Ajaib
Menu

Berita

Jelang MSCI Rebalancing, Saham BUMI, DEWA, dan BRMS Terkoreksi

SarifaJanuary 14, 2026

Saham

Perdagangan saham Selasa (13/1/2026) kemarin diwarnai aksi jual yang cukup signifikan pada sejumlah saham Grup Bakrie. Saham BUMI, bersama dengan DEWA dan BRMS, tercatat terkoreksi dalam setelah sebelumnya mengalami reli yang kuat. Koreksi ini terjadi bertepatan dengan masa penantian pasar terhadap hasil rebalancing indeks global MSCI yang akan diumumkan akhir Januari ini. Lalu, apa sebenarnya yang sedang terjadi dan bagaimana kamu, sebagai investor pemula, bisa menyikapinya?

Memahami Momen MSCI Rebalancing

Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk paham apa itu MSCI rebalancing. MSCI (Morgan Stanley Capital International) adalah penyedia indeks saham global yang sangat berpengaruh. Ribuan dana investasi institusi di dunia, dengan nilai triliunan dolar, menggunakan indeks MSCI sebagai acuan untuk berinvestasi.

Rebalancing adalah proses peninjauan dan perubahan komposisi saham dalam suatu indeks MSCI, yang biasanya dilakukan beberapa kali dalam setahun. Jika sebuah saham masuk ke dalam indeks MSCI, maka dana-dana pasif (yang meniru komposisi indeks) akan otomatis membeli saham tersebut. Sebaliknya, jika saham keluar, dana-dana tersebut akan menjualnya. Inilah mengapa momen jelang pengumuman MSCI selalu penuh gejolak dan antisipasi.

Saham BUMI: Koreksi di Tengah Aksi Divestasi Investor Besar

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terkoreksi 6.88% ke level Rp406 per saham pada perdagangan kemarin. Yang menarik, BUMI menjadi saham paling banyak dilego dengan nilai transaksi jual mencapai Rp1,07 triliun.

Di balik tekanan jual ini, terungkap aksi divestasi besar-besaran oleh Chengdong Corporation, sebuah perusahaan investasi asal China. Berdasarkan keterbukaan informasi, Chengdong telah melepas sekitar 3,71 miliar saham BUMI dalam rentang waktu 23 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026, dengan kisaran harga Rp363 hingga Rp461 per saham. Aksi jual ini dilakukan secara bertahap dan bertujuan untuk divestasi.

Di sisi lain, Saham BUMI justru disebut-sebut sebagai salah satu kandidat terkuat untuk naik kelas masuk ke dalam MSCI Standard Cap Index pada peninjauan Februari 2026 mendatang. Saat ini, BUMI dinilai sudah memenuhi syarat likuiditas dan partisipasi investor yang luas. Koreksi yang terjadi bisa jadi merupakan penyesuaian harga alami (profit-taking) setelah reli panjang, sekaligus dampak sementara dari aksi jual investor institusional.

Saham DEWA: Tekanan dari Notasi Khusus “L”

Koreksi paling dalam terjadi pada saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA), yang anjlok 10.13% ke posisi Rp710 per saham. DEWA juga menempati posisi kedua sebagai saham yang paling banyak dijual.

Salah satu pemicu sentimen negatif adalah pemberian notasi khusus “L” oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) kepada Saham DEWA. Notasi ini diberikan karena perusahaan terlambat menyampaikan laporan keuangan sesuai batas waktu yang ditetapkan bursa. Keterlambatan ini bisa disebabkan berbagai hal, seperti proses audit yang belum selesai atau penyesuaian internal perusahaan. Pemberian notasi “L” merupakan peringatan bagi investor untuk lebih mencermati kepatuhan emiten terhadap kewajiban keterbukaan informasi.

Namun, mirip dengan BUMIDEWA juga memiliki narasi terkait MSCI. Dengan harga yang telah berada di atas level Rp700 dan likuiditas yang meningkat, Saham DEWA disebut berpotensi masuk dalam MSCI Small Cap Index pada rebalancing Februari nanti.

BRMS: Antisipasi Perubahan Aturan MSCI

Berbeda dengan kedua “saudaranya”, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang sudah lebih dahulu menjadi anggota indeks MSCI justru mengalami tekanan jual sebesar 5.16% ke Rp1.195 per saham.

Tekanan ini disinyalir berasal dari sikap wait and see investor yang mengantisipasi pengumuman MSCI mengenai kebijakan baru penghitungan free floatFree float adalah persentase saham suatu perusahaan yang benar-benar beredar dan bisa diperdagangkan publik. MSCI berencana menggunakan data yang lebih akurat dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk menghitung ini, dan aturan baru ini akan mulai berlaku Mei 2026. Investor khawatir perubahan metodologi ini bisa mempengaruhi posisi BRMS dan berpotensi memicu outflow atau aliran dana keluar dari saham-saham yang sudah masuk MSCI.

Tips untuk Investor Pemula Menghadapi Situasi Ini

Melihat fluktuasi yang terjadi, berikut beberapa hal yang bisa kamu perhatikan sebagai investor pemula:

  • Jangan Terburu-buru Bereaksi Emosional: Koreksi setelah reli yang kuat adalah hal yang wajar di pasar saham. Bedakan antara penurunan karena perubahan fundamental perusahaan dan penurunan karena sentimen jangka pendek atau aksi teknis.
  • Pelajari Penyebab Dasar: Selalu cari tahu akar masalahnya. Apakah karena kinerja perusahaan memburuk, atau karena faktor eksternal seperti aksi divestasi investor besar atau isu regulasi? Informasi tentang notasi “L” pada DEWA dan divestasi pada BUMI adalah contoh informasi penting yang tersedia untuk publik.
  • Pahami Siklus dan Jadwal Pasar: Jadwal seperti MSCI rebalancing adalah siklus rutin pasar. Investor yang berpengalaman sering mengantisipasi volatilitas di sekitar periode pengumuman ini. Jangan sampai kamu terkejut dengan gejolak yang sebenarnya bisa diprediksi.
  • Lakukan Diversifikasi: Daripada memusatkan modal hanya pada satu atau dua saham dari grup yang sama, sebarkan investasimu ke berbagai sektor dan jenis emiten. Ini membantu mengurangi risiko jika ada isu spesifik yang mengguncang satu kelompok saham tertentu.

Ingat: Investasi saham adalah tentang masa depan. Keputusan MSCI, perkembangan laporan keuangan DEWA, dan strategi perusahaan pasca-divestasi besar akan lebih menentukan arah Saham BUMI dan koleganya ke depan, dibandingkan fluktuasi harian.

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Lebih Percaya Diri

Memahami dinamika pasar seperti yang terjadi pada Saham BUMIDEWA, dan BRMS adalah langkah awal yang baik. Untuk terus belajar dan mengelola portofolio dengan mudah, platform investasi modern seperti Ajaib bisa menjadi teman yang tepat.

Kamu bisa mempelajari lebih dalam tentang investasi saham dan analisis mendalam emiten-emiten seperti Saham BUMISaham DEWA, dan BRMS di Ajaib. Dengan edukasi yang tepat dan tools yang user-friendly, kamu bisa mengambil keputusan investasi yang lebih terinformasi.

Download aplikasi Ajaib sekarang dan mulai bangun portofoliomu hari ini!

Google Play StoreApple App Store

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/research/20260114065002-128-702131/bumi-dewa-hingga-brms-turun-jelang-msci-masih-menarik-dilirik

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!

Jelang MSCI Rebalancing, Saham BUMI, DEWA, dan BRMS Terkoreksi - Ajaib