Perusahaan Bursa Efek Indonesia Dimasuki Startup

perusahaan bursa efek indonesia
perusaaan bursa efek indonesia

Pelopor Emiten Startup Dalam Daftar Perusahaan Bursa Efek Indonesia

Pada Kamis, 5 Oktober 2017 lalu, Bursa Efek Indonesia (BEI) meresmikan pencatatan saham perdana dari PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS), yang merupakan perusahaan startup e-commerce pertama yang mencatatkan sahamnya di BEI melalui mekanisme Initial Public Offering (IPO) di pasar modal domestik.

IPO saham Kioson membuktikan bahwa BEI mendukung dan menyediakan fasilitas bagi perusahaan startup. Kioson diharapkan dapat lebih profesional, transparan, akuntabel, dan menjadi salah satu saham yang terus menjadi incaran investor.

IPO saham Kioson membuktikan bahwa BEI mendukung dan menyediakan fasilitas bagi perusahaan startup. Kioson diharapkan dapat lebih profesional, transparan, akuntabel, dan menjadi salah satu saham yang terus menjadi incaran investor.

Saat memasuki daftar Perusahaan Bursa Efek Indonesia, Kioson melepas saham ke publik sebanyak 150.000.000 saham (sekitar 23,07% dari total modal ditempatkan) dengan harga Rp300,- per saham, sehingga perusahaan langsung meraih dana segar sebesar Rp45 miliar, dan disetor penuh setelah pelaksanaan IPO

Momen IPO penting bagi perusahaan karena dapat memperkuat komitmen dalam menjembatani underserved market dengan dunia digital, sekaligus membuka peluang bagi para investor untuk bisa berinvestasi di startup teknologi. Sekitar 78,95% dana yang diraih dari hasil IPO akan dialokasikan untuk akuisisi PT Narindo Solusi Komunikasi dalam rangka memperkuat infrastruktur perusahaan, jelas Jasin Halim – Direktur Utama Kioson.

Momennya Startup Jadi Primadona Perusahaan Bursa Efek Indonesia

Kurang dari sebulan kemudian MCASH menyusul pada 1 November 2017. Selanjutnya NFC pada 12 Juli 2018. 2 tahun terakhir seolah memang menjadi momennya perusahaan startup masuk ke pasar modal dalam negeri.

  • Pada perdagangan perdana, harga saham KIOS menunjukkan penguatan 50%, dari Rp300,- menjadi Rp450,- per saham.
  • Harga saham PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) yang IPO pada 1 November 2017, tercatat sudah naik 132,4% menjadi Rp3.220 per saham!
  • Harga saham PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) yang IPO pada 12 Juli 2018 naik 39,45% menjadi Rp2.580 per saham.
  • Sayangnya harga saham PT Yelooo Integra Datanet Tbk (YELO) yang IPO pada 29 Oktober 2018 malah terkoreksi 60,1% menjadi Rp150,- per saham.
  • Harga saham PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) yang IPO pada 27 November 2018 tercatat naik 24,7% menjadi Rp3.680 per saham.
  • Harga saham startup yang paling belakangan IPO, yaitu PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS), naik 54,44% pada menjadi Rp278,- per saham. 

Mengapa Daftar Perusahaan Bursa Efek Indonesia Minim Emiten Startup

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan bahwa minimnya minat startup masuk BEI disinyalir terkait persyaratan yang rumit dan mahal, termasuk biaya valuasi dan audit. Umumnya startup menghindari keterbukaan keuangan secara berlebihan, khawatir publik atau kompetitor akan mengetahui “rahasia dapur” perusahaan kesayangannya.

Dengan sifat alamiah startup yang umumnya masih menjunjung tinggi idealisme visi-misi Foundernya, pada dasarnya mereka juga ingin agar intervensi investor dilakukan secara terbatas. Misalnya: pengelolaan operasional diserahkan kepada manajemen pilihan Founder.

Sebaliknya pada perusahaan terbuka, pemilihan direksi pasca IPO dipilih oleh publik, dan peran Founder jadi berkurang. Biasanya startup baru berpikir untuk IPO saat valuasinya menyentuh level tertentu.

IPO tidak identik dengan exit strategy

Initial Public Offering (IPO) sering diasosiasikan sebagai exit strategy (strategi keluar dari kesulitan) bagi startup. Exit strategy lainnya adalah Merger & Akuisisi, menjual perusahaan, menjadi “cash cow“, bahkan dilikuidasi dan ditutup.

Misalnya; merger Berniaga.com dan Tokobagus menjadi OLX Indonesia, akuisisi Tiket.com oleh Blibli, atau akuisisi Lazada oleh Alibaba.

Sementara Willson Cuaca – Co-Founder & Managing Partner East Ventures menganggap IPO sebagai milestone-nya startup karena setelah IPO, startup itu akan tetap berjalan untuk menjadi semakin besar.

Bagi Jasin Halim – Co-Founder dan CEO Kioson, IPO merupakan strategi yang tidak pernah terlintas saat merintis startup itu di 2015. Kioson pernah menempuh berbagai upaya pendanaan, namun tak satupun berjodoh lantaran ketidakcocokan penghitungan valuasi.

Lalu kebetulan saat itu momennya pemerintah mulai gencar mendorong startup e-commerce, hingga akhirnya menjadi solusi. Suryandy Jahja – Managing Director Kresna Graha Investama (KREN) juga memandang IPO sebagai milestone untuk kesempatan tumbuh lebih besar. Karenanya KREN aktif mereview dan mendorong anak-anak usahanya untuk mendaftar di bursa.

Perjalanan Pasca IPO

Pada awal Oktober 2019, kapitalisasi pasar Kioson sudah melebihi Rp2 triliun! Sejak IPO, visibilitas Kioson semakin meningkat, apalagi menyandang predikat “Startup Digital Yang Pertama berhasil IPO”. Reputasi tersebut dimanfaatkan untuk bermitra dengan banyak pihak, agar kinerja perusahaan terus membaik.

Laporan keuangan di Q2 2018 menunjukkan Kioson meraup laba bersih Rp4,8 miliar, dengan jumlah penjualan bersih sebesar Rp1,27 triliun, padahal di tahun sebelumnya hanya Rp47,7 miliar. Kenaikan itu sejalan dengan peningkatan total aset sebesar 5,69% menjadi Rp263,9 miliar. Kisah menggembirakan serupa juga terjadi pada startup lainnya yang masuk daftar perusahaan Bursa Efek Indonesia

Namun mendapatkan dana segar dari publik tentunya wajib dibayar dengan tanggung jawab yang tak kalah besar. Salah satunya adalah harus selalu transparan dan menjunjung tinggi tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).

Seperti layaknya korporasi publik, rutin tiap 3 bulan sekali, startup yang go public harus mengumumkan soal kinerja ke publik, memakai jasa auditor dan konsultan untuk laporan keuangan, dan mempublikasi secara umum setiap informasi tentang aksi korporasinya.

Minat Investor Pada Saham Startup Yang Masuk Daftar Perusahaan Bursa Efek Indonesia

Investor yang mengincar saham startup umumnya berani mengambil risiko dan punya “kecintaan” tersendiri terhadap inovasi model bisnis baru. Karena, meski banyak startup yang memiliki valuasi harga tinggi, fundamental dan labanya belum tentu sudah tercapai. Jadi, ada faktor idealisme di samping faktor tingkat return (keuntungan).

Keputusan investasi seperti itu dinilai juga karena terpengaruh momen maraknya perkembangan startup di dalam dan luar negeri saat ini. Sehingga sekarang ini para risk taker merasa nyaman. Terlebih lagi, fenomena startup yang terkait erat dengan pengentasan isu bonus demografi otomatis akan punya “story” bagus.

Bacaan menarik lainnya:

Darmadji, T., & Fakhruddin, H. M. (2011). Pasar Modal Di Indonesia (Edisi 3 ed.). Jakarta: Salemba Empat.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Mulai Investasi Reksa Dana Dengan Ajaib.
Ayo bergabung dengan Ajaib, aplikasi investasi online terbaik! Bebas biaya pendaftaran, bisa tarik dana kapan saja. Modal awal min. Rp10.000.
Facebook Comment
Artikel Terkait