Berita

Surat Berharga Pemerintah Sukses Ditawarkan, Persentase Asing Naik

Apa Itu Obligasi

Ajaib.co.id – Lelang surat berharga syariah negara (SBSN) yang diselenggarakan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada hari Selasa (9/6/2020) terbilang sukses dan cukup diminati investor.

Adapun total penawaran yang masuk senilai Rp28,644 triliun untuk enam seri SBSN yang terdiri atas 1 surat perbendaharaan negara syariah (SPN-S) dan lima project based sukuk (PBS).

Sedangkan total nominal yang dimenangkan dari keenam seri tersebut hanya senilai Rp9,5 triliun. Jumlah itu sebenarnya lebih besar dari target indikatif yang ingin diraih pemerintah senilai Rp7 triliun.

Imbal Hasil Surat Berharga Indonesia Tarik Minat Asing

Investor asing terlihat mulai kembali ke instrumen surat berharga negara (SBN). Hal ini terlihat dari imbal hasil atau yield yang cenderung mengalami penurunan .

Bisnis.com memberitakan bahwa kepemilikan asing di surat berharga negara (SBN) dalam negeri sebesar Rp941,44 triliun hingga, Jumat (5/6/2020). Jumlah tersebut terdiri dari surat utang negara (SUN) senilai Rp916,89 triliun dan surat berharga syariah negara (SBSN) senilai Rp24,55 triliun.

Secara persentase, kepemilikan investor asing sebesar 30,63 persen. Posisi tersebut membaik setelah sempat menyentuh 30,54 persen akhir Mei 2020 lalu.

Data Kemenkeu menunjukkan bahwa porsi kepemilikan asing terus menurun sepanjang periode berjalan 2020 (ytd). Persentase kepemilikan asing pada awal tahun sebesar 38,65 persen, kemudian di bulan Februari sebesar 37,09 persen, kemudian bulan Maret sebesar 32,71 persen, dan pada April tersisa sebesar 31,77 persen.

Kata Pengamat Mengenai Obligasi Pemerintah yang Diminati Asing

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengungkapkan investor asing sudah keluar lebih Rp100 triliun semenjak pasar dalam negeri tertekan karena Covid-19. Saat ini, menurutnya mereka telah mulai masuk kembali ke instrumen obligasi Indonesia.

“Terlihat dari kepemilikan mereka yang perlahan meningkat. Pergerakan yield yang menguat juga akibat dari mulai masuknya asing ke pasar,” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (9/6/2020).

Ramdhan meyakini perlahan kepemilikan asing akan terus bertambah. Hal itu seiring dengan mulai tumbuhnya perekonomian di dalam negeri.

“Masih tingginya yield kita dibandingkan dengan negara-negara lain termasuk daya tarik investor global. Catatan dan likuiditas transaksi SUN kita juga baik,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, dia mencontohkan Malaysia dengan peringkat kredit (A-) memiliki yield SUN tenor 10 tahun 3 persen dan Singapura dengan peringkat kredit (AAA) sekitar 1 persen.

Sementara itu, Brasil yang memiliki peringkat kredit (BB-) memiliki yield SUN tenor 10 tahun sekitar 6,8 persen sedangkan Rusia berperingkat (BBB) sekitar 5,6 persen.

“Dibandingkan dengan Brasil dan Rusia, Indonesia tetap lebih tinggi dengan rating hampir sama,” imbuhnya.

Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan saat ini asing sudah masuk ke pasar SBN. Kondisi itu menurutnya menjadi tanda mereka sudah mulai percaya dan meningkatkan risk appetite terhadap ekonomi dalam negeri.

“Deras [aliran masuk asing] mungkin relatif karena kekhawatiran masih ada. Artinya, masih mungkin ada fluktuasi kecuali kalau nanti ada vaksi atau pandemi sama sekali berakhir mungkin kekhawatirannya bisa hilang,” paparnya.

Fikri menilai aliran modal asing di instrumen SBN masih dibutuhkan. Dengan catatan, selama porsi tidak lebih besar dari domestik masih dapat dimaklumi.

“Cuma ruginya, tentu aliran keuntungan baik dalam bentuk kupon atau dividen ujung-ujungnya mengalir ke pemilik modal global dan dapat menekan current account deficit [CAD],” ujarnya.

Secara terpisah, Associate Direktur of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai bahwa kesempatan untuk pasar obligasi Indonesia untuk menguat akan sedikit tertunda. Menurut analisa teknikal, tren pergerakan surat utang Indonesia di pasar sekunder sedang dalam posisi tren melemah.

Pilarmas Sekuritas melaporkan imbal hasil atau yield surat utang negara (SUN) Indonesia tenor 10 tahun naik 0,13 poin ke level 7,26 persen pada, Senin (8/6/2020). Kenaikan yield juga terjadi untuk SUN Indonesia tenor 5 tahun, 10 tahun, dan 15 tahun.

Sebagai catatan, pergerakan harga dan yield pada instrumen obligasi saling bertolak belakang. Naiknya harga obligasi akan membuat posisi yield menurun. Akan tetapi yield lebih umum dijadikan acuan di dunia internasional karena mencerminkan risiko, tenor dan pendapatan dalam waktu yang sama.

Artikel Terkait