Bisnis & Kerja Sampingan

Dampak Pandemi Covid-19 di Bisnis Sharing Economy

Sharing Economy

Ajaib.co.id – Teknologi selalu menjadi alasan di balik terciptanya inovasi-inovasi terbaru, salah satunya di dalam sektor bisnis dan finansial. Jika dulu bisnis ini dioperasikan setidaknya harus memiliki toko fisik dan melakukan pendekatan ke konsumen secara langsung. Maka saat ini bisnis bisa beroperasi hanya bermodalkan internet dan perangkat.

Salah satu contoh dampak teknologi terhadap bisnis adalah ketika perusahaan Ford dan KIA memutuskan untuk tidak beroperasi lagi di Indonesia. Alasannya, karena penjualan dua produk otomotif itu di Indonesia yang turun secara signifikan.

Menurut pakar ekonomi, penurunan penjualan ini disebabkan pelemahan ekonomi global. Tapi nyatanya turunnya penjualan kedua produk perusahaan otomotif itu secara drastis disebabkan oleh satu faktor utama. Faktor utama itu adalah bisnis sharing economy.

Sharing economy sendiri merupakan business model yang dianggap sebagai aktivitas berbasis peer-to-peer (P2P) guna mendapatkan, menyediakan, dan berbagi akses ke sumber daya yang difasilitasi oleh online platform. Dijuluki sebagai gig economy, model ekonomi ini berguna untuk efisiensi sumber daya. Ini dikarenakan dilakukan secara bersama-sama (collaborative economy) sehingga mengurangi konsumsi yang tidak terpakai.

Singkatnya, menurut Investopedia, sharing economy memungkinkan individu atau instansi untuk menghasilkan keuntungan dari aset yang jarang dimanfaatkan. Beberapa perusahaan yang menerapkan sistem sharing economy, di antaranya adalah GrabBike dan Gojek.

Masyarakat cenderung lebih banyak berinvestasi di perusahaan startup dengan konsep sharing economy platforms karena dirasa menghasilkan return yang lebih baik.

Sharing economy merupakan solusi yang sempurna untuk yang ingin menabung, berinvestasi selagi menghasilkan keuntungan lainnya. Di sistem ini, perusahaan platform daring untuk menghubungkan sumber daya yang memiliki aset untuk ditawarkan untuk konsumen di kemudian hari.

Bayangkan eBay tapi untuk area parkir dan gudang penyimpanan. Penjualnya adalah orang-orang yang dibayar karena jasa atau produknya dipakai. Konsumen menghemat cukup banyak waktu dan uang karena sederhananya proses pemesanan.

Alih-alih menunggu panggilan balik, kamu bisa memanfaatkan beberapa klik di internet. Rating dan sistem ulasan membuatnya semuanya transparan sehingga kamu bisa mendapatkan ekspektasi yang sesuai dari penjual.

Lalu bagaimana masa depan bisnis bermodel sharing economy tersebut? Beberapa di antaranya sukses dan menjadi salah satu perusahaan dengan valuasi yang fantastis. Beberapa di antaranya berhasil tapi gagal untuk bertahan. Berikut beberapa kisah bisnis untuk memahami masa depan sharing economy selanjutnya.

Kerugian dan Pemutusan Hubungan Kerja Airbnb

Tersebar di 191 negara dengan lebih dari 1.500.000 list, platform Airbnb menggunakan sistem sharing economy. Bisnis ini memungkinkan anggotanya bisa menyewakan tempat tinggal atau ruangan yang tidak terpakai untuk pelanggan.

Perusahaan startup ini sukses karena berhasil menyediakan kebutuhan untuk para traveller yang sedang bepergian ke luar kota. Atau pebisnis yang sedang melakukan perjalanan bisnis dan ingin menghemat biaya.

Mereka yang menyediakan jasa penginapan di Airbnb tentu bervariasi. Mulai dari hanya ruangan, sebagian area, atau keseluruhan ruangan seperti apartemen atau villa. Bisnis ini benar-benar memberikan alternatif bagi para pelancong karena bisnis penginapan didominasi oleh hotel, motel, dan guest house.

Namun sayang, bisnis yang begitu populer di kalangan pelancong ini tengah menghadapi tantangan yang begitu besar. Coronavirus merupakan penyebab utama di balik kesulitan yang tengah dihadapi Airbnb.

Semenjak Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi global, aktivitas bepergian ke luar kota atau ke luar negeri dibatasi bahkan dihentikan. Hal ini menyebabkan sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang travel mengalami kerugian yang cukup besar, seperti Airbnb. 

Perusahaan yang bermarkas di California, Amerika Serikat tersebut mengumumkan melakukan pemutusan hubungan kerja. Setidaknya sebanyak 25% pegawainya akibat yang ditimbulkan dari Covid-19. Sebelum pandemi ini tiba, Airbnb memiliki sebanyak 7.500 pegawai yang bekerja di proyek transportasi dan hotel.

Kini Airbnb menghentikan sebanyak 1.900 pekerjaan. Brian Chesky selaku Founder Airbnb mengungkapkan revenue dari perusahaan akan dipangkas setengah dibandingkan dari tahun lalu.

Buntunya Jalan untuk Uber & Lyft

Di minggu pertama pandemi Covid-19 di Amerika Serikat, riset menyebutkan bahwa pemesanan Lyft dan Uber menurun drastis hingga 98%. Bisnis taxi services ini mengalami kesulitan. Karena konsumen tidak membutuhkan tumpangan ke kantor, restoran, atau pusat hiburan dikarenakan penerapan kebijakan lockdown.

Sementara itu sejumlah kota di California, seperti Los Angeles, San Francisco, dan San Diego menggugat dua perusahaan tersebut. Karena telah mengubah status pengemudi sebagai pekerja kontrak. Padahal ketika mendaftar di awal status mereka adalah pekerja penuh waktu (full time).

Dalam upaya untuk menghemat uang akibat Covid-19, baik Uber dan Lyft sama-sama memutuskan untuk melakukan pemberhentian kerja secara masif. Lyft menghentikan hampir sekitar 1.000 pegawai, sekitar 17% dari total pegawai. Uber mengumumkan sudah melakukan pemutusan hubungan kerja sebanyak 3.700 orang.

Belajar dari WeWork

Bersama dengan perusahaan yang menerapkan sistem sharing economy lainnya, WeWork memulai PHK massal global melalui virtual meetings Zoom awal Mei lalu. Keputusan ini diambil setelah perusahaan menghadapi kesulitan finansial dan mulai memberhentikan pekerja pada November tahun lalu.

Model bisnis WeWork menyediakan lahan untuk pekerja dari perusahaan yang berbeda bekerja sama, atau biasa disebut co-working space. Untuk menghadapi kesulitan finansial ini, We Work berusaha meyakinkan investornya bahwa mereka mampu melewati krisis dengan USD4,4 miliar yang dimiliki dalam likuiditas.

Namun, melihat semakin banyaknya perusahaan yang diberhentikan secara sepihak, tampaknya hal tersebut sangat sulit untuk dipastikan.  

Krisis global yang saat ini menghantam seluruh dunia memang menyulitkan bagi bisnis economy sharing. Terutama sektor yang langsung terkena dampaknya akibat penerapan kebijakan lockdown.

Bisnis economy sharing harus benar-benar memanfaatkan nilai yang mereka miliki untuk dapat bertahan di tengah krisis. Dan berada di garis terdepan ketika semua ini berakhir.

Artikel Terkait