Saham PTBA Kena Imbas Perang Dingin Amerika Serikat dan China

Kabar buruk datang dari dunia batu bara. Harga batu bara kian melemah yang membuat saham PTBA (PT Bukit Asam Tbk) turun 1,21% ke level Rp2.450/ lembar saham pada 13 Agustus lalu.

Hal itu diakibatkan karena perang dagang dan perlambatan ekonomi global yang dituding menjadi akar penurunan harga tersebut. Pada perdagangan 12 Agustus lalu, harga batu bara acuan global, Newcastle kontrak pengiriman September ditutup melemah 0,29% ke level 69,6 dolar Amerika Serikat (AS)/metrik ton.

Parahnya lagi, hal tersebut sudah menurun selama enam hari beruntun. Dimana perlambatan ekonomi global yang dipicu oleh perang dagang Amerika Serikat (AS)-China masih menjadi sentimen utama yang menekan harga si batu legam.

Perang dagang antara AS dan China memang terus memanas. Pasalnya, Presiden AS, Donald Trump sudah secara terang-terangan mengenakan bea impor sebesar 10% terhadap produk-produk dari China. Malahan per 1 September mendatang, nilai bea cukai untuk prodok asal China berada di angka 300 miliar dolar AS.

Sebelum adanya perang dingin ini, produk-produk asal China tidak kena dampak. Bahkan, Donald Trump kini punya ide lebih gila lagi, ingin menaikkan bea impor tersebut lebih dari 25%.

Tentu saja, ulah Donald Trump membuat China naik pitam. Juru bicara Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan di Negeri Tirai Bambu telah menghentikan pembelian produk-produk pertanian asal AS. Untuk produk yang terlanjur di beli pasca 3 Agustus 2019 masih bisa dikenakan tarif tambahan.

Perseteruan antara AS dan China ini berimbas ke seluruh dunia, semua negara terkena dampak. Sebab, mereka masih menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Mengutip dari CNBC, beberapa analis memperkirakan perekonomian global akan jatuh kepada resesi bila perang dagang terus berlangsung dan mengalami eskalasi lebih jauh.

Alhasil, pertumbuhan permintaan energi, yang masih besar berasal dari batu bara pun tidak akan terlalu besar, atau bahkan terkontraksi. Alhasil, pertumbuhan permintaan energi, yang masih besar berasal dari batu bara pun tidak akan terlalu besar, atau bahkan terkontraksi.

Terbaru, Jepang mengumumkan harga barang impor untuk golongan minyak, batu bara, dan gas pada bulan Juli 2019 terkontraksi sebesar 5,1% secara tahunan (year-on-year/YoY). Nilai kontraksi tersebut lebih dalam ketimbang yang terjadi pada bulan sebelumnya yang sebesar 3,3% YoY.

Kontraksi pada harga impor di Jepang menjadi satu bukti baru bahwa harga batu bara sedang tertekan. Diketahui bahwa Jepang merupakan salah satu negara importir batu bara terbesar di kawasan Asia, bersama China dan Korea Selatan.

Sepanjang kuartal I-2019, kinerja laporan keuangan PTBA masih kurang menggembirakan. Total penjualan turun 5,71 persen menjadi Rp5,33 triliun dari sebelumnya Rp 5,748 triliun. Akibatnya, laba bersihnya turun sebesar 21 persen dari Rp1,47 triliun di kuartal I-2018, menjadi Rp1,15 triliun pada kuartal I-2019.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.  

Share to :
Kembangkan uangmu sekarang juga Lakukan deposit segera untuk berinvestasi
Artikel Terkait