Ajaib

Non-Fungible Token (NFT), Makin Populer di Tengah Kontroversi

Non Fungible Token
Non Fungible Token

Ajaib.co.id – Tahun ini, ada satu aset digital yang sedang ‘naik daun’, yakni Non-Fungible Token (NFT). Ya, NTF semakin populer, terutama di kalangan industri kreatif. Namun, popularitas NTF masih diselimuti oleh sejumlah kontroversi.

Gaung NTF makin terdengar kencang tatkala Jack Dorsey, founder Twitter, mengumumkan bahwa dia menjual tweet pertamanya di twitter belum lama ini. Tweet bersejarah yang awalnya tampak tak bernilai itu kini bisa dikonversikan dalam bentuk uang.

Jumlahnya pun sangat fantastis. Tawaran tertinggi untuk tweet itu mencapai 1630,6 ETH (cryptocurrency Ethereum) atau setara US$2,5 juta. Penawaran itu datang hanya selang sehari setelah lelang virtual tweet pertama Dorsey diumumkan ke publik. Ternyata, Dorsey membuat versi token atau NFT dari tweet yang di-post-nya tersebut.

Apa sebetulnya yang dimaksud dengan NFT? NFT adalah aset atau file digital. Verifikasi originalitas NFT dilakukan melalui blockchain. Verifikasi tersebut menyertakan kode identifikasi unik dan metadata yang membedakan satu dengan lainnya. Kemudian, kode tersebut ‘dicetak’ secara permanen menjadi sebuah token di blockchain.

Standard token NFT terdiri dari ERC1155, ERC20, ERC721, dan TRC721. Selain dibangun di atas blockchain Ethereum, ada jenis blockchain lainnya yang juga digunakan untuk merilis token NFT, seperti Neo, Eos, dan Tron.

Sejumlah bentuk NFT terpopuler antara lain jpeg, gif, dan video. Meski demikian, NFT bisa juga berbentuk format lainnya sesuai keinginan kreator, seperti koleksi kartu digital. Salah satu koleksi kartu digital yang laku keras adalah NBA Top Shot. Kartu-kartu yang berisikan momen-momen seru NBA itu ada yang terjual hingga jutaan dolar AS.

Sama seperti instrumen investasi atau aset lainnya, harga NFT ditentukan melalui mekanisme pasar. Dengan kata lain, berlaku pula hukum permintaan dan penawaran. Rekam jejak berbagai data tercatat, seperti nama pemilik awal, nama pemilik terakhir hingga penerbit saat token dirilis.

Hal ini mendorong keinginan kolektor untuk mempengaruhi tingkat permintaan NFT. Dari sinilah harga NFT akan bergerak mengikuti permintaan dan penawaran layaknya instrumen investasi pada umumnya. Bagi kolektor ‘sejati’, harga bukanlah persoalan yang berarti.NFT memiliki beberapa karakteristik, yakni

Eksklusif

NFT bak sertifikat kepemilikan aset digital yang eksklusif. Maksudnya, NFT tidak dapat diduplikasi karena terdapat perbedaan kode unik dalam setiap token. Dengan begitu, NFT palsu menjadi sangat sulit dibuat. Di samping itu, NFT hanya bisa digunakan di platform-nya masing-masing, tidak bisa dipakai di layanan penyedia lainnya.

Tak dapat dibagi

NFT adalah aset digital yang berupa satu kesatuan. Artinya, NFT tidak bisa dibagi menjadi pecahan yang nilainya lebih kecil. Hal ini berbeda dengan aset digital lainnya, seperti kripto berupa Bitcoin (BTC). Aset senilai 1 BTC bisa dibagi menjadi denominasi terkecil, yakni Satoshi.

Tidak bisa dihancurkan

Fitur smart contract digunakan untuk menyimpan seluruh data NFT di dalam blockchain. Jadi, tiap token tidak bisa dihapus, dihancurkan, atau direplikasi. Begitu pula dengan kepemilikan token yang tidak dapat diubah. Dengan begitu, pemilik NFT dapat memiliki token NFT secara penuh, bukan hanya mendapat hak milik sementara dari perusahaan pembuatnya. 

Mudah dilacak tanpa pihak ketiga

Otentikasi terhadap NFT bisa diverifikasi tanpa melibatkan pihak ketiga. Artinya, seluruh catatan kepemilikan dan transaksinya dapat dilacak tanpa partisipasi pihak ketiga.

NFT bisa mewakili sejumlah benda koleksi, seperti games, kartu olahraga, sepatu kets, karya seni hingga properti. Menariknya lagi, siapa saja bisa membuat token NFT di blockchain.

Meski memiliki prospek profit yang menggiurkan sehingga popularitasnya menjulang, NFT menyimpan sejumlah kontroversi. Utamanya terkait hak kekayaan intelektual. Salah satu kasus terkait hal tersebut dialami oleh ilustrator terkenal asal Indonesia Kendra Ahimsa atau Ardneks.

Kendra menerima lebih dari 20 laporan tentang plagiarisme yang dilakukan oleh pegiat kripto bernama Twisted Vacancy. Masalahnya, Twisted Vacancy membuat token dan menjualnya seharga ribuan dolar AS.

Pengacara kekayaan intelektual Dani Saraswati menyatakan Twisted Vacancy tidak secara langsung melanggar UU Hak Cipta. Menurut Dani, Twisted Vacancy hanya mereproduksi karya Kendra, mengambil ciri khas substansialnya, dan membuat karya baru.

Memang, masih belum banyak kasus terkait NFT yang dibawa ke ‘meja hijau’. Hal ini tak terlepas dari belum adanya teori hukum yang bisa dijadikan landasan cukup kuat untuk pengambilan putusan hukum.

Sekilas, kasus yang dialami Kendra mirip dengan kasus yang dianggap plagiat di industri musik pada suatu platform karena mengambil sekitar 10% komponen musik lain dan mendapatkan royalti dari karya tersebut.

Namun, bedanya dalam kasus NFT kreator asli dinilai lebih dirugikan. Pasalnya, pembuat token bisa mendapatkan keuntungan yang fantastis dalam satu waktu dengan mendaftarkan karya kreator aslinya ke dalam blockchain terlebih dulu.

Sejumlah kalangan menilai ini adalah pencurian karya digital. Belum lagi saat karya tersebut dijual kembali, sang pembuat token tetap akan mendapatkan pundi-pundi Dolar, Rupiah, atau mata uang lainnya.

Pada sistem blockchain, sang pembuat token dianggap sebagai kreator meskipun ia belum tentu sebagai kreator aslinya. Memang, idealnya kreator asli yang dapat membuat token dari karya-karyanya. Hanya saja kembali pada konsep awal blockchain yang mengedepankan anonimitas sehingga verifikasi identitas menjadi lebih sulit untuk dibuktikan.

Hal terkait plagiarisme seperti contoh di atas bisa dicegah bila, misalnya, blockchain mempunyai sistem tambahan yang dapat mengidentifikasi aset digital sebelum akhirnya diperjualbelikan.

Terlepas dari popularitas dan kontroversinya, beberapa pakar menilai bahwa NFT adalah ‘bubble’ yang siap meletus, seperti halnya dengan dotcom atau Beanie Babies. Namun, sejumlah ahli lain meyakini bahwa NFT akan tetap eksis dan menjadi instrumen investasi baru yang menjanjikan. 

Artikel Terkait