Ajaib
Menu

Berita

IHSG Jatuh 2,59% di Awal Perdagangan, Ini Penyebabnya!

TikaMay 18, 2026

ihsg turun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung mencatatkan pelemahan tajam pada pembukaan perdagangan hari Senin (18/5/2026). Berdasarkan data bursa, IHSG melemah sebesar 94,34 poin atau ambles 1,40% ke level 6.628,97. Sesaat setelah perdagangan dimulai, tekanan jual kian masif hingga membuat indeks terjerembab semakin dalam mencapai 2,59%.

Aktivitas pasar menunjukkan dinamika yang sangat timpang dengan sebanyak 208 saham bergerak melemah, sedangkan hanya 134 saham yang berhasil menguat, dan 349 saham lainnya tertahan di posisi stagnan. Nilai transaksi pada awal sesi ini mencapai Rp681,16 miliar, yang melibatkan volume perdagangan sebesar 860,11 juta saham melalui total 82.225 kali frekuensi transaksi.

Gelombang Rebalancing MSCI: Saham Emiten Besar Rontok Jadi Beban Indeks

Sentimen negatif yang membayangi pasar modal domestik sejak akhir pekan lalu masih bersumber dari aksi korporasi penyedia indeks global, MSCI. Langkah penyesuaian (rebalancing) indeks internasional tersebut menjadi pemicu utama aksi jual massal, terutama pada jajaran saham konglomerasi milik Prajogo Pangestu serta beberapa emiten besar lainnya yang selama ini memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSG.

Sebagaimana diketahui, MSCI secara resmi telah mengeluarkan enam saham utama Indonesia dari kategori MSCI Global Standard Index. Emiten yang terdampak pelepasan tersebut meliputi:

  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
  • PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
  • PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
  • PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)

Selain pencoretan dari indeks standar, gelombang pelemahan juga diperparah oleh keputusan MSCI yang mendepak 13 saham Indonesia lainnya dari jajaran MSCI Global Small Cap Index. Hal ini memicu aliran dana keluar (outflow) dari investor institusi berbasis passive fund.

Sinyal Keras FTSE Mengenai Risiko “High Shareholding Concentration”

Tekanan psikologis pasar kian meningkat setelah penyedia indeks global terkemuka lainnya, FTSE Russell, menerbitkan dokumen terbarunya yang bertajuk “Index Treatment for the June 2026 Index Review”. Dalam pengumuman tersebut, FTSE memberikan peringatan keras mengenai potensi penghapusan saham-saham yang terindikasi memiliki konsentrasi kepemilikan sangat tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) di Bursa Efek Indonesia.

Langkah tegas dari FTSE ini selaras dengan kebijakan otoritas pasar modal nasional yang gencar meningkatkan transparansi perdagangan melalui perilisan daftar emiten HSC.

FTSE Russell menegaskan bahwa apabila sebuah emiten mendapatkan peringatan resmi terkait konsentrasi kepemilikan saham di mana porsi saham beredar hanya dikuasai oleh segelintir pihak, maka saham tersebut dipastikan didepak dari indeks pada tinjauan berikutnya.

Demi menjaga integritas dan replikabilitas indeks, FTSE akan menghapus sekuritas yang terdampak pada nilai nominal harga nol pada tinjauan Juni 2026, efektif per 22 Juni 2026.

Kebijakan ekstrem ini diterapkan karena saham dengan status HSC cenderung mengalami pemburukan likuiditas secara material, sehingga investor institusi pengelola dana indeks dikhawatirkan kesulitan menemukan pembeli (counterparty) jika harus keluar dari saham tersebut secara mendadak.

Meskipun FTSE belum mengumumkan nama emiten secara spesifik, pasar berspekulasi kuat pada dua nama besar yang kerap disorot terkait isu free float dan masuk dalam radar daftar HSC BEI, yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik taipan Prajogo Pangestu dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari Grup Sinarmas.

Sektor-Sektor Ambruk dan Deretan Saham Penekan Utama Sesi Pagi

Berdasarkan data kompilasi dari Refinitiv, seluruh sektor perdagangan di bursa mencatatkan performa negatif. Tekanan koreksi paling dalam dialami oleh sektor infrastruktur, barang baku, energi, serta teknologi.

Secara individu, berikut adalah beberapa saham yang menjadi penggerak utama (laggard) atas kejatuhan indeks pada pagi hari ini:

  • BBCA (Bank Central Asia): Mengalami penurunan sebesar 2,5% dan langsung membebani IHSG dengan kontribusi pelemahan sebesar 14,05 indeks poin.
  • DSSA (Dian Swastatika Sentosa): Terbanting hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) dengan penurunan 15% ke level Rp880 per saham, menyumbang pelemahan sebesar 13,67 indeks poin.
  • TPIA (Chandra Asri Pacific): Ikut terkunci di zona ARB dengan koreksi mencapai 14,88% ke harga Rp3.660 per saham, menyumbang 13 indeks poin pelemahan.
  • BREN (Barito Renewables Energy): Mengalami kontraksi hebat ke level Rp2.880 per saham yang berimbas pada hilangnya posisi BREN sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Indonesia, serta menyumbang penurunan 10 indeks poin.
  • AMMN (Amman Mineral Internasional): Melanjutkan tren pelemahan pasca dikeluarkan dari MSCI pekan lalu dengan andil koreksi sebesar 9,12 indeks poin.

Tetap Tenang Hadapi Volatilitas Pasar Bersama Ajaib!

Pergerakan pasar yang dinamis memerlukan respons investasi yang cepat dan akurat. Jangan lewatkan momentum penting di tengah koreksi IHSG saat ini. Pantau pergerakan saham favorit kamu secara real-time, nikmati analisis pasar yang komprehensif, dan eksekusi strategi trading kamu dengan aman.

Yuk, optimalkan portofolio investasi kamu sekarang! Daftar & Download Ajaib Sekarang

Google Play StoreApple App Store

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260518090346-17-735439/ihsg-tiba-tiba-dibuka-anjlok-259-ini-penyebabnya

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!

IHSG Jatuh 2,59% di Awal Perdagangan, Ini Penyebabnya! - Ajaib