Investasi

Resesi Ekonomi: Hal yang Perlu Disiapkan untuk Menghadapinya

resesi ekonomi

Ajaib.co.id – Resesi ekonomi menjadi momok yang menakutkan bagi negara, apalagi resesi selanjutnya diprediksi akan datang tahun ini. Menurunnya pertumbuhan GDP tahunan di sejumlah negara, salah satunya Indonesia ditambah tantangan pandemi virus corona atau Covid-19 sebagai pandemi global membuat sejumlah orang bertanya-tanya, “Kapan resesi ekonomi selanjutnya akan tiba?

Banyak perdebatan yang terjadi di media cetak dan media elektronik antara ahli ekonomi tentang peluang terjadinya resesi ekonomi di tahun 2020.

Beberapa menyebutkan hal tersebut tidak akan terjadi karena ekonomi Indonesia masih bergerak positif, tetapi beberapa ahli menyatakan jika Covid-19 masih berlarut-larut dan terjadinya pengangguran skala besar di sejumlah negara menjadi alarm awal resesi ekonomi di tahun 2020.

Prediksi Resisi Ekonomi Indonesia

Baru-baru ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020. Menurut Sri Mulyani, pada kuartal III ini perekonomian Indonesia kemungkinan akan mengalami kontraksi minus 2,9% hingga minus 1,1%.

Di mana, keseluruhan pertumbuhan ekonomi akhir tahun juga akan berada pada kisaran minus 1,7% hingga minus 0,6%. Dengan adanya proteksi tersebut maka pertumbuhan ekonomi kuartal III dan IV juga akan negatif. Oleh sebab itu, maka tak menutup kemungkinan resesi ekonomi di Indonesia akan terjadi.

Mengetahui Definisi Resesi Ekonomi

Ketidakpastian dan rasa takut tentang ekonomi di masa depan tentu dapat menimbulkan kesalahan dalam mengambil keputusan finansial. Ada berbagai langkah yang dapat kamu persiapkan untuk melewati kemungkinan resesi di tahun ini dengan baik.

Ada banyak definisi tentang resesi ekonomi, tetapi terminologi yang paling umum digunakan adalah kondisi di mana suatu negara mengalami resesi atau depresi ekonomi negatif selama dua kuartal.

“Resesi ekonomi adalah istilah dalam ilmu makroekonomi yang mengacu pada penurunan yang signifikan dalam kegiatan ekonomi. Di mana, lanjutnya, konsensus dari para ekonom dunia menyatakan bahwa terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi riil selama dua kuartal secara berturut-turut (diminishing GDP) yang disertai dengan peningkatan jumlah pengangguran.”

Muhammad Edhie Purnawan, Ekonom senior Universitas Gadjah Mada (UGM)

Namun, berdasarkan acuan Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER) di US menyatakan bahwa penurunan GDP riil selama dua kuartal berturut-turut itu tidak lagi menjadi definisi resesi. NBER mendefinisikan resesi sebagai penurunan signifikan dalam aktivitas perekonomian yang tersebar di seluruh (sebagian besar) sektor dalam perekonomian. Dan itu berlangsung lebih dari beberapa bulan, yang biasanya bisa dideteksi dari jatuhnya GDP riil, pendapatan riil, lapangan kerja, produksi sektor-sektor industri, dan penjualan grosir dan eceran.

Umumnya ahli ekonomi menggunakan GDP sebagai tolak ukur memprediksi resesi yang akan datang. GDP menggambarkan bagaimana nilai pasar barang dan jasa yang diproduksi di waktu tertentu. Jika GDP menunjukkan penurunan tapi masih menunjukkan pertumbuhan tidak dianggap resesi.

Tahun 2008 hingga 2009 tentu menjadi salah satu gambaran bagaimana Great Recession menghantam Amerika Serikat dan sejumlah negara mengalami dampaknya, termasuk Indonesia yang pertumbuhan ekonomi menurun hingga 4,63%.

Apa Sih Penyebab Resesi Ekonomi?

Meskipun ekonomi tumbuh serta produk domestik & internasional berkontribusi di tahapan ini. Tidak banyak ahli ekonomi dunia yang menyukai membahas kapan penurunan ekonomi selanjutnya tiba dan penyebabnya.

Namun, ada penelitian yang tengah dilakukan tentang bagaimana kecerdasan buatan dapat digunakan untuk membuat model prediksi ekonomi yang lebih baik di masa depan.

Model kecerdasan buatan tersebut sudah digunakan dan mengunggah prediksi resesi setiap bulannya. Banyak fenomena jangka panjang dan peristiwa ekonomi di luar dugaan yang dapat memicu resesi. Berikut beberapa faktor yang berkontribusi memicu krisis ekonomi ini:

  • Menurunnya daya beli masyarakat. Jika masyarakat pesimis akan menurunnya pertumbuhan ekonomi sehingga menyebabkan menurunnya daya beli dapat memicu fenomena ekonomi di masa depan.
  • Jatuhnya harga aset. Krisis keuangan di pasar saham dapat menyebabkan kegagalan perusahaan venture capital dan bank sehingga memicu menurunnya ekonomi, seperti kasus Bubble dotcom yang terjadi di medio 90an.
  • Inflasi. Semakin tinggi tingkat inflasi, semakin sedikit barang dan jasa yang bisa dibeli dengan nominal uang yang sama. Ketika konsumen sedikit membeli barang dan jasa, besar kemungkinan perusahaan akan memotong gaji, mengurangi produksi, memecat karyawan hingga terjadi pengangguran berskala besar.
  • Suku bunga naik. Menaikkan suku bunga merupakan usaha untuk mempertahankan kekuatan mata uang suatu negara dan mengendalikan inflasi, tetapi dampaknya sulitnya mendapatkan pinjaman uang dan pengetatan likuiditas.
  • Credit crunch. Fenomena melambatnya pertumbuhan penyaluran kredit yang dilakukan oleh pihak perbankan karena meningkatnya biaya pinjaman.
  • Perubahan kebijakan. Kebijakan pemerintah dapat memicu perubahan ekonomi, seperti pengendalian upah, undang-undang upah minimum, rasio pinjaman, hingga keseimbangan kurva penawaran dan permintaan.

Efek Negatif Resesi Ekonomi

Mengerti efek negatif dari kondisi ekonomi ini adalah salah satu langkah terbaik untuk menyelamatkan diri. Dari sekian banyak efek yang terjadi, banyak orang kehilangan lapangan pekerjaan sehingga meningkatkan jumlah pengangguran dan kerugian aset di berbagai instrumen investasi merupakan efek negatif dari resesi.

Apakah Seburuk Itu?

Meskipun terdengar buruk, resesi memiliki sisi positif jika kamu sudah siap menghadapinya untuk mengembangkan pemahaman finansial jangka panjang.

Resesi memicu turunnya harga real estate sehingga waktu yang tepat bagi kamu membeli atau membangun rumah karena bunga KPR turun, harga barang-barang termasuk saham sehingga sangat memungkinkan untuk membelinya di masa resesi, dan suku bunga turun sehingga meminjam uang akan jauh lebih mudah di saat resesi berlangsung.

Persiapan untuk Menghadapinya

Entah tahun ini atau tiga tahun kemudian, kamu harus selalu punya strategi untuk menghadapi resesi ekonomi selanjutnya. Berikut adalah beberapa persiapan yang bisa kamu lakukan agar dapat beradaptasi di resesi yang akan datang.

  • Menyiapkan dana darurat. Apakah kamu punya dana yang cukup untuk 3 – 6 bulan ke depan jika resesi tiba atau jika perusahaan memecat dengan alasan efisiensi? Kamu bisa mulai menabung dana darurat sesuai pengeluaran operasional tiap bulan.
  • Mempunyai berbagai pendapatan. Ciptakan keran pendapatan sebanyak mungkin jika skenario terburuk mengharuskan perusahaan memecatmu saat resesi tiba. Kamu bisa memulai bekerja sampingan atau memulai bisnis untuk meningkatkan pendapatan.
  • Membayar hutang. Hutang kartu kredit perlahan-lahan bisa membuat pendapatan tidak terasa jika tidak dibayar, bahkan jika kamu menjadi salah satu dari karyawan yang dipecat karena resesi, membayar hutang akan jauh lebih sulit. Salah satu teknik melunasi hutang yang bisa kamu terapkan adalah Debt Snowball dan Debt Avalanche.
  • Meninjau portofolio investasi. Sebelum resesi ekonomi selanjutnya tiba, tinjau ulang portofolio investasi di semua instrumen investasi. Apakah diperlukan penyesuaian strategi investasi untuk menghadapi resesi atau buat skenario terburuk terhadap portofolio investasi jika keadaan ekonomi ini datang dan menghantam ekonomi negara.
  • Tetap terinformasikan. Jika kamu belum memiliki kebiasaan memperhatikan berita ekonomi, pertimbangkan untuk mempelajari finansial melalui berita di media cetak, elektronik, atau internet. Kamu bisa memulainya dengan mempelajari tentang peminjaman, suku bunga, perdagangan internasional, tren saham, dan indikator lain yang bisa memicu penurunan ekonomi ini.
  • Tetap tenang. Untuk kamu yang berinvestasi di pasar saham, emosi menjadi hambatan paling besar untuk bisa mendapatkan return investasi yang diinginkan. Tidak sedikit investor yang memiliki tendensi untuk menjual aset ketika pasar menurun. Namun, perlu diingat bahwa ekonomi memiliki siklus, naik dan turun adalah hal lumrah, oleh karena itu keputusan yang kamu ambil benar-benar berdasarkan analisis yang mendalam.

Jika hal ini benar-benar datang di tahun ini, strategi apa yang kamu terapkan?

Artikel Terkait