Apa Itu FTSE Russell dan Kenapa Penting untuk Saham Indonesia?
stephanie_irena•November 6, 2026

Key Takeaways:
- FTSE Russell adalah penyedia indeks global milik London Stock Exchange Group (LSEG) yang indeksnya menjadi acuan triliunan dolar dana investasi, termasuk dana pasif.
- Masuk atau keluarnya saham dari indeks FTSE dapat memicu aliran dana asing karena dana pasif wajib menyesuaikan portofolionya dengan susunan indeks.
- Sepanjang 2026, FTSE Russell menunda sebagian penyesuaian indeks untuk saham Indonesia karena isu transparansi kepemilikan dan free float, dengan keputusan lanjutan dijadwalkan pada review Desember 2026.
Nama FTSE Russell kerap muncul di pemberitaan pasar modal, terutama menjelang pengumuman rebalancing indeks setiap kuartal. Sepanjang 2026, nama ini makin sering dibicarakan karena keputusan FTSE Russell terkait saham Indonesia ikut memengaruhi pergerakan sejumlah saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Bagi trader yang aktif memantau pergerakan saham harian, pengumuman dari penyedia indeks global seperti FTSE Russell dan MSCI bisa menjadi pemicu volatilitas jangka pendek. Lantas, apa sebenarnya FTSE Russell dan kenapa keputusannya begitu diperhatikan pelaku pasar Indonesia? Berikut penjelasannya.
Apa Itu FTSE Russell?
FTSE Russell adalah perusahaan penyedia indeks dan data pasar global yang berada di bawah naungan London Stock Exchange Group (LSEG). Nama FTSE sendiri merupakan singkatan dari Financial Times Stock Exchange, karena awalnya lahir dari kerja sama antara surat kabar Financial Times dan London Stock Exchange.
Indeks paling terkenal dari FTSE adalah FTSE 100 yang diluncurkan pada 1984 dan berisi 100 perusahaan terbesar di bursa London. Pada 2014, LSEG mengakuisisi Frank Russell Company, pemilik indeks Russell 2000 di Amerika Serikat. Sejak 2015, kedua bisnis indeks ini beroperasi di bawah satu nama, yaitu FTSE Russell.
Saat ini, FTSE Russell menghitung ribuan indeks yang mencakup saham, obligasi, hingga indeks berbasis ESG dan syariah. Beberapa yang paling sering dijadikan acuan antara lain FTSE All-World, FTSE Global Equity Index Series (GEIS), Russell 1000, dan Russell 2000.
Momen rebalancing indeks FTSE sering memicu pergerakan masif arus modal asing dan investor institusi di pasar saham. Kamu bisa memantau apakah saham targetmu sedang diakumulasi atau didistribusi secara akurat dengan fitur Broker Flow di Ajaib Terminal. Nikmati Broker Fee Rp 0 dengan Transaksi di Ajaib Terminal.
Cara Kerja Indeks FTSE Russell
Indeks FTSE Russell berfungsi sebagai tolok ukur (benchmark) kinerja pasar. Manajer investasi global memakai indeks ini untuk menyusun portofolio, sementara dana pasif seperti ETF dan index fund langsung meniru susunan indeksnya.
Agar tetap mencerminkan kondisi pasar, FTSE Russell meninjau ulang konstituen indeksnya secara berkala. Untuk FTSE GEIS, tinjauan dilakukan setiap kuartal pada Maret, Juni, September, dan Desember, dengan perubahan biasanya berlaku setelah penutupan perdagangan hari Jumat ketiga di bulan tersebut.
Dalam setiap tinjauan, FTSE Russell menilai beberapa kriteria utama berikut:
- Kapitalisasi pasar: Saham harus memenuhi batas ukuran tertentu untuk masuk ke segmen large cap, mid cap, small cap, atau micro cap.
- Free float: Porsi saham yang benar-benar beredar di publik dan bisa diperdagangkan bebas. Semakin kecil free float, semakin kecil bobot saham tersebut di indeks.
- Likuiditas: Saham perlu cukup aktif diperdagangkan agar dana besar bisa membeli dan menjualnya tanpa mengguncang harga.
Klasifikasi Pasar Versi FTSE Russell
Selain menyusun indeks per saham, FTSE Russell juga mengelompokkan pasar modal setiap negara ke dalam beberapa kategori. Klasifikasi ini ditinjau setiap tahun dan menentukan di kelompok indeks mana saham sebuah negara akan dimasukkan.
Berikut kategori klasifikasi negara versi FTSE Russell:
| Kategori | Gambaran Umum | Contoh Negara |
| Developed | Pasar maju dengan infrastruktur dan regulasi paling matang | Amerika Serikat, Inggris, Jepang |
| Advanced Emerging | Pasar berkembang dengan standar mendekati pasar maju | Brasil, Taiwan, Malaysia |
| Secondary Emerging | Pasar berkembang yang masih memiliki sejumlah catatan perbaikan | Indonesia, India, Filipina |
| Frontier | Pasar yang lebih kecil dan relatif belum berkembang | Kenya, Bangladesh, Sri Lanka |
Indonesia saat ini berada di kategori Secondary Emerging. Dalam tinjauan klasifikasi negara terbaru pada 2026, FTSE Russell mempertahankan status tersebut dan tidak memasukkan Indonesia ke dalam Watch List, yaitu daftar negara yang berpotensi naik atau turun kategori.
Kenapa FTSE Russell Penting untuk Saham Indonesia?
Keputusan FTSE Russell punya dampak nyata ke pasar saham Indonesia karena besarnya dana yang mengacu pada indeksnya. Setidaknya ada tiga alasan utama yang perlu dipahami investor.
1. Memicu Aliran Dana Asing
Ketika sebuah saham Indonesia masuk ke indeks FTSE, dana pasif yang meniru indeks tersebut wajib membelinya. Sebaliknya, saham yang dikeluarkan dari indeks akan dijual oleh dana-dana tersebut. Karena itu, pengumuman rebalancing sering diikuti lonjakan volume transaksi dan pergerakan harga yang tajam, terutama menjelang tanggal efektif.
2. Menjadi Cerminan Kualitas Pasar
Status klasifikasi negara menunjukkan bagaimana investor global menilai keterbukaan, regulasi, dan kemudahan berinvestasi di sebuah pasar. Penurunan status bisa membuat sebagian dana global mengurangi porsinya di Indonesia, sedangkan kenaikan status berpotensi menarik dana baru dalam jumlah besar.
3. Mendorong Perbaikan Tata Kelola Emiten
Kriteria FTSE Russell, terutama soal free float dan transparansi kepemilikan, ikut mendorong emiten dan otoritas pasar modal untuk berbenah. Emiten yang ingin tetap masuk indeks global perlu memastikan porsi saham publiknya memadai dan struktur kepemilikannya jelas.
Baca Juga: Rebalancing MSCI Mei 2026: 19 Saham RI Keluar dari Indeks, BREN hingga CUAN Terdampak!
Perlakuan FTSE Russell terhadap Saham Indonesia Sepanjang 2026
Tahun 2026 menjadi periode yang cukup menantang bagi saham Indonesia di indeks FTSE. Pada 9 Februari 2026, FTSE Russell menunda tinjauan Maret untuk saham domestik Indonesia dengan alasan penentuan persentase free float yang akurat masih belum pasti.
Sebagai respons, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI menjalankan sejumlah reformasi, mulai dari publikasi data pemegang saham di atas 1%, daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC), hingga pelaporan klasifikasi investor yang lebih rinci. Berikut rangkaian perkembangannya:
| Waktu | Perkembangan |
| 9 Februari 2026 | FTSE Russell menunda tinjauan Maret 2026 untuk saham domestik Indonesia |
| 13 Mei 2026 | Tinjauan Juni dijalankan sebagian, sementara penambahan saham baru, IPO, dan kenaikan free float ditunda |
| 19 Juni 2026 | DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dikeluarkan dari FTSE GEIS, berlaku setelah penutupan perdagangan |
| 19 Agustus 2026 | Penambahan saham, IPO, kenaikan free float, dan perubahan segmen ukuran ditunda hingga setidaknya Desember 2026 |
| Desember 2026 | FTSE Russell dijadwalkan memutuskan apakah re-ranking penuh saham Indonesia bisa dilanjutkan |
Dari empat saham yang dikeluarkan pada Juni 2026, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) tercatat gagal memenuhi uji konsentrasi kepemilikan. PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) keluar karena free float di bawah batas minimum, sementara PT Hillcon Tbk (HILL) dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) tidak lolos penyaringan saham dalam pengawasan.
Artinya, selama penundaan berlaku, saham Indonesia masih bisa dikeluarkan dari indeks, tetapi belum bisa ditambahkan. Kondisi ini membuat peluang masuknya dana pasif baru ke saham-saham yang sebenarnya sudah memenuhi syarat ikut tertunda.
FTSE Russell dan MSCI, Apa Bedanya?
FTSE Russell dan MSCI sama-sama penyedia indeks global yang menjadi acuan dana asing. Keduanya juga sama-sama menyoroti isu free float dan transparansi kepemilikan di pasar Indonesia sepanjang 2026.
Perbedaannya terletak pada metodologi, jadwal tinjauan, dan dana yang mengacu pada masing-masing indeks. Karena itu, sebuah saham bisa saja masih tercatat di indeks FTSE meski sudah keluar dari indeks MSCI, atau sebaliknya. Investor sebaiknya memantau pengumuman dari kedua penyedia indeks ini karena dampaknya bisa saling memperkuat.
Tetap Utamakan Analisis Sebelum Mengambil Keputusan
Pengumuman FTSE Russell memang bisa menggerakkan harga dalam jangka pendek, tetapi arah pergerakannya tidak selalu mudah ditebak. Sebagian dampak sering sudah tercermin di harga sebelum tanggal efektif, sehingga trader yang masuk terlambat justru berisiko membeli di harga puncak.
Oleh karena itu, informasi soal rebalancing sebaiknya dijadikan salah satu pertimbangan, bukan satu-satunya alasan untuk membeli atau menjual saham. Kinerja keuangan emiten, valuasi, likuiditas, dan manajemen risiko tetap perlu diperhatikan sebelum mengambil posisi.
Pantau Pergerakan Pasar dan Lakukan Diversifikasi Portofolio di Ajaib
Memahami peran FTSE Russell membantu investor membaca arah aliran dana asing ke pasar saham Indonesia. Dengan informasi ini, investor dapat lebih siap menghadapi volatilitas di sekitar jadwal review indeks global dan menyusun strategi yang sesuai dengan profil risikonya.
Melalui aplikasi Ajaib, investor dapat memantau pergerakan saham secara real-time, menyimpan saham incaran di watchlist, dan bertransaksi dengan cepat saat peluang muncul. Bagi trader aktif, Ajaib Terminal menyediakan fitur analisis lengkap seperti Broker Summary dan Order Queue untuk membaca aktivitas transaksi lebih dalam. Download aplikasi Ajaib sekarang dan mulai diversifikasi portofoliomu.
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Informasi dalam artikel ini disusun melalui riset internal dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual atau beli efek. Harga saham bersifat fluktuatif dan kinerja di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Pastikan untuk melakukan analisis secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Sumber: Apa Itu FTSE Russell? Dampaknya ke Saham Indonesia, Treatment of Indonesian Securities in FTSE Russell Equity Indices, FTSE Russell Tunda Penyesuaian Saham RI hingga Desember 2026, 4 Saham Indonesia Bakal Didepak dari Indeks FTSE Russell per Juni 2026, dan FTSE Russell Masih Tunda Full Re-Ranking Saham Indonesia hingga September 2026, dengan perubahan seperlunya.
Profil Penulis
Writer
-
Artikel Terkait

Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!
