AI Selloff Mengguncang Wall Street: Nasdaq Catat Hari Terburuk Sejak 2025
Sarifa•June 8, 2026

Wall Street mengalami guncangan terbesar dalam beberapa bulan terakhir setelah Nasdaq anjlok lebih dari 4% dan S&P 500 turun 2,6%, mencatat penurunan harian terburuk sejak April 2025. Pemicunya bukan earnings yang buruk atau krisis geopolitik, melainkan data tenaga kerja AS yang justru terlalu kuat. Laporan ketenagakerjaan yang solid membuat investor kembali memperkirakan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari ekspektasi pasar, bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan di tengah inflasi yang masih bertahan tinggi. Akibatnya, investor melakukan aksi ambil untung besar-besaran pada saham teknologi dan AI yang selama ini menjadi motor utama reli pasar. Nvidia, Broadcom, AMD, Marvell, hingga sejumlah saham software berbasis AI ikut tertekan, sementara Bitcoin jatuh di bawah US$70.000 dan arus dana mulai berpindah ke sektor defensif seperti kesehatan, utilitas, dan consumer staples. Koreksi ini menjadi pengingat bahwa meskipun revolusi AI masih berlangsung, valuasi saham teknologi yang telah melonjak tajam tetap sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan kondisi likuiditas global. Dengan SpaceX IPO yang tinggal menghitung hari serta musim belanja AI yang masih agresif, pasar kini memasuki fase penting di mana investor harus menilai apakah pertumbuhan laba mampu terus membenarkan valuasi yang semakin mahal atau justru memicu koreksi yang lebih dalam.
Performa Indeks Bursa AS Weekly
| S&P 500 | Dow Jones Industrial Average | NASDAQ Composite |
| -2.58% | +0.18% | -4.54% |
Top Gainer 1W
| FTNT | +11.65% |
| DE | +8.80% |
| MDT | +7.67% |
| AJG | +7.06% |
| ADP | +6.36% |
Berita Ekonomi & Industri
Nasdaq anjlok lebih dari 4% dan S&P 500 merosot 2,6% pada akhir pekan kemarin, mencatat penurunan harian terburuk sejak April 2025 setelah laporan tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Data ketenagakerjaan yang solid membuat investor menilai peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve semakin kecil, bahkan meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga tambahan di tengah inflasi yang masih tinggi. Tekanan jual paling besar terjadi pada saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya memimpin reli pasar, sehingga menyeret Nasdaq turun lebih dari 4%, sementara Dow Jones melemah 1,35%. Aset berisiko lain seperti Bitcoin juga ikut terkoreksi karena investor mengurangi eksposur pada sektor berisiko dan mengalihkan dana ke saham defensif seperti kesehatan, utilitas, dan barang konsumsi pokok. Koreksi ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa valuasi saham teknologi sudah terlalu tinggi serta rentan terhadap perubahan sentimen pasar, mengingat dominasi perusahaan-perusahaan Big Tech dalam indeks saham AS saat ini.
SpaceX berencana menetapkan harga IPO sebesar US$135 per saham untuk menghimpun dana fantastis US$75 miliar, yang berpotensi menjadi IPO terbesar sepanjang sejarah dan menilai perusahaan pada valuasi sekitar US$1,75 triliun. Perusahaan milik Elon Musk tersebut akan menawarkan sekitar 555,6 juta saham dengan pendekatan tidak lazim, yakni menetapkan harga tetap sebelum proses bookbuilding dimulai. Dana hasil IPO akan digunakan untuk memperluas jaringan satelit Starlink, meningkatkan kapasitas komputasi AI, serta mendukung proyek-proyek ambisius seperti pusat data AI berbasis luar angkasa dan misi ke Mars. IPO ini juga menjadi ujian besar bagi pasar karena valuasi SpaceX jauh melampaui estimasi beberapa analis, sementara perusahaan masih membukukan rugi bersih US$4,94 miliar pada 2025 meski pendapatan tumbuh menjadi US$18,67 miliar. Setelah merger dengan xAI awal tahun ini, SpaceX semakin memosisikan diri sebagai gabungan bisnis luar angkasa, satelit, dan AI, sehingga banyak investor melihat IPO ini bukan hanya taruhan pada teknologi masa depan, tetapi juga pada kemampuan Musk menciptakan pasar baru yang belum sepenuhnya ada saat ini. Jika sukses, IPO dengan kode saham SPCX ini diperkirakan akan membuka gelombang mega-IPO berikutnya dari OpenAI dan Anthropic, yang bersama-sama berpotensi menambah hampir US$4 triliun kapitalisasi baru ke pasar saham global.
Minat investor terhadap IPO SpaceX terus membludak, dengan nilai pemesanan saham mencapai US$150 miliar atau sekitar dua kali lipat dari target dana US$75 miliar yang ingin dihimpun perusahaan milik Elon Musk tersebut. Menjelang penawaran saham perdana pada 11 Juni dan debut perdagangan di Nasdaq sehari setelahnya, SpaceX menawarkan sekitar 555,6 juta saham dengan harga US$135 per saham yang berpotensi memberikan valuasi sekitar US$1,8 triliun, menjadikannya kandidat IPO terbesar dalam sejarah pasar modal. Meski tingkat oversubscription dua kali biasanya dianggap biasa untuk IPO yang sangat populer, angka tersebut tetap dinilai impresif mengingat besarnya ukuran penawaran SpaceX. Namun, data pemesanan saat ini masih mencerminkan minat awal investor dan belum menunjukkan alokasi final saham, karena sejumlah investor institusi besar umumnya baru memasukkan pesanan menjelang penentuan harga IPO. Tingginya antusiasme pasar ini semakin menegaskan besarnya ekspektasi investor terhadap prospek bisnis roket, satelit Starlink, dan kecerdasan buatan yang berada di bawah naungan SpaceX.
JPMorgan mengerahkan CEO-nya, Jamie Dimon, untuk mempromosikan IPO SpaceX kepada ribuan nasabah kaya dalam sebuah kampanye yang tidak biasa, menandakan tingginya minat investor terhadap salah satu IPO terbesar dalam sejarah. Dalam acara yang akan disiarkan ke sekitar 90 lokasi di 26 negara bagian AS dan dihadiri lebih dari 2.500 klien, Dimon akan tampil bersama pimpinan divisi wealth management JPMorgan serta eksekutif senior SpaceX untuk membahas prospek perusahaan. SpaceX dikabarkan menargetkan valuasi sekitar US$1,8 triliun saat melantai di bursa, menjadikannya salah satu perusahaan publik terbesar di dunia sejak hari pertama perdagangan. Antusiasme terhadap IPO SpaceX juga disebut memicu kebangkitan pasar IPO setelah beberapa tahun lesu, dengan perusahaan AI besar seperti OpenAI dan Anthropic diperkirakan akan mengikuti jejak yang sama. Keterlibatan agresif JPMorgan menunjukkan besarnya daya tarik bisnis Elon Musk di mata investor, sekaligus menegaskan bahwa SpaceX dipandang sebagai salah satu peluang investasi paling dinantikan di pasar modal global saat ini.
Saham-saham teknologi Asia melemah tajam setelah laporan keuangan Broadcom memicu aksi ambil untung di sektor AI dan semikonduktor global, mengakhiri reli panjang yang sebelumnya didorong oleh euforia kecerdasan buatan. Tekanan terbesar terjadi di Korea Selatan, dengan saham Samsung Electronics anjlok hampir 7% dan SK Hynix turun lebih dari 8%, sementara sejumlah emiten teknologi lain seperti Samsung SDI, LG Display, dan LG Innotek juga mengalami penurunan signifikan. Di Jepang, saham produsen peralatan chip seperti Tokyo Electron dan Advantest masing-masing merosot lebih dari 6% dan 5%, sedangkan di Taiwan, pemasok Apple seperti Hon Hai, Pegatron, dan Largan Precision ikut terkoreksi. Pelemahan ini mengikuti penurunan saham Broadcom lebih dari 12% di Wall Street setelah pendapatannya gagal memenuhi ekspektasi pasar, yang kemudian menyeret saham-saham semikonduktor lainnya seperti Arm dan Micron. Meski demikian, TSMC berhasil bertahan di zona hijau, menunjukkan bahwa investor mulai lebih selektif membedakan perusahaan dengan fundamental kuat dari saham AI yang telah mengalami kenaikan berlebihan. Banyak analis menilai koreksi ini merupakan proses penyesuaian yang sehat setelah lonjakan harga besar di sektor AI dan chip dalam beberapa bulan terakhir.
Bitcoin anjlok di bawah US$70.000 untuk pertama kalinya sejak April setelah sentimen pasar kripto memburuk akibat aksi jual kecil oleh perusahaan pemegang Bitcoin terbesar, Strategy, yang memicu kepanikan investor dan gelombang likuidasi besar-besaran. Harga Bitcoin turun lebih dari 6% ke sekitar US$67.000, sementara Ethereum ikut melemah lebih dari 4%, menyeret saham-saham terkait kripto seperti Strategy, Coinbase, dan Galaxy Digital. Tekanan jual bermula setelah Strategy melaporkan penjualan sebagian kecil kepemilikan Bitcoin—penjualan pertama sejak 2022—yang dianggap bertentangan dengan narasi pendirinya, Michael Saylor, yang selama ini dikenal dengan slogan “never sell your Bitcoin”. Kepanikan tersebut memicu likuidasi posisi long senilai sekitar US$594 juta dalam 24 jam terakhir, mempercepat penurunan harga. Di saat yang sama, ketidakpastian akibat konflik AS-Iran dan arus keluar dana dari ETF Bitcoin yang telah berlangsung 11 hari berturut-turut membuat dua narasi utama Bitcoin—sebagai “emas digital” dan aset berisiko tinggi yang mengikuti reli saham teknologi—semakin dipertanyakan oleh pasar.
Akhir pekan kemarin rupiah yang tembus Rp18.022 per dolar AS dan IHSG yang sempat anjlok lebih dari 5% menunjukkan pasar masih memandang risiko Indonesia tinggi meski status negara ini tetap bertahan sebagai Emerging Market versi MSCI. Klarifikasi bahwa Indonesia tidak diturunkan ke kategori Frontier Market ternyata belum mampu meredakan kekhawatiran investor, yang saat ini lebih fokus pada kondisi fundamental pasar dan arah kebijakan ekonomi ke depan. Menurut analis Hendra Wardana, pelemahan rupiah dan pasar saham secara bersamaan merupakan sinyal bahwa investor sedang melakukan repricing terhadap risiko Indonesia, tercermin dari berlanjutnya arus modal asing keluar dan menurunnya kepercayaan terhadap aset domestik. Ia menilai persoalan yang dihadapi bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyangkut kredibilitas kebijakan fiskal, kepastian regulasi, dan keberlanjutan APBN. Karena itu, pasar membutuhkan langkah konkret yang dapat diukur untuk memulihkan kepercayaan, bukan sekadar narasi optimisme. Dalam pandangan investor, kekuatan ekonomi harus tercermin dalam data dan kebijakan nyata, sehingga ketika rupiah dan IHSG terus melemah, pasar cenderung lebih mempercayai angka daripada pernyataan resmi.
Berita Emiten
AVGO – Broadcom memperkirakan lonjakan pendapatan pada kuartal ketiga 2026 didorong oleh permintaan chip AI yang terus meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Perusahaan menargetkan pendapatan kuartal ketiga sebesar US$29,4 miliar, melampaui ekspektasi analis, dengan kontribusi pendapatan semikonduktor AI mencapai US$16 miliar atau tumbuh lebih dari 200% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada kuartal kedua, Broadcom mencatat rekor pendapatan US$22,2 miliar, naik 48% secara tahunan, sementara pemesanan chip AI mencapai lebih dari US$30 miliar, jauh di atas pengiriman senilai US$10,8 miliar. Manajemen juga menaikkan proyeksi pendapatan AI tahun fiskal 2026 menjadi US$56 miliar dan mempertahankan target lebih dari US$100 miliar pada 2027, didukung visibilitas pesanan hingga 2028 serta pembangunan platform komputasi AI berskala besar bersama investor seperti Apollo dan Blackstone. Meski margin kotor diperkirakan sedikit menurun akibat perubahan komposisi pendapatan, Broadcom menegaskan bahwa tekanan tersebut bersifat sementara dan bukan indikasi melemahnya profitabilitas bisnis chip AI mereka.
NVDA — Nvidia CEO Jensen Huang melakukan keynote bersejarah di Computex 2026 Taipei pada 1 Juni dengan mengumumkan ekspansi besar Nvidia ke pasar PC melalui chip RTX Spark — sebuah system-on-chip yang menggabungkan arsitektur GPU Blackwell dengan prosesor Arm-based N1X yang dikembangkan bersama MediaTek dan Microsoft, menjadi chip SoC pertama Nvidia untuk Windows PC dan secara langsung menantang Intel, AMD, dan Qualcomm yang selama ini mendominasi segmen tersebut. Huang juga menegaskan bahwa Nvidia bukan lagi sekadar perusahaan chip melainkan “AI infrastructure company” dengan visi full-stack yang mencakup networking, compute, software, dan data center, dengan lebih dari 30 laptop dan 10 desktop berbasis RTX Spark dijadwalkan meluncur musim gugur ini dari mitra seperti Dell, HP, dan lainnya.
NVDA — Nvidia mengakuisisi Kumo AI, startup enterprise predictive AI software berusia lima tahun, senilai lebih dari US$400 juta pada 4 Juni, dalam langkah strategis untuk memperluas portofolio AI model berbasis data terstruktur perusahaan. Kumo AI yang sebelumnya didukung Sequoia Capital dan melayani klien seperti Reddit, DoorDash, dan J Sainsbury ini dikenal dengan teknologi Graph Neural Network yang mampu memotong pekerjaan pipeline ML manual hingga 95% — dan akuisisi ini menempatkan Nvidia pada posisi strategis untuk mendominasi enterprise prediction layer yang duduk di atas dua platform cloud data warehouse terbesar, Snowflake dan Databricks.
AVGO — Broadcom membukukan revenue record Q2 FY2026 sebesar US$22,2 miliar atau naik 48% YoY, dengan AI semiconductor revenue melonjak 143% YoY ke US$10,8 miliar — jauh di atas perkiraan awal — sementara adjusted EBITDA mencapai US$15,2 miliar atau 69% dari revenue dan free cash flow mencetak rekor di US$10,3 miliar. Yang lebih mengejutkan pasar adalah guidance Q3 yang dipatok di US$29,4 miliar atau tumbuh 84% YoY dengan CEO Hock Tan menyatakan AI semiconductor revenue di Q3 diproyeksikan menembus US$16 miliar atau tumbuh lebih dari 200% YoY, menjadikan full-year 2026 AI revenue target Broadcom di angka US$56 miliar.
INTU — Saham Intuit anjlok sekitar 10% pada 2 Juni setelah Goldman Sachs menurunkan rating ke Sell dan memangkas target harga drastis dari US$519 menjadi US$276, dengan analis Gabriela Borges memperingatkan bahwa AI dapat memproses satu standard tax return hanya dengan biaya 12 sen, dibandingkan rata-rata tarif TurboTax sebesar US$162 per return — menciptakan celah biaya yang memungkinkan kompetitor baru seperti Prime Meridian, Perplexity Tax, dan Chime Tax untuk agresif merebut pangsa pasar tanpa modal besar. Goldman memproyeksikan revenue TurboTax bisa turun sekitar 18% dari level fiskal 2025 pada 2030 dalam skenario base-case, di mana 20% wajib pajak AS bermigrasi ke solusi AI-only, sementara saham INTU sendiri sudah turun ~46% YTD jauh sebelum downgrade ini dijatuhkan.
SPCX — SpaceX secara resmi menetapkan harga IPO tetap di US$135 per saham melalui filing SEC pada 3 Juni, menjual 555,6 juta saham untuk mengumpulkan dana US$75 miliar pada valuasi US$1,77 triliun — melampaui ukuran tiga kali IPO terbesar AS sebelumnya, Alibaba, dan menjadi IPO terbesar dalam sejarah pasar modal dunia. Roadshow resmi diluncurkan 4 Juni dengan jadwal yang lebih cepat dari perkiraan akibat review SEC yang lebih singkat dari ekspektasi, pricing dijadwalkan malam 11 Juni, dan perdagangan perdana di Nasdaq ditargetkan 12 Juni menggunakan ticker SPCX dengan Goldman Sachs sebagai lead-left underwriter bersama Morgan Stanley, BofA, Citi, dan JPMorgan.
SPCX / GOOGL — SpaceX mengumumkan perjanjian cloud computing raksasa dengan Google pada 5 Juni di mana Google akan membayar US$920 juta per bulan mulai Oktober 2026 hingga Juni 2029 untuk akses ke sekitar 110.000 Nvidia GPU beserta CPU, memori, dan komponen terkait di data center milik xAI — deal yang bernilai total ~US$30 miliar ini diungkapkan langsung melalui amandemen prospektus IPO SpaceX, tepat seminggu sebelum tanggal listing. Deal Google ini menyusul kesepakatan serupa sebelumnya dengan Anthropic yang lebih besar, yakni US$1,25 miliar per bulan hingga 2029 untuk menyewa seluruh kapasitas compute Colossus 1, menjadikan SpaceX sebagai cloud provider dadakan yang kini memonetisasi idle compute xAI akibat arsitektur GPU Colossus 1 yang tidak optimal untuk training Grok.
NVDA — Saham Nvidia turun 6,2% pada 5 Juni dalam salah satu hari penurunan terbesar pekan ini, menarik turun seluruh ekosistem chip AI termasuk AMD, Intel, Marvell, dan ARM, di tengah kekhawatiran pasar atas potensi loophole regulasi yang memungkinkan perusahaan China membeli chip Blackwell serta tekanan jual yang dipicu oleh aksi profit-taking pasca reli panjang. Saham NVDA ditutup di US$204,04 pada 6 Juni dengan market cap sedikit di bawah US$5 triliun, meski konsensus analis masih sangat bullish dengan 38 analis memberikan rating Strong Buy dan rata-rata target harga US$298-350.
AVGO / MRVL / INTC / AMD — Pada 2 Juni, aksi jual melanda sektor software enterprise secara luas dipicu oleh downgrade Goldman atas Intuit, dengan Atlassian turun lebih dari 9%, ServiceNow dan Workday masing-masing turun lebih dari 7%, Salesforce memimpin penurunan di Dow Jones dengan drop lebih dari 6%, sementara Adobe, Datadog, dan Palantir masing-masing terkoreksi lebih dari 4%, mencerminkan kekhawatiran pasar yang semakin luas bahwa AI bukan hanya mengancam satu nama tetapi seluruh ekosistem software tradisional yang bergantung pada pricing power biaya per-user.
SPCX / TSLA — Saham Tesla tetap berada di radar investor retail di tengah spekulasi mengenai valuasi IPO SpaceX yang beberapa analis percaya akan berdampak dilutif pada Tesla mengingat kesamaan aset Elon Musk antara kedua entitas, sementara Tesla juga kini menghadapi tekanan kompetisi baru di segmen humanoid robot setelah OpenAI secara resmi meluncurkan divisi robotics-nya, area yang selama ini dianggap sebagai salah satu katalis jangka panjang utama untuk Tesla.
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!