Milenial, Saham

Mau Beli Saham Blue Chip? Milenial Wajib Tahu Ini!

saham blue chip

Ajaib.co.id – Ingin beli saham blue chip? Eits, jangan terburu-buru ya. Sebelum membeli saham blue chip, ada baiknya kamu simak ulasan dari redaksi Ajaib berikut ini.

Perkembangan teknologi dan informasi, melahirkan banyak pengusaha yang mencapai kesuksesan di usia muda. Sehingga kian banyak milenial yang semakin melek investasi karena ingin mencapai kesuksesan sejak dini. Maka tidak mengherankan, jika generasi milenial saat ini banyak yang sudah punya portofolio investasinya sendiri.

Saham merupakan salah satu produk investasi yang familiar di telinga masyarakat. Namun tidak semua orang tahu cara berinvestasi saham yang baik. Selain menawarkan keuntungan yang tinggi, saham dibarengi juga dengan risiko tinggi.

Oleh karena itu, investor pemula akan lebih dianjurkan untuk membeli saham blue chip atau dikenal juga sebagai saham unggulan. Yakni saham-saham dari perusahaan dengan kinerja keuangan stabil, serta memimpin di pasarnya. Maka tidak mengherankan bahwa saham jenis ini kerap menjadi rebutan.

Tentunya, dengan potensi imbal balik yang tinggi, serta harga saham yang terus meningkat, saham unggulan memang menggiurkan. Walaupun demikian, sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada saham unggulan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Modal Membeli Lebih Tinggi

Seperti yang sudah dikemukakan di atas, saham blue chip selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Bahkan, peminatnya juga selalu banyak. Oleh karena itu, untuk membeli saham unggulan yang memiliki harga tinggi, maka perlu disiapkan juga dana investasi yang lebih banyak.

Misalnya, jika kamu ingin membeli saham Unilever yang berada di angka Rp40 ribuan per lembar saham. Karena pembelian saham minimal adalah sebanyak 1 slot (100 lembar saham), maka minimal kamu harus merogoh dana Rp4 jutaan di luar fee jika kamu ingin memiliki saham Unilever (UNVR).

Harus Sabar Menunggu Keuntungan

Saham blue chip umumnya merupakan saham dari perusahaan-perusahaan yang telah stabil. Demikian juga dengan kinerja sahamnya di Bursa Efek Jakarta (BEI). Oleh karena itu, untuk mendapatkan keuntungan dalam investasi saham unggulan, diperlukan kesabaran untuk menunggu dalam waktu lama.

Saham UNVR pada tahun 2003 harganya berkisar di angka Rp5000-an. Namun saat ini, sudah lebih dari Rp40 ribu. Jadi, mereka yang membeli saham UNVR sebanyak 1 slot pada 2003 dengan modal Rp500 ribuan, kini sudah memiliki investasi saham senilai Rp4 jutaan, atau meningkat sekitar 800%.

Bayangkan keuntungan investor yang memiliki 100, 1000 slot atau lebih. Tentu ini angka yang fantastis. Belum lagi deviden yang investor dapatkan dari keuntungan perusahaan.

Proyeksikan Saham Blue Chip Sebagai Investasi Jangka Panjang

Tentu saja, kenaikan harga dan keuntungan berlipat dari saham blue chip tidak terjadi semalam. Oleh karena itu, investor pemula sebaiknya bersabar dalam menunggu kenaikan harga saham unggulan. Investor harus memproyeksikan saham unggulan sebagai investasi jangka panjang. Bahkan mungkin bisa untuk diwariskan.

Lain halnya dengan saham spekulatif. Yakni jenis saham yang berpeluang memberikan keuntungan tinggi dalam jangka waktu singkat. Namun demikian, risiko harga saham terkoreksi juga cenderung tinggi, karena biasanya saham spekulatif belum tentu didukung kinerja perusahaan yang baik.

Biasanya jenis saham spekulatif mengalami kenaikan dikarenakan dorongan tren sesaat atau rumor-rumor tertentu. Sehingga jenis saham ini lebih cocok untuk investor yang berniat jual beli saham harian.

Tingkatkan Jumlah Saham Blue Chip Secara Bertahap

Sebagai investor baru, maka sebaiknya investasikan dana dengan bijaksana. Dalam artian, cukup memulai dengan dana rendah terlebih dahulu. Setelah itu, untuk meningkatkan nilai investasi, sebaiknya tingkatkan jumlah saham blue chip secara bertahap.

Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh dari dividen bisa terus meningkat. Demikian juga keuntungan yang bisa diperoleh jika suatu saat kamu bermaksud melepas saham blue chips yang kamu miliki.

Beli Saham Blue Chip Saat Sedang Terkoreksi

Saat yang tepat untuk menambah investasi pada saham Blue Chip adalah ketika harga sedang terkoreksi atau turun. Karena saham blue chip memiliki peluang tinggi untuk kembali harganya kembali meningkat di masa depan.

Pada saat sedang terkoreksi, saham blue chip akan segera menjadi rebutan trader, sehingga harganya bisa naik lagi dengan cepat. investor pemula harus belajar sigap dan mampu mencari informasi kapan kecenderungan harga saham blue chip mengalami penurunan (terkoreksi). Bisa juga dengan mempelajari grafik harga saham tersebut sebelumnya.

Ingat Bahwa Risiko Selalu Ada

Berinvestasi pada saham Blue Chip memang bisa dikatakan memiliki risiko lebih rendan dari jenis saham lainnya. Namun bukan berarti 0 risiko sama sekali. Bagaimana pun, berinvestasi saham harus dibarengi dengan intuisi dan informasi. Sama halnya dengan berbisnis pada umumnya.

Oleh karena itu, setelah berinvestasi pada saham blue chip, seorang investor harus tetap waspada dan awas pada kinerja perusahaan. Bagaiman pun, perkembangan teknologi membuat jaman bergerak cepat. Apa yang menjadi tren saat ini, bisa menjadi basi kemudian.

Tentunya perusahaan yang stagnan, tidak mampu mengikuti kemajuan jaman, akan tergerus oleh perusahaan-perusahaan baru. Kalahnya produk di pasaran, akan mengakibatkan turunnya keuntungan bahkan merugi. Harga saham pun bisa jatuh.

Dulu, Kodak dan Fuji Film pernah menjadi perusahaan raksasa, sebelum tergerus kamera digital dan handphone. Nokia dan BlackBerry pun pernah jadi raksasa dalam industri handphone, sebelum digusur Android.

Oleh karena itu, sebagai seorang investor saham, selalu mengikuti tren yang berkembang merupakan sebuah kewajiban. Sehingga kamu bisa mengukur sejauh mana emiten tempat kamu berinvestasi saham bisa terus memberikan keuntungan, mengalami koreksi sementara, atau sudah mengalami kejatuhan.

Tidak perlu khawatir jika kamu merasa kewalahan belajar investasi sendiri. Saat ini sudah banyak platform dan aplikasi investasi reksa dana. Investasi reksa dana memungkinkan kamu untuk berinvestasi dengan modal lebih kecil, serta dibantu oleh para konsultan keuangan yang ahli di bidangnya.

Artikel Terkait