Berita, Ekonomi

Ajaib! Neraca Perdagangan Surplus US$ 3,26 miliar

10 Poin Kebijakan Perdagangan Internasional

Ajaib.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat data neraca perdagangan (Balance of trade/BoT) Indonesia per akhir Juli 2020 surplus US$ 3,26 miliar. Angka ini tentunya jauh lebih besar dibandingkan bulan April 2020 yang US$ 1,24 miliar.

Suhariyanto, Kepala BPS, dalam konferensi pers pada Selasa (18/8/2020) yang dilansir CNBCIndonesia, mengumumkan nilai impor Indonesia bulan Juli tercatat sebesar US$ 10,47 miliar. Terjadi kontraksi 32,55-% dibandingkan bulan Juli 2019 (year-on-year/YoY).

Penurunan ekspor yang terjadi disebabkan perlambatan ekonomi. “Kita belum kembali ke normal. Ini terjadi karena ada penurunan impor non-migas dan impor migas,” kata Suhariyanto.

Neraca Perdagangan Indonesia

Pentingnya Data Neraca dagang Suatu Negara

Neraca dagang ialah nilai semua barang dan jasa yang diekspor dan diimpor suatu negara dalam periode tertentu, bisa satu bulan atau satu tahun. Neraca dagang merupakan komponen terbesar dalam neraca pembayaran (Balance of Payment/BoP).

Dalam praktiknya, neraca perdagangan mempunyai dua sifat, yaitu positif dan negatif. Suatu negara dikatakan mempunyai neraca perdagangan yang positif apabila negera tersebut lebih banyak melakukan ekspor daripada impor. Hal itu disebut sebagai surplus perdagangan.

Begitu juga sebaliknya, ketika suatu negara lebih banyak mengimpor dari negara lain, maka negara tersebut mempunyai neraca perdagangan yang negatif. Kondisi yang demikian disebut sebagai defisit neraca perdagangan.

Neraca Perdagangan Surplus, IHSG Menguat

Neraca dagang periode Juli 2020 kembali surplus. Berdasarkan data bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan signifikan 0,90% ke level 5.295.

Pada akhir sesi I, IHSG ditutup menguat 1,28 persen atau 67,22 poin menjadi 5.314,91, setelah bergerak di rentang 5.243,99 – 5.316,13.

Mengutip pemberitaan Bisnis Indonesia, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa pekan ini minat investor tampaknya masih akan berpihak kepada aset investasi aman selain dolar AS, seperti US Treasury dan mata uang swiss franc dibandingkan dengan aset berisiko seperti rupiah.

Artikel Terkait