Jelang Rights Issue Jumbo, Apa Kabar Kinerja CBRE?
ajaib•July 27, 2026

Key Takeaways
- Sepanjang 2025, CBRE membukukan rugi bersih Rp70,35 miliar, dengan pendapatan turun 11,28% menjadi Rp55,16 miliar.
- Pembelian kapal senilai USD100 juta menaikkan total aset ke Rp2,005 triliun (+501%), sekaligus mengerek total liabilitas ke Rp1,958 triliun (+804%) dan menekan ekuitas menjadi Rp46,91 miliar.
- Aksi rights issue menargetkan dana hingga Rp1,91 triliun melalui penerbitan 12,76 miliar saham baru pada harga Rp100 hingga Rp150, dengan porsi besar untuk konversi utang sekitar Rp924 miliar.
- Dalam sebulan terakhir (22 Juni sampai 21 Juli 2026), harga saham menguat dari Rp670 ke Rp780, bahkan sempat menyentuh Rp820.
Menanti Kepastian Jadwal Rights Issue CBRE
Di tengah ramainya antrean rights issue jumbo sepanjang 2026, salah satu nama yang terus menjadi sorotan adalah PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE). Lalu, menjelang aksi korporasi berskala besar ini, bagaimana sebenarnya kondisi kinerja emiten tersebut?
CBRE selama ini dikenal sebagai emiten pelayaran dan energi yang sedang bertransformasi menuju bisnis penunjang offshore atau lepas pantai. Lewat aksi ini, emiten menargetkan dana hingga sekitar Rp1,91 triliun dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 12,76 miliar saham baru pada rentang harga Rp100 hingga Rp150 per lembar.
Meski begitu, jadwal pasti pelaksanaannya belum ditetapkan karena emiten masih menunggu pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sambil menanti kepastian waktu pengumumannya, ada baiknya menelaah tiga hal, yaitu laporan keuangan yang menjadi acuan, pergerakan harga terkini, serta proyeksi bagi trader.
Laporan Keuangan Desember Jadi Dasar Rights Issue CBRE
Pemahaman terhadap pentingnya aksi korporasi ini dapat dimulai dengan melihat laporan keuangan posisi Desember 2025 yang menjadi dasar pelaksanaannya.
Tabel 1. Ikhtisar Laba Rugi CBRE 2025 dan 2024 (Rp miliar)
| Pos | 2025 | 2024 | Perubahan |
| Pendapatan | 55,16 | 62,17 | -11,28% |
| Laba bruto | 1,52 | 6,05 | -74,9% |
| Rugi usaha | 50,42 | 36,25 | +39,09% |
| Beban keuangan | 19,28 | 14,67 | +31,4% |
| Rugi bersih | 70,35) | 51,66 | +36,18% |
Secara operasional, 2025 menjadi tahun yang menantang bagi CBRE. Pendapatan turun 11,28% ke Rp55,16 miliar seiring melemahnya pendapatan sewa kapal dan ship management, di tengah tekanan pada bisnis inti angkutan curah (tug & barge serta supramax) akibat penyesuaian kebijakan pemerintah di sektor batu bara dan nikel. Margin bruto ikut menipis ke 2,75%, dan dengan beban usaha yang tetap tinggi, emiten membukukan rugi usaha Rp50,42 miliar serta rugi bersih Rp70,35 miliar, lebih besar dibanding tahun sebelumnya.
Tabel 2. Ikhtisar Neraca CBRE 2025 dan 2024 (Rp miliar)
| Pos | 2025 | 2024 | Perubahan |
| Total aset | 2.005,24 | 333,65 | +501% |
| Aset lancar | 54,65 | 23,17 | +135,8% |
| Aset tidak lancar | 1.950,59 | 310,48 | +528% |
| Total liabilitas | 1.958,33 | 216,53 | +804% |
| Total ekuitas | 46,91 | 117,12 | -59,95% |
Perubahan paling besar justru terlihat pada neraca. Total aset naik hampir lima kali lipat menjadi Rp2 triliun, hampir seluruhnya berasal dari aset tidak lancar, akibat pembelian kapal Offshore Support Vessel jenis Pipe Laying & Lifting Vessel (Hai Long 106) dari Hilong Shipping Holding senilai USD100 juta. Karena akuisisi ini dibiayai utang, total liabilitas ikut naik tajam ke Rp1,96 triliun, sementara ekuitas menyusut hampir 60% menjadi Rp46,91 miliar.
Tabel 3. Rasio Keuangan Kunci CBRE 2025 dan 2024
| Rasio | 2025 | 2024 |
| Margin bruto | 2,75% | 9,74% |
| EBITDA terhadap Pendapatan | -91,40% | -4,77% |
| DER (Liabilitas terhadap Ekuitas) | 41,75x | 1,85x |
| Rasio lancar | 0,07 | 0,34 |
| Interest coverage | -2,62 | 2,47 |
Kombinasi kenaikan utang dan menyusutnya ekuitas membuat struktur permodalan berada di bawah tekanan. DER atau debt to equity ratio, yaitu rasio utang terhadap modal, menyentuh 41,75x, rasio lancar hanya 0,07, dan interest coverage atau kemampuan menutup beban bunga berada di angka negatif. Kondisi ini menjadi sinyal tekanan pada sisi solvabilitas dan likuiditas.
Di titik inilah aksi rights issue menjadi relevan. Laporan keuangan posisi Desember 2025 yang menjadi dasar aksi korporasi memperlihatkan neraca yang perlu diperbaiki, sehingga konversi utang sekitar Rp924 miliar menjadi ekuitas menempati posisi inti dalam aksi ini. Tujuannya bukan sekadar menghimpun dana segar, melainkan menata ulang permodalan sekaligus mendanai ekspansi, termasuk belanja kapal Anchor Handling Tug Supply (AHTS) sekitar Rp150 miliar dan modal kerja.
Pergerakan Saham CBRE Sebulan Terakhir Sejak Isu Rights Issue Kembali Mencuat
Dalam sebulan terakhir, saham CBRE bergerak menguat dengan volatilitas yang tinggi seiring isu rights issue yang kembali menghangat. Dari penutupan Rp670 pada 22 Juni 2026, harga sempat terkoreksi ke titik terendah di kisaran Rp590 sampai Rp595 pada ujung Juni hingga awal Juli, sebelum berbalik arah dan ditutup di Rp780 pada 21 Juli 2026. Secara keseluruhan, harga menguat sekitar 16% dalam periode tersebut, bahkan lebih dari 30% jika dihitung dari titik terendahnya.
Titik balik pertama terjadi pada 2 Juli, saat saham naik 16,81% dari Rp595 ke Rp695 dengan volume yang membesar hingga 31,04 juta lembar. Momentum berlanjut meski tidak mulus, karena sempat ada koreksi 6,16% pada 8 Juli sebelum tren naik kembali menguat. Kenaikan paling besar tercatat pada 17 Juli, ketika harga naik 10,14% ke Rp760 dengan volume 57,68 juta lembar, yang menjadi volume tertinggi sepanjang periode ini.
Penguatan itu bertepatan dengan sederet katalis, mulai dari penambahan kepemilikan Andry Hakim pada 10 Juli yang dibaca pasar sebagai sinyal keyakinan pemegang saham signifikan, kedatangan kapal Gunanusa Hai Long 106 di Indonesia pada akhir Juni, hingga keterlibatan CBRE dalam Proyek Hidayah di lepas pantai Jawa Timur.
Tabel 4. Sesi Perdagangan Kunci Saham CBRE, 1 sampai 21 Juli 2026
| Tanggal | Penutupan | Perubahan | Volume | Catatan |
| 1 Jul | 595 | +0,85% | 15,10M | Titik terendah periode, intraday Rp545 |
| 2 Jul | 695 | +16,81% | 31,04M | Awal reli, volume membesar |
| 17 Jul | 760 | +10,14% | 57,68M | Kenaikan dan volume tertinggi |
| 20 Jul | 760 | 0,00% | 35,48M | Sempat ke Rp820, ditutup datar, profit taking |
Sebagai catatan, pada 20 Juli saham sempat menyentuh Rp820 secara intraday, tetapi ditutup datar di Rp760 dengan volume yang cukup besar, yaitu 35,48 juta lembar. Hal ini menandakan adanya tekanan jual ketika harga bergerak naik. Rentang perdagangan sepanjang bulan ini terbentang cukup lebar, dari Rp545 sebagai level terendah pada 1 Juli hingga Rp820 sebagai level tertinggi pada 20 Juli.
Kisaran tersebut dapat menjadi acuan level support dan resistance, yaitu batas harga tempat tekanan beli atau jual cenderung menguat. Namun, perlu diingat bahwa ini murni menggambarkan pergerakan harga dan tidak dimaksudkan sebagai penilaian mengenai valuasi.
Rekomendasi Aksi dan Proyeksi CBRE bagi Trader
Bertolak dari kondisi fundamental dan pergerakan harga di atas, berikut beberapa skenario yang dapat menjadi bahan pertimbangan, bukan ajakan untuk membeli atau menjual.
1. Skenario Bullish yang Bertumpu pada Ekspansi.
Apabila kontrak baru dan tingkat utilisasi kapal AHTS terealisasi, ditambah konversi utang yang memperbaiki struktur neraca, terbuka ruang bagi re-rating atau penilaian ulang valuasi ke level yang lebih tinggi. Proyek Hidayah berpotensi menjadi pendorong pendapatan pada paruh kedua 2026 seiring mulai beroperasinya armada baru.
2. Skenario Risiko dari Dilusi dan Volatilitas.
Aksi ini berpotensi menimbulkan dilusi hingga 73,76%, yaitu penyusutan porsi kepemilikan pemegang saham lama akibat bertambahnya jumlah saham beredar. Selain itu, terdapat risiko volatilitas harga yang tinggi, fluktuasi permintaan jasa pelayaran lepas pantai, serta ketergantungan pada realisasi konversi utang.
3. Pantau Harga dan Keterbukaan Informasi.
Level support dan resistance di kisaran Juli, yaitu sekitar Rp545 hingga Rp820, dapat menjadi acuan awal. Selain itu, penting untuk memantau volume perdagangan serta keterbukaan informasi seperti pernyataan efektif OJK dan realisasi kontrak. Mengingat karakternya yang high-beta atau bergerak lebih fluktuatif dibanding pasar, pengaturan ukuran posisi menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Jadi, bagaimana kabar kinerja CBRE? Laporan keuangan 2025 masih mencatatkan kerugian dengan pendapatan yang menurun, sementara sinyal pemulihan mulai terlihat pada kuartal I-2026 seiring transformasi menuju bisnis offshore. Di saat yang sama, neraca sedang diperbaiki melalui rights issue, sehingga peluang dan risiko berjalan beriringan.
Mulai Investasi Saham di Ajaib!
Memantau aksi korporasi seperti rights issue memang menuntut informasi yang lengkap serta pemahaman atas kondisi emiten. Untuk memantau aksi korporasi, kinerja emiten, hingga melakukan transaksi jual beli saham, Anda dapat memanfaatkan platform investasi saham Ajaib. Anda juga dapat menggunakan Ajaib Terminal untuk membaca sinyal smart money dan memantau beberapa saham secara real-time dalam satu layar guna memaksimalkan strategi trading.
Di Ajaib Terminal, kamu tidak akan lagi ketinggalan informasi corporate action dari saham favoritmu. Cukup klik saham yang kamu inginkan, lalu buka tab Corp Action untuk melihat jadwal corporate action secara lengkap. Download aplikasi Ajaib di Play Store & App Store serta Ajaib Terminal di MacOS dan Windows sekarang!
Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.
Sumber: Investing, Annual Report CBRE
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!