Menganalisis Kinerja Reksa Dana Anda

Kinerja masa lalu dari sebuah reksadana tidak menjadi jaminan untuk mendapatkan return atau pengembalian di masa depan. Akan tetapi, jika Anda tahu bagaimana menganalisis kinerja sebuah reksadana, Anda akan mengetahui apa yang harus Anda cari dan apa yang harus Anda hindari sehingga Anda dapat membuat keputusan investasi yang lebih baik. Keputusan yang tepat akan meningkatkan peluang meningkatnya kinerja reksadana yang Anda pilih.

# Apple to Apple: Bandingkan Reksadana dengan Tolak Ukur yang Tepat

Informasi pertama yang dapat Anda analisis dengan kinerja reksadana adalah membandingkan pengembalian reksa dana dengan tolok ukur atau benchmark yang sesuai. Misalnya, jika Anda ingin melihat seberapa baik kinerja dana Anda, yang terbaik adalah membandingkannya dengan rata-rata pengembalian untuk reksadana dalam kategori yang sama.
Katakanlah Anda melihat dan memperhatikan bahwa salah satu reksadana Anda mengalami penurunan nilai yang besar. Namun, reksadana Anda yang lain memberikan kinerja baik dalam jangka waktu tertentu. Hal ini bukanlah suatu indikasi bahwa reksadana yang menurun tersebut harus dihapus dari portofolio Anda. Lihatlah jenis dan kategori reksadana tersebut terlebih dahulu untuk menganalisis apakah reksadana lain dalam kategori tersebut memiliki penurunan yang serupa.
Anda juga dapat menggunakan indeks untuk tolok ukur Anda. Misalnya, jika reksadana tersebut merupakan reksadana saham-saham besar, patokan yang baik adalah menggunakan indeks LQ45. Jika LQ45 turun 10% selama periode yang Anda analisis tetapi reksadana Anda hanya turun 8%, Anda mungkin tidak perlu khawatir dengan kinerja reksadana Anda.

# Ketahui Kapan Reksadana yang Bagus Bisa Memberikan Kinerja Buruk

Jika Anda berinvestasi dalam reksadana, terutama pada reksadana saham, kemungkinan Anda berencana untuk mempertahankan reksadana tersebut setidaknya selama tiga tahun atau lebih. Pada asumsi ini, jarang ada kebutuhan untuk melihat periode waktu kurang dari tiga tahun. Namun, hal ini bukan berarti bahwa pengembalian jangka pendek menjadi tidak relevan. Bahkan jika suatu reksadana menghasilkan pengembalian satu tahun yang sangat tinggi dibandingkan dengan reksadana lain dalam kategorinya, hal ini dapat menjadi sinyal peringatan.
Ada beberapa alasan untuk pernyataan ini. Salah satu alasannya adalah bahwa tahun tertentu dari pengembalian yang luar biasa tinggi bukanlah sesuatu yang normal. Investasi adalah sebuah maraton dan bukan perlombaan. Kinerja yang kuat tidak selalu berkelanjutan. Alasan lain untuk menghindari reksadana yang memiliki pengembalian tinggi pada kinerja jangka pendek adalah karena hal tersebut menarik lebih banyak aset ke dalam reksadana tersebut.
Jumlah uang yang lebih kecil lebih mudah dikelola daripada jumlah yang lebih besar. Pikirkan sebuah perahu kecil yang dapat dengan mudah menavigasi perairan pasar yang sedang bergeser. Lebih banyak investor berarti lebih banyak uang yang menciptakan kapal yang lebih besar untuk bernavigasi. Reksadana yang memiliki pengembalian pada tahun tertentu bukanlah reksadana yang diharapkan untuk melakukan hal yang sama di masa depan. Peningkatan besar dalam aset bisa sangat merusak prospek reksadana untuk kinerja masa depan. Inilah sebabnya mengapa manajer investasi yang baik umumnya membatasi dana untuk investor supaya mereka dapat menavigasi pasar lebih mudah.

# Memahami dan Mempertimbangkan Siklus Pasar dan Ekonomi

Anda bisa berbicara dengan sepuluh penasihat investasi dan Anda mungkin akan mendapatkan sepuluh jawaban berbeda mengenai periode waktu apa yang paling penting untuk dianalisis untuk menentukan reksadana mana yang terbaik dari perspektif kinerja. Sebagian besar penasihat akan memperingatkan bahwa kinerja jangka pendek (satu tahun atau kurang) tidak akan memberitahu Anda banyak tentang kinerja reksadana di masa depan.
Reksadana yang dikelola secara aktif membutuhkan manajer investasi untuk mengambil risiko yang diperhitungkan untuk mengungguli tolok ukur mereka. Oleh karena itu, kinerja yang buruk selama satu tahun mungkin hanya mengindikasikan bahwa pemilihan saham atau obligasi yang dilakukan manajer belum mencapai waktu untuk mencapai hasil yang diharapkan.

# Gunakan Bobot untuk Mengukur Kinerja Reksadana

Periode waktu yang umum digunakan untuk mengukur kinerja reksadana adalah pengembalian selama 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun, dan 10 tahun. Jika Anda memberikan bobot yang lebih berat pada periode kinerja yang paling relevan dan bobot yang lebih rendah pada periode kinerja yang kurang relevan, saya menyarankan untuk membobotkan bobot terberat 5 tahun, diikuti oleh 10 tahun, lalu 3 tahun dan 1 tahun lalu.
Misalnya, Anda dapat membuat sistem evaluasi Anda sendiri berdasarkan persentase berat. Katakanlah Anda memberikan bobot 40% untuk periode 5 tahun, 30% untuk periode 10 tahun, 20% untuk periode 3 tahun dan 10% untuk periode 1 tahun. Anda kemudian dapat mengalikan bobot persentase dengan masing-masing pengembalian yang sesuai untuk periode waktu tertentu dan rata-rata totalnya. Anda kemudian dapat membandingkan reksadana satu dengan yang lain.
Cara yang lebih sederhana untuk melakukan hal ini adalah dengan menggunakan situs penelitian reksadana dan melakukan pencarian Anda berdasarkan pengembalian 5 tahun. Kemudian Anda dapat melihat pengembalian lainnya setelah Anda menemukan beberapa dengan potensi yang baik. Metode pembobotan atau pencarian ini memastikan bahwa Anda akan memilih reksadana terbaik berdasarkan kinerja yang dapat memberikan petunjuk kuat tentang kinerja masa depan.
Dengan menggabungkan semua faktor di atas, Anda dapat membuat keputusan cerdas tentang membeli reksadana terbaik untuk portofolio Anda.
Share to :
Tags: ,
Artikel Terkait