Ajaib
Menu

Saham AS

AI Rally vs Suku Bunga Tinggi: Kevin Warsh Mengubah Narasi Pasar

SarifaJune 22, 2026

Pekan lalu Wall Street mulai menyadari bahwa ancaman terbesar pasar saat ini mungkin bukan lagi perang Timur Tengah atau lonjakan harga minyak, melainkan perubahan besar arah Federal Reserve di bawah Ketua baru, Kevin Warsh. Dalam rapat pertamanya, The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,5%–3,75%, namun Warsh menyampaikan nada yang jauh lebih hawkish dibanding era Jerome Powell dengan menegaskan bahwa prioritas utama bank sentral adalah memulihkan kredibilitas pengendalian inflasi, bahkan jika suku bunga harus tetap tinggi lebih lama. Pasar langsung merespons agresif: yield Treasury 2 tahun melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun, sementara yield 30 tahun mendekati 5,2% — tertinggi sejak sebelum krisis finansial 2008. Bloomberg Economics bahkan memperkirakan kenaikan yield beberapa pekan terakhir setara dengan tambahan sekitar 75 bps rate hike secara efektif bagi kondisi keuangan pasar.

Narasi hawkish tersebut semakin diperkuat data ekonomi AS yang masih terlalu panas untuk The Fed. Nonfarm Payrolls Mei mencetak 172 ribu pekerjaan — lebih dari dua kali ekspektasi pasar — sementara inflasi CPI bertahan tinggi di 4,2% akibat dampak perang Iran terhadap harga energi dan transportasi. Kombinasi pasar tenaga kerja yang tetap kuat, inflasi yang belum turun, dan kenaikan yield membuat investor mulai meninggalkan ekspektasi rate cut pada 2026 dan justru mulai mem-price-in kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan di akhir tahun. Dampaknya langsung terasa di sektor teknologi dan AI: Nasdaq mencatat penurunan harian terburuk sejak April 2025, saham-saham growth mengalami tekanan valuasi, dan pasar mulai mempertanyakan apakah reli AI masih dapat berlanjut jika era “higher for longer” benar-benar kembali.

Performa Indeks Bursa AS Weekly

S&P 500Dow Jones Industrial AverageNASDAQ Composite
+1.21%+0.81%+3.49%

Top Gainer 1W

MU+25.39%
GEV+24.96%
APLD+20.53%
QCOM+18.43%
INTC+18.03%

Berita Ekonomi & Industri

Pekan kemarin pasar global menghadapi kombinasi sentimen bearish setelah Federal Reserve di bawah Ketua baru Kevin Warsh mempertahankan suku bunga di level 3,5%-3,75% namun memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir 2026, sementara harga minyak turun karena pasar menyambut kesepakatan damai AS-Iran dan proyeksi kelebihan pasokan minyak global pada 2027. Dalam rapat pertamanya sebagai Ketua The Fed, Warsh menegaskan fokus utama bank sentral adalah mengembalikan stabilitas harga dan mengendalikan inflasi, bahkan membentuk lima gugus tugas reformasi serta menolak memberikan proyeksi pribadi dalam dot plot, sebuah langkah yang dipandang lebih hawkish oleh pasar dan mendorong lonjakan yield obligasi AS tenor 2 tahun. Di saat yang sama, harga minyak Brent turun ke sekitar US$78 per barel dan WTI ke US$75 per barel setelah kesepakatan AS-Iran membuka peluang normalisasi pasokan energi global, sementara International Energy Agency memperkirakan surplus pasokan minyak yang signifikan pada 2027 akibat pulihnya produksi dan berkurangnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Kombinasi prospek suku bunga yang lebih tinggi dan potensi banjir pasokan minyak ini memperkuat ekspektasi bahwa tekanan inflasi energi akan mereda, tetapi sekaligus meningkatkan kekhawatiran perlambatan ekonomi karena biaya pendanaan yang tetap mahal dalam jangka panjang.

Trump dan Iran mengumumkan kesepakatan damai awal pada 15 Juni untuk mengakhiri perang lebih dari tiga bulan dan membuka kembali Selat Hormuz, dengan penandatanganan resmi memorandum of understanding dijadwalkan di Swiss pada Jumat — kesepakatan ini mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran serta penghapusan pungutan kapal di jalur Hormuz secara bebas tol. Pasar merespons sangat positif dengan S&P 500 naik 1,9%, sementara harga minyak anjlok hampir 5% menjadi sinyal bahwa krisis pasokan energi terbesar dalam sejarah pasar modern mendekati titik akhir. Brent crude jatuh ke level terendah tiga bulan di sekitar US$83 per barel, sebuah inflection point besar bagi ekspektasi inflasi dan outlook ekonomi yang lebih luas mengingat sekitar 10-11 juta barel per hari minyak mentah sempat efektif terhambat dari pasar global akibat krisis ini. 

Awal pekan kemarin SpaceX langsung menjadi sorotan pasar setelah debut spektakulernya di Nasdaq, dan hanya sehari setelah IPO tersebut, Cathie Wood melalui ARK Invest membeli sekitar 3,29 juta saham SpaceX (SPCX) di empat ETF andalannya, menunjukkan keyakinan besar terhadap prospek perusahaan milik Elon Musk itu. Pembelian terbesar dilakukan oleh ARK Innovation ETF (ARKK) dengan 1,69 juta saham, disusul ARK Autonomous Technology & Robotics ETF (ARKQ) sebanyak 736.442 saham, ARK Space Exploration & Innovation ETF (ARKX) sebanyak 537.341 saham, serta ARK Next Generation Internet ETF (ARKW) sebanyak 325.562 saham. Langkah agresif ini dilakukan setelah saham SpaceX melonjak 19,2% pada hari pertama perdagangan dan ditutup di level US$160,95 dari harga IPO US$135, sementara di saat yang sama ARK juga mengurangi kepemilikan pada beberapa saham lain seperti Tesla, AMD, Rocket Lab, dan Roku untuk mengalokasikan lebih banyak dana ke perusahaan antariksa dan AI yang baru melantai tersebut.

SpaceX semakin mengukuhkan posisinya di pasar modal setelah sahamnya resmi masuk ke portofolio Schwab U.S. Large-Cap Value ETF (SCHV), sebuah ETF bernilai aset sekitar US$15,8 miliar yang selama ini berfokus pada saham-saham value berkapitalisasi besar. Meskipun porsi kepemilikan SpaceX sangat kecil, hanya sekitar 0,012% dari total portofolio yang berisi 560 saham, langkah ini dinilai simbolis karena menunjukkan bahwa perusahaan milik Elon Musk tersebut mulai diterima tidak hanya oleh investor pertumbuhan (growth investors), tetapi juga mulai merambah produk investasi yang lebih konservatif. Kehadiran SpaceX di ETF value memicu perdebatan luas di kalangan investor karena valuasi perusahaan yang telah melampaui US$2 triliun masih dianggap sangat mahal dan lebih cocok dikategorikan sebagai saham spekulatif dibanding saham value. Namun di sisi lain, masuknya SpaceX ke berbagai ETF berpotensi menciptakan aliran dana pasif yang terus meningkat karena setiap pembelian unit ETF secara otomatis akan meningkatkan permintaan terhadap saham tersebut. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana popularitas dan kapitalisasi pasar SpaceX yang terus membesar mulai memaksa berbagai produk investasi tradisional untuk memberikan eksposur, sekaligus memperkuat perdebatan antara investor yang melihat SpaceX sebagai perusahaan teknologi masa depan dengan mereka yang menilai valuasinya sudah jauh melampaui fundamental bisnis saat ini.

Berita Emiten

SPCX — SpaceX mengumumkan akuisisi senilai US$60 miliar terhadap Cursor pada 16 Juni, startup AI coding assistant terbesar buatan Anysphere, dalam transaksi all-stock yang akan menjadikan Cursor sebagai anak perusahaan penuh setelah deal ditutup di kuartal ketiga — menjadi akuisisi startup berbasis VC terbesar dalam sejarah. Saham SPCX melonjak sekitar 16% pada hari pengumuman, melampaui Amazon dan Microsoft dari sisi market cap dan menjadikannya perusahaan publik paling bernilai ke-4 di Amerika Serikat hanya empat hari pasca listing — dengan saham yang telah naik lebih dari 56% dari harga IPO US$135 ke atas US$200. 

FOX – Fox Corporation mengumumkan akuisisi Roku senilai US$22 miliar enterprise value pada 15 Juni, dengan harga US$160 per saham dalam kombinasi cash dan saham Fox Class A — menciptakan kekuatan media dan teknologi berskala besar yang memadukan konten live sports dan news milik Fox dengan platform streaming Roku yang menjangkau lebih dari 100 juta rumah tangga global. CEO Fox Lachlan Murdoch menyebut akuisisi ini sebagai “momen yang mendefinisikan” perusahaan, menjadikan kombinasi Fox-Roku sebagai pemain terbesar ketiga di televisi AS dari sisi share of viewing, mencakup broadcast, cable, lokal, dan streaming sekaligus. Fox telah mengamankan pendanaan bridge senilai US$12 miliar dari Morgan Stanley Senior Funding untuk membiayai porsi cash dari transaksi ini. Namun reaksi pasar justru negatif tajam — saham Fox Corp anjlok 17,2% untuk Class A dan 15,7% untuk Class B pada hari pengumuman, menjadikannya performa terburuk di S&P 500 hari itu.

INTC / AAPL — Presiden Trump mengonfirmasi pada 18 Juni bahwa Apple telah sepakat bekerja sama dengan Intel untuk mendesain dan memproduksi chip di Amerika Serikat, sebuah pengumuman yang dilakukan secara mendadak melalui Truth Social di tengah dorongan administrasinya untuk mengembalikan industri semikonduktor ke tanah AS. Saham Intel langsung melonjak lebih dari 10,5% pada hari pengumuman ke US$133,82, dengan Trump juga menyinggung bahwa pemerintah AS yang memegang 10% saham Intel kini melihat valuasi total perusahaan naik dari US$100 miliar menjadi US$600 miliar, membuat nilai saham pemerintah melonjak menjadi lebih dari US$60 miliar hanya dalam sembilan bulan. Meski demikian, analis menegaskan deal ini tidak akan langsung menggantikan peran TSMC untuk chip Apple generasi terbaru dan paling canggih, dengan peran Intel kemungkinan besar terbatas pada produk Apple kelas menengah ke bawah di mana risiko terhadap target performa tidak terlalu krusial.

ACN — Saham Accenture ambruk hingga 20% pada 18 Juni — penurunan harian terbesar dalam sejarah perusahaan — meski revenue Q3 FY2026 sebesar US$18,7 miliar naik 6% YoY dan EPS US$3,80 melampaui konsensus US$3,72. Penyebab utama selloff adalah guidance revenue Q4 yang dipatok di US$17,75–18,4 miliar, di bawah ekspektasi Bloomberg sebesar US$18,47 miliar, dengan manajemen menyebut pelambatan ini dipicu oleh AI yang mulai mengubah industri jasa konsultasi serta klien yang menahan keputusan bisnis akibat konflik Timur Tengah. Accenture juga memangkas guidance pertumbuhan revenue full-year ke 3-4% dari sebelumnya 3-5%, dengan segmen federal AS menjadi penghambat utama akibat siklus procurement yang melambat dan gelombang peninjauan kontrak yang diperkirakan memotong 1-1,5% dari pertumbuhan tahunan perusahaan — ditambah rencana akuisisi senilai US$4,18 miliar untuk tiga perusahaan keamanan teknologi operasional yang membuat investor semakin khawatir soal beban utang.

Google Play StoreApple App Store

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!