Cryptocurrency

Menilik Solana, Rival Ethereum yang Menarik Untuk Disimak

Sumber: Solana

Ajaib.co.id – Belakangan blockchain Solana, yang baru dirilis pada Maret 2020, telah menarik banyak perhatian.

Dalam satu setengah tahun saja harga tokennya, yaitu SOL, telah naik 14.000 persen dari harga peluncurannya yang hanya USD 1 saja di Mainnet Beta pada Maret 2020 menjadi USD 140 pada September 2021 di berbagai exchange kripto. Usia dini bukan halangan bagi blockchain ini untuk bisa populer.

Data dari CoinMarketCap menginformasikan bahwa dengan harga token USD 140 maka kapitalisasi pasar Solana adalah USD 41,8 miliar, dan dengan demikian Solana masuk ke dalam daftar 10 kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar. Hal ini berkat antusiasme yang luar biasa dari para pecinta mata uang kripto.

Antusiasme pula lah yang menyebabkan masalah ketidakstabilan jaringan utama pada 14 September. Jadi akhir-akhir ini terdapat transaksi yang jumlahnya tak wajar sangat besar di jaringan blockchain yang satu ini.

Kehabisan sumber daya adalah penjelasan mengapa Solana sempat tidak berfungsi, menyebabkan penolakan layanan terdistribusi atau DdoS. Dan hari itu SOL turun 15%. Namun tidak mengapa karena SOL telah bangkit dengan perbaikan di sana-sini dan naik ke kisaran USD 100-200 per token di September ini.

Pertanyaan semua orang adalah apakah token SOL masih bisa naik? Apakah terlambat untuk membeli sekarang? Apakah token ini memiliki utilitas? Apa pula itu Solana? Simak terus ya!

Apakah Solana Itu?

Solana adalah jaringan blockchain dengan program smart contract seperti Ethereum namun lebih cepat dalam pemrosesan transaksi, luar biasa efisien dalam mengonsumsi energi dan mampu menawarkan biaya transaksi terendah di pasar hingga kurang dari $0,01 per transaksi.

Blockchain ini dirancang oleh Anatoly Yakovenko, sebelumnya ia membuat sistem untuk Qualcomm dan Dropbox sebelum memulai Solana. Solana diluncurkan pertama kali di Mainnet Beta pada Maret 2020 dan per September 2021 sudah memiliki kapitalisasi pasar sebesar USD 41 miliar (CoinMarketCap).

Solana dapat diprogram dengan kode yang disebut smart contract seperti halnya Ethereum. Namun blockchain yang satu ini menggabungkan algoritma Proof-of-Stake (PoS) dengan sistem Proof-of-History (PoH).

Dengan demikian seluruh transaksi diproses antre secara berurutan, tidak seperti Ethereum yang mengutamakan transaksi besar terlebih dahulu. Dan oleh karenanya jaringan Solana lebih cepat dari Ethereum.

Sekarang ada hampir USD 12 miliar yang terkunci dalam aplikasi DeFi di Solana. Dan telah terdapat sekitar 400 dApps di atas jaringan blockchain Solana termasuk DeFi, NFT dan game.

Juara Generasi Ketiga

Solana adalah generasi ketiga dalam hal teknologi blockchain. Generasi pertama adalah Bitcoin. Jaringan blockchain Bitcoin diciptakan mengusung teknologi yang anti rusak, dan terdesentralisasi.

  1. Bitcoin – Generasi Blockchain Pertama

Jaringan Bitcoin menyetujui transaksi dengan memecahkan teka-teki matematika yang sulit dan oleh karenanya hanya dapat menangani lima transaksi per detik.

Bitcoin tersedia kapanpun dan telah memangkas biaya yang tidak perlu yang memungkinkan orang untuk mentransfer uang tanpa melibatkan pihak ketiga seperti bank. Bitcoin juga tidak memiliki smart contract untuk mengikat perjanjian antar pihak-pihak yang bertransaksi.

  • Ethereum Generasi Blockchain Kedua

Kemudian hadir Ethereum sebagai blockchain generasi kedua yang memiliki kelebihan seperti Bitcoin namun dapat diprogram untuk mengikat perjanjian. Dengan smart contract-nya Ethereum dapat diprogram untuk mengikat para pihak yang bertransaksi.

Misalnya jika ada dua orang bertaruh untuk suatu hal, yang kalah akan mentransfer sejumlah uang ke pihak yang menang, Ethereum bisa mengatur pengikatan perjanjian seperti itu dan akan secara otomatis men-transfer dana ke pihak yang menang setelah hasilnya keluar.

Ethereum kemudian dijadikan landasan oleh banyak komunitas developer yang sangat aktif untuk mendirikan aplikasi terdesentralisasi (dApps) di atasnya.

Saat ini di atas Ethereum telah banyak didirikan kontrak pintar, DeFi, token non-fungible (NFT), dan masih banyak lagi. Dan oleh karenanya popularitas Ethereum mengangkasa, pertumbuhan harganya telah melampaui Bitcoin.

Sayangnya Ethereum memiliki masalah dalam hal kecepatan. Ethereum memproses transaksi besar terlebih dahulu dan transaksi-transaksi kecil belakangan. Oleh karenanya jaringan Ethereum macet karena lalu lintas yang padat. Ethereum saat ini memproses 15 hingga 45 Transaksi Per Detik (TPS).

Ethereum menggunakan sistem Proof-of-Work yang memberi penambang opsi  untuk mengutamakan transaksi yang paling besar terlebih dahulu.

Oleh karenanya jaringan Ethereum seperti jalan raya yang penuh sesak yang mengizinkan mobil-mobil besar melaju terlebih dahulu sedangkan mobil-mobil kecil harus berdesakan menunggu agar bisa lewat. Biayanya juga menjadi mahal dan memiliki emisi karbon yang besar.

Kemudian beberapa blockchain hadir untuk mensiasati masalah-masalah yang ada di Ethereum, sama-sama dapat diprogram untuk mengikat perjanjian dalam smart contract, dengan kecepatan transaksi lebih cepat dari ETH dan lebih murah. Dan dari semuanya ada Solana yang tercepat dalam memproses transaksi.

  • Solana

Solana adalah juara dari sekian banyak blockchain yang berusaha mengungguli Ethereum dalam hal kecepatan transaksi, keamanan dan efisiensi.

Di belakang Solana sebenarnya ada Cardano yang juga mampu memecahkan banyak masalah dengan penggunaan sumber daya dengan biaya murah. Namun smart contract dan fitur-fitur canggih lainnya hadir lebih lambat dibanding Solana.

Solana vs Ethereum

Direktur operasional Qredo yang merupakan mantan salah satu direktur exchange kripto Binance, yakni Josh Goodbody meyakini SOL adalah pesaing kuat Ethereum.

Dengan sistem Proof of History (PoH), Solana dapat memproses 50.000 transaksi per detik (TPS) atau lebih. Bahkan, dikatakan bahwa jumlah itu bisa meningkat hingga 700.000 TPS seiring dengan pertumbuhan jaringan.

Hal ini sangat mungkin karena saat ini Circle yang berdiri di atas blockchain Solana telah bekerja sama dengan Visa dengan jumlah transaksi total 240.000 TPS.

Utilitas

Utilitas adalah faktor fundamental utama dalam kripto, karena sebuah token atau koin suatu saat akan tidak bernilai jika tidak ada yang menggunakan. Maka kegunaan token atau koin akan menjadi daya tawar yang harus dipertimbangkan.

Nah, pada Oktober 2020, Circle yang merupakan salah satu sistem pembayaran terbesar di Internet, bermitra dengan Solana.

Solana memberikan Circle ekosistem pembayaran, perdagangan, dan aplikasi keuangan yang sangat efisien di atas blockchain dengan kecepatan kilat sehingga penerbitan langsung pembayaran USD Coin (USDC) dapat dilakukan secara cepat.

Dua bulan setelahnya, yakni Desember 2020, Circle bermitra dengan VISA untuk memudahkan orang berbelanja menggunakan USD Coin (USDC) melalui jaringan VISA.

Dengan demikian ada lebih banyak orang yang menggunakan jaringan Solana untuk berbelanja di jaringan penyedia kartu kredit VISA. Dan oleh karena kegunaannya sebagai pondasi Circle dalam transaksi USDC di jaringan VISA, maka nilai token SOL dari waktu ke waktu bisa semakin tinggi. Kesimpulannya SOL adalah token dengan utilitas nyata.

Keuntungan membeli SOL

  1. Yield. Jika kamu membeli SOL kamu bisa mendapat yield alias bunga dengan melakukan Staking. Staking adalah proses validasi transaksi dan keamanan jaringan. Kamu bisa melakukan Staking dan mendapat SOL tambahan atas tabungan SOL yang kamu punya.
  2. Semakin populer. Banyak aplikasi desentralisasi dan NFT dibangun di atas jaringan blockchain Solana. Misalnya NFT Degenerate Ape yang dibangun di atas Solana telah terjual masing-masing lebih dari USD 1 juta. Ethereum sendiri memiliki sangat banyak proyek seperti dApps, NFT dan banyak lagi yang dibangun di atas Ethereum. Namun gas fee yang mahal di Ethereum membuat Solana semakin dilirik oleh para pembuat NFT.

Risiko

Ethereum mungkin lambat dalam memproses transaksi dan juga relatif mahal, tetapi para developer sudah terbiasa menggunakan bahasa pemrogramannya. Sebagai blockchain dengan smart contract pertama, Ethereum lebih familiar digunakan daripada Solana meski lebih baik.

Masalah biaya transaksi yang mahal sedang dalam pengerjaan, dan paling cepat pembaruan pada ETH terjadi di tahun 2022. Ketika penyesuaian harga sudah terjadi, maka Solana hanya dapat memberikan keunggulan dari kecepatan transaksi saja.

Saat ini komunitas developer Solana masih jauh lebih kecil daripada Ethereum, akan tetapi bahasa pemrograman Rust Solana yang ramah pengguna akan disukai developer dan diharapkan dapat menjadi pilihan alternatif Ethereum yang lebih baik.

Risiko lainnya datang bersumber dari kesuksesan yang diraihnya. Solana sempat tidak berfungsi karena terdapat gangguan stabilitas jaringan gegara limpahan peminat dalam waktu singkat.

Hal ini menyebabkan penolakan layanan terdistribusi atau DdoS pada 14 September 2021. Untuk itu Solana mesti melakukan desentralisasi lebih lanjut dan mendapatkan lebih banyak validator jaringan.

Artikel Terkait