Saham

Yuk, Sekali-kali Tengok Kinerja Saham BUMD

Ajaib.co.id – Indeks IDXBUMN20 yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak hanya berisi saham-saham perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara), tetapi juga saham BUMD (Badan Usaha Milik Daerah). Namun, saat ini hanya ada satu perusahaan BUMD yang masuk ke dalam indeks tersebut, emiten apa ya? 

Dikutip dari CNBCIndonesia.com, indeks IDXBUMN20 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 20 saham perusahaan tercatat yang merupakan BUMN, BUMD, dan afiliasinya. Beberapa anggota konstituen indeks ini juga merupakan saham-saham LQ45.

Secara mayoritas, indeks ini hampir seluruhnya diisi oleh saham-saham BUMN, dari mulai perbankan, konstruksi, hingga pertambangan. Tetapi, ada satu saham BUMD alias perusahaan daerah yang ada di dalamnya, yaitu BJBR.

BJBR adalah kode saham atau ticker untuk PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. Perusahaan ini adalah BUMD yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Provinsi Banten.

Dikutip dari idnfinancials.com, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki porsi kepemilikan sebesar 62,21%. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Banten memiliki 13,16% saham BJBR. Sisanya, 24,63% dimiliki oleh publik dengan porsi kepemilikan masing-masing di bawah 5%.

BJBR juga menjadi satu-satunya bank daerah yang masuk ke dalam konstituen IDXBUMN20. Bank-bank daerah lain yang juga sudah terdaftar sebagai perusahaan terbuka di BEI seperti PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) tidak masuk ke dalam konstituen indeks tersebut.

Sebagai satu-satunya bank daerah dalam indeks IDXBUMN20, BJBR memiliki kinerja yang cukup baik dibandingkan bank-bank daerah lainnya. Dikutip dari Bisnis.com, sampai dengan  kuartal III/2020, BJBR secara konsolidasi berhasil memperoleh laba bersih Rp1,2 triliun, tumbuh 5,9% year on year (yoy).

Pertumbuhan laba tersebut dihasilkan pengelolaan aset dengan total nilai mencapai Rp147,6 triliun,  tumbuh 19,4% yoy. Dari sisi aset berupa liabilitas, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun BJBR meningkat 17,3% yoy menjadi Rp147,6 triliun.

Meski DPK mengalami peningkatan signifikan, hal ini dapat diiringi dengan penurunan biaya dana dari 5,4% menjadi 5,0%. Hal ini sejalan dengan tren suku bunga rendah yang terjadi sepanjang 2020.

Penyaluran kredit yang menjadi pendorong laba utama BJBR pada kuartal III/2020. Bank ini berhasil mencetak pertumbuhan laba sebesar 8,7% yoy menjadi Rp94,6 triliun. Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit perbankan secara nasional yang hingga Agustus 2020 mencapai 1,24%.

Pertumbuhan kredit yang ditorehkan BUMD tersebut diiringi dengan perbaikan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang turun 25 bps menjadi 1,5%. Posisi tersebut jauh di bawah rata-rata NPL industri perbankan nasional yang mencapai 3,2% per Agustus 2020.

Kinerja fundamental yang baik tersebut juga sejalan dengan pergerakan saham BJBR di lantai bursa. Sepanjang 6 bulan ke belakang, harga saham BJBR sudah meningkat 112,18%. Namun, dalam 1 tahun ke belakang, harga saham BJBR masih terkoreksi 34,06% ke level Rp1.655 per saham (per 8 Januari 2021).

Di luar BJBR, sebenarnya ada beberapa perusahaan daerah atau BUMD lain yang melantai di BEI. Salah satunya adalah PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJAA), pengelola Taman Impian Jaya Ancol.

Dikutip dari Idnfinancials.com, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki 72% saham perusahaan tersebut. Pemegang saham terbesar kedua adalah PT Pembangunan Jaya yang didirikan oleh Ir. Ciputra dengan porsi sebesar 18,01%. Adapun, sisanya sebesar 9,99% dimiliki publik dengan porsi masing-masing di bawah 5%.

Berbeda dengan BJBR, BUMD yang satu ini memiliki kinerja yang sangat berat selama 2020. Pandemi sangat menghantam kinerja perusahaan yang mengandalkan pendapatan utama dari lini bisnis rekreasi mereka di Taman Impian Jaya Ancol.

Dikutip dari Bisnis.com, sepanjang Januari—Juni 2020 perseroan mencatat total pengunjung sebanyak 3,35 juta pengunjung untuk kawasan Beach Park, Dufan, Atlantis, Seaworld, dan Ocean Dream Samudra. 

Adapun, pada periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah pengunjung mencapai 10,53 juta pengunjung. Artinya, terjadi penurunan jumlah pengunjung sekitar 68,18 persen secara yoy.

Hal ini berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang membuat Taman Impian Jaya Ancol harus ditutup sejak Maret 2020. Kawasan rekreasi itu baru dibuka kembali pada 20 Juni 2020 dengan aturan jumlah pengunjung maksimum 50 persen dari kapasitas. Selain itu, pengunjung yang diizinkan masuk harus memiliki KTP berdomisili DKI Jakarta dan usia dibatasi 9 tahun ke atas.

Setelah dibuka pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi, jumlah pengunjung di Taman Impian Jaya Ancol terdata masih 10 persen dari jumlah pengunjung pada hari normal.

Direktur Keuangan Pembangunan Jaya Ancol Hari Sundjojo mengatakan hal Ini berdampak ke pada perseroan pada semester I/2020. Pendapatan perseroan ambles sekitar 58 persen dan mencatatkan rugi bersih sekitar Rp146 miliar, berbalik dari posisi laba Rp71.22 miliar pada semester I/2019.

Kinerja yang masih pontang-panting itu juga membuat harga saham perusahaan cenderung tertekan. Sepanjang 1 tahun ke belakang saham PJAA masih terkoreksi 62,42%. Adapun, dalam 6 bulan terakhir, saham PJAA baru menguat 13,08%.

Meski semua BUMD bisa masuk indeks IDXBUMD20, konstituen indeks lebih banyak diisi oleh emiten-emiten BUMN. Emiten BUMN memiliki rekam jejak yang lebih baik dan kinerja yang sudah terbukti, serta harga yang lebih menarik.

Namun, baik emiten BUMN maupun BUMD memiliki kekhasan hubungan dengan pemerintah. Tidak selalu berdampak baik, tapi juga tidak sepenuhnya buruk. Investor harus pandai-pandai mengamati hubungan arah politik jika ingin memiliki saham-saham ini.

Jika kamu tertarik berinvestasi di saham-saham BUMD ataupun BUMN, segeralah memulai investasimu di Ajaib. Aplikasi ini telah mendapatkan izin dari OJK dan menjadi salah satu platform andalan investasi saham dan reksa dana online saat ini. Kamu bisa mengunduh aplikasi investasi Ajaib melalui Google Play Store dan Apple App Store.

Artikel Terkait