Geopolitik Memanas, Bagaimana Kondisi Saham AS?
Sarifa•January 19, 2026

Pasar saham AS bergerak melemah pada perdagangan 1 minggu terakhir (19/01-23/01), dimana indeks AS ditutup melemah. Indeks saham AS bergerak melemah selama sepakan didorong oleh sentimen global yang sangat volatil. Di pekan ini, ada beberapa sentimen yang harus dicermati. Sejumlah sell-side analysts mengeluarkan top pick dan rating changes yang menyoroti peluang di beberapa nama besar teknologi, termasuk Intel ($INTC), AMD ($AMD), dan Adobe ($ADBE) di tengah sector rotation dan tren AI yang terus berkembang. Intel dipandang sebagai top pick dengan target price naik karena ekspektasi perbaikan margins dari portofolio produk yang disesuaikan, peningkatan foundry services, serta prospek kuat dari permintaan AI/accelerator, sementara AMD mendapat sorotan positif seiring market share gains di CPU dan GPU serta peningkatan pipeline produk yang kuat untuk data center. Adobe juga disebut sebagai pilihan menarik oleh beberapa analis karena model subscription revenue yang stabil dan pertumbuhan software demand, terutama pada segmen kreativitas dan digital experience platforms.
Performa Indeks Bursa AS 1W
| S&P 500 | Dow Jones Industrial Average | NASDAQ Composite |
| -0.06% | -0.28% | -0.26% |
Top Gainer 1W
| MRNA | +21.96% |
| SNDK | +21.08% |
| WDC | +17.92% |
| KLAC | +15.50% |
| STX | +14.60% |
Berita Ekonomi & Industri
Presiden AS Donald Trump mengumumkan ancaman tarif perdagangan terhadap beberapa negara Eropa, termasuk anggota NATO seperti Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia, dengan target awal 10 % mulai 1 Februari 2026 dan naik menjadi 25 % pada 1 Juni 2026 jika tidak ada kesepakatan yang dicapai terkait rencana AS untuk mengambil alih Greenland. Kebijakan tarif ini memicu reaksi keras dari sekutu Transatlantik yang melihat langkah tersebut dapat merusak hubungan perdagangan dan aliansi NATO, dengan para pemimpin Eropa menyatakan solidaritas mereka terhadap kedaulatan Denmark dan menolak tekanan tarif sebagai alat negosiasi. Merkel, Macron dan pejabat UE memperingatkan bahwa penggunaan tarif sebagai alat pemaksaan bisa berdampak negatif pada hubungan transatlantik dan kestabilan aliansi keamanan di kawasan Arktik, sementara pernyataan Trump menambah ketegangan geopolitik terkait masa depan Greenland.
Harga emas melonjak lebih dari 1% hingga menembus US$4,660/oz, mencetak rekor tertinggi baru seiring meningkatnya permintaan safe haven setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana tarif baru terhadap negara-negara Eropa. Trump menyatakan akan mengenakan tarif 10% mulai 1 Februari terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana AS terkait Greenland, dengan potensi kenaikan hingga 25% per 1 Juni jika tidak tercapai kesepakatan. Langkah tersebut memicu kekhawatiran eskalasi perang dagang, dengan para pemimpin Eropa dikabarkan tengah menyiapkan pertemuan darurat dan mempertimbangkan aksi balasan berupa tarif atas sekitar €93 billion barang AS. Secara fundamental, reli emas juga ditopang tren positif sepanjang 2026 setelah performa kuat di 2025, didukung ketidakstabilan geopolitik di Venezuela, meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve, serta ekspektasi lanjutan penurunan suku bunga AS. Kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan moneter ini memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai utama dan berpotensi menjaga harga tetap elevated dalam jangka menengah.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif impor sebesar 25% terhadap seluruh negara yang masih melakukan bisnis dengan Iran, sebuah langkah yang langsung meningkatkan ketidakpastian di perdagangan global. Kebijakan ini berpotensi berdampak pada mitra dagang utama Iran seperti China, India, dan beberapa negara di Timur Tengah, sehingga dapat mendorong kenaikan biaya impor ke AS dan memicu risiko aksi balasan. Dari perspektif pasar, langkah ini memperluas risiko geopolitik dan proteksionisme di saat global supply chain masih rapuh. Secara keseluruhan, kebijakan tarif tersebut cenderung menjadi sentimen negatif bagi perdagangan global dan berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar komoditas, mata uang, serta saham-saham yang sensitif terhadap perdagangan internasional.
Data CPI AS bulan Desember menunjukkan inflasi tetap moderat namun masih sticky, dengan CPI-U naik 0.3% mom dan inflasi tahunan berada di 2.7% yoy, tidak berubah dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan bulanan terutama didorong oleh shelter yang naik 0.4% dan menjadi kontributor terbesar, sementara food inflation meningkat 0.7% mom baik untuk food at home maupun food away from home, serta energy naik 0.3% mom. Core CPI (all items less food and energy) tercatat naik 0.2% mom dan 2.6% yoy, mencerminkan tekanan harga inti yang melandai namun belum sepenuhnya jinak. Secara keseluruhan, angka ini mendukung narasi soft disinflation namun dengan shelter dan jasa tetap menjadi risiko utama, sehingga memberi ruang bagi Fed untuk bersikap lebih hati-hati dalam pelonggaran kebijakan moneter ke depan.
Data PPI AS bulan November menunjukkan tekanan harga di tingkat produsen kembali meningkat, dengan final demand PPI naik 0.2% mom dan inflasi produsen tahunan berada di 3.0% yoy, menandai akselerasi setelah kenaikan 0.1% di Oktober dan 0.6% di September. Kenaikan bulanan terutama didorong oleh final demand goods yang melonjak 0.9% mom, terbesar sejak Februari 2024, dengan lebih dari 80% kontribusi berasal dari energy prices yang naik 4.6%, termasuk gasoline yang melonjak 10.5%. Secara keseluruhan, data ini mengisyaratkan risiko pass-through ke CPI ke depan, khususnya jika tekanan energi bertahan, sehingga memperkuat argumen Fed untuk tetap berhati-hati dalam pelonggaran kebijakan moneter.
Pemerintah AS memberikan izin terbatas bagi Nvidia untuk mengekspor chip AI H200 ke China, menandai pelonggaran selektif atas pembatasan teknologi yang sebelumnya ketat. Kebijakan ini disertai sejumlah syarat, termasuk prioritas pemenuhan pasokan domestik AS, pembatasan volume penjualan ke China, serta larangan penggunaan untuk kepentingan militer, yang mencerminkan upaya menyeimbangkan kepentingan komersial dan keamanan nasional. Bagi Nvidia, langkah ini membuka kembali akses ke pasar China yang signifikan dan berpotensi menjadi katalis pendapatan tambahan, meskipun implementasinya dinilai tidak akan mulus karena pengawasan ketat dan potensi hambatan regulasi di pihak China. Secara keseluruhan, kebijakan ini menegaskan pendekatan pragmatis AS terhadap AI chips, dengan implikasi penting bagi supply chain semikonduktor global dan dinamika kompetisi AI ke depan.
Berita Emiten
AAPL – Apple ($AAPL) menjalin kemitraan dengan Google untuk menggunakan model AI Gemini sebagai fondasi Siri generasi terbaru dan fitur Apple Intelligence yang dijadwalkan meluncur pada 2026. Langkah ini menandai perubahan strategi Apple dengan memanfaatkan teknologi AI pihak ketiga yang dinilai lebih matang untuk mempercepat peningkatan kapabilitas Siri, terutama dalam konteks pemahaman konteks dan respons yang lebih personal. Dari perspektif Alphabet, kesepakatan ini menjadi validasi kuat atas kepemimpinan Gemini dan berpotensi memperluas monetisasi AI melalui integrasi di ekosistem iPhone yang masif. Apple tetap menekankan kontrol atas privasi melalui pemrosesan on-device dan Private Cloud Compute, sehingga kolaborasi ini lebih bersifat teknologi daripada berbagi data pengguna.
ABBV – Perusahaan farmasi AbbVie ($ABBV) mencapai kesepakatan tiga tahun dengan pemerintahan AS untuk menurunkan harga obat di program Medicaid dan memperluas penawaran langsung ke pasien melalui program TrumpRx, sambil menerima pembebasan dari tarif dan mandat penetapan harga di masa depan sebagai bagian dari kesepakatan tersebut. Sebagai imbalannya, AbbVie berkomitmen untuk menginvestasikan US$ 100 miliar selama dekade berikutnya pada riset dan pengembangan serta investasi modal di Amerika Serikat, termasuk perluasan fasilitas manufaktur dan inovasi produk seperti HUMIRA, Alphagan, Combigan, dan Synthroid yang digunakan jutaan pasien. Bagi investor, kesepakatan ini dapat menekan margin jangka pendek karena penurunan harga, tetapi memberi kepastian regulasi dan perlindungan terhadap tarif serta membuka potensi pertumbuhan jangka panjang melalui skala R&D dan investasi manufaktur yang besar, sekaligus memperkuat posisi AbbVie dalam lanskap industri farmasi AS yang sedang mengalami peninjauan harga obat.
JPM – JPMorgan Chase melaporkan hasil kuartal Q4 2025 yang kuat secara keseluruhan dengan adjusted EPS US$5.23 mengungguli konsensus analis di sekitar US$4.86 dan revenue sebesar US$46.8 billion yang juga melebihi ekspektasi, mencerminkan resilien operasional di tengah kondisi makro yang menantang. Net interest income, pasar, dan kinerja beberapa segmen seperti Asset & Wealth Management menunjukkan kontribusi positif, sementara akuisisi portofolio Apple Card menyebabkan bank membentuk cadangan kredit sekitar US$2.2 billion yang menekan laba menjadi US$13 billion (US$4.63 EPS). Management tetap optimis memproyeksikan net interest income 2026 di atas konsensus (sekitar US$103 billion).
DLTA – Delta Air Lines melaporkan kinerja 4Q25 yang mengungguli ekspektasi analis, dengan EPS US$ 1.55 vs perkiraan US$ 1.52, meskipun pendapatan sedikit lebih rendah dari prediksi (US$ 14.61 miliar vs estimasi US$ 14.72 miliar), mencerminkan kombinasi hasil operasional yang kuat tetapi sedikit tantangan di top line. Delta juga mencatat rekor tahunan pendapatan sekitar US$ 58.3 miliar, margin operasi stabil di sekitar 10%, serta free cash flow tertinggi dalam sejarah perusahaan senilai sekitar US$ 4.6 miliar, sambil mengumumkan ekspansi armada dengan pesanan 30 Boeing 787-10 dan opsi 30 lagi untuk masa depan. Meskipun saham sempat turun di pra-pasar setelah hasil ini dipublikasikan, manajemen tetap optimistis untuk 2026 dengan proyeksi pertumbuhan EPS sekitar 20%, peningkatan pendapatan kuartal yang akan datang sekitar 5-7%, serta fokus pada segmen premium, digitalisasi layanan, dan loyalitas pelanggan yang kuat sebagai pendorong pendapatan di tengah permintaan travel yang terus berkembang.
TSM – Kinerja TSMC pada 4Q25 tampil jauh di atas ekspektasi pasar seiring lonjakan permintaan chip untuk AI, dengan laba bersih naik sekitar 35% menjadi NT$ 505.7 miliar atau setara sekitar US$ 16 miliar dan pendapatan mencapai sekitar NT$ 1.046 triliun, didorong oleh utilisasi penuh lini 3 nanometer serta pesanan kuat dari klien besar seperti Nvidia dan Apple, sementara segmen high speed computing dan AI kini menyumbang lebih dari setengah total penjualan. Bagi investor, hasil ini memperkuat narasi bahwa TSMC tetap menjadi tulang punggung rantai pasok AI global dengan visibilitas pertumbuhan pendapatan dan margin yang solid menuju 2026, meskipun risiko geopolitik dan ekspansi kapasitas di luar negeri tetap menjadi faktor yang perlu diawasi dalam menilai valuasi saham ke depan.
MU – Micron ($MU) berencana mengakuisisi fasilitas fabrikasi chip di Taiwan dari Powerchip dengan nilai sekitar US$1.8 billion secara tunai, sebagai bagian dari strategi memperkuat kapasitas produksi DRAM di tengah permintaan memori yang terus meningkat. Akuisisi ini akan menambah skala manufaktur Micron di Taiwan dan menciptakan sinergi dengan fasilitas yang sudah ada, sekaligus meningkatkan fleksibilitas supply dalam beberapa tahun ke depan. Perusahaan menargetkan penyelesaian transaksi pada 2026 setelah persetujuan regulator, dengan kontribusi produksi yang diperkirakan mulai terlihat pada paruh kedua 2027 seiring proses ramp-up. Secara keseluruhan, akuisisi ini bersifat strategis dan mendukung positioning jangka panjang Micron, meskipun dampak ke earnings diperkirakan masih bertahap.
F – Ford Motor ($F) mengatakan akan memperkenalkan Level 3 driver-assistance system yang memungkinkan hands-free dan eyes-off driving di jalan raya mulai 2028, dimulai pada affordable midsize EV pickup yang dijadwalkan meluncur pada 2027 dengan target harga sekitar US$30,000. Teknologi ini dipandang sebagai langkah menuju otomasi lebih lanjut dan peluang subscription revenue, mengikuti tren industri yang melihat driver-assist canggih sebagai profit pool baru, sementara Ford saat ini sudah menawarkan Level 2 BlueCruise dengan biaya berlangganan. Pengumuman ini berlangsung di tengah restrukturisasi strategi EV yang lebih luas oleh Ford, yang termasuk mengambil US$19.5B writedown atas beberapa model EV, menghentikan produksi F-150 Lightning, dan memprioritaskan EV yang lebih kecil serta hybrid karena permintaan EV besar yang lemah dan perubahan kebijakan federal.
Artikel ini dianalisis dan ditulis oleh Financial Expert Ajaib, Alvin T. Murthi
Baca juga: Cara Memulai Investasi US Stock di Ajaib Alpha
Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!