Saham

Efek Corona pada Emiten Perbankan dan Harga 1 Lot Saham BCA

harga 1 lot saham bca

Ajaib.co.id – Karena merebaknya isu virus Corona, membuat harga saham IHSG mengalami penurunan, tidak terkecuali harga 1 lot saham BCA. Mengapa demikian? Untuk lebih jelasnya, simak ulasan berikut ini.

Berawal di Wuhan China, kini virus Corona telah mendunia. Tidak saja berdampak pada dunia kesehatan, faktanya wabah virus Corona yang kini dinamai COVID-19 tidak saja berdampak pada dunia kesehatan, tapi juga memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan. Mulai dari aspek sosial, pendidikan dan juga aspek perekonomian. Pasalnya, tidak saja menyerang benua Asia, Corona juga menyebar cepat ke seluruh dunia. Banyak event yang kemudian dihentikan mulai dari event musik, olah raga, politik dan budaya.

Sejak COVID-19 dinyatakan masuk ke Indonesia, tidak bisa dihindari perekonomian Indonesia mulai terkena dampaknya, baik dalam segi pemasukan melalui devisa, juga di sektor keuangan khususnya perdagangan saham. Beberapa bulan belakangan, harga saham IHSG mengalami penurunan, termasuk harga 1 lot saham BCA. Bahkan, sejak WHO mengumumkan bahwa COVID-19 sebagai wabah pandemi (antar benua), saham Wall Street pun anjlok.

COVID-19 Mempengaruhi Devisa Impor yang Menurun Drastis

Sebelum Indonesia positif Corona, perekonomian Indonesia telah berdampak dari devisa impor yang menurun. Hal ini dikarenakan kebijakan penghentian impor sementara dari China. Sementara, perdagangan impor tentunya memberi peranan besar dalam pemasukan dari segi devisa impor. Belum lagi bahan baku produksi yang merupakan barang impor, dapat mempengaruhi produksi nasional.

Oleh karena itu, saat ini kementerian keuangan RI tengah menggodok berbagai kebijakan keuangan untuk menjaga stabilitas perekonomian. Khususnya dalam rangka relaksasi terhadap impor agar bisa menggenjot pemasukan devisa impor yang sempat mengalami penurunan hingga 51% pada akhir Februari, jika dibandingkan pendapatan akhir Januari 2020.

COVID-19 Membuat Banyak Bursa Saham Babak Belur

Dampak COVID-19 pada perdagangan efek tidak hanya terjadi di dalam negeri, tapi juga pada pasar saham global. Termasuk saham Asia dimana Nikkei225, Taiex, Kospi, FTSE Malaysia, ASX 200, STI Singapore dan Indonesia jatuh terseret Wall Street yang memasuki zona bearish setelah Corona dinyatakan sebagai pandemi. Wall Street sendiri merupakan kandang dari banyak index populer di dunia, seperti Dow Jones Industrial Average, New York Stock Exchange (NYSE), NASDAQ dan lain sebagainya.

Sempat mengalami beberapa kali jatuh bangun, masih banyak pihak yang memprediksikan bahwa saham Wall Street mungkin kembali mengalami rebound. Tentunya, kondisi Wall Street tidak hanya menggambarkan keadaan perekonomian di Amerika. Pasalnya, kondisi saham tersebut berpengaruh pada ratusan perusahaan besar multinasional. Sehingga tidak mengherankan jika kondisi saham Wall Street juga bisa mengguncang saham lain, termasuk IHSG yang memberi dampak pada naik turunnya harga 1 lot saham BCA serta saham emiten lainnya di BEI.

Saham Blue Chip di BEI Ikut Rontok

Dengan penjelasan tersebut, maka tidak mengherankan jika pada akhirnya saham-saham Blue Chip di BEI juga ikut mengalami terjun bebas dan berdampak pada harga saham IHSG yang terkoreksi cukup dalam belakangan ini, khususnya semenjak Indonesia positif Corona.

Saham Blue Chip merupakan saham unggulan dimana emiten saham tersebut dianggap tangguh dalam menghadapi berbagai kondisi perekonomian, dikarenakan kondisi manajemen perusahaan dan keuangan perusahaan yang sehat. Juga, didukung dengan posisi perusahaan yang merupakan marketleader di sektornya. Misalnya, pada sub sektor perbankan, Bank BCA, Bank BRI dan Bank Mandiri termasuk di dalamnya. Untuk sektor barang konsumen, Unilever (UNVR) dan Indofood menjadi dua diantaranya. Serta masih banyak emiten yang merupakan saham blue chip di IHSG berdasarkan sektornya masing-masing. Saham-saham unggulan ini, biasanya terindeks pada index LQ45.

Keresahan pasar akibat COVID-19 yang mendunia ini juga berpengaruh pada saham blue chip di BEI, termasuk sektor perbankan yang selama ini menjadi andalan BEI dalam menarik para investor saham luar negeri. Saham bank BCA (BBCA) yang selama ini merajai sektor perbankan bahkan termasuk menjadi salah satu korbannya. Jika pada awal tahun 2020 harga 1 lot saham BCA adalah Rp3.345.000 atau Rp33.450 per saham. maka hingga Rabu. (11/3/20) harga saham BCA sudah jatuh 4.200 poin ke angka 29.250 per saham atau turun 12.55 persen.

Pengamat Masih Optimis akan Potensi BBCA ke Depan

Kondisi harga saham saat ini, memang meresahkan karena ketidakpastian hingga sampai kapan wabah COVID-19 akan berlangsung. Ketidakpastian ini tentu mempengaruhi para investor, khususnya investor saham yang kondisi pasarnya selalu fluktuatif dan reaktif terhadap berbagai isu yang berdampak pada perekonomian.

Namun demikian, menilik riwayat harga saham BBCA, para investor masih bisa optimis bahwa harga saham BBCA bisa rebound dan kembali menanjak dalam jangka panjang. Pasalnya, pada tahun 2019, harga saham BBCA juga sempat anjlok ke angka Rp28.825 pada 19 Agustus 2019. Bahkan, harga saham BBCA sempat menyentuh level Rp25.900 pada 17 Mei 2019. Tapi BCA berhasil bangkit bahkan menjelang akhir tahun 2019 berhasil menyentuh Rp33.755 per lembar sahamnya atau harga 1 lot saham BCA mencapai Rp4.000.000.

Maka tidak salah, jika BBCA bisa dianggap saham yang tidak akan membuat rugi jika diproyeksikan untuk jangka panjang. Melihat grafik riwayat harga saham BBCA dalam lima tahun terakhir, menunjukkan bahwa saham BBCA memiliki kecenderungan naik setiap tahunnya. Oleh karena itu, bagi sebagian investor, turunnya harga saham BBCA juga dianggap sebagai cara untuk mendapatkan saham Blue Chip berkualitas dengan harga diskon.

Jika kamu hendak membeli saham BBCA, maka ketahuilah harga saham BCA. Jadi, jika harga saham BCA saat ini adalah Rp28.000 per lembar saham, modal minimal yang harus disiapkan untuk harga 1 lot saham BCA adalah sebesar Rp2.800.000. Karena, pembelian minimal saham adalah sebanyak 1 lot atau 100 lembar. Tentunya kamu juga harus mengetahui biaya-biaya lain yang mungkin dikenakan pada saat melakukan transaksi jual-beli saham.

Selain itu, bacalah rekomendasi dari para pengamat dan ahli investasi saham setiap harinya, agar kamu mengetahui secara pasti kapan sebaiknya kamu membeli saham BBCA.

Bacaan menarik lainnya:

Abdul, Wahab. (2012). Pengantar Ekonomi Makro, Samata:Alauddin University Pers


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait