Banking

Findaya, Layanan Pinjaman Modal dengan Cara Memeras?

Sumber: findaya.co.id

Ajaib.co.id – Sejak Gojek mulai beroperasi di Indonesia, layanannya sangat membantu masyarakat terutama soal transportasi. Perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim (sekarang Menteri Pendidikan) terus berkembang pesat menciptakan fitur baru dalam aplikasinya, salah satunya adalah fitur layanan pembiayaan. Demi menyediakan solusi keuangan bagi mitra dan konsumennya, Gojek menjalin kemitraan dengan penyedia layanan teknologi finansial, yaitu Findaya.

Findaya bukan satu-satunya mitra yang digandeng oleh Gojek sebagai mitra dalam bisnis teknologi finansial. Ada Dana Cita dan Aktivaku.yang juga turut menjadi penyedia pinjaman modal bagi mitra, merchant, dan juga penggunanya.

Namun, yang menjadi sorotan adalah pelayanan dari salah satu mitra Gojek tersebut. Banyak pengguna Gojek maupun Go-Pay merasa diresahkan karena cara pemberian Paylater yang terkesan memeras. Benarkah seperti itu?

Apa Sih Itu Findaya?

Findaya adalah produk finansial dari PT Mapan Global Reksa (Mapan) yang dipimpin oleh CEO Go-Pay Aldi Haryopratomo. Perusahaan tersebut menyalurkan modal pinjaman bagi mitra Gojek dan Go-Life.

Sementara itu berdasarkan laman situs resminya findaya.co.id, produk ini merupakan layanan berbasis teknologi yang memiliki misi sosial. Tujuannya untuk mendorong inklusi keuangan dan ekonomi digital di Indonesia. Layanan yang diberikan mulai dari beragam fitur keuangan untuk pengguna Gojek, hingga pinjaman Pendidikan.

Misi Findaya ingin terus memberikan layanan finansial kepada masyarakat underbanked dan unbanked yang tepat, mudah, serta bertanggung jawab. Bisa dibilang ini adalah produk P2P lending yang berfokus pada pemberian kredit.

Namun, seiring berjalannya waktu layanannya mendapat respon negatif dari para pengguna Gojek dan Go-Pay yang merasa diperas oleh Findaya. Benarkah demikian?

Findaya Bermasalah

Tidak dipungkiri bahwa kerja sama dengan pihak lain memang tidak selalu berjalan mulus seperti yang diharapkan. Pada kenyataan di lapangan, para pengguna Gojek lebih banyak dirugikan oleh kehadiran Findaya sejak 2018 silam.

Permasalahannya terletak pada kendali atas layanan pinjaman maupun pemberian limit Paylater sepenuhnya diserahkan kepada pihak mitra, dan dalam hal ini adalah Findaya. Seperti yang dialami oleh salah satu pengguna Gojek, Yokhebed. Adanya fitur Paylater sangat membantu sebagian orang dalam memenuhi keperluannya sehari-hari.

Pengguna Gojek biasanya mendapatkan limit Paylater sebesar Rp350 ribu. Namun, suatu waktu ketika ingin menggunakan Paylater Gojek, tiba-tiba limitnya diturunkan menjadi Rp250 ribu tanpa ada penjelasan apapun. Pengguna bernama Yokhebed ini lantas mencoba telepon pihak Gojek untuk melapor dan kemudian malah diarahkan ke Findaya. Selanjutnya ia membuat laporan tersebut dan mengirimkannya ke email Findaya. Sayangnya belum ada kejelasan pasti kenapa limitnya diturunkan.

Terkadang kerja sama yang dijalin oleh suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi konsumennya. Hal yang ditakutkan adalah apabila perusahaan membagikan data pribadi pelanggannya ke pihak lain yang diklaim sebagai mitra. Ini sangat berbahaya dan sangat mengganggu karena konsumen tidak pernah tahu menahu.

Hal ini juga yang dialami oleh pengguna Gojek lainnya bernama Ariyani. Dalam laporannya di salah satu platform media konsumen, ia untuk kali pertama mendapatkan tagihan dari Findaya padahal layanan tersebut belum sekalipun digunakan. Bahkan saldo Go-Pay miliknya pernah sampai terkuras hingga Rp700 ribu.

Di bulan berikutnya ia menerima tagihan lagi. Karena tidak pernah menggunakan fasilitas Paylater, maka ia melapor ke pihak Gojek. Namun, lagi-lagi laporannya diarahkan ke Findaya.tanpa ada penjelasan apapun. Anehnya, pihak Findaya mengatakan jika pengguna tersebut yang memberikan kode OTP. Nah, disinilah letak permasalahannya!

Gojek seketika seolah-olah seperti lepas tangan menghadapi komplen penggunanya, padahal pengguna tidak pernah memberikan OTP kepada orang lain. Pertanyaannya, siapa yang memberi data pelanggan ke pihak lain (Findaya) selain Gojek?

jika memang benar demikian, maka tindakan Gojek itu sudah melanggar aturan privasi pelanggan yang menyetujui pemakaian Paylater dari Findaya tanpa ada informasi atau izin dari penggunanya. Atas kejadian ini, pelanggan tentu dirugikan karena sampai ditagih oleh debt collector meskipun merasa tidak berutang.

Dua kasus tersebut merupakan contoh pemberian modal yang semena-mena dan terkesan pemerasan sepihak untuk mencari keuntungan. Seharusnya Asosiasi Pendanaan Fintech Indonesia) AFPI turut membantu permasalahan seperti ini. Setidaknya memberikan peringatan kepada perusahaan yang berbuat semena-mena dalam memberikan modal pinjaman.

Jika dibandingkan dengan layanan marketplace, fitur Paylater milik online shop seperti Bukalapak, Shopee, Tokopedia, dan lainnya masih lebih baik dari Findaya.

Lebih Baik Di Investasikan

Kehadiran fitur Paylater ataupun Fintech P2P lending seperti Findaya memang bisa membutakan mata karena kemudahan dalam mendapatkan uang pinjaman. Jika digunakan untuk keperluan mendesak maka sah-sah saja, tapi kalau untuk hal-hal konsumtif dampaknya jadi buruk. Setiap kamu gajian tentu akan dipotong sebagian untuk membayar utang-utang tersebut.

Nah, daripada gajimu digunakan untuk membayar utang lebih baik diinvestasikan. Di mana investasinya? Ya, di Ajaib. Aplikasi yang cocok banget untuk para milenial berinvestasi, bisa pilih instrumen saham atau reksa dana.

Tampilannya juga sederhana dan menarik buat pemula. Apalagi ada fitur-fitur yang membantu investor pemula dalam membaca informasi seputar saham atau reksa dana yang dipilih sehingga kamu lebih yakin mengambil keputusan (buy/cut loss). Menariknya lagi, jika kamu bisa mengajak temanmu bergabung dengan Ajaib menggunakan kode referal, siap-siap ketiban saham gratis plus gratis biaya broker. Keren banget kan!

Selain menyediakan platform berinvestasi, ada banyak artikel tersedia di Ajaib yang bisa kamu gunakan sebagai media belajar investasi maupun referensi terkait saham-saham yang ingin dibeli. Jadi, berinvestasi lebih menarik dan semenyenangkan itu.

Artikel Terkait