Ajaib
Menu

Saham

Panduan Beli Saham IPO: Cara dan Risikonya

Sandy AnugerahDecember 15, 2025

Investasi pada Initial Public Offering (IPO) semakin populer di kalangan investor, terutama investor ritel. IPO menawarkan kesempatan membeli saham perusahaan sebelum diperdagangkan di pasar sekunder, sehingga banyak orang melihatnya sebagai peluang mendapatkan harga awal yang lebih menarik. Selain itu, beberapa kasus kenaikan harga pada hari pertama listing membuat IPO terlihat menjanjikan bagi mereka yang ingin mencari potensi keuntungan cepat.

Dalam beberapa tahun terakhir, tren minat investor ritel terhadap IPO meningkat pesat. Akses yang semakin mudah melalui platform e-IPO, edukasi pasar modal yang semakin luas, serta arus informasi yang cepat membuat semakin banyak masyarakat tertarik mencoba instrumen investasi ini. Fenomena oversubscribe ketika permintaan saham lebih besar dari jumlah yang ditawarkan juga menjadi indikator tingginya antusiasme publik terhadap IPO tertentu.

Artikel ini bertujuan memberikan panduan lengkap tentang investasi IPO, mulai dari cara mengikuti proses pemesanan saham, apa saja yang perlu diperhatikan sebelum membeli, hingga berbagai risiko yang harus dipahami agar keputusan investasi tetap bijak dan terukur.

Apa Itu IPO?

Initial Public Offering (IPO) adalah proses ketika sebuah perusahaan untuk pertama kalinya menawarkan sahamnya kepada publik melalui pasar modal. Dengan melakukan IPO, perusahaan berubah status dari perusahaan tertutup (private) menjadi perusahaan terbuka (Tbk) yang sahamnya bisa dibeli dan diperdagangkan oleh masyarakat.

Agar bisa melantai di bursa, perusahaan harus melewati serangkaian tahapan seperti audit laporan keuangan, penunjukan penjamin emisi (underwriter), penyusunan prospektus, melakukan masa penawaran awal (bookbuilding), hingga mendapat persetujuan dari otoritas bursa dan OJK. Setelah semua proses ini dinyatakan lolos, barulah saham perusahaan resmi dicatatkan dan diperdagangkan pada hari pertama listing.

IPO juga berbeda dengan right issue maupun transaksi secondary market. Pada right issue, perusahaan yang sudah tercatat di bursa menawarkan saham baru kepada pemegang saham lama. Sedangkan secondary market adalah tempat jual beli saham setelah perusahaan resmi listing; investor saling bertukar saham, bukan membeli langsung dari perusahaan. Sementara dalam IPO, investor membeli saham langsung dari perusahaan pada harga penawaran yang sudah ditentukan.

Perusahaan melakukan IPO karena beberapa alasan: untuk mendapatkan pendanaan baru, memperluas ekspansi bisnis, memperbaiki struktur permodalan, meningkatkan kredibilitas perusahaan, hingga memberikan kesempatan kepada pemegang saham lama untuk melakukan divestasi secara bertahap.

Apa Keuntungan Beli Saham IPO?

Berinvestasi dalam IPO memiliki beberapa keunggulan yang membuatnya menarik bagi investor, terutama mereka yang mencari peluang pertumbuhan lebih cepat.

1. Potensi Kenaikan Harga Saham di Hari Pertama (Initial Pop)

Salah satu daya tarik utama IPO adalah peluang terjadinya initial pop, yaitu kenaikan harga saham pada hari pertama perdagangan. Kenaikan ini biasanya didorong oleh tingginya minat pasar, reputasi perusahaan, ataupun ekspektasi positif terhadap prospek bisnisnya. Meskipun tidak terjadi pada semua IPO, fenomena ini cukup sering muncul sehingga menjadi magnet bagi banyak investor.

2. Peluang Mendapatkan Harga Lebih Murah Dibanding Pasar Sekunder

Pada proses IPO, harga saham telah ditentukan melalui bookbuilding berdasarkan minat investor institusi dan kondisi pasar. Harga ini sering kali dianggap lebih rendah atau lebih “wajar” dibandingkan harga setelah listing, sehingga membuka kesempatan bagi investor untuk masuk di level harga awal sebelum terjadi volatilitas pasar sekunder.

3. Diversifikasi Portofolio

IPO memberikan akses ke perusahaan-perusahaan baru yang sebelumnya tidak tersedia di pasar publik. Hal ini membantu investor memperluas diversifikasi portofolio, baik berdasarkan sektor, ukuran perusahaan, maupun potensinya di masa depan.

4. Transparansi Perusahaan Meningkat Setelah IPO

Setelah menjadi perusahaan publik, emiten wajib mematuhi standar transparansi yang lebih tinggi, termasuk penyampaian laporan keuangan berkala, keterbukaan informasi, dan berbagai pengumuman material. Hal ini membantu investor mendapatkan informasi yang lebih lengkap untuk menilai kinerja dan prospek perusahaan.

Cara Beli Saham IPO

Berinvestasi dalam IPO kini semakin mudah berkat platform e-IPO yang terintegrasi dengan berbagai sekuritas. Ajaib adalah salah satu pilihan terbaik untuk membeli saham IPO karena fitur e-IPO yg dimilikinya sangat mudah untuk diakses. Berikut penjelasan langkah demi langkah agar prosesnya lebih jelas untuk pemula.

Syarat Dasar untuk Ikut IPO

Sebelum bisa memesan saham IPO, investor harus memenuhi dua syarat utama:

  1. Memiliki rekening saham dan Rekening Dana Nasabah (RDN)
    Rekening ini digunakan untuk menampung dana dan menerima saham setelah penjatahan.
  2. Menggunakan sekuritas yang mendukung e-IPO
    Sebagian besar sekuritas di Indonesia seperti Ajaib sudah terhubung dengan sistem e-IPO.

Langkah-Langkah Mengikuti IPO

Berikut proses mengikuti pembelian saham IPO dari awal hingga saham masuk ke portofolio:

  1. Cek jadwal dan prospektus IPO di situs e-IPO
    Investor dapat melihat perusahaan mana saja yang akan IPO, jadwal penawaran, dan dokumen resmi yang tersedia. Ajaib menyediakan berbagai informasi tentang apa saja yang dibutuhkan investor sebelum membeli saham IPO. Cek selengkapnya di sini!
  2. Mempelajari prospektus
    Dokumen ini memuat informasi penting seperti kinerja keuangan, struktur pemegang saham, risiko bisnis, hingga rencana penggunaan dana IPO. Membaca prospektus adalah langkah wajib sebelum membuat keputusan.
  3. Melakukan pemesanan saham IPO
    Investor dapat memesan saham melalui situs e-IPO atau aplikasi sekuritas yang sudah terintegrasi.
  4. Menentukan jumlah pemesanan (lot)
    Investor memilih berapa banyak saham yang ingin dipesan sesuai dengan batasan dan alokasi maksimal yang ditentukan.
  5. Menunggu proses penjatahan (allotment)
    Jika minat investor tinggi, bisa terjadi oversubscribed, yaitu permintaan lebih besar dari jumlah saham yang tersedia. Dalam kondisi seperti ini, investor biasanya hanya mendapat sebagian dari pesanan.
  6. Melakukan pembayaran dan konfirmasi
    Setelah menerima hasil penjatahan, investor perlu memastikan dana di RDN mencukupi untuk penyelesaian transaksi.
  7. Saham masuk ke portofolio pada hari listing
    Pada hari perusahaan resmi melantai di bursa, saham yang berhasil dialokasikan akan muncul di portofolio investor.

Tips Memilih IPO yang Tepat

Agar investasi IPO lebih terarah dan minim risiko, berikut beberapa hal penting yang patut dipertimbangkan:

  1. Cek fundamental perusahaan
    Perhatikan tingkat pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, serta posisi perusahaan dalam industrinya.
  2. Baca tujuan penggunaan dana IPO
    Pastikan dana yang dihimpun perusahaan digunakan untuk ekspansi yang produktif, bukan sekadar membayar utang yang tidak mendukung pertumbuhan.
  3. Perhatikan reputasi underwriter
    Penjamin emisi yang bereputasi baik biasanya lebih selektif dalam membawa calon emiten ke pasar.
  4. Bandingkan valuasi dengan perusahaan sejenis
    Valuasi yang terlalu tinggi bisa meningkatkan risiko koreksi harga setelah listing.
  5. Cermati tingkat oversubscribe
    Tingginya minat investor dapat menjadi sinyal positif, meski bukan jaminan kinerja harga.

Risiko Berinvestasi di IPO

Meskipun IPO menawarkan peluang menarik, instrumen ini tetap memiliki risiko yang perlu dipahami agar investor tidak hanya melihat potensi keuntungannya saja. Berikut beberapa risiko utama yang perlu diperhatikan:

1. Risiko Harga Turun Setelah Listing (Initial Drop)

Tidak semua IPO mengalami kenaikan harga. Beberapa justru mengalami initial drop atau langsung turun pada hari pertama perdagangan. Hal ini bisa terjadi karena valuasi yang terlalu tinggi, sentimen pasar yang negatif, atau sels off dari investor awal.

2. Risiko Oversubscribed dan Tidak Mendapatkan Alokasi Sesuai Pesanan

IPO yang populer sering kali mengalami oversubscribe, yaitu kondisi ketika permintaan jauh melebihi jumlah saham yang tersedia. Akibatnya, investor mungkin hanya menerima sebagian kecil dari pesanan, atau bahkan tidak mendapatkan alokasi sama sekali. Meski menunjukkan tingginya minat pasar, hal ini tetap menjadi risiko dalam perencanaan alokasi dana.

3. Risiko Valuasi Terlalu Mahal

Beberapa perusahaan menetapkan harga IPO yang dianggap terlalu tinggi dibandingkan fundamentalnya. Jika valuasi tidak realistis, pasar cenderung melakukan koreksi setelah listing, membuat harga saham turun.

4. Risiko Bisnis Perusahaan Belum Stabil

Tidak sedikit perusahaan yang melakukan IPO saat kondisi keuangan mereka belum stabil atau bahkan masih mencatat kerugian. Tanpa fundamental yang kuat dan arus kas yang sehat, investor berpotensi menghadapi volatilitas harga yang tinggi setelah IPO.

5. Risiko Likuiditas Rendah Setelah Beberapa Bulan

Setelah hype IPO mereda, beberapa saham justru mengalami penurunan minat transaksi. Rendahnya likuiditas membuat investor kesulitan untuk menjual saham di harga yang diinginkan, terutama di saham-saham dengan kapitalisasi kecil.

6. Risiko Ketergantungan pada Sentimen Pasar

Kinerja harga saham IPO sangat sensitif terhadap sentimen pasar. Faktor makro ekonomi, kondisi industri, bahkan isu global bisa menyebabkan harga saham IPO berfluktuasi tajam, terlepas dari fundamental perusahaannya.

Perbedaan Antara Investasi IPO vs Beli Saham Setelah Listing

Tidak semua investor cocok untuk membeli saham saat IPO. Sebagian lebih nyaman menunggu setelah listing. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami.

Kelebihan Investasi IPO

  • Berpeluang mendapatkan harga awal yang lebih murah.
  • Potensi initial pop yang bisa memberikan keuntungan dalam waktu singkat.
  • Akses ke perusahaan baru yang belum tersedia di pasar.

Kekurangan Investasi IPO

  • Tidak ada jaminan harga naik setelah listing; bisa terjadi initial drop.
  • Kemungkinan tidak mendapat alokasi penuh karena oversubscribe.
  • Risiko valuasi yang sulit dinilai oleh investor pemula.

Kelebihan Beli Saham Setelah Listing

  • Harga sudah membentuk pola berdasarkan permintaan dan penawaran pasar.
  • Lebih mudah menganalisis tren harga dan sentimen investor.
  • Risiko tidak mendapat saham (penjatahan) tidak ada.

Kekurangan Beli Setelah Listing

  • Harga sering kali sudah naik signifikan jika saham sedang hype.
  • Volatilitas di hari-hari awal bisa lebih tinggi.
  • Berpotensi membeli di harga yang terlalu mahal jika tidak berhati-hati.

Kapan Lebih Baik Ikut IPO?

  • Ketika perusahaan memiliki fundamental kuat dan prospek industrinya positif.
  • Saat valuasi IPO relatif menarik dibanding kompetitor.
  • Jika tingkat oversubscribe masih wajar dan tidak berlebihan.

Kapan Lebih Aman Menunggu di Pasar Sekunder?

  • Ketika valuasi IPO dianggap terlalu tinggi.
  • Jika bisnis perusahaan masih merugi dan bergantung pada proyeksi masa depan.
  • Ketika sentimen pasar sedang buruk atau volatilitas pasar meningkat.

Strategi Investasi IPO untuk Pemula

Agar pengalaman mengikuti IPO tetap aman dan terukur, berikut strategi praktis yang bisa diterapkan oleh investor pemula:

1. Gunakan Dana yang Siap Berfluktuasi

IPO memiliki risiko harga naik atau turun tajam. Gunakan dana yang tidak akan mengganggu kebutuhan utama.

2. Jangan FOMO

Antusiasme pasar sering menciptakan hype, namun keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada riset, bukan takut ketinggalan.

3. Fokus pada IPO yang Fundamentalnya Kuat

Perhatikan rekam jejak pendapatan, profit, posisi kompetitif, dan arus kas. IPO yang menawarkan pertumbuhan solid cenderung lebih stabil.

4. Gunakan Alokasi Kecil Terlebih Dahulu

Jika baru pertama kali mengikuti IPO, gunakan jumlah kecil untuk memahami proses penjatahan, pembayaran, dan mekanisme listing.

5. Evaluasi Hasil Setiap Mengikuti IPO

Catat pengalaman: apakah mendapat alokasi, bagaimana pergerakan harga, dan apakah keputusan sudah tepat. Evaluasi ini penting untuk membangun strategi jangka panjang.

Pesan Saham IPO di Ajaib

Investasi IPO menawarkan peluang menarik, mulai dari potensi kenaikan harga di hari pertama hingga kesempatan membeli saham di tahap awal perusahaan melantai di bursa. Namun, di balik peluang tersebut, investor juga perlu memahami berbagai risiko, seperti valuasi yang tidak selalu murah, potensi penurunan harga setelah listing, hingga ketidakpastian alokasi saat permintaan tinggi.

Karena itu, riset mandiri tetap menjadi kunci utama sebelum membeli saham IPO maupun saham yang sudah diperdagangkan di pasar sekunder. Membaca prospektus, memahami fundamental perusahaan, serta menyesuaikan strategi dengan profil risiko akan membantu investor mengambil keputusan yang lebih bijak.

Bagi investor yang ingin mulai berinvestasi, kini proses beli saham maupun ikut e-IPO bisa dilakukan dengan lebih mudah melalui Ajaib. Dengan akses ke pasar saham dan e-IPO dalam satu platform, investor dapat memilih peluang investasi yang sesuai dengan tujuan dan strategi masing-masing, serta membangun portofolio secara lebih terukur.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!

Panduan Beli Saham IPO: Cara dan Risikonya - Ajaib