Drama Hutang Sriwijaya Air ke Garuda Makin Pelik

hutang sriwijaya air
hutang sriwijaya air

November tahun lalu, Garuda Indonesia lewat anak perusahaannya Citilink mengambil alih sistem operasional dan manajemen keuangan Sriwijaya Air. Lantaran hutang Sriwijaya Air, maskapai penerbangan yang dibangun oleh pengusaha Chandra Lie bersama kawan-kawannya di tahun 2003 menanti nasib baru.

Sriwijaya terdaftar sebagai maskapai Kategori 1 atau maskapai dengan standar keamanan operasional yang terpercaya. Sriwijaya Air termasuk maskapai dalam negeri yang jarang mengalami kecelakaan.

Sayangnya, kiprah Sriwijaya Air di dunia penerbangan Indonesia menemui hambatan. Hutang Sriwijaya Air cukup besar kepada 3 entitas BUMN. Mereka adalah Garuda Indonesia Group, Bank Negara Indonesia (BNI), dan Pertamina.

Hutang Sriwijaya Air ke Garuda

Garuda memiliki piutang hampir sebesar Rp2 triliun atas Sriwijaya. Hampir setengahnya adalah hutang untuk biaya maintenance pesawat kepada PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk yang juga dikenal dengan kode saham GMFI. GMFI adalah anak perusahaan milik Garuda yang berfokus pada perawatan, pemeliharaan, dan perbaikan pesawat.

Langkah Garuda Indonesia mengambil alih operasional Sriwijaya Air dan NAM Air dilakukan karena Sriwijaya belum mampu membayar lunas hutang-hutangnya. Emiten berkode saham GMFI ini melakukan segala upaya untuk menutupi efek negatif dari belum terbayarkannya hutang Sriwijaya. Direktur Keuangan Garuda Maintenance Facility Edward Okky Avianto berencana melepaskan lebih banyak lagi porsi saham publik dan mengincar modal Rp500 miliar.

Manuver Sriwijaya Air Membuat Tensi Naik

Tensi di antara Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air sempat meninggi akhir-akhir ini. Garuda dibuat berang saat Dewan Komisaris Sriwijaya Air melakukan perombakan jajaran direksi. Wakil Garuda yang berada di jajaran tersebut dicopot oleh Dewan Komisaris.

Tidak berhenti di situ, Garuda dan dua entitas BUMN lainnya menggelar rapat terbatas. Kepada Tirto, Ikhsan Rosan selaku Vice President Corporate Secretary Garuda menginginkan Sriwijaya tetap bersama Garuda Group. Ikhsan menambahkan performa Sriwijaya di bawah Garuda justru terbukti lebih baik.

Reaksi Garuda terhadap kelakuan Dewan Komisaris Sriwijaya Air masuk akal. Piutang yang dimiliki Garuda terhadap Sriwijaya terbilang besar. Apalagi, belum lama ini Garuda memiliki masalah dalam laporan keuangan tahun 2018 yang diduga dimanipulasi.

Garuda sempat menyatakan bahwa kinerja keuangan maskapai BUMN tersebut berhasil keluar dari zona merah. Dalam laporan keuangan tersebut, Garuda mengklaim bahwa mereka mencatat laba bersih senilai US$809,84 ribu. Pada kenyataannya, angka tersebut didapat karena akuntan dari Kantor Akuntan Publik (KAP) yang ditunjuk Garuda memasukkan piutang atas PT Mahata Aero Teknologi (Mahata) sebagai surplus.

Berujung Perampingan?

Hasil dari polesan data tersebut membuat internal Garuda semakin memanas. Chairal Tanjung dan Dony Oskaria selaku komisaris menolak menandatangani laporan keuangan tersebut.

Kembali ke ribut-ribut Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia, pegawai Sriwijaya dikabarkan khawatir dengan isu pemecatan. Sehubungan dengan hutang Sriwijaya Air yang masih membungbung tinggi, Sriwijaya boleh jadi akan melakukan perampingan karyawan untuk menghemat anggaran dan melunasi uang yang dipinjamnya.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Share to :
Kembangkan uangmu sekarang juga Lakukan deposit segera untuk berinvestasi
Artikel Terkait