Cara Menggunakan Beta Saham untuk Menyusun Portofolio Investasi
Sarifa•July 3, 2026

Ringkasan
- Beta saham adalah metrik yang digunakan untuk mengukur volatilitas atau risiko sistematis suatu saham dibandingkan dengan pasar secara keseluruhan.
- Beta saham bisa digunakan investor untuk memilih komposisi aset sesuai dengan profil risiko investor (agresif, moderat, konservatif).
- Beta saham sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya acuan untuk keputusan investasi dan lebih baik mengkombinasikannya dengan metrik lain seperti standar deviasi (total risk), alpha (excess return), korelasi antar aset, drawndown historis, hingga analisis sektor.
Menggunakan Beta Saham untuk Membangun Portofolio Investasi yang Sesuai Profil Risiko
Membangun portofolio investasi yang kuat terhadap gejolak pasar bukanlah hal yang mudah. Karena banyak investor di luar sana yang masih kesulitan menentukan kombinasi aset yang sesuai dengan toleransi risiko mereka tanpa mengesampingkan seberapa sensitif saham yang dipilih terhadap pasar.
Memilih saham berkualitas saja dinilai belum cukup karena karakter volatilitas setiap saham juga perlu diperhitungkan. Investor bisa mengukur risiko volatilitas suatu saham terhadap pasar dengan menggunakan Beta Saham.
Beta Saham adalah salah satu metrik penting dalam proses asset allocation dan manajemen risiko. Kalau kamu masih asing dengan istilah Beta Saham dan juga bagaimana cara memanfaatkan beta secara praktis untuk menyusun portofolio yang lebih optimal? Kamu bisa baca artikel ini hingga selesai untuk mengetahui fungsi dan juga interpretasinya terhadap pasar.
Mari kita simak pembahasannya!
Dalam mengukur tingkat risiko volatilitas saham terhadap pasar, ada 3 jenis Beta Saham yang wajib dipahami investor:
| Jenis Beta | Penjelasan |
| Beta <1 | Saham dengan beta kurang dari 1, harga saham punya tingkat fluktuasi yang lebih kecil dari fluktuasi pasar atau IHSG. |
| Beta = 1 | Saham dengan beta = 1, harga saham punya tingkat fluktuasi yang sama dengan fluktuasi pasar atau IHSG. |
| Beta >1 | Saham dengan beta >1, harga saham punya tingkat fluktuasi yang lebih besar dibanding fluktuasi pasar atau IHSG. |
Cara Membaca Nilai Beta Saham dengan Tepat
Kondisi harga saham berdasarkan beta tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan investasi. Karena investor juga perlu menganalisis kondisi pasar dan bisnis perusahaan.
Harga saham berdasarkan beta bisa berubah karena dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti:
- Volatilitas pasar.
- Perubahan sektor (regulasi dan kebijakan pasar).
- Kondisi ekonomi (suku bunga, inflasi, dan nilai tukar).
- Perubahan struktur bisnis perusahaan (perubahan komposisi biaya operasional dan pendanaan).
Nilai Beta Saham dari penyedia data bisa sedikit berbeda karena menggunakan perhitungan yang berbeda.
1. Menyesuaikan Beta dengan Profil Risiko Investasi
Investor bisa memanfaatkan Beta sebagai acuan dalam memilih komposisi aset di portofolio. Panduan penyesuaian beta dengan profil risiko bisa kamu lihat seperti berikut:
- Konservatif (beta <1), investor sangat menghindari risiko dan pilihan saham yang bisa dipilih adalah saham-saham defensif seperti sektor infrastruktur atau consumer goods.
- Moderat (beta = 1), investor yang berani mengambil risiko sedang dan pilihan saham yang bisa dipilih adalah saham-saham lapis kedua dengan fundamental perusahaan yang solid.
- Agresif (beta >1), investor yang sangat berani ambil risiko dan pilihan saham yang bisa dipilih meliputi saham-saham berkategori growth stock atau saham-saham sektor tambang dan teknologi.
Sesuaikan pilihan saham berdasarkan nilai beta dan berfokuslah pada tujuan investasi dan jangka waktu investasinya.
2. Mengombinasikan Saham Beta Tinggi dan Beta Rendah
Dalam membangun sebuah portofolio saham yang bagus untuk jangka panjang, portofolio investor tidak boleh terlalu konservatif atau terlalu agresif. Inilah alasan kenapa investor perlu mengkombinasikan beta saham rendah dan beta saham tinggi dalam menentukan komposisi aset sehingga mengurangi konsentrasi risiko portofolio.
Dengan cara tidak menempatkan seluruh dana investasi di saham-saham agresif dengan volatilitas tinggi dan lebih memilih menyebarkan dana investasi ke berbagai saham untuk melindungi nilai investasi dari penurunan harga ekstrim di pasar saham.
Coba perhatikan ilustrasi diversifikasi saham di bawah ini:
Investor tidak berinvestasi pada satu saham, melainkan berinvestasi pada 3 saham berbeda:
- Rp10 juta di saham A (sektor teknologi).
- Rp20 juta di saham B (sektor consumer).
- Rp30 juta di saham C (sektor perbankan).
Jika terjadi gejolak pasar:
- Saham A (teknologi) turun -50% (minus Rp5 juta).
- Saham B (consumer) naik +10% (plus Rp Rp2 juta.
- Saham C (perbankan) naik +5% (plus Rp1,5 juta).
Nilai total portofolio investor menjadi Rp58,5 juta atau minus 2,5%. Penurunan nilai portofolio ini jauh lebih rendah jika kamu hanya investasi pada satu saham saja (saham A) yang bisa mencapai minus 50%.
3. Memahami Peran Beta di Berbagai Kondisi Pasar
Saham beta tinggi lebih sensitif terhadap pasar saat kondisi pasar saham bearish maupun bullish. Ini karena saham beta tinggi lebih fluktuatif terhadap pasar, sehingga ketika IHSG naik atau turun, saham beta bisa naik maupun turun lebih tinggi dibanding IHSG. Sementara untuk saham beta rendah relatif lebih defensif.
Walaupun demikian, beta bukan alat prediksi arah harga, melainkan alat untuk memahami potensi risiko pasar dari volatilitas harga saham yang terjadi.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menggunakan Beta Saham
Pada penggunaan Beta Saham sering terjadi beberapa kesalahan sebagai berikut:
1. Menganggap Beta Sebagai Indikator Saham Bagus atau Buruk
Fungsi utama beta adalah untuk melihat potensi risiko volatilitas harga saham terhadap pasar. Sehingga, salah jika investor menjadikan beta sebagai acuan investasi untuk menentukan saham bagus atau buruk. Karena beta tidak mengukur kualitas fundamental perusahaan maupun prospek bisnisnya.
2. Menggunakan Beta Tanpa Analisis Fundamental
Investor yang menggunakan Beta Saham sebaiknya juga mempertimbangkan analisis fundamental perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.
Kamu bisa mempertimbangkan fundamental perusahaam seperti valuasi, pertumbuhan laba, kesehatan keuangan, dan faktor fundamental lainnya. Sebab, beta hanya terdiri dari satu variabel dalam proses analisisnya dan tidak mempertimbangkan bagaimana kondisi perusahaan saat ini dari segi keuangan hingga pertumbuhan laba.
3. Mengabaikan Perubahan Beta dari Waktu ke Waktu
Kesalahan berikutnya yang sering dilakukan investor saat menggunakan beta adalah mengabaikan perubahan beta dari waktu ke waktu. Perubahan beta pada suatu saham bisa terjadi karena faktor perubahan sektor, kondisi ekonomi, volatilitas pasar, dan perubahan struktur bisnis perusahaan.
Contohnya perubahan fundamental bisnis perusahaan yang dulunya masih dalam tahap atau fase startup dengan risiko bisnis tinggi berubah menjadi perusahaan matang (mature). Kondisi ini tentu akan mengubah nilai beta dari saham tersebut.
Jika hal ini diabaikan, investor bisa salah mengukur profil risiko dan tingkat pengembalian aset. Oleh karenanya, beta adalah metrik yang bersifat dinamis dan bisa berubah-ubah mengikuti kondisi pasar dan fundamental perusahaan.
Sehingga, investor sebaiknya melakukan evaluasi berkala karena perubahan kondisi pasar maupun bisnis dapat mengubah sensitivitas suatu saham terhadap indeks.
Indikator Lain yang Sebaiknya Digunakan Bersama Beta Saham
Selain Beta Saham, investor juga sebaiknya menggunakan indikator lain untuk membantu keputusan investasi lebih baik dan tidak hanya menjadi beta sebagai satu-satunya acuan investasi.
Beta Saham akan lebih baik jika investor kombinasikan dengan indikator-indikator di bawah ini:
| Indikator | Fungsi |
| Standar Deviasi (Total Risk) | Metrik yang mengukur volatilitas, mempresentasikan risiko total, dan mengetahui potensi imbal hasil. |
| Alpha (Excess Return) | Metrik risiko yang mengukur kinerja investasi di atas return yang diharapkan dari pasar. |
| Sharpe Ratio (Risk-Adjusted Return) | Metrik keuangan untuk mengukur kinerja investasi dengan melihat keuntungan yang dihasilkan dibanding risiko yang ditanggung. |
| Korelasi Antar Aset | Metrik yang mengukur dua instrumen investasi, apakah punya korelasi positif atau negatif. Korelasi antar aset biasanya digunakan dalam diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko investasi. |
| Drawndown Historis | Drawndown historis adalah persentase penurunan tertinggi dari suatu nilai aset dalam kurun waktu tertentu. |
| Analisis Sektor | Proses analisis yang dilakukan pada sektor bisnis tertentu untuk mengetahui potensi keuntungan, tren pertumbuhan, dan risiko siklus bisnis. |
Indikator-indikator di atas bisa kamu gunakan bersama Beta Saham untuk mendapatkan insight terkait kondisi pasar dan fundamental perusahaan. Sehingga, penyusunan portofolio investor dapat menggunakan pendekatan multidimensi, bukan hanya mengandalkan satu indikator.
Kapan Investor Sebaiknya Meninjau Kembali Beta Portofolio?
Idealnya, evaluasi kembali beta portofolio bisa kamu lakukan ketika adanya perubahan tujuan investasi, perubahan profil risiko, kondisi pasar berubah drastis, atau ketika kamu melakukan rebalancing portofolio secara berkala.
Selain mengevaluasi beta dari masing-masing saham secara terpisah, penting bagi investor juga mengevaluasi beta portofolio. Untuk membandingkan tingkat risiko investasi kamu dengan pasar, apakah lebih rendah, sama, atau lebih tinggi dari pasar yang akan mempengaruhi potensi risiko atau imbal hasil investor.
Mulai Bangun Portofolio Investasi yang Lebih Terukur Bersama Ajaib
Setelah membaca artikel ini hingga selesai, kita menjadi semakin paham betapa pentingnya melakukan pengelolaan risiko berbasis data dalam investasi untuk mendukung keputusan investasi lebih baik.
Melalui aplikasi Ajaib, investor bisa dengan mudah memantau berbagai instrumen investasi dan membangun portofolio sesuai profil risiko, dan berinvestasi dalam satu aplikasi.
Kamu bisa membangun portofolio investasi di Ajaib dengan melakukan diversifikasi portofolio investasi ke berbagai aset seperti saham, reksa dana, atau obligasi secara mudah tanpa perlu pindah aplikasi, serta mengakses berbagai informasi investasi dan fitur yang dapat membantu investor mengambil keputusan investasi.
“Disclaimer: Konten ini bersifat edukasi dan informasi, bukan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Investasi saham memiliki risiko tinggi. Pastikan lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan keuangan.”
FAQ
1. Apakah beta berubah setiap waktu?
Harga saham berdasarkan beta bisa berubah karena dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti volatilitas pasar, perubahan sektor (regulasi dan kebijakan pasar), kondisi ekonomi (suku bunga, inflasi, dan nilai tukar), perubahan struktur bisnis perusahaan (perubahan komposisi biaya operasional dan pendanaan).
2. Apakah beta bisa digunakan pada saham growth stock maupun dividend stock?
Beta adalah alat pengukuran volatilitas suatu saham yang banyak digunakan pada growth stock dan dividend stock. Namun, umumnya dengan interpretasi yang berbeda.
3. Apa perbedaan beta dengan volatilitas?
Volatilitas mengukur seberapa besar suatu aset mengalami kenaikan maupun penurunan. Sementara beta mengukur volatilitas suatu aset terhadap pasar, apakah pergerakan aset lebih agresif atau defensif dibanding pasar.
4. Bagaimana melihat beta suatu saham?
Cara termudah untuk melihat beta suatu saham dengan menggunakan situs keuangan yang menyediakan data tersebut seperti TradingView dan Yahoo Finance.
5. Apakah beta berlaku untuk ETF dan reksa dana?
Beta bisa digunakan untuk ETF dan reksa dana untuk mengukur seberapa volatilitas produk investasi tersebut terhadap indeks acuannya.
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!