Ketegangan AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Naik Hampir 3%
Salsabilla•July 8, 2026

Key Takeaways
- Harga minyak WTI dan Brent naik hampir 3% setelah AS melancarkan serangan militer baru terhadap Iran.
- Eskalasi konflik meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global melalui Selat Hormuz serta memperbesar tekanan inflasi.
- Jika harga minyak tetap tinggi, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi berpotensi meningkat
Mengapa Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak?
Harga minyak dunia kembali menjadi sorotan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer baru terhadap Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz. Aksi tersebut memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang baru tercapai bulan lalu dapat kembali runtuh sehingga meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur distribusi energi global.
Reaksi pasar berlangsung cepat. Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik 2,87% menjadi US$72,46 per barel, sementara minyak Brent untuk pengiriman September menguat 2,75% ke US$76,18 per barel. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik yang mulai diperhitungkan pelaku pasar.
Pergerakan Harga Minyak dan Pemicu Utamanya
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah memulai “serangkaian serangan kuat” terhadap Iran dan menegaskan Teheran akan menghadapi konsekuensi atas serangan terhadap kapal komersial di jalur pelayaran internasional. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa konflik belum sepenuhnya mereda meski sebelumnya kedua negara telah mencapai gencatan senjata yang memungkinkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali normal.
Eskalasi Konflik Tingkatkan Risiko Pasokan Energi Global
Selain aksi militer, pemerintah Amerika Serikat juga mencabut pengecualian sanksi yang sebelumnya masih mengizinkan Iran mengekspor minyak. Langkah tersebut memperketat tekanan terhadap sektor energi Iran dan berpotensi mengurangi pasokan minyak di pasar internasional apabila berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama.
Di sisi lain, Joint Maritime Information Center (JMIC) menaikkan status ancaman pelayaran di Selat Hormuz menjadi “severe“ setelah tiga kapal dagang diserang. Peningkatan status ini menunjukkan risiko serangan lanjutan masih tinggi sehingga aktivitas distribusi minyak melalui salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia berpotensi kembali terganggu.
Dampaknya bagi Inflasi, The Fed, dan Trader Saham AS
Analis menilai lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi apabila berlangsung dalam periode yang lebih panjang. Biaya energi yang lebih tinggi dapat memengaruhi harga barang dan jasa sehingga memperbesar kemungkinan Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat dibanding ekspektasi sebelumnya.
Sektor energi berpotensi kembali mendapat perhatian, sementara sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan suku bunga dapat mengalami volatilitas lebih tinggi. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi indikator yang perlu dipantau karena dapat memengaruhi valuasi saham berkapitalisasi besar, terutama sektor teknologi.
Trading Saham AS Lebih Mudah di Ajaib
Di tengah meningkatnya volatilitas akibat perkembangan geopolitik global, memiliki akses cepat terhadap pergerakan pasar menjadi semakin penting. Mulai trading saham AS di Ajaib sekarang, pantau pergerakan saham-saham global secara real–time. Download aplikasi Ajaib di Play Store & App Store sekarang!
Disclaimer: Investasi saham AS mengandung risiko. Pastikan Anda melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.
Sumber: https://www.cnbc.com/2026/07/08/oil-prices-brent-wti-iran-us-hormuz.html
Artikel Terkait




Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!
