Asuransi & BPJS

Kasus Kresna Life Jadi Bukti Buruknya Asuransi Indonesia

Ajaib.co.id – Dalam 2 tahun terakhir sudah ada dua perusahaan asuransi Indonesia yang terjerat kasus gagal bayar. Kasus paling bombastis yang digoreng oleh media-media mainstream adalah PT Asuransi Jiwasraya. Namun, seakan belum cukup sampai disitu, muncul kembali kasus serupa yang terjadi di PT Asuransi Jiwa Kresna atau Kresna Life.

Selain dua perusahaan tersebut, sebelumnya ada PT Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera. Namun, yang kini tengah jadi sorotan publik adalah Asuransi Jiwasraya dan Asuransi Jiwa Kresna Life.

Semakin maraknya kasus gagal bayar oleh perusahaan asuransi jiwa jadi bukti nyata carut marutnya industri asuransi nasional. Hal ini dikarenakan perusahaan asuransi yang seharusnya fokus menjamin jiwa para pemegang polisnya justru mengiming-imingi garansi imbal hasil atau fixed return pasti lewat produk asuransi berbalut investasi demi menarik minat masyarakat.

Asuransi Jiwa Kresna Life Gantungkan Nasib Nasabah

Berita yang masih hangat sampai saat ini adalah nasib nasabah yang digantungkan oleh PT Asuransi Jiwa Kresna. Terakhir para nasabahnya menolak skema pembayaran yang diberikan Kresna Life. Bahkan mereka dibuat depresi karena Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Asuransi Jiwa Kresna dikabulkan oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Kasus gagal bayar yang terjadi di Asuransi Jiwa Kresna Life mulai terendus pada Mei 2020 lalu. Pada tanggal 14 Mei 2020, perusahaan menyampaikan informasi kepada nasabahnya melalui surat yang menyebutkan bahwa perusahaan sedang mengalami masalah likuiditas portofolio investasi. Akibatnya, perusahaan harus menunda pembayaran atas dua produk investasinya, yaitu Kresna Link Investa (KLITA) dan Protecto Investa Kresna (PIK).

Masalah likuiditas perusahaan diklaim akibat dari kondisi pandemi COVID-19 sehingga berimbas pada portofolio investasi mereka di pasar modal. Kalau sudah begitu, Kresna Life dipastikan kehilangan kemampuan finansialnya untuk membayar kewajiban kepada para pemegang polis K-LITA dan PIK.

Pihak Asuransi Jiwa Kresna Life pun akhirnya melakukan penundaan pembayaran polis jatuh tempo selama satu tahun, terhitung mulai dari 11 Februari 2020 sampai 10 Februari 2021. Penundaan pembayaran ini terkesan sepihak oleh nasabahnya karena sebelumnya perusahaan memberitahukan bahwa penundaan hanya berlangsung selama enam bulan.

Kasus ini pun sampai ke telinga Otoritas Jasa Keuangan yang kemudian menjatuhi sanksi kepada Kresna Life yakni pembatasan kegiatan usaha (PKU). Alasan pemberian sanksi tersebut karena PT Asuransi Jiwa Kresna sudah melanggar ketentuan tentang pelaksanaan rekomendasi hasil pemeriksaan.

OJK sendiri sudah melakukan pemeriksaan terhadap Asuransi Jiwa Kresna untuk periode 2019 pada Februari 2020 dan ditemukan beberapa pelanggaran. Salah satu pelanggarannya adalah tentang kesepakatan pemenuhan klaim kepada nasabah, khususnya pemegang polis produk K-LITA.

Pihak dari OJK akan melakukan pengawasan ketat dan menjatuhkan sejumlah kewajiban kepada Asuransi Jiwa Kresna Life terkait pemenuhan pembayaran klaim kepada pemegang polisnya.

Alasan Perusahaan Asuransi Bisa Gagal Bayar

Apa sih yang menyebabkan perusahaan asuransi terjerat kasus gagal bayar?

Maraknya kasus tersebut disebabkan oleh ketentuan yang dilanggar perusahaan asuransi dari regulator. Baik Asuransi Jiwasraya dan Asuransi Jiwa Kresna sama-sama menawarkan imbal hasil tinggi kepada pemegang polis yang membeli produknya. Misalnya, Kresna Life menjanjikan imbal hasil sebesar 9% untuk dua produk investasinya, yakni Kresna Link Investa (K-LITA) dan Protecto Investa Kresna (PIK).

Produk tersebut dihadirkan untuk menarik minat masyarakat agar membeli asuransi. Sayangnya, produk itu malah disalahgunakan dengan bumbu pemanis akan dijanjikan return tinggi. Lantas bagaimana perusahaan memenuhi janjinya? Caranya adalah dengan menempatkan dana nasabah ke instrumen saham yang berisiko tinggi. Inilah yang membuat masyarakat terkecoh, padahal tidak ada garansi dari imbal hasil tersebut.

Perusahaan asuransi menjanjikan bunga tinggi dan tidak masuk akal. Nah, sekarang ketika bursa anjlok akibat pandemi COVID-19, mereka jadi hancur dan akhirnya gagal bayar. Permasalahan ini sebetulnya menimbulkan pertanyaan terkait peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selama ini.

Ko bisa OJK membiarkan perusahaan asuransi memberikan return tinggi serta fixed, dari sini saja sudah terlihat melanggar aturan? OJK pengawas seharusnya mampu memprediksi hal semacam ini dan dampaknya sangat membahayakan yang bisa jadi bom waktu. Di saat pandemi inilah bom itu meledak.

Apabila terus dibiarkan, masyarakat akan kehilangan kepercayaan terhadap perusahaan asuransi dan berpengaruh kepada anggota yang baru akan bergabung asuransi. Masalahnya, kondisi pandemi saat ini memunculkan masalah lain, yaitu pertama meningkatnya kebutuhan pembiayaan untuk kesehatan jadi konsekuensi bagi pihak asuransi sehingga tak heran jika ada lonjakan klaim asuransi.

Kedua adalah daya beli masyarakat yang menurun mempengaruhi kemampuan finansial dalam membeli premi asuransi. Dengan demikian, pendapatan perusahaan asuransi pun ikut berkurang.

Tips Memilih Perusahaan Asuransi

Dari kasus gagal bayar Kresna Life membuat kita belajar bahwa dalam memilih perusahaan asuransi harus lebih bijak. Ada beberapa tips dalam memilih asuransi yang tepat berikut ini.

  • Gali Pengetahuan Tentang Asuransi

Sangat penting memiliki pengetahuan terkait perusahaan asuransi dan cara kerjanya. Beberapa produk asuransi sejumlah risiko yang tidak bisa dijamin, apalagi disertai embel-embel investasi. Perhatikan juga biaya-biaya di dalamnya sehingga kamu tahu berapa uang yang harus dikeluarkan untuk satu premi asuransi.

  • Jangan Goyah dengan Tawaran Imbal Hasil Besar

Imbal hasil investasi tinggi besar juga risikonya. Jika ada asuransi yang menawarkan fixed return 8% atau lebih, sebaiknya kamu pikir dua kali. Sederhananya begini, bank saja hanya mampu menawarkan imbal hasil 5%-6%, bagaimana bisa ada perusahaan asuransi berani memberikan imbal hasil sampai 10%. Sangat tidak masuk akal dan kamu patut curiga.

  • Beli Proteksinya

Sejatinya produk asuransi yang dibeli itu adalah manfaat proteksinya, bukan investasi. Jika memang ingin berinvestasi ke saham, reksa dana, properti, dan lain-lain sebaiknya di luar asuransi. Kalau kamu beli asuransi berbalut investasi (unit link), maka kamu akan membayar dua kali lipat.

  • Pisahkan Antara Investasi dan Asuransi

Ingat, jangan pernah membeli asuransi yang disertai investasi karena biaya preminya jelas lebih mahal. Sebaiknya kamu berinvestasi di tempat lain, misalnya di Ajaib. Aplikasi besutan PT Ajaib Sekuritas ini menawarkan dua instrument investasi sekaligus, yakni saham dan reksa dana. Apalagi biaya belinya lebih murah sehingga imbal hasilnya bisa lebih maksimal daripada kamu masukkan seluruhnya ke asuransi.

Sampai dengan saat ini solusi dari permasalahan gagal bayar asuransi Kresna Life belum menemukan titik terang. Dari kasus tersebut, masyarakat seharusnya bisa belajar bagaimana memilih perusahaan asuransi yang tepat. Reputasi perusahaan asuransi tidak selamanya bisa jadi patokan produk asuransinya bagus atau tidak.

Artikel Terkait