Proyeksi Arah Kebijakan BI Pasca Perry di Tengah Keputusan FOMC
Tika•July 30, 2026

Key Takeaways
- Perry Warjiyo mengundurkan diri dari posisi Gubernur Bank Indonesia (BI) sejak 25 Juli 2026 saat masih menjalani periode kedua masa jabatannya. Setelah itu, Destry Damayanti ditetapkan sebagai Pejabat Gubernur Sementara.
- The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75% melalui keputusan dengan hasil suara. Namun, tiga anggota The Fed justru mengusulkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, sehingga peluang BI untuk menurunkan suku bunga masih terbatas.
- BI menegaskan bahwa stabilitas rupiah tidak hanya dijaga melalui kebijakan suku bunga. BI juga menggunakan berbagai instrumen lain, seperti intervensi di pasar spot, NDF, dan DNDF, optimalisasi SRBI, serta insentif lindung nilai yang mulai berlaku pada 30 Juli 2026 sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Transisi Kepemimpinan BI Terjadi di Tengah Rupiah Rp18.000-an
Pengunduran diri Perry Warjiyo resmi berlaku sejak 25 Juli 2026 dan diumumkan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada 27 Juli 2026. Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil secara sukarela karena alasan pribadi. Perry juga tidak hadir dalam konferensi pers saat pengumuman disampaikan. Pengumuman yang datang di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah sempat memicu reaksi pasar. Nilai tukar rupiah bahkan sempat melewati level Rp18.000/US$.
Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti, meminta seluruh pelaku pasar untuk tetap tenang. Ia menegaskan bahwa arah kebijakan moneter BI tidak berubah dan seluruh keputusan yang telah ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026 tetap dijalankan.
Destry juga menjelaskan bahwa kepemimpinan BI tetap akan dijalankan bersama oleh jajaran dewan gubernur, sehingga proses pengambilan kebijakan dapat berjalan seperti biasa. Setelah pernyataan tersebut, perhatian pasar mulai bergeser pada kemungkinan perubahan arah kebijakan BI ke depan.
Data Moneter dan Hasil FOMC per Juli 2026
Sebelum membahas potensi kebijakan BI selanjutnya, mari kita lihat data moneter dan hasil Federal Open Market Committee (FOMC) Juli 2026 pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Posisi Indikator Moneter Indonesia dan Amerika Serikat per Juli 2026
| Indikator | Posisi Terkini |
| BI-Rate | 5,75% |
| Deposit Facility / Lending Facility | 4,75% / 6,50% |
| Total kenaikan BI-Rate 2026 | +100 bps |
| Fed Funds Rate | Bertahan di level 3,50% sampai 3,75% |
| Inflasi Indonesia (Juni 2026) | 3,34% yoy (Year on Year) |
| Sasaran inflasi BI | 2,5% ±1% |
| Rupiah | Rp18.076,00/US$ per 30 Juli |
*BI-Rate adalah suku bunga acuan yang mendasari arah kebijakan moneter, sementara Deposit Facility dan Lending Facility merupakan koridor bunga simpanan dan pinjaman perbankan di bank sentral. Satu basis poin setara 0,01%.
Pernyataan resmi FOMC pada 29 Juli 2026 atau 30 Juli 2026 dini hari waktu Indonesia memuat lima poin yang relevan bagi proyeksi BI ke depan. Berikut beberapa poin utamanya.
- Asesmen ekonomi Amerika Serikat masih kuat. Aktivitas ekonomi disebut berekspansi solid meski ketidakpastian dari konflik Timur Tengah tinggi, dengan produktivitas dan investasi modal kuat serta pengangguran nyaris tidak berubah, sehingga tidak ada pintu bagi kebijakan yang lebih dovish atau melunak.
- Inflasi menjadi fokus dan energi disebut eksplisit. Inflasi dinyatakan masih tinggi terhadap sasaran 2%, sebagian akibat supply shock atau guncangan sisi pasokan yang menaikkan harga di sektor tertentu termasuk energi, lalu ditutup komitmen “The Committee will deliver price stability” atau komite akan mewujudkan stabilitas harga.
- Perbedaan pendapat mengarah ke pengetatan. Tiga anggota menolak keputusan karena memilih kenaikan 25 basis poin, dan ini kali pertama sejak September 2016 tiga pejabat berbeda pendapat dengan arah sama.
- Pernyataan pendek tanpa forward guidance. Tidak ada kalimat soal arah kebijakan ke depan maupun dot plot berisi proyeksi bunga tiap anggota, sehingga bagi BI keputusan tanpa perubahan bukan berarti ketidakpastian mereda.
Faktor yang Akan Menentukan Arah Kebijakan BI Pasca-Perry
Setidaknya ada lima faktor yang saling berkaitan dalam menentukan arah kebijakan.
- Dampak kenaikan harga energi. The Fed menilai inflasi masih dipengaruhi oleh kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini juga berdampak pada Indonesia karena dapat meningkatkan harga minyak dunia, biaya impor energi, dan menekan nilai tukar rupiah. Tekanan tersebut semakin terasa setelah muncul laporan mengenai serangan Iran terhadap pasukan Amerika Serikat.
- Pentingnya transisi kepemimpinan BI. Pengangkatan Gubernur BI dilakukan melalui usulan Presiden yang kemudian memerlukan persetujuan DPR, sebagaimana diatur dalam Pasal 41 ayat (1) Undang-Undang Bank Indonesia. Proses pergantian kepemimpinan yang berjalan lancar menjadi salah satu faktor yang dapat menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap BI.
- Selisih suku bunga memengaruhi arus modal asing. Ketika suku bunga di Amerika Serikat tetap tinggi, sebagian investor cenderung menempatkan dananya di aset dolar AS yang dianggap lebih menarik. Kondisi ini dapat mengurangi aliran modal ke pasar keuangan Indonesia. Tekanan tersebut mulai terlihat ketika investor asing mencatat jual bersih (net sell) di pasar saham Indonesia pada 28 Juli 2026.
- Inflasi Indonesia semakin mendekati batas sasaran. Inflasi Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34% secara tahunan, mendekati batas atas sasaran BI sebesar 3,5%. Jika inflasi terus meningkat, ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga atau melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
- Beban sektor riil dan pasar saham. Bunga acuan tinggi menaikkan biaya dana perbankan yang diteruskan ke bunga kredit sehingga memperlambat dunia usaha dan konsumsi. Perlambatan itu berpotensi tercermin pada proyeksi laba emiten yang biasanya disesuaikan pasar lebih dulu.
Skenario Arah Kebijakan BI Menjelang RDG Agustus 2026
Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa BI akan tetap fokus menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan.
Menurutnya, BI tidak hanya mengandalkan perubahan suku bunga sebagai alat kebijakan, tetapi juga dapat memanfaatkan berbagai instrumen moneter lainnya sesuai kebutuhan.
Berdasarkan informasi tersebut, berikut adalah beberapa skenario arah kebijakan BI yang perlu dipahami.
1. Skenario dasar, menahan BI-Rate di 5,75%
BI menempuh intervensi di pasar valuta asing spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) yang merupakan kontrak lindung nilai kurs tanpa penyerahan valuta fisik, sekaligus mengoptimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan dukungan insentif swap dan DNDF hedging. Insentif Swap Jual Lindung Nilai dinaikkan dari 10% menjadi 12,5%, sedangkan insentif baru DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 15% berlaku mulai 30 Juli 2026.
Penerbitan SRBI diarahkan selaras dengan kebutuhan likuiditas sekaligus menarik modal asing. Dari sisi pertumbuhan, BI memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial untuk sektor prioritas, memperkuat redistribusi likuiditas, serta mengakselerasi digitalisasi sistem pembayaran. Implikasinya, BI memiliki ruang untuk menjaga stabilitas tanpa menambah beban bunga ke sektor riil.
2. Skenario hawkish, kenaikan 25 basis poin ke 6,00%
Istilah hawkish mengacu pada kebijakan yang cenderung lebih ketat, misalnya dengan menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar. Skenario ini dapat dipertimbangkan jika langkah intervensi yang dilakukan belum cukup untuk menahan pelemahan rupiah.
Sebelum RDG Juli 2026, konsensus Bloomberg Technoz terhadap 34 ekonom menunjukkan perkiraan median suku bunga berada di level 6%. Sementara itu, Bloomberg Economics memperkirakan masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada RDG Agustus 2026.
3. Skenario risiko, pengetatan agresif atau RDG mingguan mendadak
Sebelumnya BI pernah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin secara mendadak melalui RDG mingguan pada 9 Juni 2026. Kebijakan tersebut bisa saja diambil karena beberapa faktor, seperti kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September, inflasi yang melewati 3,5%, atau proses penetapan gubernur definitif yang berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Karena menjaga stabilitas nilai tukar menjadi salah satu syarat penting untuk mencapai target inflasi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi, arah kebijakan BI setelah era Perry Warjiyo diperkirakan lebih mengarah pada kelanjutan kebijakan yang sudah berjalan dengan beberapa penyesuaian, bukan perubahan besar dalam arah kebijakan.
Dampak dan Strategi Menghadapi Berbagai Skenario Kebijakan BI
Ketiga skenario tersebut dapat memberikan dampak yang berbeda terhadap portofolio investasi, namun belum ada yang dapat dipastikan terjadi. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih tepat bukan sekadar memperkirakan keputusan RDG, melainkan memahami bagaimana setiap kebijakan dapat memengaruhi pasar dan menyiapkan portofolio yang tetap sesuai dalam berbagai kemungkinan kondisi.
Tabel 2. Peta Arah Dampak Tiap Skenario Kebijakan BI terhadap Kelas Aset
| Kelas Aset | Skenario Dasar (bertahan 5,75%) | Skenario Hawkish (naik ke 6,00%) | Skenario Risiko (pengetatan agresif) |
| Saham | Cenderung stabil, fokus ke laba emiten | Tekanan valuasi, rotasi sektor | Koreksi lebih dalam, volatilitas tinggi |
| SBN tenor pendek | Relatif stabil | Yield naik mengikuti bunga acuan | Yield naik tajam |
| SBN tenor panjang | Sensitif ke sentimen fiskal | Harga turun, kerugian mark-to-market | Kurva bisa melandai jika kredibel |
| Reksa dana pendapatan tetap | Kupon berjalan normal | NAB tertekan, terutama durasi panjang | NAB tertekan lebih dalam |
| Pasar uang dan deposito | Imbal hasil bertahan | Imbal hasil naik | Naik paling cepat |
| Rupiah | Bergantung efektivitas intervensi | Berpotensi menguat | Menguat jika kredibel, melemah jika dinilai terlambat |
*Tabel di atas menunjukkan gambaran umum arah dampaknya, bukan sebagai prediksi pasti.
1. Skenario Hawkish Membuat Proyeksi Pasar Saham Berpotensi Terkoreksi
Jika skenario hawkish terjadi, dampaknya terhadap pasar saham tidak hanya terlihat dari potensi penurunan harga saham, tetapi melalui beberapa jalur berikut:
- Penurunan valuasi. Kenaikan bunga menaikkan tingkat diskonto untuk menilai arus kas masa depan, sehingga rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio yang dianggap wajar ikut turun meski laba emiten tidak berubah.
- Beban bunga korporasi. Emiten dengan utang besar atau dengan floating rate akan menanggung beban bunga lebih tinggi, sehingga laba bersih berpotensi tertekan meski pendapatan masih tumbuh.
- Permintaan konsumen melemah. Bunga kredit pemilikan rumah dan kredit kendaraan bermotor yang naik memperlambat permintaan pada sektor properti, otomotif, serta pembiayaan konsumer.
- Persaingan dengan aset pendapatan tetap. Ketika yield atau imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) naik, imbal hasil saham dan dividen harus bersaing dengan instrumen berisiko lebih rendah sehingga arus dana berpotensi berpindah.
- Dampak positif yang tetap perlu diperhatikan. Kenaikan bunga yang kredibel berpotensi menstabilkan rupiah, dan kurs stabil meringankan emiten berutang valuta asing serta berbahan baku impor.
- Pertimbangan bagi trader. Memperkecil ukuran posisi menjelang RDG Agustus, Jackson Hole, dan FOMC September dapat mengurangi risiko, begitu pula menghindari leverage atau dana pinjaman dan menetapkan level pembatalan rencana sebelum masuk posisi.
- Pertimbangan bagi investor jangka panjang. Investor dapat mengevaluasi kembali alokasi investasi pada sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. Apabila terjadi koreksi pasar, kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada emiten dengan fundamental dan kondisi keuangan yang kuat.
2. Kenaikan Suku Bunga Berpotensi Mendorong Kenaikan Yield Obligasi
Dampak kenaikan suku bunga terhadap pasar obligasi biasanya lebih cepat terlihat dan lebih mudah diukur dibandingkan pasar saham. Hal ini terjadi karena harga obligasi memiliki hubungan langsung dengan perubahan tingkat suku bunga.
- Obligasi jangka pendek merespons lebih cepat. Yield SBN tenor pendek mengikuti bunga acuan hampir secara langsung karena posisinya paling dekat dengan biaya dana jangka pendek di pasar uang.
- Harga dan yield bergerak berlawanan. Ketika yield naik, harga obligasi yang dipegang justru turun dan semakin panjang durasinya semakin besar penurunannya, sehingga nilai aktiva bersih atau NAB reksa dana pendapatan tetap berdurasi panjang ikut tertekan.
- Yield jangka panjang tidak selalu bergerak searah. Kenaikan suku bunga tidak otomatis membuat seluruh yield obligasi naik dengan besaran yang sama. Jika pasar menilai kebijakan pengetatan berhasil mengendalikan inflasi, kenaikan yield jangka panjang dapat lebih terbatas. Sebaliknya, jika kebijakan dianggap terlambat atau terdapat peningkatan risiko fiskal, yield jangka panjang dapat meningkat lebih tinggi.
- Faktor SRBI dan likuiditas. Penerbitan SRBI menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk mengelola likuiditas dan menarik aliran modal asing. Karena SRBI bersaing dengan SBN dalam menarik dana investor, jumlah penerbitannya juga dapat memengaruhi pergerakan yield di pasar obligasi.
- Yield yang lebih tinggi memiliki dampak berbeda bagi investor. Bagi investor yang sudah memegang obligasi, kenaikan yield berarti harga obligasi turun sehingga nilai portofolio dapat mengalami penyesuaian berdasarkan harga pasar (mark-to-market). Namun, bagi investor yang baru masuk, kondisi ini dapat menjadi peluang karena obligasi baru menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih menarik.
- Instrumen dengan floating rate lebih tahan terhadap kenaikan suku bunga. Obligasi floating rate, deposito, serta instrumen pasar uang menyesuaikan naik mengikuti bunga acuan, sehingga risiko harganya lebih kecil dibanding obligasi kupon tetap bertenor panjang.
3. Strategi Diversifikasi Portofolio sebagai Respons atas Ketidakpastian
Karena belum ada skenario yang dapat dipastikan terjadi, membangun portofolio yang terdiversifikasi menjadi pendekatan yang lebih rasional untuk mengurangi risiko apabila kondisi pasar bergerak ke arah yang berbeda dari ekspektasi.
- Diversifikasi antarkelas aset. Kombinasi saham, instrumen pendapatan tetap, dan pasar uang membuat portofolio tidak sepenuhnya bergantung pada satu hasil RDG, sebab tiap kelas aset merespons perubahan bunga secara berbeda.
- Diversifikasi antardurasi di sisi obligasi. Membagi investasi obligasi pada berbagai tenor, baik jangka pendek maupun jangka panjang, dapat mengurangi dampak perubahan suku bunga yang sulit diprediksi. Strategi ini juga memberikan fleksibilitas bagi investor dalam menyesuaikan portofolio dengan kondisi pasar.
- Diversifikasi antarsektor saham. Setiap sektor saham memiliki respons berbeda terhadap perubahan suku bunga. Penyebaran investasi antarsektor dapat membantu mengurangi risiko apabila satu sektor mengalami tekanan.
- Menjaga keseimbangan eksposur valuta asing. Aset berbasis dolar Amerika Serikat dapat menjadi pelindung ketika rupiah melemah. Namun, membeli aset dolar saat nilai tukar sudah berada di atas Rp18.000 per dolar AS juga memiliki risiko karena harga aset tersebut dapat turun jika rupiah kembali menguat.
- Diversifikasi waktu investasi. Melakukan investasi secara bertahap dapat mengurangi risiko masuk pada waktu yang kurang tepat, terutama menjelang agenda ekonomi penting. Strategi ini membantu investor menghadapi perubahan harga dalam jangka pendek dengan lebih terukur.
- Lakukan rebalancing dan persiapkan dana darurat. Meninjau kembali komposisi investasi secara berkala membantu menjaga tingkat risiko tetap sesuai dengan rencana awal. Selain itu, kebutuhan dana dalam waktu dekat sebaiknya tidak ditempatkan pada aset yang memiliki fluktuasi tinggi agar tetap mudah diakses saat dibutuhkan.
Diversifikasi Portofolio Lebih Mudah di Ajaib
Diversifikasi investasi akan lebih mudah dilakukan jika investor memiliki akses ke berbagai pilihan instrumen dalam satu platform. Melalui Ajaib, investor dapat menemukan beragam produk investasi, mulai dari saham Indonesia, saham Amerika Serikat, reksa dana, obligasi atau SBN, hingga aset kripto.
Dengan pilihan tersebut, investor dapat menyusun portofolio sesuai dengan tujuan investasi, jangka waktu, dan tingkat risiko yang siap ditanggung. Yuk, mulai berinvestasi dan trading dengan lebih mudah di Ajaib, serta pantau berbagai informasi pasar langsung dari aplikasi. Download Ajaib di Play Store dan App Store sekarang!
Disclaimer: Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Sumber: Bisnis Indonesia “BI Sebut Kebijakan Moneter Fokus Jaga Stabilitas Rupiah Pasca Perry Warjiyo Mundur” (https://finansial.bisnis.com/read/20260729/11/1991924/bi-sebut-kebijakan-moneter-fokus-jaga-stabilitas-rupiah-pasca-perry-warjiyo-mundur), Bloomberg Technoz “Konsensus Bloomberg: BI Rate Bisa Naik Lagi Jadi 6%” (https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/115686/konsensus-bloomberg-bi-rate-bisa-naik-lagi-jadi-6/2), Federal Reserve issues FOMC statement.
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!