan untuk tiga skenario
    Skenario penguatan membutuhkan harga bertahan di atas Rp338 dengan volume di atas rata-rata. Skenario pelemahan terjadi bila harga kembali ke bawah Rp316, level sebelum pengumuman, sedangkan skenario mendatar berada di rentang Rp314 hingga Rp346 sambil menunggu laporan kuartal III.

Anda dapat menggunakan fitur Broker Summary dan Inventory Analysis di Ajaib Terminal untuk melihat apakah kenaikan INET setelah pengumuman diikuti akumulasi bersih atau hanya perputaran jangka pendek.

Premi 6,7% pada akhirnya lebih tepat dibaca sebagai hasil asumsi penilaian ketimbang ukuran mahal atau murah yang pasti, karena satu variabel DLOM saja mampu membalik kesimpulannya. Konfirmasi yang lebih kuat baru datang dari laporan kuartal III, saat kontribusi SGI mulai tercatat.

Pantau Saham INET Lebih Presisi dan Trading di Ajaib Terminal

Pergerakan saham INET menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan setelah transaksi akuisisi 60% saham SGI. Kamu bisa memantau harga dan informasi saham INET di Ajaib untuk mengikuti pergerakan harga, grafik, berita, serta perkembangan kinerja perusahaan.

Kamu juga bisa mengakses berbagai saham Indonesia di Ajaib untuk menyesuaikan strategi trading dengan kondisi pasar dan toleransi risiko masing-masing. Download Ajaib sekarang!

Google Play StoreApple App Store

Disclaimer: Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Sumber:

  • PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk, “Keterbukaan Informasi kepada Pemegang Saham terkait Transaksi Material” (10 April 2026)
  • KJPP Iwan Bachron & Rekan, “Laporan Penilaian 100% Saham PT Sarana Global Indonesia” (8 April 2026)
  • KJPP Iwan Bachron & Rekan, “Laporan Pendapat Kewajaran PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk” (12 Mei 2026)
  • CNBC Indonesia, “INET Akuisisi Perusahaan Kabel Laut, Rogoh Kocek Rp280 Miliar” (17 September 2026)
  • EmitenNews, “INET Kemas Pendapatan Rp926,4 Miliar, Melonjak Hampir 2 Ribu Persen” (September 2026)

Profil Penulis

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!