Ajaib
Menu

Investasi

Perbedaan SBN dan Reksa Dana Obligasi, Mana yang Cocok Untukmu?

SarifaJanuary 22, 2026

Dari banyaknya pilihan investasi yang tersedia saat ini, SBN dan reksa dana obligasi adalah dua pilihan investasi populer di masyarakat yang dianggap rendah risiko bagi investor.

Walaupun kedua produk investasi tersebut sama-sama rendah risiko dan portofolionya adalah obligasi. Namun SBN dan reksa dana obligasi sebenarnya memiliki perbedaan. Sehingga, penting bagi setiap investor untuk memahami terlebih dahulu perbedaan keduanya sebelum investasi.

Dalam artikel ini, kami akan membahas perbedaan obligasi dan reksa dana obligasi agar kamu sebagai investor bisa menentukan pilihan investasi yang paling sesuai dengan profil investormu.

Mengenal SBN dan Reksa Dana Obligasi

Walaupun SBN dan reksa dana obligasi sama-sama berbasis obligasi, namun kedua investasi tersebut memiliki mekanisme dan karakteristik yang berbeda.

Perbedaan mekanisme dan karakteristik dari kedua investasi tersebut dapat menentukan seberapa besar risiko dan seberapa mudah produk investasi tersebut dikelola, serta potensi keuntungan investasi kamu.

Mari kita simak pembahasan selengkapnya di artikel ini!

Apa itu SBN?

SBN adalah singkatan dari Surat Berharga Negara yang diterbitkan pemerintah Indonesia dan menjadi instrumen investasi yang dijamin 100% oleh negara.

Mengapa demikian? Ini karena SBN sebenarnya adalah surat utang yang dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah Indonesia dan dijual kepada investor. Sehingga, sudah seharusnya pemerintah Indonesia memberikan jaminan kepastian bahwa utang negara tersebut pasti akan dikembalikan atau dibayarkan sepenuhnya beserta bunganya kepada pemilik SBN.

Dari banyaknya dana yang diterima negara dari pembelian SBN oleh investor, kemudian dana utang tersebut akan digunakan pemerintah Indonesia untuk mendanai berbagai hal yang bersifat produktif, termasuk mendukung pemerataan dan pembangunan nasional.

Apa itu Reksa Dana Obligasi?

Reksa dana obligasi juga dikenal luas oleh investor sebagai reksa dana pendapatan tetap. Jenis reksa dana ini mayoritas portofolionya adalah obligasi dengan persentase minimal 80%, bisa lebih banyak obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi.

Jenis reksa dana obligasi memiliki cara kerja dengan mengumpulkan dana dari banyak investor. Lalu, Manajer Investasi (MI) sebagai pihak yang mengelola reksa dana akan menginvestasikan uang investor ke obligasi dan instrumen pasar uang.

Dalam reksa dana obligasi, Manajer Investasi (MI) memiliki tugas utama untuk mengelola portofolio investasi kamu, melakukan analisis pasar, memilih aset, hingga mengalokasikan uang investor ke berbagai jenis SBN dan obligasi korporasi, serta instrumen pasar uang.

Perbedaan SBN dan Reksa Dana Obligasi

SBN dan reksa dana obligasi dapat dibedakan berdasarkan mekanisme dan karakteristik berikut ini.

Penerbit dan Pengelola

Reksa dana obligasi diterbitkan dan dikelola oleh Manajer Investasi (MI), sementara SBN diterbitkan dan dikelola oleh negara.

Secara keamanan, tentu SBN jauh lebih unggul karena dijamin negara. Sementara reksa dana obligasi dikelola secara profesional oleh Manajer Investasi (MI) yang terdiri dari tim profesional yang sudah memiliki sertifikat keuangan.

Imbal Hasil Return

Perbedaan SBN dan reksa dana obligasi selanjutnya bisa investor lihat dari potensi imbal hasil atau return. Surat Berharga Negara (SBN) menawarkan fixed return bagi investor. Ini berbeda halnya dengan potensi imbal hasil yang ditawarkan oleh reksa dana obligasi yang bisa berfluktuatif dari tahun ke tahun tergantung kondisi pasar.

Mana yang Memberikan Imbal Hasil Lebih Tinggi?

Berdasarkan imbal hasil, reksa dana obligasi bisa memberikan keuntungan investasi yang lebih tinggi dibanding SBN. Namun, imbal hasil reksa dana obligasi tidak pasti dan berfluaktif.

Sementara SBN menawarkan imbal hasil tetap dan lebih stabil. Ini karena SBN dijamin oleh negara sehingga risiko gagal bayar hampir tidak ada.

Risiko Investasi

Sebelum berinvestasi di SBN atau reksa dana obligasi, investor perlu memahami bahwa kedua produk investasi tersebut tidak lepas dari faktor risiko seperti risiko pasar dan risiko gagal bayar.

SBN

  • Risiko gagal bayar bisa saja terjadi di SBN, tapi kemungkinannya sangat kecil karena dijamin 100% oleh negara.
  • Ada risiko penurunan harga SBN akibat naiknya suku bunga atau kondisi ekonomi yang tidak stabil. Hal ini bisa merugikan investor ketika menjual SBN di pasar sekunder sebelum jatuh tempo.
  • Risiko likuiditas ketika investor ingin menjual SBN di pasar sekunder dengan cepat dan menjualnya di harga wajar sebelum jatuh tempo.
  • Inflasi yang tinggi dapat menggerus imbal hasil SBN.
  • SBN punya risiko sangat rendah karena dijamin 100% oleh negara.

Reksa Dana Obligasi

  • Naik atau turunnya reksa dana obligasi dapat dipengaruhi suku bunga.
  • Risiko likuiditas bisa saja terjadi, jika banyak investor yang melakukan pencairan reksa dana secara besar-besaran.
  • Risiko gagal bayar kupon atau utang pokok oleh penerbit obligasi akan menurunkan nilai NAB reksa dana.
  • Inflasi yang tinggi bisa menggerus imbal hasil reksa dana obligasi.
  • Reksa dana obligasi punya risiko sedang dan pemilihan portofolio obligasi yang tepat di reksa dana oleh Manajer Investasi (MI) dapat meminimalkan risiko.

Likuiditas dan Pencairan Dana

Berdasarkan likuiditas dan pencairan dana, reksa dana obligasi lebih unggul dibanding SBN. Ini karena reksa dana obligasi bisa dicairkan kapan saja.

Umumnya, pencairan reksa dana obligasi membutuhkan waktu T+7 (7 hari kerja) tergantung dari masing-masing Manajer Investasi (MI) dan Bank Kustodian.

Apakah SBN Bisa Dicairkan Sebelum Jatuh Tempo?

Beberapa jenis SBN memiliki fitur early redemption, di mana hal ini memungkinan investor bisa mencairkan SBN sebelum jatuh tempo. Tetapi, umumnya pencairan tidak sefleksibel reksa dana obligasi karena ada syarat periode kepemilikan SBN dan minimal nominal yang bisa dicairkan.

Mayoritas SBN yang ada di pasar saat ini tidak bisa dicairkan sebelum jatuh tempo. Ini adalah salah satu risiko investasi SBN dari sisi likuiditas dan pencairan dana.

Kamu sebagai investor bisa memulai investasi reksa dana dengan Rp10 ribu. Sementara SBN menetapkan modal awal investasi mulai dari Rp1 juta.

Baik itu, reksa dana obligasi atau SBN, keduanya bisa kamu beli dengan mudah melalui aplikasi investasi online.

Mana yang Lebih Cocok untuk Kamu?

Untuk menentukan apakah reksa dana obligasi atau SBN yang lebih lebih cocok untuk kamu. Sebagai investor, kamu bisa memilihnya berdasarkan tujuan investasi, jangka waktu, dan toleransi risiko.

Cocok Memilih SBN Jika…

Kamu adalah profil investor yang mengutamakan keamanan dan kepastian imbal hasil. Jenis investor ini termasuk profil investor konservatif, di mana kamu sangat menghindari fluktuasi harga, tidak mau modal pokok investasi berkurang sepeser pun, dan ingin berinvestasi untuk tujuan jangka pendek hingga menengah (1-3 tahun).

Cocok Memilih Reksa Dana Obligasi Jika…

Kamu adalah profil investor yang menginginkan fleksilibitas dan potensi return yang lebih tinggi daripada SBN. Jenis investor yang cocok untuk reksa dana obligasi adalah profil investor moderat, di mana kamu bisa menerima jika nilai portofolio investasimu mengalami penurunan tapi tidak sevolatile saham dan ingin mempersiapkan tujuan finansial jangka pendek hingga menengah (1-3 tahun).

Apakah Pemula Cocok Berinvestasi di SBN atau Reksa Dana Obligasi?

SBN dan reksa dana obligasi adalah dua pilihan investasi yang cocok bagi investor pemula karena berisiko rendah.

Namun, investasi SBN lebih cocok untuk kamu yang lebih mengutamakan keamanan. Alasannya, karena investasi SBN dijamin oleh negara.

Sementara investasi reksa dana obligasi lebih cocok bagi kamu yang mencari fleksibilitas dalam hal pencairan dana dan menawarkan modal awal investasi yang lebih terjangkau.

Kesimpulan

Walaupun reksa dana obligasi dan SBN sama-sama adalah pilihan investasi berbasis obligasi. Namun, keduanya memiliki perbedaan utama berdasarkan penerbit atau pengelola, serta potensi imbal hasil return.

SBN adalah instrumen investasi yang diterbitkan oleh negara dan mendapatkan jaminan kepastian pengembalian pokok utang beserta bunganya oleh pemerintah Indonesia. Sementara reksa dana obligasi diterbitkan dan diracik oleh Manajer Investasi (MI) secara profesional sehingga aman bagi investor.

Secara keamanan, SBN lebih unggul dibanding reksa dana obligasi karena dijamin negara. Namun berbicara soal imbal hasil dan kemudahan dalam pencairan dana, reksa dana obligasi menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding SBN dan bisa dicairkan kapan saja.Kamu bisa menyesuaikan pilihan investasi SBN atau reksa dana obligasi berdasarkan kebutuhan dan tujuan finansial. Investor bisa dengan mudah berinvestasi di kedua produk investasi tersebut sekaligus tanpa perlu pindah platform di aplikasi Ajaib.

Google Play StoreApple App Store

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!

Perbedaan SBN dan Reksa Dana Obligasi, Mana yang Cocok Untukmu? - Ajaib